Stuck With Psychopath

Stuck With Psychopath
Episode 39


__ADS_3

Rachel turun dari mobil Bryan dengan wajah masam dan perasaan dongkol yang luar biasa yang sudah pasti itu semua sebab ulah kekasihnya itu dan penyebab masalah malah cuek tak peduli.


Bagaimana tidak dongkol Bryan selalu menjemputnya tidak tepat waktu bukan karena telat tapi terlalu cepat dan yang bikin kesal pria itu selalu tidak mau menunggunya dan selalu memaksanya untuk pulang lebih awal dari jam kerjanya.


Seperti tadi bukannya menunggu satu jam ia hanya bisa bersabar sampai sepuluh menit lalu membawa paksa Rachel pulang, jika itu coffee shop miliknya mungkin tidak akan jadi masalah tetapi posisinya ia sebagai pekerja paruh waktu jika begini terus ia bisa di pecat.


"Apa? Mau apalagi? Kenapa kau turun?" ucap Rachel sewot tanpa ia sadari ia memarahi si psychopath itu.


"Kenapa? Tidak boleh?" tanya Bryan menekan setiap ucapannya.


Rachel menelan ludahnya kasar karena kesal ia lupa jika ia sedang berhadapan dengan seorang psycho bukannya mendapat perlakuan manis yang ada ia akan mendapat goresan pisau di lehernya.


Bergidik ngeri ketika membayangkan hal yang mungkin terjadi padanya saat ia bersikap buruk pada Bryan karena itu Rachel pun bersikap baik "mau mampir dulu?" tanyanya


"Bolehkah?" tanya Bryan dan Rachel dengan cepat menganggukkan kepalanya lalu terkekeh.


Bryan tersenyum puas dan mereka berjalan menuju pintu rumah sampai didepan pintu Rachel sibuk mencari kunci rumah di tasnya namun belum sempat ia menemukan kunci rumah, pintunya terlebih dulu terbuka.


Dengan santai Bryan masuk ke dalam rumah dan memamerkan kunci rumah Rachel yang ia miliki "Tidak ingin masuk?" tanyanya pada Rachel.


Rachel tertegun saat ia mendapatkan kunci rumah yang ada di tasnya lalu bagaimana mungkin Bryan bisa memiliki kunci rumahnya? Apa Bryan menduplikatnya? Sejak kapan?


Pantas saja pria itu bisa tiba-tiba sudah ada di dalam rumahnya ternyata ia memiliki kunci rumahnya. Rachel was-was ia harus meningkatkan kewaspadaannya terhadap Bryan jika tidak mungkin akan terjadi sesuatu yang buruk padanya.


"Kenapa diam saja? Ayo masuk" ucap Bryan menarik pelan tangan Rachel dan Rachel diam pasrah tak protes.


"Gerah sekali, tunggu sebentar aku mandi dulu" ucap Bryan saat mereka tiba di kamar Rachel.

__ADS_1


Rachel dengan polosnya menganggukkan kepalanya duduk ditepi ranjang menunggu Bryan. Terbalik, rumah ini kan rumahnya kenapa ia harus menunggu Bryan dengan sopan sedangkan si tamu sangat tidak sopan main masuk dan menggunakan kamar mandi orang lain sesuka hatinya.


Memang benar mereka sepasang kekasih tidak boleh perhitungan tapi apa ini bukankah mereka harus membatasi dan memberi privasi satu sama lain? Bagaimana mungkin ia bisa sesuka hati masuk ke rumah dan menggunakan kamar mandi seenak jidatnya saja.


Rachel semakin tertegun saat melihat Bryan keluar dari kamar mandi hanya dengan handuk kecil yang melilit di pinggangnya, bayangkan saja bagaimana ekspresi Rachel saat melihat Bryan.


Bryan berjalan dengan santainya "Apa tidak ada handuk lagi? Aku ingin mengeringkan rambutku?" tanyanya.


