
Ika dan Fadly, digiring menuju sebuah ruangan yang berda di butik tersebut.
setelah Fadly berganti baju, dirinyw segera keluar dari sana dan duduk di sofa ruang tunggu, untuk menunggu istrinya berdandan.
tak lama, oonsel yang di pegang Fadly berdering dan menampilkan nama Doni di sana. dengan segera, dirinya mengangkatnya.
"halo, kenapa,? " tanya Fadly tanpa basa basi.
"Diana mau ketemu sama loe, " ucap Doni daei seberang sana.
membuat Fadly menghela nafas panjang seraya menganggukkan kepala. walau Fadly tau, Doni tak akan melihatnya.
"dia bilang, ini pertemuan yang terakhir kalinya, karena dia akan pindah ke luar negeri dua minggu lagi, " ucap Doni dari seberang sana.
"oke, baiklah nanti gue kabari kalau gue ,udah dapat izin dari isteri gue, " ucap Fadly seraya menutup panggilan telponya.
sungguh, sebenarnya, dirinya sqngat malas dengan wanita satu itu, dengan menyebut namanya saja, sudah membuat Fadly rasanya ingin muntah.
entah sejak kapan, rasa malas itu muncul, mungkin saja sejak wanita itu bersandiwara dan menuduhnya menidurinya dan menghamilinya.
lamunanya terhenti, saat mendengar suara dari belakang yang membuat dirinya, menoleh dan mendapati, sang isteri telah menjelma menjadi sosok yang sangat cantik. bak bidadari. hingga, membuat Fadly menatapnya tak berkedip sama sekali.
Fadly menghampiri sang istri, dengan masih tanpa memalingkan tatapaya, kearah lain. laki laki itu, seakan terhipnotis dengan kecantikan wanitanya itu.
"cantik sekali, " puji Fadly berbisik tepat di telinga istrinya.
membuat Ikq tersenyum tipis mendengarnya. " jadi, kalau biasanya aku nggak cantik nih,?" tanya Uka seraya berpura pura merajuk.
membuat Fadly menggelengkan kepala seraya tersenyum tipis.
"kamu akan selalu Cantik di mataku, tapi saat ini kamu memang cantiknya, keterlaluan, " ucapnya seraya menarik pinggang sang istri.
"idih, gombal aja terus, biar aku makin sayang, " ucap Ika terkekeh kecil.
"jadi males keluar kalo kayak gini," ucap Fadly tiba tiba. membuat Ika mengerutkan keningnya karena merasa bingung.
"kenapa,? " tanya Ika penasaran. " Ayah sakit,? " twnya Ika lagi.
membuat Fadly menggelengkan kepala seraya tersenyum tipis.
"enggak Bun, Ayah nggak papa, Ayah nggak mau aja, kalau kecantikan bunda, di nikmati oleh orang banyak, " ucap Fadly memasang wajah cemberut.
membuat Ika mendegus kesal seraya memutar bola mata malas mendengar ucapan suaminya itu.
"hais Ayah, kirain kenapa, taunya lebay, " ucap Ika mencibir dan berlalu pergi, seraya menggendong Baby Nisa yang sudah cantik dengan penampilan gamis senada dengan Ayah dan Bundanya.
"eh, tunggu Bun, " ucap Fadly mengejar sang istri yang mulai menghilang di balik pintu.
__ADS_1
sesampainya di tempat gaun di butik Ridwan, Ika dan Fadly segera membayar semua barwng belanjaan dan juga biaya perawatan mereka.
"hati hati kalian, " ucap Ridawan dan Ayu secara bersamaan seraya melambaikan tangan.
"kapan kapan, kalian kesinu lagi, " ucap Ayu seraya tersenyum tipis.
Ika dan Fadly mengangguk dan segera masuk kedalam mobil.
Fadly mulai menjalankan mesin mobilnya, meninggalkan butik milik Ridwan.
"gimana,? udah nggak ngambek lagi kan,? " tanya Fadly menggoda sang istri.
"nggak, siapa yang ngambek,? " ucap Ika berkilah memalingkan wajahnya karena merasa malu.
membuat Fadly, mengulum senyum seraya menggelengkan kepala melihat tingkah sang istri.
"makanya, jangan terlalu suudzon sama orang, " ucap Fadly.
"makanya, jangan terlalu bohong sama istri, kwn jadi istrinya nggak percaya, " ucap Ika menyindir balik sang Suami.
