
Setelah meminta Rachel terlebih dahulu menuju dapur Jennifer kini berada di ruang tamu sedang mengurus beberapa masalah pekerjaannya namun ditengah itu ia dibuat kaget dengan suara bising dari arah pintu depan.
Ia berjalan menuju depan dan begitu tiba ia sangat kaget karena kini pintu rumahnya itu sudah terbuka karena ditendang oleh Bryan.
"Hey! Kau bisa membukanya menggunakan tangan kenapa malah menendangnya seperti itu!" pekik Jennifer pada putranya itu.
"Dimana Rachel?" tanya Bryan tak memperdulikan ocehan ibunya itu.
"Apa kau mendengarku?!" tanya Jennifer yang kini tengah berkacak pinggang menghentikan langkah Bryan.
Bryan menghela nafasnya "Siapa suruh mommy menculik pacarku, masih untung yang kutendang itu pintu bukan jendela" ucapnya kesal.
"Wah apa-apaan itu Bryan! Mommy menyelamatkan Rachel bukan menculiknya lagipula semua salahmu karena menelantarkannya" ucap Jennifer memarahi Bryan.
"Sekarang katakan dimana kekasihku?" tanya Bryan.
Jennifer menatap sinis Bryan "Peluk dulu ibumu ini baru mencari kekasihmu" ucapnya kesal karena Bryan benar-benar mengabaikannya.
"Dia ada di dapur, kalian tunggu saja disana mommy masih ada sedikit urusan" ucapnya.
Bryan berjalan meninggalkan Jennifer ia segera menuju dapur untuk menemui kekasihnya itu.
Disisi lain Rachel yang sibuk membantu pelayan lainnya di buat kaget saat ada seseorang yang memanggil namanya.
"Rachel"
"Bryan?" gumam Rachel pelan dan saat ia ingin berbalik badan melihat siapa orang itu terlebih dahulu tubuhnya dipeluk erat oleh orang itu yang tak lain tak bukan adalah Bryan.
"Kenapa terus-terusan menolak panggilanku?" ucap Bryan lirih di pundak Rachel dengan posisi yang masih memeluknya.
"K-kau" ucap Rachel kaget bagaimana bisa Bryan mengetahui keberadaannya.
__ADS_1
Dari kejauhan Jennifer hanya tersenyum senang melihat anak dan calon menantunya itu saling bermanja karena feelingnya mengatakan bahwa sebelumnya mereka sedang bertengkar.
Ia juga mengisyaratkan pelayan lainnya untuk segera menjauh dari sana memberi putranya dan Rachel ruang. Para pelayan yang melihat tuan muda yang sudah lama tidak pulang tiba-tiba kembali dan memeluk wanita asing yang dibawa pulang oleh nyonya besar membuat mereka kaget melongo dan seketika di sadarkan oleh Jennifer, perlahan mereka menjauh dari sana.
"Jawab sayang, kenapa kau menolak panggilanku?" tanya Bryan lirih.
Bryan tak bisa diam saat melihat leher jenjang Rachel dan ia pun mulai mencium bahu Rachel yang terbuka hingga leher mulus itu.
Bryan jadi sangat merindukan Rachel dan ia sangat mengkhawatirkan Rachel dan ia bernafas lega saat mengetahui bahwa kekasihnya itu aman dan baik-baik saja. Sedangkan Rachel hanya berdiam diri membiarkan Bryan menciuminya entah kenapa lidahnya kelu tidak bisa mengucapkan kata untuk menyuruh Bryan berhenti menciumnya.
Seketika ingatan Rachel kembali pada kejadian tadi siang yang sangat tidak menyenangkan itu dan pikirannya menjadi sangat kacau saat mendapat perlakuan seperti ini dari Bryan.
Apa ia hanya dijadikan tempat saat Bryan bosan? Apa ia hanya jadikan tempat pelampiasan? Atau mungkinkah Bryan hanya menginginkan tubuhnya?
Tanpa ia sadari saat memikirkan hal-hal itu air matanya mengalir jatuh membasahi pipinya, hatinya sangat sakit dengan semua kemungkinan itu.
"Sayang, jawab aku" ucap Bryan pelan menahan hasratnya dan belum menyadari yang terjadi pada Rachel.
