Stuck With Psychopath

Stuck With Psychopath
Episode 84


__ADS_3

Libur panjang pun tiba, sesuai rencana mereka akan berlibur pergi berlibur ke San Diego, sesuai keputusan bersama mereka akan menginap di La Jolla Shores Hotel yang terletak di tepi pantai La Jolla Shores Park.


Bryan, Rachel, Evan, Giska dan Vely berangkat bersama terlebih dahulu menggunakan mobil Bryan sedangkan Jennifer dan Miller akan menyusul mereka nanti setelah menyelesaikan pekerjaan mereka karena mereka harus menyelesaikan urusan penting sebelum mengambil cuti jika tidak maka semua akan berantakan.


Bryan mengendarai mobilnya menuju San Diego, ini perjalanan yang sangat jauh memakan waktu kurang lebih tiga jam dan ini akan menjadi perjalanan yang membosankan karena tidak ada banyak hal yang bisa mereka lakukan saat berkendara.


"Wah belum tiba disana saja aku sudah bersemangat seperti ini" ucap Rachel pada kedua sahabatnya itu.


"Benar.. sudah lama sekali kita tidak liburan bareng seperti ini" ucap Giska menyetujui ucapan Rachel itu.


"Itu benar.. menyenangkan sekali" ucap Rachel.


Mereka melakukan perjalanan dengan aman dan selamat, di perjalanan Rachel, Giska dan Vely tertidur hingga tiba di hotel barulah mereka terbangun.


"Rachel, hey bangunlah" ucap Bryan membangunkan kekasihnya itu


"Hmm" ucap Rachel bergumam pelan, ia ngantuk sekali.


"Ayo bangun.. yang lainnya sudah pada nunggu" ucap Bryan kembali membangunkan Rachel dengan malas Rachel membuka matanya.


"Aku masih mengantuk Bryan" protes Rachel.


"Iya tau sambung nanti saja dikamar sekarang turun dulu ayo, mereka nungguin tu" ucap Bryan


"Yaa" ucap Rachel bergerak malas hendak turun dari mobil.


Sebelumnya Bryan telah memesan empat kamar dilantai atas, satu kamar untuk kedua orang tuanya, satu untuk dirinya dan Rachel, satu untuk Giska dan Vely serta satu untuk Evan.


Sangat menyedihkan karena Evan harus tidur sendirian, sebenarnya ia tak menyangka jika Bryan akan berbagi kamar dengan Rachel karena ia pikir dengan dirinyalah Bryan akan berbagi kamar.


Tak hanya Evan, Rachel pun berpikir seperti itu karena ada sahabatnya jadi ia pikir dirinya dan sahabatnya akan berada di kamar yang sama sedangkan Bryan sekamar dengan Evan.


"Apa yang akan kita lakukan?" tanya Evan penuh semangat.


Hanya Evan saja yang masih bersemangat karena yang lainnya sudah sangat lelah karena perjalanan cukup jauh tadi terlebih Bryan karena dia yang mengendarai mobil sepanjang perjalanan.


"Bagaimana jika kita pergi makan dulu?" ajak Evan namun ditolak oleh Bryan dan yang lainnya.


"Kau saja" tolak Bryan masuk ke dalam kamarnya diikuti Rachel dibelakangnya.


"Have fun kak Evan" ucap Giska dan Vely serentak juga ikut masuk ke dalam kamar mereka.


Kini hanya ada Evan sendiri di lorong hotel tersebut karena yang lainnya sudah meninggalkannya masuk kedalam kamar mereka masing-masing, ia menghela nafasnya kasar sebelum akhirnya masuk ke dalam kamarnya untuk menyimpan barangnya.


Setelahnya ia memutuskan untuk turun ke lobby untuk memulai makan siangnya serta bersantai disana menjelang yang lainnya selesai beristirahat.

__ADS_1


Waktu masih panjang, di sore hari Bryan terlihat turun ke lobby bersama Giska dan mereka terlihat sedang berbincang namun sepertinya Bryan tidak menyukai itu karena raut wajahnya terlihat tidak nyaman.


Evan yang melihat keduanya itu pun menyapa dan menghampiri mereka.


"Kebetulan sekali.. Yang lainnya mana, belum pada bangun? Kedepan yuk" ajak Evan menunjuk kafe yang ada di seberang hotel tersebut.


"Udah bangun tapi mereka gak mau turun.. Yuk kesana, aku mau cake" ucap Giska menyetujui ajakan Evan dan Bryan hanya mengikuti mereka saja.


Ketiganya pun pergi menuju kafe yang ada disana sepanjang kesempatan Giska selalu menatap Bryan penuh tajam.


"Ada apa denganmu?" tanya Bryan risih dan menyadari tatapan itu.


"Um.. nothing" ucap Giska kembali menyantap cakenya kemudian jadi heboh sendiri


"Cake ini enak sekali.. aku harus memesankan untuk Rachel dia pasti suka" ucap Giska beranjak dari tempat duduknya.


