Stuck With Psychopath

Stuck With Psychopath
Episode 28


__ADS_3

Ia cukup marah melihat kelancangan Rachel yang berani-beraninya memasuki ruangan rahasianya itu dan ia hanya berniat sedikit mengancam kekasihnya itu. Namun karena wanitanya itu sangat keras kepala ia pun terpaksa memberikan sangsi yang cukup kejam dan dengan terpaksa ia menggores sedikit leher Rachel dengan pisau lipat tajam kesayangannya itu.


Ia tahu itu akan menyakitkan tapi ia sangat tidak menyangka jika itu akan membuat kekasihnya itu sampai pingsan seperti itu.


Rachel mengerap-kerjapkan matanya berusaha bangun dari tidurnya dan sekali lagi ia terbangun di kamar yang sama seperti sebelumnya. Ia menyentuh lehernya yang tiba-tiba terasa sakit saat ia menggerakkan kepalanya yang sekarang sudah di balut perban.


“Ssh Aw...” ringis Rachel saat merasakan nyeri pada lehernya.


“Apa masih sakit?” tanya Bryan sontak membuat Rachel kaget saat Bryan masuk begitu saja ke dalam kamarnya.


Rachel beringsut menjauh saat si pelaku yang menggoreskan pisau tanpa perasaan di lehernya itu dan berkata dengan santainya jika akan membunuhnya itu berjalan mendekatinya.


“Jangan takut”


Rachel menatap tak percaya ke arah Bryan saat pria itu mengatakan padanya untuk jangan takut, apa itu masuk akal? Setelah menorehkan pisau pada lehernya dan mengancam akan membunuhnya bagaimana mungkin ia tidak takut.


Ia tak mengindahkan perkataan konyol yang keluar dari mulut Bryan dan tetap memilih untuk bergerak menjauhi Bryan, ia takut jika satu kali lagi harus merasakan sakit yang sama yang kemarin terjadinya.


“Jangan bergerak!” pekik Bryan.


“Berhenti Rachel!” hardik Bryan saat Rachel bersiap-siap akan turun dari tempat tidurnya.


Rachel memilih untuk mengabaikan setiap perkataan Bryan memilih untuk tetap berusaha agar dapat keluar dari sana jika ia memang masih ingin hidup pikirnya.

__ADS_1


“Kau akan menyesalinya sayang” peringati Bryan namun tetap di abaikan oleh Rachel.


“Kau tak akan bisa pergi ke mana-mana” ucap Bryan dengan seringaian yang tercetak jelas di bibirnya.


Rachel terus berlari keluar kamar menuju pintu keluar dari rumah tersebut tanpa memperdulikan Bryan yang terus mengoceh di belakangnya sembari berjalan mengejarnya. Namun sayangnya sesaat tiba di depan pintu rumah Bryan langkahnya justru terhenti karena pintu tersebut terkunci dengan sebuah sistem keamanan yang sudah di atur sebelumnya.


Bryan menyeringai sekali lagi saat melihat kekasihnya itu berdiri diam ketakutan di depan pintu. “Aku kan sudah mengatakannya, kau tak akan bisa keluar dari sini” ucap Bryan tersenyum licik.


Rachel berbalik badan menghadap Bryan yang kini masih berjalan menghampirinya sekitar lima meter jauh berada di depannya. Rachel merutuki kebodohannya karena telah mencoba kabur namun hasilnya malah gagal total seperti ini, apa lagi sekarang rasa nyeri di lehernya terasa semakin sakit.


Kini Bryan sudah sangat dekat dengannya dan Rachel pun hanya bisa pasrah dengan keadaan karena tidak ada lagi yang bisa dia lakukan saat ini dan ia memilih untuk berdiam diri di tempatnya menantikan Bryan mendekatinya dan membunuhnya meskipun sangat takut namun ia berharap kali ini ia juga kembali pingsan agar tak merasakan sakitnya saat di bunuh oleh Bryan nantinya.


“Lakukanlah jika kau benar-benar ingin membunuhku” ucap Rachel tiba-tiba lalu menutup matanya erat, tangannya menggenggam erat ujung bajunya menahan ketakutannya jika Bryan bersungguh-sungguh dengan perkataannya ingin membunuhnya itu.


