Stuck With Psychopath

Stuck With Psychopath
Episode 69


__ADS_3

"Bryan..."


Rachel bernafas lega saat melihat Bryan datang untuk menyelamatkannya tapi ia juga khawatir karena Bryan kembali bertemu dengan pria yang pernah menculiknya itu hingga akhirnya Rachel kembali kehilangan kesadarannya.


Bryan sangat marah melihat keadaan Rachel saat ini karena lampu yang sangat terang benderang itu ia bisa melihat ada luka ditubuh kekasihnya itu serta tanda merah yang ada dileher dan juga dada kekasihnya itu yabg mengalihkan perhatiannya.


Ia tidak bisa menahan amarahnya, memang benar pria yang ada dihadapannya saat ini bukan tandingannya dalam masalah kekuatan sudah pasti ia kalah tapi ia tidak bisa tinggal riam melihat keadaan Rachel saat ini.


Pria tua bangka itu menyakiti dan melecehkan Rachel. ia tidak mungkin bisa tinggal diam melihat itu dengan segala keberanian yang ia punya mereka berdua pun terlibat dalam perkelahian.


"APA YANG KAU LAKUKAN PADANYA PRIA TUA BRENGS*K" teriak Bryan penuh amarah.


"Apa yang kulakukan? Kurasa kau tidak bodoh untuk mengetahui apa yang sedang kulakukan bersama gadis cantik ini" ucap pria tua itu dengan santainya.


"KAU BRENGS*K!" maki Bryan melayangkan pukulan namun berhasil ditahan dan malah dirinya yang mendapat pukulan dari pria tua itu


Sudah dikatakan sebelumnya kekuatan mereka sangat berbeda dan sudah jelas Bryan lah yang paling dirugikan disini.


"Apa yang kau dapatkan dari menyakitinya?" tanya Bryan menggeram marah.


"Yang kudapatkan? Tidak bisakah kau lihat dengan jelas? Selain terpuaskan dengan jala*g barumu itu aku sangat senang melihatmu menderita" ucap pria tua itu tertawa, Bryan mencoba untuk menahan amarahnya.


"Hah, sepertinya kau salah paham kenapa aku harus menderita karena kau bersenang-senang dengannya? Seperti yang kau katakan dia mainan baruku, aku tidak menderita dengan itu" ucap Bryan mencoba untuk tidak melihatkan kelemahannya, ia tidak ingin pria tua bangka itu tau jika Rachel adalah kelemahannya.


"Menarik" ucap pria tua bangka itu "Tapi wanita ini mengatakan bahwa kalian saling mencintai, dia bahkan mengatakan rela mati demi kau" bohongnya.


"Wanita malang yang bodoh" ucapnya lagi tersenyum licik saat melihat keterkejutan Bryan.


Dengan sengaja pria tua itu menendang kembali perut Rachel, ia tau jika kini Bryan sedang menahan emosinya karena itu dengan sengaja ia memancing emosi Bryan.

__ADS_1


"Dia jauh lebih seksi daripada Emma, tak heran jika kau lebih memilihnya daripada Emma" ucap pria tua itu.


Bryan diam bukan hanya sekedar diam, ia sedang memikirkan bagaimana caranya ia bisa menghentikan pria itu, jika ia bersikap gegabah mungkin ia tidak bisa menyelamatkan Rachel.


Ia sangat merasa bersalah melihat Rachel yang sudah tak sadarkan diri tapi masih saja disakiti, seharusnya ia tidak membawa-bawa Rachel dalam masalahnya ini. ia sendiri saja tidak bisa melawan pria dihadapannya saat ini apalagi Rachel.


Saat pria tua itu terus berceloteh dengan membelakanginya, Bryan mengambil kesempatan itu untuk melangkah mundur mengambil kayu yang berada tak jauh dari tempatnya berdiri saat ini.


Tuhan berpihak padanya dan Rachel dengan cepat ia pun mengayunkan kayu itu kebagian belakang kepala pria tua itu, ia tak hanya melakukannya sekali tapi berkali-kali dan sekarang keberuntungan berpihak pada mereka karena pria tua itu tak dapay melakukan apapun saat ini.


Tidak berhenti dengan memukulinya dengan kayu Bryan juga menendang perut pria tua itu membalaskan apa yang sudah dilakukannya kepada Rachel.


