
Rachel kecewa pada Bryan karena setelah ia mengatakan cinta prianya itu sama sekali tak bereaksi, jangankan untuk membalas ucapannya bahkan Bryan tidak membalas pelukannya.
Ia sengaja mengulang kata-katanya karena ia pikir mungkin Bryan tak mendengar ucapannya dengan baik namun reaksi yang ia dapat tetap sama.
Namun disaat ia berpikir mungkin ini akhir dari segalanya ia justru merasakan lengan Bryan melingkar ditubuhnya sedang memeluknya erat.
"Bryan" ucap Rachel penuh haru dan air matanya kembali membasahi pundak Bryan.
"Aku tau, aku juga sangat mencintaimu karena itu jangan pernah mengabaikanku lagi apalagi meninggalkanku, jangan pernah lakukan itu" ucap Bryan.
Rachel menggelengkan kepalanya pelan dalam pelukan Bryan "Aku tidak akan meninggalkanmu, kau juga jangan pernah meninggalkanku" ucapnya serak
"Ya, tidak akan" ucapnya semakin mengeratkan pelukannya pada Rachel.
'Kau boleh pergi setelah aku mengatakan kau boleh pergi dan aku akan pergi setelah menurutku semuanya cukup' ucap Bryan dalam hatinya.
"Apa yang kalian lakukan disini?" tanya seseorang yang kini berada di belakang mereka berdua.
Rachel dan Bryan pun melepaskan pelukan mereka dan menatap ke arah orang itu "Apa pedulimu" ucap Bryan sarkas.
Rachel mencubit pinggang Bryan karena menurutnya orang itu adalah ayah Bryan karena pria itu lebih dewasa dari mereka dan siapa lagi yang berada dirumah ini kalau bukan orang tua Bryan.
"Jaga bicaramu! Jangan pikir kau bisa terus-terusan hidup seenaknya bahkan setelah pergi lama dan kembali kau tidak bisa menghormati orang yang lebih tua darimu" omel pria itu pada Bryan.
Bryan geram, ia mengepalkan kedua tangannya menahan emosi ia sangat membenci pria yang ada dihadapannya saat ini.
"Jika tidak ada urusan aku tidak akan pernah mau menginjakkan kaki dirumah ini" ucap Bryan.
Pria itu tertawa remeh "Urusan apa yang kau miliki sampai menginjakkan kaki di rumahku?" ucapnya.
Bryan menggenggam tangan Rachel tanpa ia sadari ia meremasnya sedikit kuat "Ayo kita pergi dari sini Rachel, tidak ada untungnya jika berdiam lama disini" ucap Bryan menarik Rachel pergi dari sana.
Belum melangkah jauh dari dapur Jennifer datang menghentikan langkah mereka "Mau kemana kau sayang?" tanyanya.
"Aku akan pulang mah karena sekarang aku sudah menemukan Rachel" ucap Bryan.
"Tidak tidak, kalian tidak boleh pergi" larang Jennifer menahan putranya itu "Ayolah sayang, kau baru kembali masa sudah ingin pergi" ucapnya lirih.
"Aku kemari hanya untuk menjemput kekasihku dan lagipula pria itu juga sepertinya tidak menyukai keberadaanku" ucap Bryan sinis.
__ADS_1
"Kalian tidak boleh pergi, papamu memang seperti itu dia hanya malu sebenarnya dia sangat merindukanmu" ucap Jennifer membuat Bryan tertawa remeh.
Ia menganggap ucapan ibunya itu sangat konyol "Hah? Dia merindukanku? Haha yang benar saja" ucapnya.
Bryan melirik ke arah ayahnya yang hanya diam memasang wajah datar yang bahkan tak terlihat raut wajah senang sedikitpun setelah tak bertemu lama dengan putranya sendiri.
"Ayo sayang, kita pergi dari sini" ajaknya lagi namun saat ia menarik tangan Rachel, Rachel justru menghentikan langkahnya.
"Tidak kita disini dulu saja, lagipula aku baru sampai disini dan aku sudah janji ke mamah akan menginap disini" ucap Rachel menolak ajakan Bryan.
"Ayolah sayang, jangan membuatku kesal" ucap Bryan namun Rachel tetap kekeh ingin berada disini.
Jujur saja ia tidak tega melihat ekspresi wajah Jennifer yang memelas itu, ia sangat mengerti jika ia sangat menginginkan putranya itu berada disini. Berbeda dengan pandangan Bryan terhadap ayahnya, Rachel justru merasa yang dikatakan Jennifer itu benar. Pria itu benar merindukannya hanya saja egonya sangat besar sehingga tidak ingin berkata jujur.
