
Rachel kini tengah berjalan menuju arah kelasnya ia berkomat-kamit mengutuk dirinya karena ia belum bisa lebih tepatnya ia tidak bisa menerima kenyataan bahwa kini Bryan benar-benar telah mencampakkan dirinya.
Rachel memberhentikan langkahnya saat melihat Bryan dan Evan di depan sana penuh kebimbangan dan akhirnya Rachel pun memutuskan untuk menghadapinya saja ia tidak ingin menghindarinya bahkan hari ini ia sudah bertekad untuk menarik kembali perhatian Bryan.
Saat ia melangkahkan kakinya ia kembali menghentikan langkahnya saat seorang pria menghampirinya.
"Ini" ucap pria itu sembari memberikan beberapa lembar uang pecahan lima puluh dolar
"Apa ini?" tanya Rachel kebingungan dan sedikit tidak nyaman dengan tatapan pria itu.
"Apa itu kurang? Bagaimana bisa wanita sepertimu menjadi sangat mahal?" ucapnya dengan keras lalu tertawa perkataannya itu membuat semua pria yang ada di sana ikut tertawa kecuali Bryan dan Evan.
Karena mata kuliah belum di mulai Bryan dan Evan berada di luar kelas membahas sesuatu yang cukup penting saat sedang berbincang tidak sengaja pandangan matanya terarah pada gadis yang membuatnya menggeram marah dikarenakan gadisnya itu kembali mengenakan baju terbuka.
Bryan memperhatikan Rachel dengan seksama saat Rachel melangkah maju rahangnya mengeras saat melihat ada sekelompok pria mengelilingi Rachel
"Kau tidak ingin menghampirinya?" tanya Evan yang melihat Bryan tengah menahan emosinya
"Aku harus menahannya sedikit lagi, aku akan menyelesaikannya secepat mungkin" ucap Bryan.
Rachel tidak mengerti dengan perkataan pria yang ada di hadapannya itu tapi satu hal yang ia tahu pasti bahwa sekarang ini pria di hadapannya ini dan sekelompok pria lainnya tengah menertawakannya.
"Maaf permisi" ucap Rachel mengabaikan pria itu
"Kau ingin kemana?" ucap pria itu menahan tangan Rachel
"Berapa? Katakan saja aku akan membayarmu berapa pun yang kau minta. Ah apa aku harus memesanmu melalui situs?" sambungnya sembari tertawa.
Pria itu benar-benar meledek dan merendahkannya.
Rachel sangat kesal sekarang ia mengerti apa maksud dari pria di hadapannya itu, Rachel yang awalnya berniat untuk mengabaikan hal itu justru terpancing emosi saat mendengar orang yang ada di sekitarnya membicarakannya dan mentertawakan dirinya.
"Apa maksudmu? Kau pikir aku ini wanita murahan apa?!" ucap Rachel berteriak menepis tangan pria itu.
"Kenapa harus pura-pura seperti itu? Apa itu rahasia? Ah maaf sepertinya sekarang itu bukan rahasia lagi" ucap pria itu sambil mengelus paha mulus Rachel
'Plaakkk' Rachel melayangkan tamparan di wajah pria itu.
Evan yang mendengar ucapan Bryan itu menepuk pundak Bryan tapi mereka berdua justru di buat kaget dengan ucapan pria itu dan tertawaan dari sekelompok pria di sana.
__ADS_1
"Apa yang mereka lakukan?" tanya Evan pada Bryan
Bryan tidak menanggapi pertanyaan itu dan melangkah mendekati Rachel tapi ia segara dihentikan oleh Vallerie.
"Jangan ikut campur malasah mereka kau sudah berjanji pada ku untuk tidak mencampuri urusannya jika kau membantunya maka aku benar-benar akan menyebarkannya" ucap Vallerie merangkul erat lengan Bryan menahannya.
"Kau!" ucap pria itu balik menampar Rachel dengan sangat kuat hingga membuat Rachel terjatuh terduduk di lantai.
"Aw.." pekik Rachel saat sebuah tamparan menghantam pipinya, Rachel menangis karena itu sangat sakit
"Dasar ******" teriak pria itu yang ingin menampar Rachel kembali tapi segera dihentikan oleh Bryan
Persetan dengan Vallerie dan rahasianya itu toh kini ia juga sudah mengetahui rahasia yang Vallerie miliki ia hanya perlu segera melenyapkannya saja yang terpenting sekarang ini adalah kekasihnya.
"Brengsek" ucap Vallerie saat Bryan menghempas kasar tangannya.
Bryan menahan tangan pria itu yang ingin kembali melayangkan tamparan pada Rachel Bryan menarik dua jari pria itu dan menekuknya ke belakang hingga 'kreetek' tulang jari pria itu berbunyi pria itu meringis kesakitan karena sakit di jari nya.
