
"Umm.. apa kau juga mengenal Bryan dari kecil?" tanya Rachel pada Cathy penasaran dan wanita itu hanya menggelengkan kepalanya.
"Tidak, aku mengenalnya saat kita di sekolah menengah dan dekat seperti ini sejak tahun terakhir sekolah karena saat itu aku baru berkencan dengan Ryan" jelas Cathy.
"Tapi aku banyak dengar tentang Bryan karena dia sangat terkenal di sekolahku dan sebelum bertemu dengannya aku banyak dengar tentangnya dari Ryan" ucapnya lagi.
"Benarkah? Bagaimana kehidupan sekolah Bryan?" tanya Rachel semakin penasaran.
"Aku tidak tau pasti bagaimana dia dikelasnya tapi di sekolah dia terkenal cuek dan dingin. Tidak hanya wanita Bryan juga sering mengabaikan pria yang ingin berteman dengannya, teman dengannya hanya mereka berdua Bryan dan Evan" jelas Cathy.
"Pasti banyak wanita yang menyukainya" gumam Rachel
"HAHA that's right. Bryan, Ryan dan Evan jadi incaran banyak wanita disekolah kami dan harus kuakui ketampanan mereka sangat luar biasa" ucap Cathy.
"Huh.. aku sangat iri dengan kedekatan kalian" ucap Rachel tersenyum kecut dan justru mendapat pukulan kecil di pundaknya.
"Jangan berkata seperti itu.. Kau sangat beruntung karena yang ku tau Bryan tidak begitu tertarik dengan kencan dan selama kukenal dia tidak pernah mengenalkan wanitanya pada kami"
Mendengar ucapan Cathy itu membuat Rachel mengerutkan keningnya tidak percaya itu. Jika benar hanya dia yang pernah dikenalkan lalu bagaimana Evan bisa mengenal Emma?
"Lalu Emma?" tanya Rachel ragu-ragu.
"Ah wanita itu.. Aku tidak menyukainya sampai aku saja lupa tentangnya. Dia tidak baik untuk Bryan" ucap Cathy
"Bryan selalu tidak bisa hadir saat kami berkumpul karena harus mengurus wanita itu" ucapnya lagi, ia menghela nafasnya malas jika harus mengingat bagaimana bodohnya Bryan dulu saat bersama wanita itu.
Rachel hanya tertawa canggung mendengar itu dan mereka pun memutuskan untuk membicarakan hal lain saja. Dan tanpa keduanya sadari ada seseorang di tengah keramaian club itu tengah menyeringai memasang raut wajah mengerikan menatap ke arah mereka.
"Ikut aku sebentar yuk" ajak Cathy yang tiba-tiba berdiri dari duduknya.
"Hm.. mau kemana?" tanya Rachel, jujur saja ia sangat malas jika harus berkeliling lagi karna ia sudah berada di posisi ternyamannya.
"Aku kebelet.. ingin ke toilet" ucap Cathy tersenyum malu dan Rachel hanya tertawa kecil melihat raut wajahnya itu.
"Pergilah, aku tunggu disini saja" tolak Rachel tapi dengan cepat Cathy balik menolak itu.
"No! Nanti Bryan akan memarahiku kalau ada pria yang mengganggumu" ucap Cathy lagi namun Rachel tetap kekeh menolak ajakannya itu.
"Kau yakin?" tanya Cathy memastikannya lagi untuk terakhit kalinya dan Rachel hanya menganggukkan kepalanya saja.
Setelah mendapat respon dari Rachel, Cathy pun berlalu pergi meninggalkannya disana karena ia benar-benar tidak tahan lagi ingin buang air kecil.
__ADS_1
Rachel sama sekali tidak bisa menikmati waktunya disini, selama ini ia berpikir bahwa club itu adalah bar versi besarnya namun setelah merasakannya sendiri ia jadi tau kalau club sangat berbeda dengan bar.
Rachel melambaikan tangannya kepada seorang pria yang sedang berkeliling dengan nampan yang berisi beberapa minuman ditangannya dan dengan ragu ia pun mengajak pria itu berbicara.
"Apa disini ada jus atau apapun yang tidak mengandung alkohol?" tanya Rachel malu-malu.
"Kita punya jus juga disini, ingin pesan apa?" ucap pria itu tersenyum ramah ke arahnya.
"Ah benarkah? Hm aku ingin jus jeruk saja, terima kasih" ucapnya.
Setelah mengatakan pesanannya pria itu pun berlalu pergi dari hadapannya dan orang yang sedari tadi memperhatikannya itu terlihat menampilkan senyum penuh kemenangan.
"Kita akan sedikit bersenang-senang malam ini jala*g" gumam orang itu.
Minumannya sudah datang, Cathy kembali lebih lama dari yang ia pikirkan. Ia meminum jus jeruk yang ia pesan itu sembari menunggu Cathy kembali.
Sebenarnya ia sedikit malu dengan pakaian seksi yang ia gunakan saat ini dan di tempat seperti ini ia malah meminum jus jeruk sekarang ia terlihat seperti anak remaja baru belajar nakal.
Ingatan Rachel hanya sampai disitu karena setelahnya ia tidak ingat apa-apa lagi dan sekarang ia berakhir di tempat gelap ini.
"K-kau apa yang kau lakukan?" tanya Rachel pada wanita yang kini tengah menatap remeh ke arahnya itu.
