
“Kau terlihat sangat semangat sekali” tegur Silla menyenggol bahu Rachel. Silla adalah partner kerja Rachel di kafe.
“Apa terlihat sangat jelas? Aku juga tidak tau kenapa sebahagia ini” ucap Rachel terkekeh.
“Pelanggan akan takut melihatmu jika terus tersenyum sendiri seperti itu” goda Silla.
Rachel yang tersadar itu pun tanpa sengaja matanya bertatapan dengan wanita cantik yang mengangkat tangannya menandakan ingin memesan sesuatu dengan berlari pelan Rachel menghampiri pelanggan tersebut.
“Saya pesan Ice Latte satu” ucap wanita itu tersenyum bahkan senyumnya terlihat sangat cantik di mata Rachel.
Rachel mencatat pesan wanita tersebut “Ada lagi?” tanya Rachel ramah dan wanita itu menggelengkan kepalanya tanda tidak ada lagi yang ingin di pesan, Rachel pun mengangguk pelan lalu undur diri dari hadapan wanita itu.
Rachel pergi membuatkan pesanan wanita itu tak lama setelahnya Rachel pun kembali ke meja wanita tersebut dengan membawa nampan yang di atasnya terdapat secangkir Ice Latte.
“Ah terima kasih” ucap wanita itu ramah. Rachel pun menjawab ramah ucapan wanita tersebut dan pamit pergi dari sana namun wanita tersebut menahan tangannya.
“Tunggu sebentar” tahan wanita itu saat Rachel ingin pergi.
“Iya nona, ada yang bisa saya bantu?” tanya Rachel tersenyum ramah.
“Bisakah kau menemaniku sebentar di sini?” tanya wanita tersebut menanti jawaban Rachel “Tenang saja, aku akan menjelaskan nanti dengan bosmu” ucapnya lagi saat melihat wajah khawatir Rachel.
Rachel tersenyum kikuk ia merasa tidak enak hati untuk menolak permintaan wanita itu terlebih lagi wanita itu sudah mengatakan akan menjelaskan jika bosnya nanti marah kepadanya, Rachel pun menyetujui permintaan wanita itu dan duduk di hadapannya.
“Siapa namamu?”
“Ah, saya Rachel nona”
“Rachel? Nama yang cantik seperti orangnya. Dan ya, namaku Jennifer”
“Anda juga terlihat sangat cantik nona” puji Rachel.
“Nona? Apa kau dari tadi menyebutku nona Rachel?” tanya Jennifer baru sadar jika Rachel memanggilnya nona.
__ADS_1
Rachel hanya menatap bingung ke arah Jennifer memikirkan apa ada yang salah dari panggilannya itu.
“Come on Rachel, umurku sudah empat puluh enam tahun bagaimana kau bisa memanggilku dengan sebutan itu. Itu sangat memalukan untukku” ucap Jennifer tertawa
Rachel membulatkan matanya tak percaya jika Jennifer sudah berumur empat puluh tahun. Ia pikir masih berumur tiga puluh awal, ia bingung harus mengatakan apa lagi sepertinya ia sudah membuat Jennifer tersinggung wanita itu.
“Benarkah nyonya? Maaf, ah tidak...” Rachel bingung dengan apa yang harus diucapkannya.
“Hahaha tidak apa Rachel itu bisa saja terjadi. Asal kau tahu saja aku sudah memiliki anak mungkin dia lebih tua sedikit darimu” jelas Jennifer.
“Anda terlihat muda karena itu saya tidak menyadarinya” ucap Rachel kikuk.
“Tidak apa lupakan saja itu” ucap Jennifer tersenyum manis.
“Lain kali kita harus bertemu lagi dan saat itu aku akan membawa anakku biar kamu bisa berkenalan dengannya, siapa tahu kalian berjodoh nantinya. Hem seperti jatuh cinta pada pandangan pertama?” Jennifer menggoda Rachel, entah kenapa ia sangat tertarik dengan Rachel.
