
" tenanglah sayang kau jangan banyak fikiran. " ucap Papa Yasinu mengelus kepala putrinya.
Ika tampak murung dan menyeka air matanya" apa mamah masih marah ya? " ucap Ika sesenggukan.
"sttt jangan nangis lagi ya, ingat anak kita. " ucap Fadly memeluk sang isteri dan mengecup keningnya.
semua orang yang berada di dalam ruang rawat, merasa sangat bahagia. canda tawa terdengar sangat meriah.
sesekali Ika juga ikut tersenyum mendengar celoteh para kerabatnya tersebut.
tak lama, semua teman-temanya datang menjenguknya membuat Ika sangat bahagia.
"selamat ya bestie, akhirnya si cantik lahir juga " ucap Dyah mengampiri dan memeluknya.
" terima kasih" ucap Ika membalas pelukan Dyah. begitupun dengan teman-temanya yang lain. mereka terlihat sangat bahagia.
"siapa nama anak kalian?, " tanya mbak Putri seraya menimang bayi mungil tersebut.
Ika dan Fadly saling pandang dan tersenyum " namanya Laffatunisa Aisyah Humairoh" ucap mereka kompak lalu kemudian tersenyum lebar.
mereka semua tersenyum kearah bayi Nisa yang tampak lelap tertidur di gendongan mbak Minah.
"sayang, Papah pulang dulu ya, besok papa kesini lagi. " ucap Papa Yasinu menghampiri sang putri.
Ika menoleh dan menatap sendu sang Papa "besok kemari lagi kan pa? " tanya Ika s3perti merengek kearah sang Papa.
Papa Yasinu tersenyum kearah sang puteri " iya sayang besok papa kemari " ucap Papa Yasinu.
"hati-hati ya Pah" ucap Ika seraya melambaikan tangan saat Papa Yasinu membuka pintu kamar.
Papa Yasinu menoleh dan tersenyum" pasti sayang" ucapnya seraya keluar dan menutup kembali pintu tersebut.
kini mereka semua sangat berbahagia menyambut anggota baru di tengah-tengah mereka. mereka semua tampak sesekali bercanda dengan bayi mungil tersebut. walau belum ada respon apa-apa.
"Ika, kami semua pulang dulu ya " ucap Mbak Minah ingin Pamit pulang.
"hmm iya mbak tapi nanti kesini lagi ya.,?" ucap Ika.
" iya sayang. nanti kita kesini lagi" ucap mbak Minah.
kini ruang rawat itu sangat sepi. mereka semua sudah berpamitan sepuluh menit yang lalu. dan sekarang Fadly tengah menggendong baby Nisa dan mengajaknya bermain.
"ayah ih mentang-mentang ada anak sekarang bunda di lupain nih,? " tanya Ika berpura-pura merajuk. mengerucutkan bibirnya.
bukannya marah, Fadly malam gemas pada isterinya itu ia terkekeh kecil seraya duduk di kursi samping brankar sang Isteri.
__ADS_1
"duh isteri aku ngambek nih utuututu gemeshnya " ucap Fadly mencubit pipi isterinya.
"awh sakit ayah" ucap Ika nerengek. lalu mereka tertawa renyah.
Fadly merasa bersyukur nemiliki isteri seperti Ika. yang tak hanya cantik, tapi juga lembut hatinya. ia mengira bahwa pernikahan berdasarkan perjodohan tidak akan langgeng karena tanpa adanya cinta.
itu sebabnya Fadly lama memberi jawaban pada keluarga Ika dia menganggap jika tak akan bisa bahagia. namun, pemikiranya salah justeruvsekarang ia merasa bahagia.
apalagi dengan hadirnya sang buah hati yang menambah sempurna kehidupan rumah tangganya.
"ngapain lihatin aku kayak gitu? " tanya Ika yang membuat Fadly tersadar dari lamunanya.
"idih gr sekali anda" ucap Fadly.
"siapa yang GR jelas-jelas ayah lihatin bunda terus. nih ayah gak mau ngaku nih sayang" ucap Ika mengadu pada sang anak yang masih tertidur pulas.
"ya deh iya ayah ngaku" ucap Fadly pasrah dan memindahkan baby Nisa ke box bayi.
Ika mulai merebahkan tubuhnya di brankar dan mencoba memejamkan mata. namun tidak berhasil.
"kenapa? " tanya Fadly yang sudah duduk di samping brankar.
