
Cahaya matahari menyeruak masuk dari sela-sela jendela dan perlahan Rachel mulai membuka matanya. Ia terbangun dari tidurnya di sebuah kamar yang cukup asing untuknya seketika juga ia mengingat bahwa kini ia berada di apartemen Bryan.
Rachel mencoba mencerna hal yang terjadi seketika ia menjadi takut dan was-was karena kini ia mengingat alasan bagaimana ia bisa berada di apartemen Bryan yang notabennya tempat rahasia Bryan.
Ia kembali mengingat dengan jelas bahwa Bryan mengatakan apartemennya akan aman karena tidak seorang pun mengetahuinya dengan berani ia bangkit dari tidurnya dan berjalan menuju ke luar kamar. Rachel mengelilingi apartemen itu mencari ke setiap sudut ruangan namun nihil, ia tidak melihat sosok Bryan di apartemen ini.
Merasa putus asa karena tak kunjung menemukan Bryan ia pun memutuskan untuk kembali ke kamar dan bersiap untuk membersihkan dirinya.
Setelah beberapa saat kemudian Rachel terlihat keluar dari kamar mandi dengan riangnya, ia hanya mengenakan handuk yang melilit di tubuhnya dan ia pun berjalan menuju lemari pakaian Bryan karena ia tidak mungkin menggunakan pakaiannya lagi.
Saat tengah memilih baju entah kenapa tiba-tiba ia merasakan ada yang aneh, sudut matanya menangkap sesuatu. Terlihat seperti orang tapi siapa? Bukankah Bryan tidak ada disini, ia merinding dan ia juga sangat takut untuk berbalik badan melihatnya.
"Sekarang aku tau kenapa Bryan menyukaimu.. kau sangat seksi, Rachel" ucap seorang pria yang sedang memperhatikannya itu bahkan pria itu bersiul menggodanya.
Suara siulan pria itu memenuhi kamar itu dan ia sangat yakin jika itu bukan Bryan karena itu bukan suara Bryan. Rachel mencoba mengatur nafasnya, ia memejamkan matanya perlahan ia berbalik badan untuk melihat pria yang ada di depan pintu kamar itu.
Saat ia membuka matanya ia kaget melihat pria yang memperhatikannya sedari tadi sudah dipukul oleh Bryan.
"Cepat kenakan pakaianmu, aku akan mengurusnya" ucap Bryan kembali menutup pintu kamarnya.
"Sialan! Kepalaku sakit sekali. Apa kau gila, kau tidak boleh memukul temanku sekuat itu" omel Evan pada Bryan.
"Siapa yang lebih sialan di sini? Kau brengsek mesum yang mengintip kekasih orang lain" ucap Bryan sinis.
"Lah? Aku tidak mengintipnya kebetulan saja saat aku membuka pintu kamarmu Rachel baru keluar dari kamar mandi dengan handuknya" ucap Evan dengan polos menjelaskan situasinya tadi.
"Tetap saja kau melihat sesuatu yang harusnya tidak boleh kau lihat. Kau bahkan memujinya dasar brengsek mesum!" kesal Bryan.
Evan menghela nafasnya "Itu bukan salahku, aku tidak tau jika Rachel sedang tidak berpakaian seperti itu lagi pula kenapa kau jadi berlebihan? Kan aku hanya memuji tubuhnya" ucapnya.
"Hentikan omong kosongmu itu" ucap Bryan sinis
"Tapi benar saja Rachel memiliki tubuh yang sangat bagus" ucap Evan lagi
__ADS_1
Evan meringis kesakitan saat Bryan melayangkan pukulan ke kepala bagian belakang Evan "Jika kau bukan sahabatku, kau akan habis di tanganku!" ucap Bryan.
"Woah woah! Kau tidak boleh berbicara seperti itu kepada sahabatmu" ucap Evan heboh.
Rachel kini berada di kamarnya. ia tidak ingin keluar dari kamar karena merasa malu bahkan rasanya ia tidak akan sanggup jika bertatapan dengan Evan lagi. Jika itu Bryan mungkin ia tidak akan semalu ini tapi beda cerita jika itu Evan terlebih pria itu bahkan bersiul saat melihatnya.
Lamunannya buyar ketika mendengar suara seseorang yang tengah memanggil namanya bersamaan dengan suara pintu yang diketuk.