"Kau sangat memalukan! Apa cuma segini kemampuanmu?!" ucap Bryan membalikkan celotehan pria tua itu kepadanya tadi.


*Brakkk


Perhatian Bryan teralihkan saat pintu itu didobrak oleh seseorang dan saat itu juga pria tua itu bangkit balik memukulkan kayu ke kepala Bryan dengan sangat keras hingga membuat Bryan tak sadarkan diri.


Setelah pergi meninggalkan Emma tadi Bryan menemui teman-temannya itu dulu meminta mereka untuk mengurus Emma terlebih dulu dan ia akan pergi mencari Rachel.


Evan, Ryan dan Cathy menuju ke toilet tempat Emma berada. Sesampainya disana hanya Cathy yang masuk dengan membawakan pakaiannya yang ada di mobil Ryan dan memberikannya pada Emma sesuai apa yang dikatakan Bryan pada mereka tadi.


Cathy sangat bingung kenapa ia harus bersikap baik pada wanita licik ini bahkan semua ini ulahnya kenapa juga Bryan masih memperdulikannya. Jujur saja meskipun ia sangat membenci Emma tapi ia sedikit iba dengan keadaan Emma sekarang, wanita yang biasanya terlihat kejam itu entah kenapa sekarang malah terlihat sangat rapuh.


Mereka membawa Emma ketempat yang lebih nyaman dan di sanalah Emma menceritakan semuanya kepada mereka.


"Aku sangat mencintai Bryan. Aku tulus mencintainya tapi semua jadi berubah saat papa terus menyuruhku untuk menyakiti Bryan" ucapnya pada Cathy.


"Papa terus mengatakan akan menjual mama jika aku tidak menuruti perintahnya, papa bahkan memaksaku berhubungan dengan ancaman yang sama dan aku tidak punya pilihan lain selain menurutinya" jelas Emma lagi.

__ADS_1


"Papa itu pria yang licik, jahat dan kejam. Dia bahkan tega menyakitiku yang anak kandungnya apalagi Rachel yang merusak rencananya" ucapnya lagi.


"Jadi sekarang Bryan senang menemui papamu sendirian? Kau tau bukan jika papamu pernah menculik Bryan?" tanya Evan dan Emma hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.


"Papa sangat membenci keluarga Bryan, papa menyalahkan orang tua Bryan atas apa yang terjadi padanya" ucap Emma.


"Kalian harus menolong Bryan, kalian harus membantunya. Papa itu sangat licik" ucapnya lagi


"Katakan dimana mereka sekarang?" tanya Evan dan Emma pun mengatakannya.


"Kalian harus membawa polisi bersama kalian, jika hanya kalian saja itu tidak bisa menghentikan papa karena disana ada banyak pria bajingan sepertinya" ucap Emma lagi.


Saat itulah Evan dan Ryan beranjak pergi dari sana meninggalkan Cathy dan Emma di kamar itu, mereka juga menghubungi polisi dan setelah polisi barulah mereka pergi menyusul Bryan.


Suasana canggung menyelimuti keduanya, Cathy sangat membenci Emma tapi tidak dengan Emma, ia tidak memiliki emosi spesial seperti itu pada Cathy karena baginya Cathy itu orang asing.


"Maafkan aku" ucap Emma tiba-tiba memecah keheningan diantara mereka dan Cathy hanya menatapnya tak mengerti.


"Maaf untuk apa?" tanya Cathy entah kenapa ia malah merasa jadi wanita jahat saat ini.


"Maaf sudah menabrak dan mengataimu tadi" ucap Emma.


Cathy menghela nafasnya kasar, kenapa harus diingatkan lagi.


"Sudahlah lupakan saja, tidak ada gunanya dibahas lagi" ucap Cathy acuh.


"Terima kasih sudah menolongku" ucap Emma lagi membuat Cathy merasa kesal.


"Ada apasih denganmu? Bersikap saja seperti biasanya, jangan seperti ini! Tidak cocok untukmu" ucap Cathy.

__ADS_1


Emma hanya tersenyum canggung sedangkan Cathy acuh terhadapnya, ia tak memperdulikan mau bagaimana wanita itu karena semua ini terjadi ulahnya.


__ADS_2