Bryan menghampiri Rachel dan membawa Rachel menjauh dari sana yang masih tidak henti-henti meringis kesakitan.
Bak de javu Bryan menggendong Rachel berlari menuju mobilnya yang ada di parkiran persetan dengan kuliahnya toh mereka tidak akan di skorsing jika hanya tidak masuk satu dua kali mata kuliah.
"Kau tidak perlu menggendongku kan yang sakit hanya pip" ucapan Rachel terpotong karena tiba-tiba ia merasakan nyeri di bokongnya.
Bryan meninggalkan Rachel mencari kotak P3K dan ia juga mengambil handuk basah yang sudah ia rendam dengan air dingin, Bryan masuk ke kamar Rachel dan ia sedikit terperanjat melihat Rachel yang tersenyum sumringah ke arahnya.
"Ada apa denganmu, kenapa tersenyum seperti itu?Kau sudah tidak takut lagi denganku" ucap Bryan tersenyum kecil
"Hehehe shh aaw" Rachel tertawa sambil meringis kesakitan.
Bryan mengobati lebam di pipi Rachel dan luka di sudut bibirnya "Apa kau sangat suka di tampar?" ucap Bryan sambil mengobatinya dan Rachel hanya tersenyum bodoh menatap Bryan.
"Lalu apa ini? *mengelus paha Rachel* bukankah sebelumnya sudah ku katakan untuk tidak mengenakan pakaian seperti ini" sambungnya.
Rachel menatap Bryan penuh arti dan tiba-tiba matanya berair "Maaf" ucap Rachel menahan tangan Bryan yang tengah mengelus pahanya itu.
"Maafkan aku" sambung Rachel dengan air mata mengalir membasahi pipinya
"Jangan pergi lagi" ucapnya lagi dengan menangis tersedu-sedu
__ADS_1
Bukannya menatap haru Rachel yang sedang menangis ia justru tertawa melihat Rachel bagaimana tidak sekarang ini penampilan Rachel benar-benar amburadul, pipi yang bengkak akibat tamparan make up yang luntur dan juga lendir yang keluar masuk dari hidungnya itu membuat Rachel terlihat seperti anak kecil. Meskipun begitu bagi Bryan itu sangat lucu dan Bryan juga sesekali menghapus air mata sekaligus lendir yang keluar dari hidung Rachel tanpa ada rasa jijik atau apapun itu
Kini Bryan dan Rachel tengah duduk bersama di ruang keluarga menyantap makanan mereka sambil menonton tv selain suara tv yang terdengar sesekali juga terdengar suara tawa dari Bryan yang tidak bisa melupakan wajah acak-acakan Rachel.
"Hentikan jangan meledekku terus menerus" ucap Rachel sembari melototi Bryan
"Sayang"
"Hmm?" Bryan tersenyum ini pertama kalinya Rachel menanggapi panggilannya sesantai ini.
Pandangan mata Bryan mengarah pada sebuah bingkisan yang ada di samping tv
"Apa orang tuamu berada di L.A? tanya Bryan
"Tidak, mereka ada di Pennsylvania" ucap Rachel
"Lalu itu kau dapat kan dari mana? Apa kau baru-baru ini pergi ke L.A?" tanya Bryan sambil menunjuk ke arah bingkisan
"Apa itu dari L.A? Aku tidak tau itu tadi pagi Albern kemari memberikan itu" ucap Rachel kembali fokus pada makanannya
Mendengar hal itu Bryan langsung berdiri dari duduknya mendekati bingkisan itu mengeluarkan isinya semacam hiasan patung boneka salju.
'Praanggg' Bryan menghempaskan itu dan membuat Rachel yang tengah makan terperanjat kaget.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Rachel yang masih kaget
"Brengsek" maki Bryan mengambil sesuatu dari pecahan patung boneka salju itu.
Bryan menarik tangan Rachel membawanya menuju ke kamar tidur "Kemas bajumu untuk satu minggu" ucap Bryan
"Untuk apa?" tanya Rachel
"Jangan bertanya apa pun, tolong lakukan saja" ucap Bryan
Rachel menuruti Bryan ia pun mengemas bajunya ke dalam kopernya dan tak berselang lama kini Bryan membawa Rachel menuju ke rumahnya.
"Mulai sekarang tinggallah di sini. Jangan pergi kemana pun apalagi bertemu dengan Bartender itu lagi" ucap Bryan
"Jangan bertanya apapun dan jangan membantah cukup turuti saja perkataanku" sambungnya Rachel hanya mengangguk-anggukan kepalanya mengerti..
__ADS_1