
Jennifer terlihat sibuk kesana kemari bahkan mendesak Rachel dan Bryan yang tetap tenang dan bersikap santai meskipun pernikahan mereka tinggal beberapa hari lagi.
"Kalian masih bisa bersantai seperti ini? Dan kau Rachel cuti dulu kuliahmu, pernikahan kalian tinggal beberapa hari lagi tapi kalian malah bersikap seperti ini" omel Jennifer.
"Mom aku tidak bisa cuti, hari ini aku ada UTS.. aku tidak mungkin cuti, bisa-bisa nilaiku anjlok dan tidak lulus kuliah" ucap Rachel sembari membayangkan jika itu benar terjadi.
"Ugh.. amit-amit" ucapnya lagi.
"Kenapa harus ada uts segala? Siapa nama dosenmu itu?" tanya Jennifer kesal.
"Apa yang ingin mommy lakukan?" tanya Rachel.
"Akan ku suruh dia untuk mengundur utsnya sampai pernikahan kalian selesai, jadi ambillah cuti" ucap Jennifer membuat Rachel terperangah tak percaya mendengar itu.
Jika orang lain yang mengatakan itu mungkin Rachel akan tertawa tapi jika itu Jennifer ia tidak bisa tertawa karena Jennifer bisa saja melakukan semua itu terlebih dia bukan orang asing untuk kampus tempatnya kuliah.
"No mom.. Aku sudah belajar dengan keras jika ditunda mungkin aku akan lupa semua materinya" ucap Rachel lagi.
Jennifer menghela nafasnya kasar, Rachel benar-benar tak terbantahkan terlalu banyak alasan yang tak bisa ia sangkal.
"Ya sudah terserah saja.. pulanglah sebelum sore, bukankah kau ingin ikut aku menjemput orang tuamu di bandara?" ucap Jennifer mengalah.
"Siap mom! Aku akan pulang sebelum itu" ucap Rachel lagi.
Rachel berpamitan untuk pergi ke kampusnya begitu juga dengan Bryan yang akan mengantar Rachel.
"Kami pergi dulu mom, byee" ucap Rachel melambaikan tangannya dan dibalas oleh Jennifer.
"Anak-anak itu benar-benar tidak mau mendengar ucapanku" ucap Jennifer menghela nafasnya kasar.
"Sudahlah biarkan saja, uts itu penting untuk mahasiswa sepertinya itu sangat berpengaruh untuk nilai akhirnya" ucap Miller menenangkan istrinya itu.
"Kamu juga sama saja, karena kamu anak kita jadi sesantai itu " ucap Jennifer malah mengomeli suaminya itu.
"Loh loh.. kok jadi aku yang kena omel" ucap Miller tertawa kecil melihat wajah cemberut istrinya itu.
"Biarkan saja.. lagipula apa yang harus mereka lakukan lagi kan semua sudah kamu urus" ucap Miller lagi.
Mendengar itu Jennifer malah menatap tajam ke arah suaminya itu, itu benar tidak ada yang perlu Rachel dan Bryan siapkan lagi karena semuanya sudah ia siapkan.
Mulai dari tempat, decoration, catering dan tamu undangan sudah dipersiapkan semuanya, mereka benar-benar hanya tinggal menunggu hari itu tiba.
"Tapi tetap saja mereka tidak boleh bersantai seperti itu" ucap Jennifer kembali kesal.
"Sudah sudah.. kan hari ini kamu tidak punya jadwal apapun mending istirahat saja" ucap Miller lagi.
"Selalu begitu makanya putra kita bersikap cuek seperti itu padahal hari pernikahannya tinggal beberapa hari lagi" omel Jennifer.
"Iya iya.." ucap Miller pasrah
Hanya itu yang keluar dari mulut suaminya dengan pasrah ia menerima semua omelan istrinya itu, anak dan calon menantunya yang bikin masalah malah ia kena omel.
__ADS_1
Disisi lain Bryan dan Rachel sudah tiba di kampus namun keduanya masih berada di dalam mobil.
"Kau selesai jam berapa?" tanya Bryan saat Rachel bersiap-siap untuk keluar.
"Tidak tau, paling tidak lama. Kenapa?" tanya Rachel.
"Tidak.. jika kau tidak lama aku akan menunggu saja" ucap Bryan.
"Menunggu disini?" tanya Rachel memasang wajah tak percaya.
"Tidak, aku akan ke tempat Evan" ucap Bryan.
"Itu namanya bukan menunggu.. pergilah mungkin satu jam karena kelasku dimulai dua puluh menit lagi" ucap Rachel.
"Baiklah.. hubungi aku jika sudah selesai" ucap Bryan dan Rachel menganggukkan kepalanya lalu turun dari mobil.
Rachel melangkahkan kakinya menuju kantin karena disana kedua sahabatnya itu sedang menunggunya.
"Yoyoyo calon pengantin" ucap Giska dan Vely kompak mengejek Rachel.
"Berhenti.. jangan bikin malu" ucap Rachel buru-buru duduk didepan kedua sahabatnya itu.
"Apa yang kalian lakukan?" tanya Rachel malu.
"Ey.. memangnya kenapa kan emang benar kau calon pengantin" ucap Vely dan Giska menganggukkan kepalanya.
"Calon pengantin Bryan Kyne" sambung Giska dengan suara yang cukup lantang sehingga mengundang tatapan dari orang lain.
