
“Kalian duluan aja, aku mau mengambil bukuku yang ada di loker” ucap Rachel pada kedua sahabatnya Giska dan Vely berlalu berjalan menuju loker.
Sudah seminggu sejak insiden rumor kejadian yang tak mengenakkan antara dirinya dan Bryan yang berdampak buruk padanya saat itu.
Setelah kejadian terakhir saat di tempat kerja Rachel yang baru Bryan bersikap seolah-olah tidak ada yang terjadi sebelumnya dan Bryan semakin menempel kepadanya, Rachel di buat kewalahan menghadapi Bryan terutama sikap manjanya yang berasal entah dari mana itu, jujur saja itu membuat Rachel sangat risih.
Meskipun dalam seminggu ini Bryan selalu bersikap baik dan lembut padanya Rachel tetap waspada khawatir sewaktu-waktu membuat kesalahan besar dan membuat si psychopath itu berubah pikiran dan menyerangnya.
‘krieek...’
“Aaaa” teriak Rachel kaget melihat isi lokernya.
Ia menutup mulutnya kaget dan secara naluriah kakinya bergerak mundur ke belakang saat melihat ada bangkai tikus di dalam lokernya yang sudah membusuk. Namun saat ia melangkah ke belakang tubuhnya justru membentur sesuatu saat ia membalikkan badannya melihat objek itu ia di buat kaget dua kali.
Bukan menabrak sesuatu lebih tepatnya menabrak seseorang yaitu kekasihnya Bryan. Bryan memicingkan matanya menatap tajam ke arah loker Rachel mengamati bangkai tikus yang tergeletak di sana.
“Nanti akan aku suruh seseorang untuk membersihkannya” ucap Bryan beralih menatap Rachel.
“Tidak perlu, aku...”
“Ayo!” ajak Bryan.
Rachel tak membantah lagi dan mengikuti Bryan tanpa tahu akan pergi ke mana, lagi pula ia sudah kapok jika terus mengikuti kata hatinya untuk terus membantah. Terlebih lagi seminggu yang lalu Bryan sudah memperingatinya agar bersikap baik, jujur saja rasa takut Rachel pada Bryan semakin meningkat dari sebelumnya.
Meskipun Bryan lebih sering bersikap baik dan hangat padanya akhir-akhir ini tetapi sekali marah Bryan terlihat sangat menakutkan. Percaya atau tidak Bryan yang memperingatinya seminggu yang lalu terlihat lebih menyeramkan di banding Bryan yang melukai lehernya.
__ADS_1
Jujur saja sekarang ini ingin rasanya Rachel menangis. Kejadian itu sangat tak terduga dan sangat menyeramkan, saat ini bukan hanya Bryan yang harus di waspadainya tetapi orang lain yang juga menaruh dendam padanya yang tidak tahu siapa orangnya itu.
Padahal sudah seminggu berlalu keadaan kampus kembali normal seperti biasanya hanya satu, dua orang yang mengatainya itu pun tidak secara terang-terangan. Tapi kali ini apa lagi? Kenapa bisa ada bangkai tikus di lokernya? Siapa yang melakukan semua ini? Itu menjadi tanda tanya besar untuk Rachel.
Tapi Rachel menahan air matanya mencoba mengalihkan pikirannya dari kejadian itu dan bersikap biasa-biasa saja seperti tidak ada yang terjadi padanya.
Rachel dan Bryan kini tengah memakan makanan mereka masing-masing di kantin.
“Aaak?” ucap Bryan sukses membuat Rachel mengangkat kepalanya menatap ke arah si pemilik suara.
Rachel terdiam beberapa detik sambil menatap makanan yang disodorkan Bryan melalui sendoknya setelahnya Rachel pun menerima suapan itu dan memakannya.
“Untuk pasangan di meja ini tolong sedikit di kondisikan kemesraannya jangan sampai membuat orang lain sampai mengeluarkan isi perutnya mereka karena kalian berdua” ucap seseorang.
“Wah bagaimana kau bisa memperlakukanku seperti itu?” kaget Evan saat melihat Bryan yang memperlakukannya dengan kasar.
“Seharusnya kau tidak menerima suapan brengsek ini Rachel, dia sangat mengerikan” ucap Evan yang tentu saja mendapat tatapan tajam dari Bryan.
“Kenapa kau di sini? Pergi sana” usir Bryan saat Evan baru saja mendudukkan dirinya di samping Bryan.
“Apa pedulimu? Aku kemari bukan untuk menemuimu” ucap Evan dengan nada yang mengesalkan.
“Lalu untuk apa kau kemari? Pergi saja sana tidak ada yang menerimamu di sini” usir Bryan satu kali lagi.
Rachel tersenyum menahan tawanya melihat tingkah Bryan dan Evan. Kedua pria ini terlihat sangat lucu jika bersama, ia tidak dapat memikirkan bagaimana kesalnya Bryan saat menghadapi Evan yang sama keras kepalanya dengan Bryan itu.
__ADS_1
“Kenapa tidak ada? Tentu saja ada” ucap Evan sambil menatap Rachel dengan puppy eyes nya.
“Aku kemari bukan untukmu tapi untuk Rachel” jelas Evan sekali lagi.
“Kau!” ucap Bryan menggeram kesal.
“Aku? Kak Evan ada perlu apa denganku?” tanya Rachel pada kakak tingkatnya itu.
“Ah tidak perlu serius seperti itu, aku kemari hanya ingin melihat senyum manis Rachel dan aku sudah melihatnya jadi keinginanku sudah terkabulkan” ucap Evan sengaja memanas manasi Bryan.
Dan di detik itu juga secepat kilat Evan bangkit dari duduknya dan kini berdiri di ujung meja sebelum beranjak pergi dari sana “Sampai jumpa lagi, Rachel” ucapnya berlari pergi tak ingin mendengar amukan Bryan.
“Mati saja kau!” pekik Bryan saat melihat Evan tertawa menatapnya dengan ekspresi wajah yang mengejeknya.
Rachel terkikik geli melihat tingkah kedua sahabat itu sepertinya Evan adalah sahabat sejati Bryan sehingga ia bisa santai seperti itu kepadanya.
“Apa itu lucu, sayang?” tegur Bryan.
Rachel mengatupkan bibirnya menahan tawanya karena ia tak ingin membuat Bryan kesal dengan mendengar tawanya.
“Jangan bertemu dengannya tanpa diriku, mengerti?” ucap Bryan dan diangguki Rachel yang masih menahan tawanya gemas melihat reaksi Bryan yang tak terduga itu.
“Awas aja brengsek itu” ucap Bryan.
Bahkan ia cemburu saat Rachel digoda sahabatnya sendiri yang notabennya hanya bercanda tidak serius ingin menggoda.
__ADS_1