“Dan ini kartu namaku” ucap Jennifer memberikannya kepada Rachel. “Aku memiliki butik dan sebenarnya aku ingin kau menjadi model di butikku, apa kau mau Rachel?” tanya Jennifer mengucapkan niatnya.
Rachel terdiam terpaku pada kartu nama yang di berikan Jennifer. Model? Yang benar saja, apa ini mimpi. Apa nyonya Jennifer tidak salah orang pikirnya.
“Ah iya nyonya, saya akan pikirkan dulu ya nyonya” ucap Rachel sopan.
Jennifer tersenyum tulus pada Rachel “Baiklah Rachel, kalau begitu aku tinggal dulu ya soalnya ada meeting. Jangan terlalu lama memikirkannya segera hubungiku ya”
“Aku harap saat kau menghubungiku itu berita baik” ucapnya lagi sebelum benar-benar meninggalkan kafe itu.
“Dia siapa Rachel?” tanya Silla pada Rachel
“Entahlah, tapi aku sangat menyukainya dia sangat baik” jelas Rachel pada Silla.
...****************...
Bryan memasuki kafe tempat Rachel bekerja dengan senyuman tipis yang terukir di bibirnya, ia mengedarkan pandangan matanya ke seluruh penjuru kafe mencari sang kekasih.
__ADS_1
Bryan melangkahkan kakinya saat menemukan sosok yang di cari, Rachel terkejut saat melihat Bryan kini berada di hadapannya. Ah sekedar informasi saja pegawai dan bos tempatnya bekerja sudah mengetahui jika Bryan adalah kekasihnya.
“Kenapa kemari?” tanya Rachel tak nyaman dengan keberadaan Bryan.
“Apalagi, tentu saja membunuh orang” jawab Bryan kelewat santai.
Rachel membulatkan matanya kaget “Hey, apa kau gila?” ucapnya melirik kanan kiri.
“Hanya bercanda”
“Kau sebut itu bercanda? Wah kau ini benar-benar” ucap Rachel menggeleng pelan kepalanya. Mungkin jika orang lain yang mengatakan hal itu Rachel bisa menanggapi itu hanya sebuah candaan tapi jika Bryan si psychopath itu mana mungkin bisa.
“Lupakan saja, ayo pulang”
“Ck, selalu saja begitu. Ini belum waktu pulang” tolak Rachel.
“Bisa-bisa aku di pecat kalo pulang awal terus” sambungnya.
“Tidak apa jika di pecat” ucap Bryan dengan santainya.
Rachel menatap sinis ke arah Bryan, ia tak percaya bagaimana mungkin pria itu bisa dengan santainya mengatakan hal itu ingin rasanya ia memukul belakang kepala psychopath itu.
“Lalu bagaimana aku bisa hidup” ucap Rachel memutar malas bola matanya.
“Menikahlah denganku, aku bisa menghidupimu jadi kau tidak perlu bekerja hanya untuk hidup" ujar Bryan.
Rachel mengabaikan perkataan Bryan “Duduklah di sana, tunggu satu jam lagi waktu kerjaku akan selesai. Jika tidak ingin, pulanglah sen...” ucap Rachel terpotong
“Baiklah, aku akan tunggu” ucap Bryan cepat.
Rachel tidak menanggapi ajakan Bryan yang mengajak menikahinya itu karena entah kenapa rasanya seperti candaan bagi Rachel. Awalnya jujur saja saat pertama kali Bryan mengatakan untuk menikah dengannya Rachel merasa berdebar dan senang.
Walaupun sekarang pun tetap berdebar namun ia tidak terlalu menanggapinya karena ia sadar bahwa Bryan tidak serius mengajaknya untuk menikah. Memang benar akhir-akhir ini Bryan menjadi lebih baik dan lembut terhadapnya dan Rachel pun tergerak olehnya namun Rachel juga sadar karena Bryan tidak pernah mengatakan bahwa dia mencintainya.
__ADS_1
Bryan duduk manis seperti anak anjing yang patuh pada majikannya, pandangan matanya selalu bergerak seirama dengan gerak-gerik Rachel. Ia selalu mengawasi Rachel dari tempat duduknya.