
Di perjalanan menuju rumah Bryan memutuskan untuk mampir di sebuah restoran, Rachel sudah menolaknya karena ingin langsung pulang dan beristirahat namun seperti biasa Bryan tetap pada keinginannya, tak terbantahkan.
"Turunlah"
Rachel melirik Bryan dengan tatapan kesal sebab mereka habis meributkan hal yang tidak perlu di ributkan.
"Turun sayang atau mau aku gendong?" tanya Bryan dengan sabarnya.
*brakk*
Rachel turun dari mobil dan menutup pintu mobil dengan keras sehingga membuat Bryan yang masih ada di dalam kaget menggelengkan kepalanya. Tolong ingatkan dia untuk menghukum gadisnya itu nanti karena seharian ini entah darimana datangnya keberanian itu tapi Rachel tak henti-hentinya memberontak kepadanya.
Saat hendak turun menyusul Rachel yang sudah berdiri menunggunya di depan restoran, ia melihat seseorang yang mencurigakan sedang menatap Rachel intens dari balik tiang tak jauh dari restoran tersebut.
Kemudian ia melihat sesuatu yang di keluarkan orang itu dan ia sangat yakin bahwa pria itu mengarahkan ke Rachel dengan cepat ia turun dari mobilnya berlari cepat atau semua akan terlambat.
Ia berlari menuju Rachel sembari melirik ke arah orang dengan pistolnya itu, ia melihat orang itu bersiap menarik pelatuknya.
"Rachel!" teriak Bryan dan Rachel yang merasa di panggil pun menoleh ke arah Bryan.
Suara jatuh dan suara tembakan terdengar secara bersamaan. Bryan bernafas lega saat berhasil menjatuhkan tubuh Rachel bersamanya dan kini Rachel berada di bawahnya, ia memeriksa tubuh Rachel sekilas dan bernafas lega.
Ia bangkit meninggalkan Rachel yang masih terbaring di lantai karena syok dengan apa yang baru saja terjadi. Pistol sangat berbahaya tetapi menjatuhkan tubuh di jalanan juga tak kalah berbahaya, ah bukan itu masalahnya sekarang.
Bryan berlari kencang mencoba untuk mengejar si pelaku tembak itu dan si pelaku juga berlari kencang hingga padatnya jalanan membuat Bryan kehilangan jejak si pelaku.
Ia menggeram marah menendang semua yang ia lihat "Lihat saja aku akan menemukanmu! Kau akan mati di tanganku!" ucapnya.
Saat mengingat Rachel ia mengumpat dan berbalik arah menuju kekasihnya itu yang entah bagaimana keadaannya saat ini. Rachel duduk meringkuk di aspal ada beberapa orang yang mengerumuninya bertanya-tanya namun Rachel hanya duduk diam syok tak menjawab pertanyaan mereka.
"Rachel" panggil Bryan barulah ia mengangkat wajahnya menatap Bryan.
__ADS_1
"Bryan" ucapnya lirik menahan tangis
Bryan mendekat ke arah Rachel dan menggendongnya ala bridal style, Rachel memeluk erat leher Bryan bahkan saat sudah tiba di dalam mobil pun Rachel tak melepaskannya.
"Rachel, lepaskan dulu" ucap Bryan namun ucapannya tak di indahkan oleh Rachel.
"Hey Rachel sayang, lepaskan dulu oke? Gimana cara kita pulang kalau kau tak melepaskan tanganmu" ucap Bryan lembut.
"Aku takut" ucap Rachel, hanya itu yang keluar dari bibir seksinya itu.
Rachel tetap bergantung di leher Bryan bahkan ia semakin mengeratkan tangannya, Bryan menghela nafasnya hanya ini satu-satunya cara agar mereka bisa pergi dari sini.
Bryan kembali menggendong Rachel dan menuju ke kursinya, hanya ini yang bisa ia lakukan karena Rachel tak kunjung melepaskan tangannya yang melingkar di leher Bryan.
Bryan bingung bagaimana ia harus bereaksi ia senang Rachel manja seperti ini namun ia juga kesal saat mengingat kenapa Rachel jadi seperti ini. Jika bukan karena insiden seperti tadi mungkin hubungan mereka akan terlihat seperti orang pacaran pada umumnya bermesraan.
Jujur saja ia sangat senang dengan posisi Rachel yang duduk di pangkuannya tapi ia tidak bisa menunjukkan kesenangannya itu karena ia tau kekasihnya itu sedang ketakutan.
