Story Of Yulianika

Story Of Yulianika
BAB 82


__ADS_3

setelah sekian lama Fadly mencari sang istri, dia tak menemukan keberadaan wanita itu membuat dirinya, memutuskan untuk pulang ke rumah, karena memang hari, sudah swmakin gelap.


"Tuan, bagaimana apakah Nyonya sudah ketemu,? "tanya Bi Sumi saat Fadly yelah sampai di depan rumahnya.


"belum Bi, doakan saja, supaya istri saya, cepat ketemu, atau dirunya bosandi luar dan memutuskan untuk pulang sendiri ke rumah ini, " ucap Fadly tersenyum tipis dan berjalan menaiki anak tangga menuju kamarnya.


Bi Sumi yang melihatnya, juga ikut tersenyum miris melihat perubahan pada Tuanya itu.


sesampainya Fadly di kamar, pandangannya berubah menjadi kosong dan juga sendu.


"sampai kapan kamu akan membuat aku gila seperti ini,? " tanya Fadly seraya tersenyum tipis dan sesekali menyeka air matanya.


"apakah kamu akan terus menghukum diriku seperti ini terus,? " tanyanya entah pada siapa, yang jelas Fadly sudah seperti orang gila yang selalu berbicara sendiri.


akhir akhir ini, memang laki laki itu, sering sekali menangis dan menjadi murung. dia bahkan, sama sekali belum menyentuh makanan dari kemarin.


membuat Bi Sumi menjadi sedikit khawatir. wanita itu, tak tau bagaimana cara agar Fadly bisa kembali seperti semula.


tiba tiba, saat Fadly sedang melamun, pintu kamarnya di ketuk dari luar oleh Bi Sumi.


"Tuan, di luar ada Tuan Doni Dan Tuan Riko, " ucapnya kemudian pergi.


Fadly beranjak dari kasurnya untuk segera turun dari kamar dan menemui kedua sahabatnya itu.


sesampainya di ruang tamu, Fadly segera menghampiri sahabat sahabatnya itu.


"loe lemes banget, " ucap Doni saat melihat Fadly menghampiri mereka.


"iya, kayak habis di tinggal bini aja lemes banget, " ucap Riko meledek Fadly.


membuat Fadly langsung memasang wajah sendunya.


"memang gue lagi sedih, " ucap Fadly seraya mendongak menatap langit langit rumahnya.


Doni dan Riko yang sedari tadi, tersenyum, kini mendadak memasang wajah serius mendengar ucapan sahabatnya itu.


"eh, kenapa loe jadi sedih begini,? " tanya Doni saat menyadari perubahan wajah sahabatnya itu.


"Ika pergi dari rumah, " ucap Fadly. laki laki itu, memutuskan untuk memberitahukan hal ini pada kedua sahabatnya.


karena ia merasa tak sanggup jika harus mencari istrinya itu, seorang diri. jadi Fadly memutuskan untuk meminta bantuan pada kedua orang di depannya itu.


"iya, udah dari dua hari yang lalu dia pergi, " ucap Fadly seraya menundukkan kepala.


membuat Doni dan Riko, menatap sahabat mwrwja dengan ekspresi yang sulit diartikan.

__ADS_1


"bagaimana bisa, Ika pergi dari rumah,? " tanya Doni yang merasa heran pada Fadly.


Tadly menghela nafas panjang, sebelum dirinya menceritakan semuanya pada kedua sahabatnya itu.


mereka saling berpandangan dan kompak menggelengkan kepala melihat tingkah Fadly itu.


"Ya jelaslah Ika pergi, mana ada yang tahan dengan suami mqcem loe, "ucap Doni tanpa perasaan.


membuat Fadly segera menatapnya dengan perasan tak menentu.


"apa maksud loe,? " tsnya Fadly yang tak mengerti dengan ucapan Doni.


"dengerin gue, perempuan itu, nggak bisa di paksa, karena mereka tercipta dari tulang rusuk, yang memang hakikatnya bengkok, jadi kita sebagai laki laki,nggak bisa memaksa mereka, " ucap Doni bijak.


membuat Fadly dan Riko memandangnya dengan ekspresi tak percaya.


