
Rachel terduduk di atas kloset kamar mandi kampus kini matanya sudah sembab, ia menyeka air matanya lagi dan lagi. Sejujurnya Rachel juga bingung kenapa air matanya tak dapat di kendalikan seperti ini padahal ia sudah mencoba menahannya sekuat mungkin namun itu semua sia-sia.
Yang pasti ia merasakan hal aneh yang menjalari tubuhnya terutama dadanya yang terasa sesak saat melihat wanita asing itu tiba-tiba berhambur kepelukan Bryan dan yang tambah membuat dadanya sesak saat Bryan diam saja di peluk tiba-tiba oleh wanita asing itu.
“Dasar psychopath. Semalam saja memelukku erat banget sampai enggak mau lepas dan sekarang di peluk wanita lain juga fine-fine aja” maki Rachel di dalam hatinya.
“Hiks” tanpa disadarinya isakan yang dari tadi ia tahan justru keluar dari mulutnya.
‘toktoktok...’ Rachel menatap pintu di depannya itu dengan dahi yang mengerut, siapa? pikirnya padahal ia hanya terisak sekali tidak mungkin terdengar hingga keluar.
Sekali lagi pintu itu di ketuk oleh orang yang berada di luar sana “Siapa?” tanya Rachel waswas.
Tidak ada jawaban dari luar sana dan sekali suara ketukan terdengar dari sana “Iya sebentar” ucap Rachel.
‘toktoktok’ orang yang berada di balik pintu toilet itu terus-terusan mengetuk pintunya tanpa mengatakan sepatah kata pun dan jujur saja hal itu membuat Rachel takut dan waswas.
Rachel menyeka air matanya dan bangkit dari duduknya berniat untuk membuka pintu bilik toilet tersebut.
‘Krieekkk...’
Rachel membulatkan matanya kaget melihat siapa pelaku yang mengetuk pintu itu dan jangan lupakan seringaian menyeramkannya yang sukses membuat tubuh Rachel menegang.
__ADS_1
Rachel membulatkan matanya yang sembab itu lebar, bahkan jantungnya juga berdegup kencang melihat siapa sosok yang sudah mengganggu acara menangisnya tadi. Rachel dengan cepat mundur ke dalam berniat untuk menutup kembali pintu bilik tersebut namun gerakan Rachel kurang cepat sehingga orang itu berhasil menahan pintu tersebut.
“Pergilah!” ucap Rachel sembari berusaha sekuat tenaga mendorong pintu itu agar tertutup namun sayangnya tenaganya tak sekuat orang itu sehingga pintu itu tak tertutup dan malah orang itu dengan santainya masuk ke dalam bilik lalu menguncinya.
“K-kau. Apa yang kau lakukan? Keluar dari sini Bryan” ucap Rachel berbisik takut jika di luar sana ada orang lain selain mereka.
“Tidak akan lagi pula kenapa aku harus keluar?” tanya Bryan dengan santainya dan Rachel pun menutup mulut Bryan.
“Pelankan suaramu. Ini toilet wanita jadi pergi sekarang juga” perintah Rachel lagi.
“Kau tidak boleh masuk ke dalam toilet wanita, bagaimana jika ada yang tahu. Aku tak ingin terlibat masalah seperti ini” jelas Rachel.
“Kenapa harus takut jika ada yang melihat? Kan kita tidak melakukan apa pun” ucap Bryan lalu menyeringai “Apa sebaiknya aku lakukan saja dan jika nanti ketahuan maka aku tidak akan di tuduh melakukan hal yang tak aku lakuan”
“Ap-apa yang kau lakukan Bryan?” tanya Rachel saat Bryan mencondongkan tubuhnya ke bawah menatap lekat bola mata Rachel.
Pandangan Bryan jatuh lagi pada bibir ranum Rachel pandangan mata yang jahil tadi kini berubah menjadi gelap hal itu sontak membuat Rachel gelagapan tidak tahu harus berbuat apa.
Saat Bryan semakin mendekatkan wajahnya ke wajah Rachel secara refleks lututnya bergerak menendang alat vital Bryan tanpa ia sadari.
“Argghh” pekik Bryan saat merasakan sakit di alat vitalnya hingga membuatnya mundur beberapa langkah ke belakang.
__ADS_1
Rachel yang melakukan hal itu tanpa di sengaja seketika panik karena mendengar Bryan yang merintih kesakitan “Maaf-maafkan aku Bryan, sungguh aku tidak sengaja melakukannya” ucap Rachel gugup menutup mulutnya tak percaya dengan apa yang baru saja ia lakukan.
Bryan terus menunduk menahan rasa sakit di bagian vitalnya yang teramat sangat itu. Rachel yang melihat Bryan kesakitan seperti itu pun merasa sangat bersalah.
“Maafkan aku...” lirihnya
“Ap-apa yang harus aku lakukan?” tanya Rachel panik serta merasa sangat bersalah ia berjalan mendekati Bryan.
“Di mana ponselmu? Ak-aku akan menghubungi temanmu” tanya Rachel panik
“Jangan” larang Bryan yang masih merasakan sakit teramat.
“Lalu apa yang harus aku lakukan? Apa kau baik-baik saja? Apa itu sakit? Ah, maafkan aku” ucap Rachel panik.
“Begini saja” ucap Bryan sembari meletakkan tangan Rachel di alat vitalnya yang masih terbungkus lengkap.
“Ap-apa yang kau lakukan Bryan” pekik Rachel lalu menjauhkan tangannya dari sana.
“Jika tidak maka hanya ini...” ucap Bryan terhenti karena ia sudah lebih dahulu menempatkan bibirnya di bibir Rachel.
“Hik” saking kagetnya Rachel di buat cegukan oleh perlakuan Bryan yang sangat tak terduga dan tiba-tiba itu, keterkejutannya belum hilang sudah di buat kaget lagi dengan ciuman yang tiba-tiba ini.
__ADS_1
Saat merasa kehabisan nafas Rachel mendorong tubuh Bryan kuat lalu keluar dari sana meninggalkan Bryan seorang diri di sana. Dan Bryan yang melihat Rachel pergi berniat untuk mengejarnya namun rasa sakit di alat vitalnya itu tak bisa di hindari membuatnya menyerah untuk mengejar Rachel.
“Setidaknya dia sudah tidak menangis, aku harap kau segera melupakan kejadian tadi, Rachel” ucap Bryan di dalam hatinya.