
Sepanjang perjalanan Bryan terus melirik ke arah Rachel yang berada disampingnya setelah dipikir-pikir lagi bajunya itu sangat seksi karena saat duduk hampir menunjukkan semua paha mulus kekasihnya itu.
Bryan seketika terbayang ekspresi wajah Ryan dan Evan nanti saat melihat Rachel mungkin kedua bajingan mesum itu akan menatap lapar ke arah Rachel.
"Hey! Bukan ini tempatnya?" tanya Rachel membuyarkan lamunan Bryan karena mereka sudah tiba daritadi tapi Bryan tak kunjung keluar dari mobil dan hanya menatapnya diam.
Bryan tersadar dari lamunannya ia bangkit dari kursinya untuk mengambil jaketnya yang ada di bangku belakang lalu memberikannya pada Rachel.
"Hm? Untuk apa?" tanya Rachel bingung
"Tutupi itu" ucap Bryan menunjuk ke arah kaki Rachel.
Rachel menatap jengah kearah Bryan apalagi kali ini. Sejak tadi ia mengatakan bahwa baju ini sangat seksi untuknya tapi pria itu tetap menyuruhnya untuk memakainya tapi sekarang malah menyuruhnya menutup bagian kakinya.
Rachel keluar dari mobil dengan jaket milik Bryan yang melingkar di pinggangnya yang menutupi bagian belakangnya dan sedikit bagian depannya.
Bryan menatap lekat Rachel dan Rachel hanya menatap bingung kearah Bryan, kali ini apalagi pikirnya. Bryan berjalan mendekati Rachel melepaskan ikatan jaketnya yang ada di pinggang Rachel lalu menyuruh Rachel untuk menggunakannya saja.
"Bagaian dadamu terlalu terbuka" ucap Bryan, mendengar hal itu Rachel menghela nafasnya kasar.
"Kenakan saja! Aku akan menjemputmu sebentar lagi" ucap Rachel mengulang balasan pesan yang Bryan kirimkan padanya tadi.
Mendengar itu Bryan menatap tajam kearah wanitanya itu, bisa-bisanya malah menyalahkannya. Ia juga tidak tau jika baju seperti ini yang akan dikirimkan ibunya. Dialah yang paling dirugikan disini karena semua orang yang ada didalam sana bisa melihat tubuh seksi kekasihnya itu, memikirkannya saja membuatnya marah.
'Percayakan saja pada mommy' hanya itu yang dikatakan ibunya tadi dan sekarang ia menyesal mempercayakan semua pada ibunya itu.
"Sudahlah ayo masuk" ucap Bryan mencoba untuk bersikap biasa-biasa saja.
Gemerlap lampu bernuansa remang-remang disertai suara musik kencang yang mulai mengganggu indra penglihatan dan pendengaran Rachel saat ini.
Tempat ini dipenuhi banyak orang dan beberapa kali pandangan matanya menangkap sosok wanita yang menggunakan pakaian jauh lebih terbuka daripada yang ia gunakan, setidaknya ia bisa sedikit bernafas lega karena masih ada yang lebih parah darinya.
Ini pertama kali baginya masuk ke club dan jujur saja berada disini sangat tidak nyaman untuknya bahkan belum ada tiga mening didalam sini ia sudah merasa pusing dengan kebisingan yang ada.
"Jangan jauh-jauh dariku, ini jangan dilepas oke?" ucap Bryan semakin mengeratkan genggaman tangannya pada Rachel dan kekasihnya itu hanya menganggukkan kepala sebagai jawaban.
"Aww..." ringis Rachel sedikit kesakitan.
Karena tidak terbiasa berada ditempat dan keramaian ini membuatnya beberapa kali tidak sengaja tersenggol orang-orang yang ada disana, jika Bryan tidak menggenggam tangannya mungkin ia akan hilang.
"Bryan" panggilnya sedikit berteriak dan Bryan pun menoleh ke arahnya.
__ADS_1
"Hm? Kenapa sayang?" tanya Bryan
"Tempat ini terlalu bising dan terlalu banyak orang, ini membuatku jadi pusing" ucap Rachel membuat Bryan menghentikan langkahnya.
"Yasudah kita pulang saja kalau begitu" ucap Bryan dengan santainya yang justru membuatnya mendapat pukulan pelan dari Rachel.
"Kenapa sayang?" tanya Bryan heran
"Kalau kau tidak nyaman berada disini kita pulang saha karena kau jauh lebih penting daripada bajingan-bajingan itu" ucapnya yang sekali lagi mendapat pukulan dari Rachel yang kini tengah malu-malu dengan wajah yang memerah, Bryan menaikkan alis matanya karena tidak tau kenapa wanitanya itu jadi malu.
"Jangan menggodaku" ucap Rachel malu.
"Hm? Tidak.. aku tidak menggodamu sebenarnya aku juga malas berada disini" ucap Bryan lagi.
Seketika wajah merona dan hatinya yang sempat berdebar-debar itu kehilangan semangatnya dan kini ia justru merasa kesal pada Bryan. bagaimana tidak padahal ia sudah sepercaya diri itu meminta Bryan untuk tidak menggodanya dan dengan sangat jujur pria itu mengatakan tidak sedang menggodanya.
