
Bryan sangat senang melihat kekasihnya itu sudah sadar, ia dimarahi habis-habisan oleh Rachel karena wanitanya itu mendengar semua ucapannya tadi meskipun tidak membuka mata tapi Rachel bisa mendengar dengan jelas suara-suara disekitar.
"Jangan pergi" itu hal pertama yang Rachel ucapkan kepadanya.
Rachel memarahi Bryan habis-habisan ia merasa tak terima dengan keputusan Bryan yang ingin pergi meninggalkannya. Ia benar-benar tidak menyalahkan Bryan atas apa yang terjadi padanya hanya saja Emma dan ayahnya tak terima dirinya dekat dengan Bryan dan menurutnya itu semua bukan salah Bryan.
"Maafkan aku" ucap Bryan lirih.
"Berjanjilah kau tidak akan meninggalkanku?" pinta Rachel dan Bryan hanya menganggukkan kepalanya saja.
"Katakan! Kau akan berjanji padaku" ucapnya lagi.
"Baiklah, aku janji" ucap Bryan
"Janji apa? Katakan yang jelas jangan cuma asal janji saja" ucap Rachel lagi, itu sedikit menyebalkan untuk didengar.
"Aku berjanji tidak akan meninggalkanmu" ucap Bryan menghela nafasnya.
Meskipun tidak terlalu yakin apakah ia bisa menepati janjinya atau tidak, setidaknya untuk sekarang ia harus mengatakan itu untuk membuat senang hati wanitanya itu.
"Kenapa menghela nafas seperti itu?, Kau tidak serius mengatakannya? Kau akan meninggalkanku?" ucap Rachel mengajukan banyak pertanyaan pada Bryan.
Bryan menggelengkan kepalanya cepat sembari membantah semua pertanyaan wanitanya itu karena kini Rachel terlihat akan menangis.
"Jangan berpikir yang aneh, kan aku sudah berjanji padamu" ucap Bryan lalu bernafas lega saat melihat wanitanya itu tersenyum.
"Tadi aku seperti mendengar suara ayahku, apa orang tuaku ada disini?" tanya Rachel dan Bryan hanya menganggukkan kepalanya lemah.
"Apa yang terjadi? Dimana mereka?" tanya Rachel lagi dan Bryan kembali menghela nafasnya kasar.
__ADS_1
""Mereka pergi dengan mommy, ibumu teman mommy" ucap Bryan entah apa yang terjadi Rachel kini tengah tersenyum.
"Kenapa tersenyum?" tanya Bryan merasa ada yang aneh dan Rachel menggelengkan pelan kepalanya.
"Katakan! Kau aneh sekali" ucap Bryan lagi dan Rachel tetap menggelengkan kepalanya.
"Apa kau bisa menyuruh mereka kembali, aku rindu sekali dengan orang tuaku" pinta Rachel.
"Sebentar" ucap Bryan hendak bangkit dari duduknya namun dengan cepat Rachel menahan tangannya.
"Kau mau kemana? Kau sudah janji padaku tidak akan meninggalkanku" ucap Rachel lirih.
Bryan kembali duduk di kursinya sembari menghela nafasnya kasar dan hanya menatap Rachel dalam diam sedangkan Rachel kini tengah menatap tajam kearahnya seolah sedang mengawasi gerak geriknya.
"Kenapa tidak hubungi mommy? Aku ingin bertemu orang tuaku, aku merindukan mereka" ucap Rachel.
"Aku tidak bawa ponsel" ucap Bryan menatap malas Rachel.
Bryan menghela nafasnya kasar menurutnya itu lebih baik jika Rachel membencinya daripada harus seperti ini karena sampai detik ini pun ia belum yakin dengan perasaan macam apa yang ia miliki terhadap Rachel.
Jika Rachel membencinya maka akan sangat mudah untuk mereka tidak berhubungan lagi, Bryan hanya tidak ingin menyakiti Rachel lebih banyak lagi karena kedepannya mungkin masih banyak hal-hal buruk yang akan terjadi pada Rachel.
"Mereka lama sekali" keluh Rachel yang sudah tidak sabat menunggu kedua orangtuanya kembali.
"Tunggu saja"
Hanya itu yang keluar dati mulut Bryan ia tidak berniat untuk melakukan sesuatu yang percuma karena ia tau bahwa Rachel tidak akan membiarkannya beranjak dari sana.
Rachel menyelesaikan makan siangnya dengan bantuan Bryan dan Bryan juga sudah menyelesaikan makan siangnya, ia juga mendapat makanan karena ia juga merupakan pasien di Rumah Sakit tersebut.
__ADS_1
Sebelumnya setelah mendapat pukulan keras dari belakang kepalanya membuat Bryan kehilangan kesadarannya dan ia pun dibawa ke Rumah Sakit bersama Rachel, bedanya begitu sudah beristirahat cukup ia langsung sadarkan diri sedangkan Rachel dua hari kemudian baru sadarkan diri.
Bryan merasa tidak nyaman berada di ruangan tempat Rachel berada saat ini karena terllau banyak pasien lainnya membuatnya tak tahan berada disini. Bryan meminta suster untuk memindahkan Rachel ke ruang VIP saja ia juga. meminta double bad agar ia bisa satu
Tak lama kemudian pintu ruangan mereka terbuka menampakkan dua pasang suami istri akan memasuki ruangan mereka.
"Apa yang kau lakukan Bryan? Mommy dengar Rachel sudah sadar kenapa kau tidak mengabari kami? Kami sangat mengkhawatirkannya" omel Jennifer begitu melangkahkan kakinya masuk.
"Aku tidak pegang ponsel" ucap Bryan, meskipun itu terdengar seperti sebuah alasan namun ia sungguh-sungguh dengan perkataannya.
"Alasan macam apa itu?!" omel Jennifer lagi.
"Ra-Rachel sayang" ucap ibunya berjalan mendekat ke kasur Rachel bersama suaminya.
"Kau baik-baik saja nak?" tanya ayahnya dan Rachel hanya menganggukkan kepalanya sembari tersenyum senang.
"Kalian apa kabar? Maaf aku sudah jarang menghubungi kalian" ucap Rachel lirih
"Kami baik-baik saja nak. tidak apa kami mengerti kamu sibuk kuliah" ucap ayahnya lagi.
Rachel sangat malu mendengar ucapan ayahnya itu karena ia sangat sering tidak masuk kuliah, ia bukan sibuk kuliah melainkan sibuk dengan sirinya sendiri sampai jarang mengabari kedua orang tuanya itu.
"Ibu.. maafkan aku" ucap Rachel merasa sangat bersalah saat melihat ibunya itu berlinang air mata.
Caroline hanya menggelengkan kepalanya lalu memeluk tubuh lemah putrinya itu.
"Maafkan kami sayang, seharusnya kami tidak meninggalkanmu sendiri disini" ucap ibunya itu.
"Itu benar seharusnya kami membawamu bersama kami" sambung ayahnya menyetujui ucapan istrinya itu.
__ADS_1
Rachel menggelengkan kepalanya ia tidak merasa ada yang salah dengan itu, semua baik-baik saja hanya saja saat ini ia sedikit bernasib buruk hingga kejadian mengerikan ini menimpanya.
"Kami akan membawa Rachel tinggal bersama kami" ucap ayah Rachel sukses membuat semua orang yang ada disitu kaget apalagi Bryan dan Rachel.