
Rachel kini tengah mengunci pintu rumahnya karena ia berniat untuk tidur namun ia dibuat kaget dengan suara yang menginterupsi kegiatannya itu.
"Darimana saja?"
Ia langsung berbalik badan lalu bernafas lega saat melihat orang yang ada di hadapannya sekarang ini adalah Bryan. Rachel sudah tau kenyataan bahwa Bryan memiliki akses untuk keluar masuk rumahnya tetapi tetap saja ia belum terbiasa dengan hal seperti ini akan lebih baik jika Bryan menghubunginya terlebih dahulu agar ia tidak kaget lagi.
"Kau membuatku kaget lain kali kabari dulu kalau ingin masuk ke rumahku" ucap Rachel sinis berjalan menuju dapur.
Bryan mengabaikan ucapan wanitanya itu "Aku tanya kau darimana saja?!" ucapnya mengikuti Rachel.
"Kerja" jawab Rachel singkat menunggak botol yang berisi air putih dingin yang ia ambil dari kulkas.
"Jangan berbohong! Aku tau kau tidak bekerja di kafe hari ini" ucap Bryan yang kembali mengikuti langkah Rachel menuju kamar.
"Aku tidak bilang kerja di kafe" ucapnya tanpa melihat ke arah Bryan.
Bryan yang geram melihat tingkah Rachel dan mendengar jawaban Rachel yang seakan mempermainkannya itu langsung memutar tubuh Rachel menghadap dirinya.
"Jangan coba-coba untuk mempermainkan ku, Rachel!" peringatkan nya.
Rachel menghela nafasnya kasar "Ya, Bryan. Yaa"
"Katakan kau bekerja dimana?" tanyanya.
"Di butik, aku bekerja part time jadi model disana" ucap Rachel.
Karena nyonya Jennifer mengatakan perusahaannya sebagai butik jadi tidak ada salahnya ia juga mengatakan bahwa ia kerja di butik, jika ia mengatakan bekerja di perusahaan besar mungkin Bryan akan mentertawakannya tak percaya.
"Kau berbohong?" tanya Bryan lagi
"Tidak ada gunanya membohongimu, itu hanya akan merugikan ku" ucap Rachel
Bryan tersenyum "Gadis pintar" ucapnya mengelus kepala Rachel pelan "Sana mandi!" ucapnya lagi.
"Tidak perlu disuruh juga aku sudah ingin mandi daritadi tapi kau menghalangiku" ucapnya
Rachel benar-benar tidak bisa menyimpan rasa kesalnya begitu melihat Bryan ia langsung teringat kembali dengan perkataan Emma, ia langsung menjauhkan tubuhnya dari Bryan dan memasuki kamar mandi.
"Hari ini aku akan menginap" ucap Bryan sedikit berteriak agar Rachel mendengar ucapannya itu.
Pintu kamar mandi kembali terbuka "Tidak, kau harus pulang. Aku tau isi kepalamu! Ucapanmu sangat tidak bisa dipercaya" tolak Rachel.
"Kenapa sayang? Aku tidak akan melakukan hal aneh" ucap Bryan.
__ADS_1
Rachel menatap Bryan malas "Bullshit! Gak. kau tidak boleh tidur disini" ucap Rachel.
"Masa bodoh" ucap Bryan tak perduli yang dengan sengaja merebahkan tubuhnya di kasur milik Rachel.
Bryan menatap Rachel dengan wajah yang menjengkelkan "Mandi sayang! Aku akan menunggumu dengan tenang" ucapnya tersenyum.
"Kau sangat menyebalkan!" rutuk Rachel sembari menutup pintu kamar mandi dengan keras.
Rachel menyelesaikan ritual mandinya dan pada akhirnya mereka tetap tidur bersama Bryan benar-benar tidak berniat meninggalkan rumah Rachel.
Ia mengajak Rachel untuk keluar bersama karena Evan mengajaknya ke bar dan jelas Rachel menolak ajakan itu. Bryan yang tak ingin keluar jika tidak bersama Rachel pun menolak ajakan Evan setelah membuat Evan menunggunya di bar sendirian.
Keesokan harinya Rachel berjalan dengan wajah ditekuk menghampiri Bryan, ia kesal dengan sikap Bryan yang selalu bersikap seenaknya saja.
Bryan tidak menepati ucapan yang katanya tidak akan melakukan apapun pada Rachel nyatanya ada dua bekas kissmark di lehernya.
Saat bangun tadi pagi ia tidak menemukan Bryan disisinya dan saat hendak mandi ia menemukan bekas kissmark dilehernya. Padahal tadi malam Rachel sudah berusaha untuk tidak tertidur ingin memergoki Bryan yang macam-macam dengannya tapi ia tidak sanggup hingga akhirnya tertidur dan benar saja yang ia cemaskan terjadi.