"hmm gak bisa tidur yah padahal badanku lemes" keluh Ika.
Fadly mulai memijat tubuh sang isteri dan mengoles minyak urut. "sakit banget ya sayang" tanya Fadly pada sang isteri. Dan Ika hanya mengangguk.
"nyonya, ini saya buatkan jamu " ucap bi Sumi mendekat dan menyodorkan sebotol jamu.
"emm bi itu aman gak? " tanya Ika ragu untuk menerimanya.
"tenang nyonya, ini aman kok" ucap bi Sumi menyodorkan sebotol jamu.
Ika menerimanya dan meneguknya sedikit demi sedikit hingga tandas. dan entah itu segesti atau memang benar, tubuh Ika yang tadinya lemas m3njadi sedikit bertenaga.
"wah bi enak, badan saya jadi segar " ucap Ika
"alhamdulillah nyonya kalau nyonya suka" ucap bi Sumi tersenyum. "kalau begitu saya pamit pulang ya nyonya " lanjutnya seraya menuju pintu keluar.
setelah bi Sumi pamit, ruangan kembali sepi dan Ika berbaring lalu mencoba terpejam. belum sempat ia terbang kealam mimpi, Ika merasa pinggangnya serasa di peluk dari belakang.
Ika menoleh dan mendapatibsang suami yang ikutvberbaring diatas kasur.
"eh, eh kok ikut naik? hmm" ucap Ika seraya tersenyum.
"mau ikut tidur sini" ucap Fadly merengengek seperti anqk kecil.
__ADS_1
membuat Ika begitu gemas pada bayi besarnya tersebut.
"utututu bayi aku ternyata nambah satu ya " ucap Ika menyel-uyel pipi sang suami dan mendaratkan kecupan bertubi-tubi.
" iya dong soalnya ayah mau juga di manjain bunda " ucap Fadly seraya tersenyum.
"hmm inget lho yah udah punya anak. masa masih manja,? ' tanya Ika.
"biarin wlee" ucap Fadly menjulurkan lidah. Ika hwnya menghela nafas menghadapi tingkah sang suami yang kadang kelewat bocah.
memang benar ya kata pepatah, segarang-garangnya pria, jika bertemu dengan wanita yang tepat maka akan manja seperti anak kucing.
tak lama, terdengar pintu di ketuk dari luar. dengan malas, Fadly meraih remote yang berada di samping brankar dan menekqn tombol ON.
pintupun terbuka dan memperlihatkan Dr. Julia berada di depan pintu dan perlahan berjalan masuk keruang rawat.
"malam nyonya, bagaimana kondisi nyonya,? " tanya Dr. Julia seraya nengecek darah yang merembes ke karpet alas Ika berbaring.
"sudah agak mendingan Dok. " jawab Ika tersenyum.
"oh oke kalau begitu sekarang anda mandi dulu agar terlihat segar" ucap Dr. Julia.
Ika dan Fadly mengangguk tanda mengerti lalu tersenyum satu sama lain.
"kalau begitu saya permisi dulu kalau ada apa-apa langsung pencet tombolnya " ucap Dr. Julia berlalu pergi.
setelah Dr. Julia pergi, Ika turun dari ranjang dan berjalan menuju kamar mandi. dengan sigap, Fadly memapah sang isteri dan mendudukanya di closet.
" udah yah, ayah keluar sana temani baby Nisa" usir Ika seraya mendorong tubuh kekar suaminya.
Fadly menaikqn satu alisnya melihat tingkah isterinya yang menurutnya sangat wneh.
"bunda kenapa? " tanya Fadly.
Ika hanya menunduk menyembunyikan wajahnya yang memerah karena malu.
"malu" cicitnya seraya menundukan kepala dan meremas jemarinya sendiri.
"malu? malu kenapa bunda, bahkan ayah sudah melihat semuanya, sudah ada hasilnya pula" ucap Fadly terkekeh.
Ika memukul lengan sang suami " ish ayah ih pokoknya aku malu. ayah keluar dulu" ucap Ika.
tapi bukanya keluar Fadly malah berjongkok dan menggenggam tangan sang isteri.
"terimakasih, terimakasih sudah mau mendampingi aku sampai sejauh ini" ucap Fadly menatap manik indah sang isteri.
__ADS_1
BERSAMBUNG.......
JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAK KALIAN GAES