
Kini hanya ada Bryan dan Rachel di ruangan ini dan Rachel punya banyak pertanyaan untuk Bryan.
"Kenapa kau tidak pernah mengatakan jika orang tuamu juga tinggal disini?" tanya Rachel.
"Kau tidak pernah tanya" ucap Bryan dengan santainya.
"Ya setidaknya kau harus inisiatif menceritakan tentang keluargamu atau bahkan tentang kehidupan pribadimu padaku" ucap Rachel.
Bukannya menghiraukan ucapan kekasihnya itu Bryan justru menarik pinggang Rachel agar lebih dekat ke arahnya.
"Lepaskan! Aku tidak ada waktu untuk bermain-main, aku harus bekerja" ucap Rachel
"Lupakan itu sayang" ucapnya melirik Rachel penuh nafsu "Kenapa mommy harus membuat pakaian seperti ini, kau terlihat sangat seksi"
Bryan mendekatkan wajahnya pada Rachel ia bersiap untuk mencium kekasihnya itu sebelum itu terjadi Rachel terlebih dahulu menutup mulutnya.
"Kenapa? Jangan ditutup, aku ingin mencium mu" ucap Bryan terang-terangan.
Rachel bersemu mendengar itu "K-kau! Jangan melakukan hal aneh" ucapnya masih menutup mulutnya.
"Aneh kenapa? Aku ingin menciummu karena kau begitu cantik dan seksi, kenapa tidak boleh?" ucapnya.
Rachel mendorong tubuh Bryan sekuat tenaganya dan untungnya Bryan tidak memeluknya terlalu erat hingga ia bisa lolos dari Bryan.
"Lupakan itu. Aku harus pergi sekarang, kita bicarakan nanti lagi saja. Aku buru-buru. byeee" ucap Rachel berlalu pergi meninggalkan Bryan di ruangan itu sendirian.
Rasanya ini pertama kalinya mereka berbincang sesantai ini, Bryan tersenyum senang sebenarnya ia sedikit kecewa karena tidak bisa mencium kekasihnya itu tapi seperti yang Rachel katakan tadi 'nanti lagi saja'
Merasa bosan menunggu disana Bryan pun memutuskan untuk melihat-lihat, ia berkeliling hingga akhirnya tiba di ruang pemotretan dimana ada Rachel disana.
__ADS_1
Ia masuk ke dalam ruangan tersebut untuk melihat kekasihnya dan beberapa saat kemudian ia menggeram marah saat seorang pria yang mengenakan pakaian senada dengan Rachel merangkul pinggang kekasihnya itu.
Ia mengerti itu pekerjaan seorang model tapi ia tidak ingin jika kekasihnya disentuh pria lain, ia berjalan ke arah Rachel lalu menarik tubuh Rachel hingga masuk ke dalam dekapannya.
"Jangan coba-coba untuk menyentuhnya" ucapnya menggeram marah.
Rachel mencoba menjauh dari Bryan "Apa yang kau lakukan?" tanyanya kaget dengan yang dilakukan Bryan.
"Lepaskan aku" ucap Rachel lagi mecoba untuk melepaskan tangannya dari cengkraman Bryan.
Kini semua mata tertuju pada mereka bertiga namun tidak ada yang berani menegur Bryan karena mereka semua tau jika Bryan adalah anak Jennifer, hingga akhirnya Jennifer tiba di ruangan itu.
"Ada apa ini?" tanyanya melihat Rachel berada di pelukan Bryan yang terlihat marah.
"Aku akan membawanya pergi" ucap Bryan lalu menarik tangan Rachel namun langkahnya di hentikan oleh ibunya.
"Membawa kekasihku pulang" ucapnya menekankan kata kekasih.
Jennifer menghadangnya "Hentikan itu! Rachel masih ada pemotretan, pekerjaannya belum selesai" ucapnya.
"I don't care mom.. Aku tidak suka jika milikku disentuh oleh orang lain" ucapnya geram.
"Kau tidak bisa membawanya pergi, pemotretannya belum selesai. Jangan membuat orang lain jadi kerepotan Bryan!' ucap Jennifer
Rachel merasa tidak enak setelah mendengar kata-kata Jennifer lalu ia melihat ke arah kru lainnya, ia mencoba untuk melepaskan tangannya dari Bryan tapi ia justru mendapat tatapan tajam.
"Bryan pleasee" ucap Rachel lirih memohon agar Bryan mengerti sedikit.
"Tidak. Kita harus pulang!" ucapnya tegas
__ADS_1
Rachel menatap Bryan dengan tatapan puppy eyes dan mulut yang sengaja iya manyunkan, Bryan seketika menjadi tak tega dan gemas melihatnya.
"Oke, aku kalah"
Rachel tersenyum penuh kemenangan, ia tertawa dalam hati karena ternyata membujuk Bryan tidak sesulit yang ia kira.
"Tapi satu syarat, jika kau ingin melanjutkan pekerjaanmu maka model prianya harus aku. Jika tidak maka lupakan saja" ucapnya
Mata Rachel terbelalak kaget, mulutnya ternganga. Ini sama saja dengan tidak, ia salah besar menganggap Bryan akan menuruti keinginannya dengan mudah. Berbeda dengan Rachel, Jennifer yang mendengar anaknya ingin melakukan pemotretan justru bersorak gembira.
"Serius? Kau serius kan sayang? Kau ingin melakukan pemotretan dengan Rachel, benarkan?" tanyanya penuh kegembiraan.
Bagaimana tidak selama ini Jennifer sudah membujuk putranya itu untuk menjadi model di perusahaannya tetapi Bryan tidak pernah menyetujuinya, ia bahkan menolak sebelum Jennifer menyelesaikan kalimatnya.
Dan sekarang karena tidak ingin kekasihnya di sentuh pria lain ia ingin melakukan pemotretan, tidak perlu bersusah payah membujuknya karena kini ia sendiri yang menawarkan diri.
"Benarkan sayang?" tanya Jennifer sekali lagi memastikan dan Bryan hanya menganggukkan kepalanya.
Jennifer langsung memanggil penata riasnya "Tolong buat putraku menjadi sangat tampan bahkan lebih tampan dari biasanya" ucapnya.
"Siap direktur" ucapnya dengan gemulai.
Bryan berjalan malas mengikuti si penata rias tersebut selain berpose di depan kamera, berdandan adalah hal yang paling di benci Bryan jika melakukan pekerjaan seperti ini. Jika bukan karena Rachel ia tidak akan sudi melakukan hal-hal bodoh seperti ini, itu hanya mencoreng namanya saja.
Jennifer tersenyum pada Rachel sedangkan Rachel jadi salah tingkah karena ditatap "Kau berhasil menjinakkan anak nakal itu, sayang" ucapnya pada Rachel dan Rachel hanya tersenyum canggung.
"Terima kasih, kau harus selalu bersamanya" ucap Jennifer lagi.
Jennifer menunda pemotretannya dan menyuruh mereka semua untuk beristirahat terlebih dahulu sembari menunggu Bryan bersiap, begitu juga dengan Rachel.
__ADS_1