
"Rachel sayang, setelah ini kau harus ikut denganku ada sesuatu yang ingin aku tunjukkan padamu" ucap Jennifer menahan tawanya saat menatap Bryan.
Bryan hanya menatap bingung ibunya itu karena ia sama sekali tidak mengerti apa yang lucu disana.
Jennifer membawa Rachel ke sebuah kamar itu terlihat seperti kamar anak kecil karena banyak karakter-karakter hero disana mulai dari boneka, lemari, kasur hingga hiasan dinding.
Bryan punya adik? pikirnya.
Jennifer mengambil sebuah album lalu mengajak Rachel untuk duduk di kasur bergambar superhero itu.
"Lihatlah" ucapnya menyuruh Rachel untuk membuka album itu.
Rachel hanya menatap wanita itu bingung dan melakukan perintahnya saat ia membukanya di halaman pertama album itu ada sebuah tulisan tangan yang sangat berantakan yang bertuliskan 'Me and My Hero' lembar itu penuh warna dan gambar khas anak kecil.
Disudut lembar itu ada tulisan tangan 'Bryan dan Papa' melihat itu Rachel langsung melirik ke arah Jennifer.
"Wah ini tidak terlihat seperti Bryan" ucap Rachel lalu menghela nafasnya kasar "Aku tidak tau sisi Bryan yang seperti ini karena dia tidak pernah mengatakan padaku apa yang ia sukai dan tidak sukai" ucapnya.
Jennifer tersenyum kearahnya "Bryan sangat menyukai karakter superhero dia juga menganggap ayahnya sebagai superhero" ucapnya kembali mengingat kembali kenangan lama keluarga kecil mereka "Bryan sangat menyukai dan mengagumi ayahnya" ucapnya lagi.
Jennifer membalik setiap lembar album itu yang memperlihatkan kedekatan Bryan dan ayahnya bahkan banyak foto mereka yang menggunakan baju karakter.
"Tapi itu semua dulu.. sekarang ia sangat membenci baik itu karakter superhero maupun ayahnya, dia sangat membencinya karena kedua itu berhubungan baginya" jelas Jennifer lagi.
Rachel terlihat ragu ia ingin sekali bertanya apa alasan keduanya jadi sangat membenci satu sama lain seperti ini.
"Waktu Bryan berumur sepuluh tahun bisnis ayahnya berjalan sangat lancar dan tentu saja untuk pebisnis sukses sepertinya banyak yang tidak menyukai dan ingin menjatuhkannya"
"Saat itu Bryan menjadi kelemahan suamiku dan Bryan diculik bersama sepupunya karena saat itu mereka sedang bermain bersama. Yang membuat Bryan jadi sangat membenci ayahnya adalah karena saat itu suamiku tidak menyelamatkan Bryan terlebih dulu" ucapnya.
"Kenapa bukan Bryan yang duluan diselamatkan?" tanya Rachel.
__ADS_1
Jennifer menghela nafasnya "Sebenarnya suamiku tidak menyelamatkan sepupunya karena penculik sudah tau bahwa Bryan adalah anak kami karena itu ia melepaskan sepupunya karena beranggapan dia tidak penting untuk misinya" jelasnya.
Rachel mencoba mencerna semua itu "Jadi Bryan marah karena salah paham dan beranggapan bahwa ayahnya lebih memilih untuk menyelamatkan sepupunya?" tanyanya.
Jennifer menganggukkan kepalanya "Setelah dua bulan akhirnya Bryan kembali ke pelukan kami, waktu itu ayahnya berkorban banyak untuknya tapi Bryan sudah menutup pintu hati untuk ayahnya"
Ia terdiam sejenak dan terlihat ragu untuk melanjutkan perkataannya "Aku tidak tau apa boleh mengatakan hal ini padamu apa tidak, setelah kasus penculikan itu Bryan sering bersikap aneh dan terkadang bersikap manis untuk menutupi kesalahannya"
"Aku mendapat laporan jika dia sering kali menyakiti hewan maksudku membunuhnya dan ia menjadi anak nakal yang suka berbohong karena itu aku sempat membawanya ke psikiater dan dokter mengatakan jika mentalnya terganggu karena sering menerima kekerasan fisik" jelasnya lagi
"Mungkin karena sering mendapatkan kekerasan seperti itu Bryan mulai melakukan hal yang sama pada hewan-hewan yang ia temui"
Jennifer terus menceritakan masa kecil Bryan dan alasan kenapa Bryan sangat membenci ayahnya itu, hingga suatu kalimat yang membuat Rachel meneguk liurnya dengan susah payah.
"Dokter mengatakan jika dibiarkan begitu saja kemungkinan besar Bryan akan menjadi orang yang mengerikan, dia bisa menjadi seorang psychopath. Aku mendengar itu sangat marah pada dokter karena tidak mempercayai ucapannya, mana mungkin putra kecilku yang menggemaskan itu berubah menjadi orang sekeji itu" ucap Jennifer.