"loe bijak banget Don, " ucap Riko seraya memberikan dua jempol pada laki-laki itu.


sementara itu, Fadly hanya memasang wajah sedihnya setelah mendengar ucapan Doni.


memang benar, dirinya terlalu memaksa dan menuntut keinginannya tanpa memikirkan perasaan sang istri.


"gue tau gue salah, gue nyesel banget, " ucapnya seraya menutup wajahnya dengan telapak tangannya.


membuat Fadly segera bangkit dari duduknya setelah mendengar ucapannya.


bener kata Doni, mereka akan mencabut restunya jika mereka tau jika putri mereka, pergi dari rumah,. dan itu karena dirinya.


"gue mau cari dia, "ucap Fadly seraya bangkit dari duduknya dan melangkahkan kaki menuju pintu keluar.


Doni dan Rikopun, menyusul Fadly yang sudah memakai helm dan bersiap akan menaiki motornya.


dengan segera,, kedua laki laki itu, swgera mengikuti dari belakang.


dam mereka sama sama mencari keberadaan Ika setelah lama mencari, Fadly dan kedua temannya, memutuskan untuk duduk di sebuah bangku taman


"kemana gue harus mencari dia,? " tanya Fadly frustrasi. seraya sesekali menjambak rambutnya dengan kasar.


Doni dan Riko, melihatnya merasa prihatin dan menepuk pundak Fadly.


"sabar bro, semoga, Ika cepat ketemu atau Ika yang memutuskan untuk pulang, " ucap Doni.


Fadly hanya mengangguk dan kembali menundukkan kepala.


"loe udah coba hubungi istri loe,? " tanya Riko. membuat Fadly mendongak. kemudian menggelengkan kepala.

__ADS_1


"dua meninggalkan semua yang gue berikan. atm, ponsel, bahkan cincin pernikahan yang gue kasihpun, ia tinggalkan, " ucap Fadly kembali menundukkan kepala..


"hmm gue ikut prihatin dengan semua yang menimpa hidup loe," ucap Riko seraya sesekali menepuk lengan sahabatnya itu.


"kenapa semuanya pergi ninggalin gue,? apa seberwngsek itu, hingga semesta tak merestui gue untuk bahagia, " ucapnya mulai terisak.


mendengar ucapan Fadly mereka berdua segera mendekati Fadly.


"loe janga berbicara seperti itu, di balik semua masalah, pasti akan ada hikmahnya, " ucap Riko mencoba mengingatkan sahabatnya.


Fadly hanya tersenyum kecil mendengar ucapan sahabatnya itu.. 1


"terimakasih atas perhatian kalian, " ucap Fadly.


mereka kembali bangkit dari duduknya dan menuju motor masing masing.


karena mereka harus mencari keberadaan Ika dan baby Nisa..


hingga sore menjelang, Fadly dan kedua temannya kembali ke rumah Fadly.


Doni dan Riko, memutuskan untuk menemani sahabatnya itu, hingga Ika kembali kerumahnya.


sesampainya di kediamannya, Fadly dan kedua sahabatnya itu langsung turun dari motor.


"kalian bisa memakai kamar tamu, " ucap Fadly yang berjalan lesu menuju kamar pribadinya.


Doni dan Riko, hanya bisa memandangi kepergian sahabatnya itu, hingga Fadlu hilang di balik pintu.


"kasian banget sih si Fadly, semoga saja Ika cepat ketemu, " ucap Doni seraya mendudukkan tubuhnya di kasur.


"semoga saja, karena Fadly seperti orang gila, karena kehilangan kekasih halalnya, " timpal Riko.


mereka memutuskan untuk terlelap, karena memang hari sudah menunjukkan pikul sepuluh malam.


Fadly memang tak pernah lelah untuk mencari sang istri dan juga anaknya. hingga selarut ini, Fafly masih berdiri ditambang balkon kamarnya.


dengan menatap langit-langit yang masih terlihat cerah karena kehadiran bintang disana.


"kamu, kangen nggak sama aku, " ucapnya seraya sesekali menyeka air matanya.


"aku kangen, " ucapnya seraya terisak dan tidak lama, tubuhnya bergetar hebat karena menahan kesedihan.


"aku mohon pulang, " ucapnya lagi.


BERSAMBUNG .

__ADS_1


__ADS_2