Stuck With Psychopath

Stuck With Psychopath
Episode 86


__ADS_3

Rachel benar-benar mabuk berat, saat bangun tidur di pagi hari kepalanya terasa sangat pusing. Ini pengalaman pertamanya tapi ini juga akan menjadi yang terakhir kali baginya daripada harus menderita seperti ini.


"Kenapa malah sok-sokan mau mabuk-mabukan segala" omel Bryan menghela nafasnya kasar saat melihat Rachel terbaring di kasur sembari meringis kesakitan.


"Bryan sakit sekali" ucap Rachel mengeluhkan pusing di kepalanya itu.


"Minum-minum lagi aja sana" omel Bryan namun tak dihiraukan oleh Rachel karena ia sibuk dengan rasa sakit di kepalanya itu.


"Jika seperti ini liburannya bakal gagal, jangan aneh-aneh makanya" ucap Bryan terus mengomeli Rachel.


"Apa kau tidak bisa diam? Kepalaku pusing sekali dengar suaramu makin tambah pusing" omel Rachel balik.


"Sudah salah bukannya minta maaf ngerasa bersalah malah marah-marah" ucap Bryan kesal


"Sudahlah terserah kau saja, tidurlah" ucap Bryan pergi meninggalkan Rachel di kamar itu sendiri.


Rachel tak henti-hentinya meringis kesakitan, minuman keras itu memang sangat berbahaya dan tidak bagus untuk kesehatannya, ia tak pernah mengalami sakit kepala luar biasa seperti ini.


Diluar sana Bryan terlihat mengutuk Evan didepan kedua orang tuanya sedangkan Evan terlihat berlindung dibelakang Miller ayah Bryan.


"Om liat tuh anaknya, masa aku yang salah. Om tau kan perempuan tuh gak bisa dilarang?" ucap Evan


"Berisik!" ucap Bryan kesal


"Bryan sudah sayang, gimana Rachel dan teman-temannya?" tanya Jennifer


"Rachel terus mengeluh kepalanya sakit sekali katanya, teman-temannya aku tidak tau itu urusan Evan" ucap Bryan masih kesal dengan apa yang terjadi pada kekasihnya itu.


"Loh kok aku? Kan gak mungkin aku masuk ke kamar mereka buat ngecek mereka" ucap Evan


"Urusanmu! Siapa suruh membawa mereka ke bar" ucap Bryan sinis.


"Aunty help me" rengek Evan pada Jennifer


"Jadi tidak ada yang tau gimana keadaan teman-teman Rachel?" tanya Jennifer lagi dan Evan pun menganggukkan kepalanya sedangkan Bryan hanya bersikap acuh.


"Yasudah kalau begitu mommy akan pergi mengecek mereka dulu" ucap Jennifer membuat Evan bernafas lega.


"Thanks aunty" ucapnya


Jennifer pergi ke kamar Giska dan Vely untuk mengecek keduanya baru saja masuk ke dalam kamar itu ia dibuat kaget dengan kedua wanita yang tersungkur di atas kasur sembari bergumam tak jelas.


"Hey girls, kalian baik-baik saja?" tanya Jennifer pada keduanya.

__ADS_1


"Ya Ampun, girls wake up.. Guyss bangun hey" ucap Jennifer membangunkan kedua wanita itu.


"Halo tante" sapa Vely yang sudah mulai sadat dengan situasi sekitar.


"Aduhhh kalian ini.. berapa banyak yang kalian minum? Ayo bangun" ucap Jennifer lagi sembari menuangkan air putih ke dalam gelas.


"Ini minum dulu" ucapnya lagi memberikan air itu kepada Vely yang sudah duduk di kasurnya.


"Aduhhh berapa banyak yang kalian minum sampai mabuk begini" tanya Jennifer


"Kita tidak minum banyak, mungkin karena ini pengalaman pertama kita" ucap Vely kesulitan untuk menahan rasa sakit di kepalanya itu.


"Ini minum obat ini untuk meredakan sakit kepalamu, Rachel juga sama masih ditempat tidur karena sakit kepalanya" jelas Jennifer lagi.


"Terima kasih tante" ucap Vely lalu beralih pada Giska yang masih terbaring di kasur.


"Giska bangun, udah pagi.. ini tante Jennifer bawain obat nyeri buat sakit kepalamu" ucap Vely.


"By the way ini sudah hampir siang bukan pagi lagi" ucap Jennifer menggelengkan kepalanya sedangkan Vely hanya cengengesan saja.


Setelah dibangunkan terus menerus akhirnya Giska pun bangun dan menyapa Jennifer dan Jennifer hanya menghela nafasnya kasar melihat kedua wanita yang ada dihadapannya ini.


"Ini minum dulu airnya dan ini obatnya buat ngilangin sakit kepala" ucap Jennifer kepada Giska


Seelah memastikan kedua wanita itu sudah bangun dan meminum obat, Jennifer pun pamit untuk melihat Rachel.


