
Semua orang kembali ke kamar mereka dengan keadaan lelah setelah melakukan barbeque party.
"Huaa lelah sekali" ucap Rachel merebahkan tubuhnya di kasur setelah selesai membersihkan dirinya.
"Kau tidak mandi?" tanya Rachel pada Bryan yang sedang bersandar di tempat tidur.
"Sebentar lagi" ucap Bryan singkat.
"Bryan... can i ask something?" tanya Rachel ragu.
"Mau kemana?" tanya Rachel lagi saat melihat Bryan bangkit dari kasur.
"Mandi" jawab Bryan singkat.
"Katanya nanti kok jadi sekarang?" ucap Rachel menatap Bryan tak percaya.
"Aku bilang sebentar lagi bukan nanti" jelas Bryan.
"Mau tanya apa?" tanya Bryan yang kini sudah bertelanjang dada.
"Tidak ada nanti saja" ucap Rachel
"Yasudah" ucap Bryan singkat berjalan menuju kamar mandi.
Rachel menghela nafasnya kasar sepeninggalan Bryan, sebenarnya ia ragu ingin menanyakan hal itu tapi meskipun begitu ia tetap harus bertanya.
Rachel menahan rasa kantuknya demi bisa bertanya pada Bryan, bukan apa-apa ia hanya ingin memastikannya saja.
Yang di tunggu pun keluar dari kamar mandi, Rachel memperhatikan gerak-gerik Bryan dengan seksama.
"Kenapa melihatku seperti itu?" tanya Bryan yang menyadari hal itu.
"Cepat kemari! ada yang ingin aku tanyakan" ucap Rachel lagi.
"Tanya apa?" jawab Bryan singkat sembari berjalan ke arah kasur dan menyandarkan tubuhnya disana.
"Apa?" tanya Bryan lagi.
"Um..." Rachel terlihat ragu, ia tidak tau bagaimana cara menanyakannya.
"Kau tau Bryan, wanita bersamaku dan mommy tadi? umurnya baru legal tapi dia sudah di lamar kekasihnya" ucapnya bercerita dan Bryan hanya menatap bingung ke arahnya.
"So? Kau iri padanya?" tanya Bryan menatap Rachel lekat dan Rachel salah menanggapi itu, ia pikir Bryan sedang menatapnya dengan tatapan menyedihkan.
"Ugh.. katakan dengan jelas yang sebelumnya kau katakan, jangan berbisik!" ucap Rachel frustasi.
"Aku mendengarnya dan aku bertanya hanya ingin memastikan pendengaranku saja, jadi katakan yang kudengar itu benar atau tidak?" tanya Rachel lagi.
"Apa yang kau dengar?" tanya Bryan balik
"Will you marry me.. kau mengatakannya atau ti.."
__ADS_1
"Yes"
"Ha?" tanya Rachel kaget
"I say yes, jawaban untuk lamaranmu itu" ucap Bryan dengan santainya.
"WHAT??!" pekik Rachel
"Kenapa? Kau berubah pikiran?" tanya Bryan.
Rachel yang tadi rebahan langsung bangkit dan duduk disamping Bryan.
"Apa maksudmu? Aku bertanya tadi kau mengatakannya atau tidak, kenapa malah menjawabnya?" tanya Rachel.
"Kenapa? Kau ingin dilamar seperti wanita itu?" tanya Bryan membuat Rachel terperangah.
"Siapapun yang melakukannya sama saja, tidak harus cowok yang mengajak menikah. Tenang saja" ucap Bryan lagi dengan santainya.
"What the f..." ucap Rachel tertahan
"Aku akan mengatakannya pada mommy besok, biar kita bisa menikah secepatnya" ucap Bryan lagi.
"No.. wait.. Apa ini?" tanya Rachel kebingungan sendiri.
"Kau tidak suka seperti ini? Kau ingin dilamar seperti wanita itu?" tanya Bryan lagi membuat Rachel kesal.
"Stop it Bryan!" pekik Rachel tertahankan.
"Ah kita melupakan ini" ucap Bryan bangkit dari kasur menuju kopernya.
"So, will you marry me?" tanya Bryan membuat Rachel mematung.
Tanpa menunggu jawaban dari Rachel, Bryan Q
langsung memasangkan cincin itu di jari manis Rachel.
"Apa ini? Ini sama sekali tidak romantis" ucap Rachel dalam hatinya tapi meskipun begitu wajahnya merah bersemu.
"Karena kau sudah menerima lamaranku jadi kita akan menikah besok" ucap Bryan kembali membuat Rachel terpekik kaget.
