Stuck With Psychopath

Stuck With Psychopath
Episode 26


__ADS_3

Rachel berusaha membuka matanya sambil meringis dan memegang kepalanya yang berdenyut-denyut. Ia berusaha untuk mendudukkan tubuhnya, saat ia melirik ke arah jam yang terletak di nakas ia terkejut karena jam sudah menunjukkan pukul sebelas siang.


Tidak heran jika kepalanya sakit seperti ini karena ia bangun sesiang ini dan juga semalam ia terus-terusan tidur setelah terbangun sebentar. Untung saja hari ini dia tidak ada kelas di kampus dan itu membuat Rachel merasa sedikit lega.


Rachel mencoba bangkit dari tempat tidurnya dan berjalan menuju pintu untuk keluar dari kamar tersebut. Ia melirik ke arah sekitar yang sepi, ia tidak menemukan keberadaan Bryan di sana. Ia melangkahkan kakinya menuju dapur dan benar saja pria itu sudah menyiapkan hidangan sarapan untuknya yang kini menjadi hidangan makan siang bagi Rachel.


‘Makan!’ sekali lagi pria itu menuliskan catatan kecil di atas hidangan itu.


“Hah yang benar saja” ucap Rachel setelah melihat catatan kecil dari psychopath yang tidak peka itu.


Apa yang bisa di harapkannya dari psychopath itu? Rachel salah besar karena menaruh harapan pada psychopath itu dengan menulis kalimat romantis yang sedikit lebih panjang dari pada kata ‘seafood’ dan ‘makan!’. Bukannya merasa terbawa perasaan Rachel justru merasa terancam dengan catatan kecil dengan penuh tekanan itu.


Setelah selesai makan, Rachel bangkit dari duduknya dan berniat untuk melihat isi rumah Bryan yang sebelumnya tak terlalu ia perhatikan karena sibuk tidur.


Ia melihat beberapa foto di samping ruang tamu yang terlihat seperti foto keluarga. Rachel pikir seorang psychopath tak memikirkan keluarganya, namun ia salah karena Bryan menyimpan cukup banyak foto-foto keluarganya.


Pandangan matanya tak sengaja menangkap salah satu foto yang menampakkan dua orang anak laki-laki yang menangis bersama dengan ingus yang meleleh hingga ke mulut mereka, tawa Rachel hampir pecah saat melihat foto itu meskipun menggelikan tapi mereka terlihat sangat menggemaskan dan itu sangat imut.

__ADS_1


Rachel melihat-lihat lebih banyak lagi foto kecil Bryan bersama teman prianya itu sejak dari kecil hingga terakhir yang sempat ia lihat foto saat Bryan lulus dari sekolah menengah atas bersama teman kecilnya yang tidak di kenali Rachel itu.


‘Krieett...’


Rachel tersentak kaget saat pintu yang ada di samping tempat ia berdiri sekarang ini sedikit terbuka, ia di buat merinding karena itu bulu kuduknya berdiri. Perlahan Rachel mencoba memberanikan dirinya untuk masuk ke dalam ruangan itu.


‘Krieek...’ Rachel membuka pintu itu sedikit lebar agar ia dapat memasuki ruangan itu.


Dengan rasa waswas dan takut yang menyelimutinya Rachel melangkahkan pelan kakinya masuk menuju ruangan itu. Dan ia di buat kaget bahkan hampir terpekik saking terkejutnya melihat isi di dalam ruangan tersebut.


Ia melangkahkan kakinya agar masuk lebih dalam lagi dan sekali lagi ia di buat terkejut sampai tidak tahu harus berbuat apa dan ketakutannya bertambah. Di sisi kanannya ia dapat melihat sebuah papan dengan banyak foto yang tertempel di sana dan ada tanda silang berwarna merah di kebanyakan foto-foto yang terpajang di sana.


Rachel melangkah lebih dekat ke arah papan tersebut dan memperhatikan foto-foto yang ada di sana, matanya terbelalak sempurna saat mendapati foto Albert dan Vallerie yang sudah di silang dengan spidol berwarna merah.


“Apa semua foto-foto ini adalah korban Bryan? Apa semua ini benar?” Rachel bertanya-tanya di dalam hatinya, ia sangat tak menyangka jika Bryan sudah membunuh banyak orang di luaran sana terlebih Bryan sudah membunuh Vallerie.


“Apa dia benar-benar membunuh Vallerie? Ini sulit di percaya” tanya Rachel dalam hatinya.

__ADS_1


“Sudah?” tanya seseorang berbisik di telinganya.


Rachel terperanjat kaget dan ia membalikkan badannya menatap orang itu, tubuhnya hampir limbung jika tidak di tahan oleh orang itu. Rachel meneguk salivanya dengan susah payah ketakutannya belum hilang karena memasuki ruangan ini, kini ia justru di pergoki oleh pemilik ruangan ini.


Rachel dapat melihat dengan jelas seringai menyeramkan yang tercetak di bibir Bryan. “Kenapa?” tanya Bryan tanpa melepaskan sebelah tangannya yang melingkar di pinggang Rachel.


“Apa kau terkejut sayang?” tanya Bryan lembut jangan lupakan seringaian menyeramkannya itu.


Rachel tak menjawab satu pun pertanyaan yang di lontarkan Bryan, meskipun pria itu bertanya dengan lembut padanya tetap saja itu terdengar menyeramkan bagi Rachel.


“JAWAB!” bentak Bryan


Rachel terperanjat kaget mendengar Bryan membentaknya tepat di depan mukanya, ia meremas kuat ujung bajunya ia sangat ketakutan dan Bryan terlihat sangat marah kepadanya.


Bryan sangat marah saat melihat Rachel berada di dalam ruangan rahasianya, meski ini juga salahnya sendiri karena lupa mengunci pintunya setelah meletakkan foto Vallerie pagi tadi tetapi meskipun begitu ia tidak bisa mentoleransi Rachel yang berani memasuki ruangan rahasianya.


Bryan bahkan tidak mengizinkan sahabat dekatnya Evan dan Revo memasuki ruangan rahasianya ini. Ia bahkan tak segan-segan membunuh orang yang berani memasuki ruangan pribadinya itu karena ia tidak suka urusan pribadinya di campuri orang lain.

__ADS_1


__ADS_2