Rachel hanya diam ia tidak bisa berkata apa-apa dan ia juga tidak mungkin mengatakan bahwa semua itu sudah terjadi karena kini Bryan sudah berubah menjadi seorang psychopath yang mengerikan dan keji itu.
Rachel menghela nafasnya, apa yang harus ia lakukan saat ini. Jennifer salah karena menganggap bahwa semua baik-baik saja, Bryan sama sekali tidak baik-baik saja hal yang ditakutkan Jennifer itu sudah terjadi.
Jennifer meneteskan air matanya "Aku hanya ingin kehidupan kami kembali seperti semula semenjak kejadian itu semua menjadi sangat suram bahkan sudah lama tidak ada canda tawa bahagia yang menggelegar di rumah ini"
Rachel memeluk tubuh Jennifer mencoba untuk menenangkannya "Tidak apa mah, semua pasti akan baik-baik saja. Bryan dan ayahnya pasti akan segera berbaikan, salah satu dari mereka harus menurunkan egonya agar bisa berbicara satu sama dan mungkin kesalahpahaman diantara mereka hilang" ucapnya.
"Ayahnya tidak ingin berbicara dengan Bryan karena ia merasa pantas untuk dibenci, ia menyalahkan dirinya atas apa yang terjadi pada Bryan karena itu ia menganggap semua ini hukuman untuknya" ucap Jennifer lalu menggenggam erat tangan Rachel
"Sayang tolong jaga Bryan yaa, cuma kau yang bisa merubah Bryan dan aku sangat merindukan putraku yang dulu" ucapnya lagi.
Rachel hanya tersenyum mendengar ucapan Jennifer itu bahkan ia sendiri tidak tau bisa atau tidak merubah Bryan karena selama ini bahkan ucapannya saja tidak pernah didengar oleh Bryan.
Disisi lain kini Bryan tengah duduk di sofa ruang keluarga bersama ayahnya, jangan harap mereka duduk berdekatan karena kini mereka duduk di ujung-ujung sofa dan membiarkan kosong ditengah.
__ADS_1
Ayahnya fokus pada tontonannya sedangkan Bryan tengah bosan menunggu kekasihnya itu sembari sesekali melirik ke arah televisi namun itu sangat membosankan.
"Dasar orang tua" gumamnya pelan, sangat pelan yang hanya bisa didengar olehnya sendiri.
Sesuatu membuat Bryan terdiam karena kini ayahnya itu sedang berbicara padanya "Dia gadis yang baik" ucapnya
"Jangan pernah menyakitinya jadilah laki-laki yang baik dan bertanggung jawab, jika tidak mungkin kau akan kehilangannya" ucap ayahnya lagi.
Bryan terdiam cukup lama hingga akhirnya ia juga membuka suara "Jangan menasehatiku! Aku tau harus berbuat apa pada kekasihku dan aku bukan anak kecil lagi, tidak perlu diingatkan hal-hal seperti itu" ucapnya sewot.
"Sepupumu akan kembali kesini" ucap ayahnya dan saat itu Bryan menatap ayahnya dengan tatapan tajam dan wajahnya menunjukkan kemarahan.
"Aku tidak peduli" ucapnya.
"Aku hanya memberitahumu" ucap ayahnya.
Setelah berbincang singkat kini suasana di antara keduanya kembali menjadi hening dan mencengkam hingga akhirnya ayahnya kembali membuka suara.
"Rumahmu sangat jelek" ucap ayahnya itu.
Bryan terperangah mendengar itu, ia sama sekali tidak mengerti apa yang saat ini ada dipikiran pria tua itu kenapa tiba-tiba malah menjelekkan rumahnya.
"Biar saja, disana jauh lebih nyaman daripada disini" ucap Bryan sewot.
"Jangan terlalu lama meninggalkan rumah jelekmu itu besok kau harus pergi pagi-pagi sekali atau jika tidak rumahmu akan ambruk karena jelek" ucap ayahnya lagi.
Bryan menatap tajam ayahnya itu "Berhenti menjelekkan rumahku! Tenang saja aku akan pergi besok pagi yang pasti sebelum kau bangun, aku tidak ingin mengawali pagiku dengan melihat wajahmu" kesalnya.
Bryan menghela nafasnya kasar, ia sangat kesal dengan ayahnya itu. Ini juga salahnya apa yang bisa ia harapkan dari orang seperti ayahnya itu tidak mungkin ia dengan senang hati menerima kedatangannya buktinya ia sudah di usir sebelum menginap.
Bukan hanya Bryan kini ayahnya pun sedang menghela nafasnya kasar, ia kesal dengan ucapan yang baru saja ia lontarkan pada putranya yang sudah lama tidak datang mengunjunginya itu.
__ADS_1
Sebenarnya ia sangat senang dengan kehadiran putranya itu dan yang sebenarnya ingin ia katakan adalah ia ingin putranya itu kembali saja kerumah ini dan menetap disini, tidak harus tinggal sendiri di rumah jelek itu lagi, namun mulutnya malah berkata lain.