"Kalau begitu tante tinggal dulu ya, mau ngecek Rachel dulu. Kalau butuh sesuatu panggil tante, Bryan atau Evan ya" ucap Jennifer dan kedua wanita itu menganggukkan kepalanya kompak.


"Yasudah kalian istirahat dulu saja, jika ada apa-apa panggil saja ya" ucap Jennifer sekali lagi sebelum akhirnya keluar dari kamar itu.


Jennifer tidak melakukan banyak hal di kamar Rachel karena calon menantunya itu sedang tertidur, ia tak membangunkannya karena tak ingin mengganggu Rachel yang sedang beristirahat.


Ia hanya membereskan beberapa hal berantakan dan sebelum keluar dari sana ia juga menuangkan air putih ke dalam gelas meletakkannya ke dekat nakas agar nanti saat terbangun Rachel tidak perlu susah-susah mencari air minum.


"Gimana mom?" tanya Bryan saat ibunya itu sudah kembali memeriksa para gadis yang tak sadarkan diri akibat mabuk itu.


"Um mereka baik-baik saja, mommy sudah berikan obat juga dan mommy suruh mereka untuk istirahat terlebih dahulu saja" jelas Jennifer.


"Lalu Rachel?"


"Dia sedang tidur, kau sudah memberinya obat kan?" tanya Jennifer dan Bryan menganggukkan kepalanya


"Yasudah kalau begitu tak apa.. biarkan saja mereka beristirahat" ucap Jennifer lagi.

__ADS_1


Jennifer, Miller, Bryan dan Evan berada di tempat yang sama berbincang satu sama lain bahkan mengingat masa lalu mereka bersama.


"Lalu kapan kau akan melamarnya?" tanya Miller pada Bryan


"Aku tidak yakin bisa melamarnya" ucap Bryan menghela nafasnya kasar.


"Apa maksudmu Bryan?!" tanya Jennifer tak suka mendengar ucapan Bryan itu


"Tidak.. aku tidak ingin" ucap Bryan


"Bryan?!" pekik Jennifer


Kesal tentu marah apalagi, perubahan pikiran Bryan yang tiba-tiba itu membuat Jennifer kesal, mereka sudah menyiapkan hampir sembilan puluh persen rencana wedding tapi apa sekarang.


Tidak ingin melamarnya? Ck yang benar saja.


"Kau dengar Bryan?! Mommy tidak mau tau rencana itu tidak bisa dibatalkan" pekik Jennifer.


"Tidak" ucap Bryan singkat dan berlalu pergi meninggalkan semuanya disana.


"Apa dia merajuk karena saat mabuk Giska memberitahu Rachel dia akan melamarnya?" ucap Evan bertanya pada dirinya sendiri.


"Apalagi itu?" tanya Jennifer.


"Tadi malam saat Bryan datang menjemput Rachel, Giska mengatakan pada Rachel jika Bryan akan melamarnya" jelas Evan yang mendapat tatapan aneh dari kedua orang tua Bryan.


"Ada-ada saja kalian" ucap Jennifer


"Mungkin.. aku juga tidak yakin" ucap Evan dan Jennifer tak menanggapi hal itu.


"Sudahlah.. ayo kembali ke kamar masing-masing" ucap Jennifer beranjak dari sana diikuti Miller.


Bryan kini berada di kamarnya melihat Rachel yang sedang tidur dalam diam, entah apa yang sedang ia pikirkan saat ini. Ia menatap lekat Rachel dalam waktu yang cukup lama dan kemudian terdengar suara helaan nafas yang keluar dari mulutnya.


"Memang seharusnya dari awal aku tak merencanakan ini semua karena itu tidak terlihat seperti aku yang biasanya"


Setelah dipikir-pikirkan lagi Rachel sudah banyak merubah dirinya, sifat kejinya hilang begitu saja karena Rachel. Ia juga tak pernah lagi menyakiti atau mengancam Rachel karena ia benar-benar menuruti perkataan Rachel, ia terlihat seperti orang yang berbeda.


Dan saat ibunya sibuk membicarakan pernikahan entah sadar atau tidak tapi saat itu ia mengatakan akan menikahi Rachel dan meminta ibunya mengurus itu semua karena dalam waktu dekat ia akan menikahi Rachel.


Tapi sekarang ini ia dibuat bingung dengan perasaannya, benar ia tak suka melihat Rachel sedih apalagi ada yang menyakiti wanitanya itu.


Mungkin ini sulit untuk di percaya setelah dirasakan lagi sepertinya ia tidak memiliki perasaan yang dalam untuk Rachel bahkan ia tidak berdebar-debar saat bersamanya.

__ADS_1


Apakah ini artinya obsesinya terhadap Rachel sudah hilang?


__ADS_2