Apa semua psycho sejujur Bryan? Apa tidak pandai berbohong sedikit saja demi menyenangkan hati orang lain? Sekali menyebalkan tetap menyebalkan.
Mereka akhirnya tiba di depan ruangan tempat dimana teman-teman Bryan berada, dari luar sini terdengar kebisingan yang cukup ramai didalam sana sepertinya tidak hanya Evan dan Ryan saja disana.
Bryan menghela nafasnya kasar, ia sangat malas jika harus berakhir di dalam sana karena sepertinya Ryan mengundang teman satu kelas mereka saat sekolah dulu, akan ada para bajingan lainnya.
"Wooo! ini dia bintang utama kita" ucap Ryan saat pintu terbuka dan memperlihatkan Bryan disana.
"Dimana si cantik itu?" tanya Ryan karena tak melihat Rachel karena wanita mungil itu berada di belakang tubuh Bryan.
Dengan ragu Rachel bergerak untuk menyamakan posisinya disamping Bryan dan saat itu juga mata para lelaki disana tertuju pada Rachel.
"Woah! Apa ini Rachel? Kau terlihat lebih seksi dari sebelumnya" ucap Evan asal karena kagum melihat keseksian Rachel yang luar biasa itu.
"Jaga pandangan kalian!" hardik Bryan.
Bryan membetulkan jaket yang dikenakan Rachel pria itu bahkan mengancing jaket itu.
"Jangan membukanya" ucap Bryan pada Rachel, seharusnya dirumah tadi ia menyuruh Rachel ganti baju saja.
Bryan melangkahkan kakinya mendekat ke meja tempat temannya berada dan diikuti dengan Rachel yang membuntutinya dari belakang, wanita itu terlihat canggung.
"Hai Rachel" ucap Ryan menyodorkan tangannya untuk berjabat tangan belum sempat Rachel menerima tangan itu terlebih dahulu ditepis Bryan.
"Hai" ucap Rachel semakin canggung karena kelakuan Bryan itu.
__ADS_1
"Seperti biasa Rachel selalu cantik" ucap Evan yang berjalan kearah mereka dan duduk disamping Rachel, lebih tepatnya memaksa Rachel untuk bergeser agar dirinya bisa duduk disamping Rachel.
"Rachel kedinginan? Kenapa pakai jaket?" tanya Evan menyentuh jaket Rachel dan tentu saja tingkahnya itu mendapat tatapan tajam dari Bryan.
"Jangan menyentuhnya! Menjijikan" ucap Bryan kesal.
"Kau kasar sekali, Rachel tidak ingin berpisah dari Bryan dan menjadi kekasihku? Aku orangnya tidak sekasar dia" ucap Evan asal.
"Tutup mulut kotormu itu!" ucap Bryan yang terbawa emosi.
"Lihatlah mulutnya kasar sekali" ucap Evan lagi dan Rachel hanya tersenyum canggung menanggapi ucapannya itu.
Bryan mengedarkan pandangannya ke sekitar dan benar saja para bajingan lainnya kini tengah menatap Rachel.
"Lepas jasmu!"perintah Bryan pada Evan.
"Jasku? Mau kau apakan? Ini mahal" ucap Evan enggan.
"Lepas saja! Akanku ganti yang lebih mahal daripada itu" ucap Bryan dengan santainya, jika bukan karena hal penting ia juga tidak sudi meminjam jas Evan.
Evan dengan senang hati melepas jasnya lalu memberikannya kepada Bryan dan detik itu juga Bryan dengan cepat menutup paha mulus Rachel yang terekspos itu.
Evan yang melihat itu tersenyum penuh kemenangan sedangkan Ryan hanya menatap tingkah Bryan tak percaya.
"Woah! 10.000" teriak Evan penuh kemenangan membuat yang lainnya melirik kearahnya.
"Haha sorry-sorry, biarkan saja aku kalian lanjut saja" ucapnya canggung.
Hanya Ryan yang mengerti kenapa sahabatnya itu berteriak seperti itu. Sepulangnya Bryan dari tempatnya tadi mereka berdua bertaruh.
Ryan tidak mempercayai ucapan Evan yang mengatakan jika Bryan itu benar menyukai Rachel hanya saja ia tidak ingin jujur pada dirinya sendiri dan keduanya pun memilih untuk bertaruh.
Ryan berani bertaruh seperti itu karena sepanjang ia mengenal Bryan, pria itu tak pernah memperdulikan. orang disekitarnya. Tapi apa ini?
"Mana rekeningmu?" ucap Ryan menghela nafasnya kasar sedangkan Evan dengan senang hati memberi ponselnya pada Ryan.
"Apa yang kalian berdua lakukan?" tanya Bryan menyelidik.
"Haha bukan apa-apa" ucap Evan mengelak.
"Ayo kita lanjutkan acaranya" sorak Evan membuka botol minuman yang ada di meja itu.
__ADS_1