Fadly tak melanjutkan perdebatanya pada sang istri. bisa bisa tidak akan selesai sampai minggu depan, jika terus di lanjut.
sesampainya di kota P, Ika segera mengambil ponsel di tasnya, dan segera menghubungi Afifah. karena dirinya lupa, dimana tempat pernikahannya.
hehehe maklumlah, emak emak kadang suka lupa kalau udah menyangkut masalah pekerjaan.
trrdengar dari seberang sana, Afifah mendegus kesal karena pertanyaan sahabatnya itu.
"ish jadi loe ngelupain acara gue,? " tanya Afifah dari seberang sana.
"enggak oneng, gue cuma lupa aja dimana temlat resepsi loe, " ucap Ika gemas sendiri di buatnya.
"di hotel Arta, " ucap Afifah.
Ika menganggukkan kepala. kemudian, tersenyum tipis dan langsung mengakhiri panggilannya.
"kok dimatiin gitu aja,? " tanya Fadly. membuat Ika menoleh kearah sang suami.
"nggak papa Yah, udah biasa sama Afifah ini, " ucap Ika tersenyum tipis.
membuat Fadly menggelengkan kepala melihat tingkah sang istri.
"lain kali, jangan seperti itu, walaupun dengan teman sendiri pun, tak boleh seperti itu, " ucap Fadly menasihati sang istri.
membuat Ika, tersenyum kaku karena di nasehatin oleh sang suami.
"iya Yah, maaf, " ucap Ika menundukan kepalanya merasa bersalah.
__ADS_1
membuat Fadly mengelus kepala sang istri dan menggenggam tangannya.
"enggak papa, yang penting, jangan di ulang lagi, nggak baik, " ucap Fadly tersenyum lembut.
Ika mengangguk dan tersenyum manis pada sang suami.
Fadly akan perlahan lahan, mendidik istrinya. karena itu merupakan kewajiban seorang suami, untuk mendidik istri.
walaupun, firinya juga terkadang melakukan hal yang sama pada Doni dan Riko. yaitu mematikan panggilan secara sepihak.
tapi, dirinya menginginkan sang istri, tak mengikuti jejaknya. karena sebandel bandelnya seorang laki-laki, tetap menginginkan istri dan anaknya menjadi manusia yang mempunyai akhlak yang baik.
mereka terdiam dengan lamunan masing masing dan tak terasa, mobil yang di tumpangi Fadly dan Ikapun, memasukikawasan hotel tempat resepsi pernikahan di gelar.
mereka masuk kedalam hotel yang memang sudah di booking oleh keluarga Afifah dan Adit. karena memang, berasal dari keluarga yang cukup berada.
dan mereka, menjadi pusat perhatian karena mereka, memang pasangan yang sangat serasi.
terutama pada orang orang yang dulu sempat membuli dirinya. mereka semua sampai tak berkedip melihat sosok yang berada di depan mereka.
"eh, itu bukanya Ika yang berwajah aneh itu kan ya,? " tanya seorang pada temannya.
membuat nereka sakan tak percaya. melihat perubahan yang terjadi di depan mereka.
BERSAMBUNG...
NOTE :jangan lupa, mampir ke karya teman aku yuk seru ceritanya
"Ada rapuh yang tersusun rapi. Sebelum menjadi indah, kupu-kupu hanyalah secuil ulat yang menempel rapuh di dedaunan."
~ Vlora Yukika ~
"Hanya karena dahaga sebentar, tak lantas membuatmu harus meminum racun bukan?"
~ Haedar Gibran ~
Dikhianati suami, diasingkan keluarga sendiri, tidak ada tempat tuk berbagi keluh, jua seolah tak ada rumah yang sungguh tuk berteduh. Adakah yang lebih sakit dari ini?
Pada titik terendahnya, Vlora bangkit menjadi sosok yang baru. Dendamkah ia pada mereka yang telah menyakitinya? Sementara ia sendiri memiliki rahasia besar yang dianggap sebuah pengkhianatan.
"Duri itu kau sendiri, lalu kau jua yang merasa tersakiti."
~ Tristan Pratama ~
Lantas apa yang Vlora lakukan? Bagaimana jika rahasia besar itu terungkap? Masih banggakah ia dengan kehidupan baru yang kini melambungkan namanya?
__ADS_1