"Hentikan kau membuatku malu! Ayo ke kelas" ajak Rachel malu, meskipun ia tak memperhatikan tapi ia dapat merasakan jika orang disekitar sedang menatap ke arahnya.
"Disini dulu aja.. makananku belum datang" ucap Giska dan Rachel hanya menghela nafasnya dan mengabaikan tatapan semua orang itu.
Sesuai jadwal uts mereka pun dimulai mereka diberi waktu empat puluh lima menit untuk menyelesaikan uts mereka, ini sedikit menyiksa karena waktu yang diberikan terlalu sebentar.
Mungkin itu menyiksa untuk mahasiswa lain tapi tidak untuk Rachel, ia bahkan sudah menyelesaikan utsnya hanya dengan waktu dua puluh tiga menit karena yang ia pelajari semuanya sesuai dengan soal yang diberi.
Rachel diperbolehkan untuk keluar dari kelas karena telah menyelesaikan uts dan ia pun menghubungi Bryan untuk menjemputnya.
Sekitar sepuluh menit Bryan pun datang menjemputnya.
"Sebentar sekali, utsnya dibatalkan?" tanya Bryan saat Rachel menaiki mobil.
"Tidak, aku sudah selesai" ucap Rachel dengan santainya.
"Secepat itu?" tanya Bryan lagi dan Rachel pun menganggukkan kepalanya.
"Soal yang diberi sama seperti apa yang aku pelajari" jelas Rachel.
Rachel dan Bryan kembali ke rumah Jennifer karena sudah tiga harian ini mereka menginap disana atas perintah Jennifer dengan alasan agar Jennifer mudah untuk mengawasi dan bertemu jika ada sesuatu yang diperlukan.
"Oh apa ini? Kalian sudah datang?" tanya Rachel saat melihat kedua orangtuanya berada di ruang makam bersama orang tua Bryan.
__ADS_1
"Iya sayang.. papamu beli tiket lebih awal" ucap ibunya.
Rachel berjalan kearah orangtuanya itu dan memeluk mereka erat, menumpahkan semua kerinduan yang ada karena sudah lama sekali mereka tidak bertemu.
"Selamat ya sayang.. tidak disangka anak mama sebentar lagi akan menjadi seorang istri" ucap ibunya lagi.
"Terima kasih mah" ucap Rachel kembali memeluk ibunya itu.
"Mah kita ke mall yuk, mommy too" ucap Rachel mengajak ibunya dan ibu mertuanya itu untuk hangout bersama.
Permintaan Rachel disetujui oleh keduanya dan mereka pun pergi ke Mall dan mereka bertiga menghabiskan banyak waktu di salon kecantikan sembari menceritakan pasangan masing-masing, menyenangkan bisa curhat dan akrab dengan orang tua seperti ini.
...****************...
Hari yang ditunggu-tunggu pun tiba hari dimana Rachel dan Bryan akan meresmikan hubungan mereka ke dalam ikatan pernikahan.
"Kau bahagia sayang?" tanya sang ibu pada putrinya itu.
Rachel menganggukkan kepalanya tentu saja ia bahagia karena Bryan adalah pilihannya, meskipun banyak hal sulit yang mereka lalui hatinya tetap berada pada Bryan.
"I'm happy mah" ucap Rachel tersenyum tipis.
"Kau terlihat cantik sayang, gaunmu juga indah sekali sangat cocok untukmu.. gaunmu menggambarkan dirimu" ucap ibunya itu.
"Benarkah? Gaun ini memang sangat indah, aku sangat menyukainya" ucap Rachel.
"Rachel sayang.. kehidupan pernikahan lebih rumit dan sulit dari yang kau pikirkan jadi apapun itu jika kalian adalah masalah tolong selesaikan secara baik-baik dan kau tolong mengerti pasanganmu dan tetaplah berpikir positif tentangnya"
"Dari yang pernah mama lalui saat menikah dengan papamu, kepercayaan adalah yang paling penting. Saling percaya adalah kunci untuk rumah tangga yang harmonis" ucap ibunya itu.
"Mah.. terima kasih" ucap Rachel terharu.
"Mama masih tidak percaya anak gadis mama akan menjadi seorang istri" ucap ibunya meneteskan air mata.
"Mah jangan menangis, make up mamah akan luntur" ucap Rachel mencoba untuk tetap tersenyum karena matanya kini sudah berkaca-kaca.
"Setelah ini tolong dengarkan semua apa yang dikatakan Bryan jangan pernah membantahnya dan hargai dia sebagai kepala rumah tangga kalian" ucap ibunya lagi
"Baik mah" ucap Rachel
Setengah jam kemudian acara mereka pun di mulai, mereka menggelar pernikahan di gereja dan anak melakukan pesta nanti malam di rumah besar Jennifer.
Di gereja tidak ada terlalu banyak tamu undangan karena yang hadir hanya keluarga dari dua belah pihak pengantin serta kerabat dekat mereka.
Pesta pernikahan mereka bertemakan outdoor karena pesta itu dilakukan di halaman belakang rumah Jennifer, di malam harinya banyak orang yang datang karena Jennifer dan Miller mengundang orang-orang perusahaan mereka.
Setelah malam ini mereka akan memulai kehidupan yang berbeda dan dengan status yang berbeda.
Dan ini bukan akhir dari kebahagiaan mereka melainkan awal dari kebahagiaan mereka yang sesungguhnya.
......-END-......
__ADS_1