
“A-aku ti-tidak sengaja, ma-maaf” ucap Rachel terbata-bata saking takutnya.
“Benarkah?” tanya Bryan memiringkan kepalanya dengan seringaian menyeramkan khasnya itu.
“Su-sungguh aku...” ucap Rachel terhenti
Selang beberapa detik Rachel tak melanjutkan kata-katanya Bryan pun menginterupsinya “Lanjutkan ucapanmu!” perintahnya.
“Aku tak sengaja, su-sungguh aku tidak berbohong” ucap Rachel takut-takut dan tangannya semakin erat menggenggam ujung bajunya.
“Tak satu pun orang yang boleh memasuki ruangan ini” ucap Bryan menatap lekat Rachel dengan hawa yang sangat menyeramkan.
“Asal kau tahu aku tidak segan-segan membunuh orang yang berani memasuki ruangan ini tak peduli siapa pun itu, termasuk kau”
Jeritan Rachel tertahan saat Bryan mengeluarkan pisau lipat kecil yang sangat tajam dari saku celananya dan mengacungkan pisau itu tepat di depan leher Rachel.
“Kau yang memintanya, Rachel” ucap Bryan
Rachel menggeleng pelan sangat pelan takut jika Bryan mendekatkan pisau itu ke lehernya dan menyayat lehernya begitu saja.
__ADS_1
“De-dengarkan aku, aku sungguh tidak sengaja” pinta Rachel lirih.
“Tidak ada perlakuan khusus, ini konsekuensi bagi siapa pun yang sudah berani menginjakkan kakinya di sini. Karena kau sudah berani masuk ke dalam ruangan ini maka kau harus menanggung akibat dari rasa penasaranmu itu” ucap Bryan.
“Ti-tidak, maafkan aku. Aku mohon” pinta Rachel meminta belas kasihan dari Bryan.
Bryan tak memperdulikannya pria itu justru menempelkan pisaunya ke leher Rachel selama beberapa detik kulitnya dapat merasakan hawa dingin dari pisau itu. Bryan memainkan pisau tajam itu ke leher Rachel dan Rachel hanya bisa berdiam diri karena jika ia bergerak sedikit saja bisa-bisa pisau itu mengenai lehernya.
“Arghh” terik Rachel saat Bryan benar-benar menggoreskan pisau itu ke bagian kanan lehernya.
Rachel yang tahu bahwa nyawanya tidak akan lama lagi pun memilih pasrah dengan keadaan karena ingin melawan pun ia tak akan bisa dengan tubuh yang sangat tidak bertenaga ini yang sudah habis terkuras karena ketakutannya yang besar.
‘bruukk...’
Bryan menyeringai menatap wajah Rachel dan mengabaikan darah yang sedikit mengucur di leher Rachel.
#FLASHBACKON
Bryan berjalan di samping sahabatnya Evan berjalan keluar dari ruang kelasnya karena lima menit yang lalu kelas pertamanya baru saja berakhir.
__ADS_1
Banyak wanita yang memekik kegirangan saat Evan dan Bryan berjalan bersama namun hal itu membuat Evan tak senang berdecap kesal. Namun Evan hanya bisa memaklumi sikap sahabatnya yang baru-baru ini menjadi berubah karena sedang kasmaran.
Hati Bryan sangat berbunga-bunga hari ini dan itu membuatnya tak henti-hentinya melemparkan senyumannya kepada orang-orang yang juga tersenyum dan menyapa saat melihatnya. Saking senangnya ia bahkan tak dapat mendeskripsikan rasa perasaannya yang jelas ia sangat bahagia karena kejadian semalam.
Bryan menepuk pundak Evan secara tiba-tiba dengan sangat keras sehingga membuat sang empunya meringis kesakitan.
“Izinkan aku di kelas berikutnya” ucap Bryan berlalu pergi tanpa merasa bersalah karena sudah memukul pundak Evan dengan sangat keras itu.
“Hey! Kau akan mendapat masalah jika kali ini bolos lagi” teriak Evan pada Bryan namun tak di indahkan oleh sahabatnya itu dan hanya di balas lambaian tangan dari Bryan tanpa menoleh ke arahnya.
“Hah dasar breng**k itu” maki Evan sambil mengelus pundaknya yang masih terasa sedikit nyeri.
Bryan melangkah pergi menuju parkiran mobil dengan suasana hati yang masih sangat berbunga-bunga itu. Ia tidak sabar ingin bertemu dengan Rachel di rumah bahkan ia rela membolos mata kuliahnya demi bertemu kekasihnya itu.
Sepanjang perjalanan ia memikirkan kegiatan apa yang harus ia lakukan bersama Rachel setibanya nanti di rumah, ia memikirkan ke mana bagusnya ia pergi kencan bersama kekasihnya itu. Kalau boleh jujur, sebenarnya Bryan sangat ingin melakukan kegiatan panas dengan Rachel namun mengingat sebelumnya Rachel menangis karena ia sempat pernah ingin melakukan hal yang sama membuatnya mengurungkan niatnya dan menunggu hingga Rachel siap.
Tapi saat ia sampai di rumahnya, semua yang sudah ia rencanakan tadi lenyap begitu saja saat melihat pintu ruang rahasianya terbuka dan terlebih lagi di dalam sana terdapat kekasihnya sedang menatap foto-foto korbannya.
#FLASHBACKOFF
__ADS_1
Ia cukup marah melihat kelancangan Rachel yang berani-beraninya memasuki ruangan rahasianya itu dan ia hanya berniat sedikit mengancam kekasihnya itu. Namun karena wanitanya itu sangat keras kepala ia pun terpaksa memberikan sangsi yang cukup kejam dan dengan terpaksa ia menggores sedikit leher Rachel dengan pisau lipat tajam kesayangannya itu.
Ia tahu itu akan menyakitkan tapi ia sangat tidak menyangka jika itu akan membuat kekasihnya itu sampai pingsan seperti itu.