"Sudah puas bermain dengan milikku, jala*g?" tanya wanita yang tak lain tak bukan adalah Emma.
"K-kau.. lepaskan aku!" ucap Rachel terbata.
Jujur saja ia sangat ketakutan saat ini karena ia tau Emma tipe wanita yang tega menyakiti orang lain sama seperti Vallerie wanita yang dulu pernah membulinya.
"Apa yang ingin kau lakukan padaku?" tanya Rachel lagi memberanikan dirinya untuk tidak terlihat takut.
"Um.. apa ya yang inginku lakukan padamu?" tanya Emma tersenyum remeh mengangkat dagu Rachel.
"Apa aku harus melukai wajahmu? Apa Bryan menyukaimu karena wajah ini?" ucapnya lagi memasang wajah seakan sedang berpikir.
"K-kau.." ucap Rachel terhenti karena wanita gila itu tertawa dengan sangat keras.
"HAHAHA Jangan terlalu percaya diri dengan wajah jelekmu itu, asal kau tau setelah mendapatkan tubuhmu dia akan mencampakkan kau" ucap Emma tertawa remeh.
"Bryan itu tidak bisa lepas dariku, dia selalu mendekati wanita lain setelah mendapat tubuhnya ia akan meninggalkannya dan kembali padaku karena kau bukan wanita pertama yang didekati Bryan seperti ini" ucapnya lagi.
Rachel menulikan pendengarannya ia tidak mempercayai Emma karena Bryan sudah mengatakan sendiri padanya jika ia juga mencintainya dan Bryan tidak akan meninggalkannya.
__ADS_1
"Sebenarnya aku tidak ingin mengotori tanganku untuk melenyapkan lalat sepertimu.. Um apa aku harus meminta anak buah papaku saja yang melenyapkanmu?" tanyanya menjambak rambut Rachel.
"L-lepaskan aku!" ucap Rachel menahan rasa sakitnya, ia tidak ingin terlihat lemah dihadapan Emma.
"Apa kau tau sekarang Bryan dan teman-temannya sedang panik mencarimu.. aku tidak bisa mengulur lebih banyak waktu lagi atau mereka akan segera menemukanmu sebelum aku berhasil melenyapkanmu" ucap Emma memasang wajah sedihnya.
Wanita dihadapannya ini lebih terlihat seperti Psycho dimatanya, sangat mengerikan.
"Seharusnya kau mendengarkan perkataanku saat aku memintamu untuk menjauhinya tapi kenapa kau tidak pernah mendengarkanku?" ucapnya lagi.
"Jangan diam saja! Apa kau tidak punya mulut ha?! Gunakan mulutmu itu untuk berbicara jangan hanya untuk mendesah dibawah pria saja, dasar jala*g!" bentak Emma lagi emosi dan menampar keras pipi Rachel.
"A-apa yang sebenarnya kau inginkan dariku?" tanya Rachel dengan cairan bening yang sudah menumpuk dimatanya.
"Yang kuinginkan? Aku ingin kau mati biar kau tidak bisa berkeliaran lagi dihidupku dan Bryan!" bentak Emma.
"Aku tidak ingin melakukan sejauh ini tapi kau tidak pernah mendengar ucapanku, kau yang memintaku berbuat seperti ini Rachel!" pekik Emma penuh amarah.
"Maafkan aku tapi jika aku tidak melenyapkanmu rencana papa akan berantakan dan papa akan melenyapkanku, aku tidak ingin mati ditangannya" ucap Emma tiba-tiba menangis.
Rachel hanya diam mendengarkan celotehan Emma entah kenapa melihat Emma menangis membuatnya sedikit iba.
"K-kau tidak harus melakukan apa yang papamu suruh lakukan" ucap Rachel akhirnya membuka suara.
"Tidak! Aku harus melakukannya" teriak Emma
"Tubuhku lemas sekali, apa kau bisa memberiku air? aku haus" ucap Emma entah kenapa sekarang rasa takutnya itu hilang.
"I.. i can't" ucapnya lirih
"Aku harus melenyapkanmu" ucap Emma lagi kemudian menangis histeris.
"Aku tidak tau bagaimana caranya, aku tidak ingin melakukan semua ini tapi aku harus melakukannya. Kumohon biarkan aku melakukannya, Rachel"
"Berikan aku air dan lepaskan ikatan ini, kau boleh melenyapkanku nanti" ucap Rachel
Sebenarnya ia tidak yakin Emma akan mendengarkan kata-katanya itu tapi melihat Emma yang menangis membuatnya berpikir semua itu mungkin terjadi dan benar saja tanpa pikir panjang Emma melepaskan ikatannya setelah ia berjanji akan mengizinkan Emma untuk melenyapkannya.
Sungguh konyol, siapa juga yang akan menepati janji seperti itu.
Rachel terdiam di kursinya ia sebisa mungkin memikirkan bagaimana caranya agar dia bisa sampai di pintu depan tanpa Emma sadari.
__ADS_1
Tuhan berpihak kepadanya karena kini Emma sedikit menjauh dari hadapannya untuk menerima panggilan masuk di ponselnya itu, dengan terburu-buru Rachel mencoba berlari dengan tubuh lemahnya itu namun saat ia baru saja ingin meraih gagang pintu tubuhnya terlebih dahulu terkulai lemah tak sadarkan diri di lantai.