“Seharusnya kemarin kau langsung saja membunuhku waktu aku pingsan, kenapa harus menungguku sadar dulu baru kau ingin melakukannya” ucap Rachel sangat cepat


“Kalo seperti ini aku akan merasakan sakitnya” ucap Rachel pelan dan lirih dan Bryan menutup rapat bibirnya agar tidak tertawa.


“Kalau itu yang kau mau baiklah akan aku kabulkan permintaanmu itu sayang” ucap Bryan kembali berubah menjadi pria dingin yang mematikan.


Rachel memejamkan erat matanya menahan ketakutannya dan menunggu pria itu melenyapkannya. Ia terus merapalkan kata maaf di dalam hatinya kepada keluarga dan teman-temannya, dan ia bahkan berdoa agar ia langsung lenyap hanya dengan satu kali tusukan atau tidak buatlah ia pingsan setelah terkena satu tusukan agar dia tak merasakan sakitnya di tusuk-tusuk dengan pisau-pisau tajam yang semalam sempat ia lihat di ruang rahasia tersebut.


Setelah dua menit berlalu Rachel memiringkan kepalanya dan keningnya yang mengerut karena ia tak merasakan apa pun di tubuhnya ia juga tak merasakan gerak-gerik dari Bryan. Karena merasa ada hal yang aneh ia pun memutuskan untuk membuka matanya dan ia di buat kaget dengan pemandangan di depannya karena wajah Bryan berada tepat di hadapannya sangat dekat.

__ADS_1


‘Cupp’ belum hilang rasa terkejutnya melihat wajah Bryan ada tepat di hadapannya tanpa di duga pria itu sudah mengecup bibirnya.


Rachel yang masih terkejut di buat terkejut lagi dengan yang saat ini Bryan lakukan terhadapnya dan ia hanya bisa terdiam dan membelalakkan matanya lebar. Dan lehernya juga terasa sakit karena kepalanya yang di dongakkan oleh Bryan karena perbedaan tinggi di antara keduanya yang cukup berbeda.


Bryan melepaskan ciuman itu selang beberapa detik ia kembali menautkan bibirnya dengan Rachel. Bryan menikmati ciuman itu meskipun tak mendapat balasan dari Rachel.


Bryan menatap mata Rachel dalam dengan nafas yang sedikit terengah “Tolong dengarkan aku, lehermu akan semakin terasa sangat sakit jika kau terlalu banyak bergerak”.


Meskipun ia melakukan hal keji itu dengan tangannya sendiri tetap saja ia merasa khawatir dengan keadaan Rachel dan ia juga melakukan hal itu dengan terpaksa karena Rachel adalah wanita yang sangat keras kepala dan membuatnya harus bersikap lebih tegas kepada Rachel agar wanitanya itu tidak membantahnya dan menuruti perkataannya.


Sedangkan Rachel ia hanya bisa mengernyit dan memiringkan kepalanya kebingungan dengan sikap Bryan yang secara tiba-tiba berubah menjadi sangat lembut kepadanya dan secara mengejutkan dalam hitungan detik bisa kembali berubah menjadi sangat menyeramkan.


Dan Rachel memekik kaget saat Bryan tiba-tiba menggendongnya ala bridal styles menuju ke kamar. Bryan meletakkan tubuh kecil Rachel di atas kasurnya dengan sangat pelan dan hati-hati.


“Diam saja di sini, jangan keras kepala” ucap Bryan.


Rachel yang masih merasa takut kepada Bryan pun kali ini memilih untuk menuruti perkataan Bryan daripada membantahnya siapa tahu pria itu benaran akan melenyapkannya kali ini.


Namun sebelum Bryan pergi meninggalkan Rachel, pria itu sekali lagi Rachel di buat kaget dengan Bryan yang tiba-tiba mengecup lehernya yang terbungkus perban beberapa detik dan mengatakan hal yang membuat Rachel sangat tak percaya mendengarnya.


“Maaf?” ucap Rachel setengah berbisik saat Bryan sudah menghilang dari balik pintu kamarnya.


Benarkan psychopath itu mengatakan maaf saat mengecup lehernya tadi? Apa itu hanya ilusinya saja? Rachel menerka-nerka dalam hatinya. Jika benar Bryan meminta maaf lalu kenapa ia melakukan hal yang justru di sesalinya itu?

__ADS_1


__ADS_2