Rachel tak menjawab karena kini mata dan pikirannya hanya terfokus pada tubuh Bryan, bukan Bryan namanya jika tidak iseng.


Ia tersenyum penuh arti dengan sengaja ia berjalan mendekat ke arah Rachel. Wanitanya itu sukses tergoda dengan susah payah menelan ludahnya kini jaraknya dan Bryan hanya beberapa langkah lagi dan sebelum pikiran kotor memenuhi otaknya dengan kuat ia memukul kepalanya sendiri.


Rachel meringis kesakitan dan Bryan tentu saja ia sangat kaget mendengar suara pukulan yang cukup keras itu, entah kenapa ia merasa nyeri dibawah sana saat melihat Rachel memukul kepalanya sendiri.


"Apa yang kau lakukan?" tanya Bryan sedikit kesal karena Rachel memukul dirinya sendiri "Apa kau gila? Kau bisa melukai dirimu sendiri" ucapnya lagi.


"Ada apa denganmu, hm?" tanya Bryan


Rachel gugup ia takut ketahuan jika tadi ia sedang memikirkan hal jorok tentang Bryan karena itu dengan cepat ia kabur.


"A-aku ingin mandi" ucapnya berlari menuju kamar mandi.


...****************...


Rachel selesai dengan mandinya, ia sedikit kaget saat melihat Bryan masih berada di rumahnya. Ia pun berjalan mendekati Bryan yang kini tengah bersandar memainkan ponsel di ranjangnya.


"Kau tidak pulang?" tanya Rachel duduk di meja riasnya.

__ADS_1


"Tidak" ucap Bryan fokus pada ponsel yang ada ditangannya itu.


Rachel melihat itu dari cerminnya, ia mulai menggunakan skincare rutinnya "Pulanglah" ucapnya.


Jujur saja ia malas jika harus berurusan terlalu lama dengan Bryan karena ia takut membuat kesalahan dan berakibat fatal karena pria yang menjadi kekasihnya itu bukan sembarang orang melainkan seorang psychopath.


Bryan hanya menggelengkan kepalanya sebagai jawaban Rachel menghela nafasnya kasar sambil memikirkan cara agar bisa membuat Bryan pergi dari rumahnya.


Rachel selesai dengan serangkaian skincare rutinnya dan ia pun berjalan menuju tempat tidurnya, ia kaget saat Bryan menyambutnya dengan hangat bahkan pria itu berhenti memainkan ponselnya.


"Kemarilah, ayo tidur" ucap Bryan.


Rachel takut-takut "Ya, kau harus tidur di rumahmu" ucapnya.


Bryan tak mengindahkan ucapan Rachel malah ia berbaring dan menyelimuti tubuhnya terlebih dulu "Ayo tidur" ucapnya lagi.


"Jadi kau tidak akan pulang?" tanya Rachel lagi dan Bryan menganggukkan kepalanya dengan penuh semangat.


Rachel menghela nafasnya kasar tidak banyak yang bisa ia lakukan jika si psycho itu sudah bertekad "Ya sudah, ayo tidur" ucapnya.


Mendengar itu Bryan dengan cepat memeluk erat tubuh Rachel daripada memeluk bisa dibilang menjadikan tubuh Rachel sebagai bantal gulingnya.


"Aku tidak bisa nafas" ucap Rachel barulah ia melonggarkan sedikit pelukannya.


Rachel berusaha melepaskan diri dari Bryan namun pria itu tidak berniat untuk mengalah "Tidurlah, aku hanya akan memelukmu. Aku tidak akan berbuat aneh" ucap Bryan.


Rachel menghela nafasnya benar bisa dipercaya atau tidak ucapan Bryan ia juga tidak tahu, cukup percayakan saja pada Tuhan karena bagaimanapun ia tidak akan bisa melawan Bryan.

__ADS_1


Jika ia berontak dan protes sekalipun itu semua akan berakhir sia-sia.


__ADS_2