Setengah perjalanan Rachel yang sedari tadi hanya menundukkan kepalanya kini menatap wajah Bryan dengan tatapan yang sulit di artikan. Mungkin nanti begitu tersadar ia akan menyesali tingkah manjanya ini yang jelas sekarang ia merasa aman jika tetap bersama Bryan karena itu ia ingin selalu di dekatnya.
Bayangkan saja jika Bryan tidak menghampirinya tepat waktu mungkin ia sudah tidak bernyawa terkena tembakan itu, ia sangat-sangat berterima kasih pada Bryan karena sudah menyelamatkannya.
Setelah cukup lama di perjalanan akhirnya mereka sampai di tempat tujuan, tempat yang asing untuk Rachel. Mereka berhenti di ruang bawah tanah dan mereka keluar dari mobil, Rachel menatap Bryan penuh tanya.
"Kita dimana? Kenapa tidak pulang?" tanya Rachel yang akhirnya bersuara setelah lama berdiam diri.
"Ini apartemenku, di sini jauh lebih aman karena tidak ada yang mengetahui tempat ini" jelasnya.
Bryan menggendong Rachel hingga masuk ke dalam apartemennya bahkan wanitanya itu tidak ingin lepas darinya. Ia menempatkan Rachel di tempat tidur saat itu barulah Rachel melepas pelukannya, ia juga menyelimutinya dan mencium kening Rachel.
"Kau sudah aman, sekarang tidurlah" ucap Bryan menatap Rachel sembari tersenyum "Aku pergi dulu ya, tetap disini jangan kemana-mana" ucapnya lagi.
__ADS_1
Mendengar itu Rachel dengan cepat menahan tangan Bryan, ia tak ingin ditinggal sendiri meskipun Bryan mengatakan tempat ini aman tetap saja ia merasa takut.
"J-jangan pergi" ucap Rachel lirih.
Bryan duduk di tepi ranjang ia menggenggam tangan Rachel "Aku benar-benar harus pergi sayang jika tidak aku tak bisa janji untuk tidak melakukan apapun padamu, aku tidak bisa menahannya lebih lama lagi" ucap Bryan melirik ke bawahnya.
Rachel mengikuti tatapan mata Bryan, ia tersontak kaget melihat kemana Bryan menatap.
"Jadi aku masih tidak boleh pergi?" tanya Bryan membuat pipi Rachel merah bersemu.
"P-pergilah" ucap Rachel terbata, entah kenapa jadi ia yang merasa malu.
Bryan kembali mengecup kening Rachel "Aku akan segera kembali" ucapnya berlalu meninggalkan Rachel di sana.
Rachel tersenyum wajahnya merah padam, ia merasa sangat malu setelah melihat bagian bawah Bryan yang terlihat menonjol dari balik celananya.
Tak lama kemudian ia kembali terdiam ketika mengingat kembali kejadian di restoran tadi, ia bingung apa itu aksi oknum tak bertanggung jawab, teror biasanya atau apa maksud dan tujuan? Jika punya maksud dan tujuan kenapa sasarannya harus dirinya?
Disisi lain terlihat seseorang yang menggebrak meja dengan sangat keras memarahi orang yang tengah berlutut menghadap ke arahnya.
"Bagaiman mungkin gagal ha? Aku sudah memberi waktu seharian untukmu! Apalagi yang akan kau jadikan alasan?!" teriaknya dengan keras.
"Pria yang bersamanya menyadari keberadaan ku. Aku ketahuan bahkan ia sampai mengejar-" ucap seorang yang tengah berlutut itu namun langsung di potong oleh orang yang memberi perintah itu.
"Lakukan lagi!" perintahnya, ia sama sekali tidak perduli bagaimana situasinya.
Orang yang berlutut itu panik "Tapi itu akan sangat berbahaya kemungkinan besar kali ini aku akan ketahuan" ucapnya.
"Masa bodoh! Aku tidak mau tau pokoknya kau harus melakukannya lagi dan kali ini harus berhasil!" perintahnya tak terbantahkan.
"B-baiklah" ucap orang itu bangkit dari berlututnya, menyembunyikan pistol ke dalam jaketnya.
__ADS_1
Orang yang memberi perintah itu tersenyum penuh kemenangan "Kau akan mati di tanganku!" ucapnya tertawa licik.