"Sayang?" panggil Bryan mengangkat dagu Rachel perlahan karena kini wanitanya itu terus menundukkan kepalanya.
Rachel mendongak menatap Bryan dengan wajah sendu dan berlinangan air mata, melihat itu membuat perasaan Bryan menjadi tak karuan ia merasa sudah membuat kesalahan besar terhadap Rachel sampai membuat kekasihnya itu menangis.
*Plakk
Suara tamparan yang sangat keras membuat Rachel membulatkan matanya kaget tak percaya karena Bryan menampar dirinya sendiri.
"Ap-apa yang kau lakukan?" tanya Rachel seketika air matanya terhenti
"Bukankah ini yang kau mau?" ucap Bryan mengabaikan rasa sakit di pipinya sedangkan Rachel hanya menggelengkan kepalanya pelan.
Sekesal dan semarah apapun ia pada Bryan ia sama sekali tidak ada niatan atau bahkan pikiran untuk menyakiti Bryan, ia sangat kaget melihat Bryan yang menampar kuat pipinya sendiri.
__ADS_1
"Apa ini belum cukup? Kau masih tidak ingin berbicara denganku?" tanya Bryan.
"Aku tidak pernah mengatakan ingin menamparmu" ucap Rachel lirih, ia kaget karena Bryan berpikir seperti itu tentangnya.
"Ya kau memang tidak mengatakannya tapi aku tau kau menginginkan ini" ucap Bryan dan Rachel hanya menggelengkan kepalanya.
Bryan menghela nafasnya "Maafkan aku.. meskipun aku tidak tau kenapa kau mendiami aku seperti ini dan tentunya aku pasti melakukan kesalahan sampai kau mendiamiku seperti ini" ucap Bryan lagi.
Rachel tidak bisa menyangkal ucapan Bryan karena itu benar adanya, matanya kembali berkaca-kaca ia tak mengatakan apapun dan hanya menatap Bryan diam.
Ia tidak bisa menyangkal perasaannya lagi karena kini ia sudah tau pasti bagaimana perasaannya terhadap Bryan dan ia harus memastikan bagaimana perasaan Bryan terhadapnya.
Rachel tidak sanggup lagi dipermainkan oleh Bryan sebentar membuatnya berbunga-bunga dan sebentar menyakitinya, ia ingin memastikan perasaan Bryan padanya.
"Kau boleh menamparku sekali lagi dengan tanganmu tapi kumohon jangan marah lagi padaku" ucap Bryan
Rachel tak memperdulikan ucapan Bryan dan ia pun memeluk erat tubuh Bryan seolah memberi isyarat tentang bagaimana perasaannya terhadap Bryan. Ia bukan Rachel yang dulu lagi yang membenci setiap ucapan dan tindakan Bryan kini Bryan telah berhasil merubah perasaan Rachel karena ini ia mencintainya.
"Aku mencintaimu, sangat mencintaimu" ucap Rachel kembali menangis sembari mengeratkan pelukannya.
Bryan terdiam terpaku setelah mendengar ucapan Rachel yang mengutarakan perasaannya. Cinta? Sepertinya ia telah bertindak terlalu jauh sampai membuat wanita itu mencintainya.
Ia tidak tau harus bereaksi seperti apa saat ini dan ia bahkan tak mengerti bagaimana mungkin Rachel bisa memiliki perasaan yang begitu rumit terhadapnya, memang benar ia yang mengklaim Rachel sebagai miliknya tapi hanya sekedar itu tidak dengan cinta.
"Aku mencintaimu, Bryan" ucap Rachel lagi
Bryan benar-benar tidak tau harus bersikap bagaimana terhadap Rachel dan perasaan yang ia miliki. Jika ia berkata jujur tidak mencintai Rachel mungkin ia akan kehilangan Rachel, ia tidak ingin itu terjadi dan jika ia berbohong maka hubungannya dengan Rachel akan menjadi rumit kedepannya, ia juga tidak menginginkan menjalin hubungan rumit dengan Rachel.
Tidak ada pilihan yang menguntungkan untuknya, semua akan membuatnya sulit. Bryan menghela nafasnya kasar lalu memeluk erat tubuh Rachel dengan harapan nantinya Rachel tidak berharap banyak padanya tentang hubungan mereka.
"Mungkin ini adalah pilihan yang terbaik" pikirnya.
__ADS_1