Rachel melepaskan tangannya dari genggaman Bryan dan saat itu juga Bryan menatap tajam ke arahnya "Jangan membantahku Rachel, kau hanya akan membuatku marah jika bersikap seperti ini" ucapnya.
Rachel sedikit takut mendengar ucapan Bryan itu karena ia tau dengan pasti maksud dari ucapan itu namun ia juga tidak tega melihat Jennifer yang memohon seperti itu untuk putranya tetap tinggal.
"Ayo" ucap Bryan kembali menarik tangan Rachel dan melangkahkan kakinya dari sana.
Jennifer masih merengek mencoba menghentikan Bryan agak tidak pergi dari sana "Pah, ayo katakan sesuatu jangan diam saja!" bentak Jennifer.
Bryan terdiam ditempatnya "Tinggal saja disini untuk malam ini, dengarkan ibumu jangan membuatnya memohon seperti itu" ucap ayahnya lagi dengan nada datar.
"Kau dengar itu sayang?" ucap Jennifer gembira
Setelah mengatakan itu ayahnya berjalan meninggalkan dapur menuju kamarnya, Bryan masih membeku ditempat sedangkan Jennifer kini sudah membawa Rachel menuju meja makan lagi, ia tidak ingin menyia-nyiakan momen langka ini sebelum kedua pria itu berubah pikiran.
"Sayang kemarilah, duduk disini papamu sedang berganti pakaian" ucap Jennifer sedikit berteriak pada Bryan.
"Terima kasih sayang" ucap Jennifer pada Rachel dan Rachel hanya tersenyum menanggapi hal itu.
Sedangkan Bryan hanya diam bingung tidak tau harus berkata apa "Hah, yang benar saja. Dia menyuruhku untuk menginap disini?" gumamnya pelan.
Kini mereka berempat tengah duduk dimeja makan yang penuh keheningan itu, Rachel menatap ke arah Jennifer dan yang ditatap itu hanya menggelengkan kepalanya pelan tidak tau harus berbuat apa di situasi saat ini karena kedua pria ini sangat keras kepala dan egois.
Tak tahan dengan keheningan dan kecanggungan yang ada Rachel pun membuka suara memecahkan keheningan yang ada.
"Biar saya ambilkan makanan untuk anda, pak" ucap Rachel canggung namun sopan.
__ADS_1
Pria itu hanya diam menatap Rachel lalu menganggukkan kepalanya sebagai isyarat bahwa Rachel boleh melakukannya dengan telaten Rachel mengambilkan makanan untuk ayah kekasihnya itu.
Ia juga berniat mengambilkan makan untuk Jennifer namun wanita itu menolak dan memberi kode untuk melihat ke arah pria yang ada di sampingnya.
Ya benar saja karena kini kekasihnya itu dipenuhi rasa kesal dan cemburu karena Rachel mengabaikannya dan lebih memilih mengambilkan makanan untuk pria tua itu.
"Ingin aku ambilkan juga?" tanya Rachel
Bryan membulatkan matanya ingin rasanya ia mencekik leher Rachel karena bertanya seperti itu, bukankah sudah jelas kenapa harus bertanya segala.
"Tidak usah" jawabnya singkat.
Rachel menghela nafasnya karena kini kekasihnya itu tengah menatapnya dengan tajam salah-salah bola matanya akan keluar.
Ia mengambil piring Bryan yang masih kosong dan mengambilkan makanan untuknya "Apa ini cukup?" tanyanya saat mengambilkan nasi untuk kekasihnya itu.
"Ya" ucap Bryan singkat karena masih merasa kesal.
"Kau mau ini?"
"Ya"
"Ini juga mau?"
"Ya"
"Ini?"
Rachel terus bertanya setiap hidangan yang ada apakah Bryan ingin memakannya atau tidak namun Bryan justru merasa kesal dengan pertanyaan yang berulang itu.
"Kau suka ini? Mau ini juga?"
"Sekali lagi bertanya kau yang akan kumakan" ucap Bryan kesal
Jennifer mendengar itu tertawa sedangkan Rachel hanya bingung kenapa Bryan sekesal itu, ya wajar ia bertanya karena ia tidak tau apa yang Bryan sukai dan tidak sukai.
"Kenapa memarahiku?" tanya Rachel dengan polosnya.
Mendengar itu Jennifer kembali tertawa dan jika diperhatikan dibalik wajah datar ayahnya itu terlihat sudut bibirnya agak berkedut seperti sedang menahan tawanya.
__ADS_1
Dan mereka pun melanjutkan makan malam dengan tenang dan penuh kehangatan.