"Rachel" panggil Bryan dari luar sana.
"Yaa?" tanya Rachel
"Buka pintunya" ucap Bryan lagi setelah mendengar itu barulah Rachel beranjak untuk membukakan pintu kamar untuk Bryan.
Bryan masuk ke dalam kamarnya begitu pintu terbuka, ia mengernyitkan keningnya saat melihat penampilan Rachel dan Rachel menyadari itu.
"Ah maaf aku pinjam bajumu, aku tidak punya baju ganti" ucapnya menjelaskan.
"Ya. tidak apa"
Pipi Rachel bersemu ketika diingatkan lagi dengan kejadian yang memalukan tadi "Jangan tersipu malu seperti itu, aku tak suka" ucap
Rachel menganggukkan kepalanya pelan "Jika dia bukan sahabatku sudah kucongkel matanya dan kurobek mulutnya" ucapnya lagi geram.
Rachel tersenyum tipis ternyata Bryan tidak sekejam yang dipikirkan, pria itu masih memiliki sisi baik buktinya ia tidak ingin menghabisi sahabatnya yang jelas membuatnya kesal.
"Oh ya sayang, aku akan pergi dengan Evan. Aku akan kembali secepatnya, jangan kemana-mana tetap disini oke?" ucap Bryan.
Rachel menganggukkan kepalanya "Okee, berhati-hatilah. Jangan pergi terlalu lama" ucapnya.
Jujur saja ia takut jika harus sendirian meskipun Bryan mengatakan tempat ini aman tetap saja ia takut karena baginya ini tidak aman karena Bryan tidak ada bersamanya.
"Iya sayangku, aku menyusul Evan dulu" ucap Bryan mengecup singkat bibir Rachel.
__ADS_1
Bryan keluar dari kamar tersebut menyusul Evan yang berada di sofa "Bagaimana?" tanyanya.
"Entahlah" ucap Evan mengedikkan bahunya.
Bryan memukul lengan Evan "Eyy, kau tidak mungkin marah padaku kan?" tanyanya.
"Pikir saja!" ucap Evan kesal.
Bryan tertawa "Oke-oke aku salah, kau boleh bermain dengan ****** terbaik di Club kesukaanmu itu" ucapnya malas.
Evan yang mendengar itu menatap Bryan dengan mata yang berbinar-binar "Benarkah? Kau serius?" tanyanya berulang kali memastikan ucapan Bryan.
Bryan hanya menatap Evan malas mudah sekali membujuk sahabatnya itu "Ya" ucapnya singkat.
Evan bersorak senang "Kau sudah berjanji padaku. Aku akan jadi sangat marah jika kau membohongiku"
"Seharusnya aku yang marah karena kau melihat milikku seperti orang mesum" ucap Bryan sinis
Evan hanya cengengesan "Kan sudah kukatakan itu tidak di sengaja tapi kau malah memukulku dengan serius seperti itu, kau membuat kepalaku sangat sakit" ucapnya.
"Hentikan omong kosongmu itu" ucap Bryan malas.
"Pokoknya kau harus menepati janjimu" ucap Evan hendak merangkul pundak Bryan namun Bryan menghindarinya.
"Ya sebelum itu kita harus menyelesaikan urusan kita dulu" ucap Bryan.
"Itu benar, ayo" ucap Evan menjadi serius
Bryan dan Evan berjalan beriringan meninggalkan apartemen tersebut dan tak lama setelah kepergian mereka pintu kamar Rachel sedikit terbuka, ia mengintip keluar memastikan sudah tidak ada siapa-siapa lagi di apartemen tersebut.
Setelah ia tidak mendengar suara bising dari luar barulah ia keluar dari kamar tersebut "Ah aku lapar sekali" ucapnya.
Rachel berjalan menuju dapur setibanya di dapur ia mencari sesuatu yang bisa di makan, tak banyak yang bisa dimakan. Mungkin karena Bryan jarang berada di apartemen ini makanya kulkasnya tidak terisi penuh.
__ADS_1
Rachel memutuskan untuk memasak spaghetti saja, ia menunda rasa laparnya karena ia harus memasak terlebih dulu. Ia ingin memesan makanan siap saji namun ia takut jika tindakannya itu berdampak buruk jadi ia memilih untuk menyusahkan dirinya sendiri saja.