Kini ia sedang berada di meja kasir memesan cake untuk dibawa pulang, tatapannya tak terlepas dari Bryan dengan penuh tanda tanya dipikirannya.


Bagaimana cara dia menanyakan hal itu kepada Bryan, ya apalagi kalau bukan tentang Eliza. Ia menghela nafasnya kasar setelah selesai ia kembali berjalan menuju yang lainnya.


"Hey, by the way apa kau kenal dengan Eliza?" tanya Giska tiba-tiba sembari duduk di kursinya dan menatap Bryan penuh arti sedangkan yang ditatap kaget karena mendapat pertanyaan yang tiba-tiba itu.


"Maksudku bagaimana kau bisa kenal dengan Eliza? Apa sebenarnya urusanmu dengannya?" tanya Giska lagi.


"Eliza karyawan di perusahaan ibuku.. apa urusan yang kau maksud itu seperti apa yang sedang kupikirkan saat ini?" tanya Giska ragu


"Apa maksudmu? Siapa Eliza?" tanya Bryan mencoba menutupi kebenarannya


"Oh wait..." ucap Giska mengotak-atik ponselnya mencari sesuatu lalu melihatkannya pada Bryan.


"Ini wanita ini.. apa urusanmu dengannya?" tanya Giska lagi.


Tidak ada celah lagi untuknya berpura-pura tidak mengenal Eliza dan berbohong tentang urusan yang ia miliki dengan Eliza pun akan membuat kesalahpahaman makin membesar.


"Ya itu benar, tutup mulutmu rapat-rapat jangan sampai kau mengatakannya pada Rachel!" ucap Bryan memperingati Giska.


"Woah! Bryan kau keren sekali!" puji Giska girang sembari memukul-mukul bahu Bryan cukup keras.


"Apa yang kalian berdua lakukan?" tanya Rachel tiba-tiba berada dibelakang mereka.


"Oh ah Rachel.. ini tidak seperti yang kau pikirkan" ucap Giska panik takut Rachel salah paham dengan apa yang barusan ia lakukan pada Bryan.


"Memangnya apa yang sedang kupikirkan?" tanya Rachel lagi mengambil posisi duduk diantara Bryan dan Giska.


"Aku mau itu dong" ucap Rachel menunjuk ke piring cake sisa Giska.

__ADS_1


"Pesan yang baru saja" ucap Bryan lalu menghela nafasnya kasar karena kini Rachel sedang menatapnya dengan puppy eyes.


"Ya baiklah, tidak sekalian minumnya?" tawar Bryan


"Choco Hazelnut" ucap Rachel tersenyum kearahnya dan dengan malas Bryan melangkahkan kakinya.


"Bryan aku juga, Redvelvet Fresh Milk" teriak Vely lalu terkekeh saat Bryan menatap kearahnya tajam.


"Kalian tadi sedang bicara apa sampai seheboh itu?" tanya Rachel penasaran.


"Bryan mengatakan sesuatu?" tanyanya lagi.


"Bukan apa-apa" ucap Evan karena Giska terlihat gugup, sepertinya wanita itu tidak bisa berbohong jika bohong pun pasti akan terlihat diwajahnya.


"Wah apa ini? Kalian sedang membicarakan kami ya? Kenapa tidak ingin memberitahu kami?" ucap Rachel cemberut.


Bryan tiba dimeja mereka dengan nampan berisi dua piring cake dan dua gelas minuman.


"Bryan, katakan apa yang kalian bicarakan tadi?" tanya Rachel pada Bryan.


"Bicara apa?" tanya Bryan acuh.


"Yang tadi.. kalian terlihat asyik" ucap Rachel kesal karena mereka tidak ingin memberitahunya.


"Bukan apa-apa" ucap Bryan membuat Rachel tambah kesal.


"Kalian ngomongin aku ya? Kenapa aku tidak boleh tau" ucap Rachel kesal dan Bryan hanya menghela nafas mendengar itu.


"T-tidak Rachel bukan seperti itu, tadi aku bertanya kenapa Bryan mengajak liburan terus Bryan bilang ingin membuatmu menghabiskan waktu bersamamu" ucapnya gugup.


"Bersamaku? bohong" ucap Rachel tak percaya.


"T-tidak, aku tidak bohong" ucap Giska lagi.


"Kalau tidak bohong kenapa kau gugup" tanya Vely malah membantu Rachel.


"Itu benar" sambung Bryan membantu Giska begitu juga dengan Evan yang membela Giska.


"A-aku.. k-karena aku takut k-kau salah paham" ucap Giska.


"Oooh yasudah santai saja, aku tidak marah kok. Aku cuma bertanya saja soalnya kalian terlihat asyik" ucap Rachel percaya serta tersipu malu.


Bryan, Giska dan Evan menghela nafasnya lega akhirnya, mereka bersyukur karena Rachel tidak mengetahui rahasia diantara mereka sekarang urusan Bryan dan Eliza menjadi rahasia untuk mereka.


Rahasia yang hanya tidak diketahui oleh Rachel dan Vely.

__ADS_1


__ADS_2