Keesokan harinya mereka memutuskan untuk pulang ke rumah dan mengakhiri liburan mereka, sejak bangun tidur tadi Bryan terus memamerkan senyumannya sampai membuat orang disekitarnya kebingungan berbeda darinya Rachel justru cemberut bahkan ia tak tersenyum sedikitpun terlebih pada Bryan.
"Ada apa sayang? Apa kau sakit, wajahmu terlihat tidak baik?" tanya Jennifer pada Rachel.
Saat ini mereka sedang menikmati sarapan terakhir mereka di hotel ini.
"Kau juga.. kenapa senyum-senyum daritadi bikin mommy takut saja" ucap Jennifer pada putranya itu.
"Bukan apa-apa, yakan sayang?" ucap Bryan pada Rachel yang justru mendapat tatapan tajam dari kekasihnya itu.
"Jangan mengganggunya Bryan!" ucap Jennifer saat melihat Rachel menatap Bryan tak suka.
__ADS_1
"Kau tidak enak badan Rachel?" tanya Jennifer lagi dan Rachel hanya menggelengkan kepalanya saja.
"Tidak, aku baik-baik saja mom" ucap Rachel
Mood Rachel benar-benar jelek ia terus memasang wajah datarnya, saat orang lain tertawa bersama ia tetap setia dengan wajah datarnya itu.
"Oh apa itu" ucap Jennifer saat melihat sesuatu yang berbeda dari Rachel.
Jennifer langsung mencolek suaminya memberi isyarat agar melihat kearah jari manis Rachel, ada cincin yang ia dan Felix belikan untuk putranya melamar Rachel.
Mereka berdua tersenyum bahagia, akhirnya putra mereka itu berhasil melamar kekasih hatinya dan mereka senang karena wanita yang akan menjadi menantu mereka adalah Rachel.
Setelah sarapan mereka kembali ke kamar masing-masing untuk mengemas barang-barang mereka sebelum akhirnya berangkat pulang.
"Sini biar kubantu" tawar Bryan ingin membawakan koper dan barang-barang Rachel.
"Tidak perlu" jawab Rachel singkat berlalu pergi namun langkahnya terhenti saat mendengar ucapan Bryan.
"Kenapa? Kau tidak suka atau kau tidak ingin menikah denganku? Katakan sekarang sebelum aku memberitahu mommy" ucap Bryan.
"Kau serius?" tanya Rachel
"Serius apa?"
"Kau serius melamarku?" tanya Rachel lagi
"Apa aku terlihat sedang bercanda?" tanya Bryan balik.
"I dont know.. karena tadi malam terlalu tiba-tiba" ucap Rachel lagi.
"Aku serius.. aku sudah merencanakan ini sejak lama, aku ingin menikahimu karena kupikir sudah waktunya untuk kita" ucap Bryan.
"Tapi jika kau tidak ingin atau kau tidak yakin padaku katakan saja sebelum terlambat, aku akan menunggu jawabanmu" ucap Bryan lagi berjalan mendahului Rachel.
"Kau yang membuatku tidak yakin" ucap Rachel menghentikan Bryan yang ingin keluar dari kamar itu.
"Kau tidak pernah menunjukkan rasa sayang, kau juga tidak pernah mengatakan isi hatimu.. kau yang membuatku tidak yakin" ucap Rachel lagi.
"Sekarang aku sudah mengatakan isi hatiku, kau masih tidak yakin denganku?" tanya Bryan menatap Rachel lekat.
Rachel tak menjawab pertanyaan Bryan, matanya memanas tak lama kemudian entah apa yang terjadi Rachel berlari ke pelukan Bryan.
"Aku bukan tidak ingin.. aku ingin bahkan itulah yang aku inginkan, aku hanya berpikir itu semua tidak mungkin terjadi karena kau memberi batasan di hubungan kita" ucap Rachel dalam pelukan Bryan.
"Aku tidak pernah melakukan itu" ucap Bryan.
"Kau melakukannya"
Suasana penuh haru mereka terhenti saat Evan datang membuka pintu kamar mereka.
"Hehe.. yang lainnya sudah menunggu kalian. Jangan marah padaku, ayahmu yang memintaku untuk memanggil kalian" ucap Evan saat mendapat tatapan tajam dari Bryan.
__ADS_1
Di perjalanan pulang Bryan memberitahu pada mereka semua berita bahagia mereka dan ia meminta Jennifer untuk segera mengurus pernikahan mereka.
'Lebih cepat lebih baik' itulah kata-kata yang keluar dari mulut Bryan saat meminta ibunya mempersiapkan pernikahan untuk mereka.