Tadi pagi Rachel berangkat ke kampus seorang diri begitu juga dengan Bryan karena sedari pagi sudah tidak ada di rumah Rachel, mungkin ia pulang ke rumah untuk berganti pakaian.
Dan kini sudah waktunya pulang, kelas Rachel baru selesai sedangkan Bryan sudah daritadi hanya saja ia ingin menunggu kekasihnya itu.
"Ada apa?" tanya Rachel kesal begitu memasuki mobil Bryan.
Bryan menatap heran ke arah Rachel "Ada apa denganmu?" tanyanya.
"Ah.. coba lihat" ucap Bryan yang semakin sengaja menggoda Rachel.
Rachel menatap tajam Bryan "Apa-apaan kau!"
Bryan tertawa "Aku hanya melakukannya sedikit tidak lebih dari itu sayang" ucapnya.
"Tetap saja" ucap Rachel kesal "Kau tidak boleh tidur di rumahku lagi. Ah tidak, kau juga tidak boleh datang ke rumahku lagi" ucapnya.
"Kau sudah tau jawabanku" ucap Bryan.
"Masa bodoh! Pokoknya tetap tidak boleh" ucap Rachel lagi
"Yakin ingin membantahku?" ucap Bryan sinis
Rachel menatap Bryan dengan mata berkaca-kaca saking kesalnya membuat ia ingin menangis "Selalu saja seperti itu" ucapnya.
"Sekarang temani aku cari sepatu yaa" ajak Bryan.
__ADS_1
"Tidak bisa" tolak Rachel bukan karena ia kesal dengan Bryan tetapi ia sudah punya janji dengan Jennifer.
"Kau menolak ajakan ku?" tanya Bryan sinis
Rachel menatap ke arah Bryan "Aku tidak bisa, aku ada kerjaan lain" ucapnya
Belum sempat Bryan membuka mulutnya Rachel terlebih dahulu berbicara "Kumohon kali ini saja mengertilah, aku sudah berjanji. Aku akan merasa sangat bersalah jika tidak menepati janjiku satu ini" ucap Rachel.
"Aku akan mengantarmu" ucap Bryan, ia menatap Rachel penuh arti.
"Antarkan ke rumah saja" tolak Rachel lagi
"Kenapa aku tidak boleh mengantarmu?" tanya Bryan kekeh ingin mengantar Rachel
"Bryan please" ucap Rachel.
Bryan tak menanggapi hal itu, ia melajukan mobilnya menuju rumah Rachel begitu sampai Bryan mengunci pintu mobilnya membuat Rachel menatap sinis ke arahnya.
"Bryan!"
"Kau sedang menyembunyikan sesuatu dariku?" tanya Bryan menatap Rachel penuh curiga.
Rachel menghela nafasnya "Aku hanya ingin pergi bekerja, tidak ada yang lain" ucapnya.
"Benarkah?" tanyanya lagi.
Rachel menganggukkan kepalanya "Satu lagi, setelah ini pulanglah ke rumahmu" ucapnya
"Kenapa? Aku ingin mencari sepatu" ucap Bryan.
"Ah itu lebih bagus" ucap Rachel, ia hanya tidak ingin Bryan mengikutinya.
"Kau yakin tidak perlu ku antar?" tanya Bryan lagi
"Ya, tidak perlu" ucap Rachel lalu menatap Bryan tajam "Dan kau tidak boleh mengikuti ku" ucapnya.
"Ya sudah kukatakan aku ingin mencari sepatu" ucapnya.
Rachel tersenyum dan tanpa ia sadari tubuhnya bergerak maju mengecup pipi Bryan karena senang rasanya saat melihat Bryan mengikuti keinginannya tanpa membantah sedikitpun.
Bryan terdiam sejenak karena ini pertama kalinya Rachel berinisiatif menciumnya terlebih dahulu walaupun hanya sebatas cium pipi saja. Tidak ingin menyia-nyiakan momen kini giliran Bryan yang mengecup singkat bibir Rachel sekarang gantian giliran Rachel yang terdiam.
Bryan membuka kunci pintu mobilnya dan saat itulah Rachel tersadar, ia memegang bibirnya yang dikecup oleh Bryan lalu ia bergegas turun dari mobil tersebut sebelum Bryan kembali menguncinya.
__ADS_1
"Hati-hati di jalan" ucap Rachel sebelum menutup pintu mobil Bryan sepenuhnya.
"Kau juga, semoga berhasil!"