
Kini Bryan kembali berada di kampusnya, raut wajahnya semakin dingin tercetak jelas di wajahnya jika saat ini suasana hatinya sedang buruk dan ia sedang tidak baik-baik saja.
Ia berjalan mendekati tiga orang wanita yang tengah berbincang ria, ia mencoba untuk meredam amarahnya karena ia tidak ingin kelepasan dan membuat sekitarnya tau keburukannya.
"Hey, Emma" ucap Bryan memanggil wanita yang membuat amarahnya menggebu-gebu.
Emma berbalik badan menghadap Bryan matanya berbinar-binar saat mendengar Bryan menyebut namanya "Bryan" soraknya gembira.
Tak menyia-nyiakan kesempatan dengan cepat Emma berhambur ke pelukan Bryan "Kau tidak marah lagi denganku? Kau sudah memaafkan ku?" ucap Emma lirih
Bryan hanya diam tak menjawab pertanyaan Emma, ia mengepalkan tangannya untuk meredam amarahnya dipeluk seperti malah membuat amarahnya menjadi-jadi.
"Bryan, maafkan aku.. maafkan semua kesalahanku, aku janji kali ini aku tidak akan pernah meninggalkanmu lagi" ucap lirih dan semakin mengeratkan pelukannya pada Bryan meskipun tak berbalas.
Emma menyeringai penuh kemenangan karena tanpa Bryan sadari ada seseorang yang tengah memperhatikan mereka dan sedang menahan tangisnya.
Emma dengan sengaja mengeratkan pelukannya pada Bryan dan melihatkan wajah bahagianya kepada Rachel dan ia bersorak senang dalam hati saat melihat wanita itu pergi meninggalkan mereka dengan air mata yang berderai.
"Apa kau tidak ingin memaafkanku" tanya Emma lagi memasang wajah sedihnya.
Bryan dengan kasar mendorong tubuh Emma hingga pelukannya terlepas "Jangan menyentuhku!" ucapnya geram.
"Kenapa kau kasar sekali padaku?" tanyanya lirih
Bryan menggeram "Berhenti bersandiwara seperti itu kau wanita kotor. Aku peringatkan padamu jangan pernah mengganggu kehidupanku dan Rachel lagi" ucapnya menunjuk-nunjukkan jarinya didepan wajah Emma.
"Jika kau tidak ingin sesuatu yang buruk menimpamu maka berhentilah sekarang juga atau kau akan menyesal nantinya" ucapnya lagi.
Ucapan Bryan tidak berpengaruh untuk Emma jujur aja ia sedikit takut mendengar ancaman itu tapi itu tak membuatnya menyerah karena hasratnya untuk menjauhkan Bryan dan Rachel sangat kuat jadi ia tak mungkin menyerah begitu saja.
Setelah mengatakan apa yang ingin ia katakan Bryan pun meninggalkan Emma begitu saja, ia ingin sekali menghabisi wanita itu saat ini juga tapi entah kenapa itu sedikit sulit untuk ia lakukan karena sebelum berakhir seperti ini Emma pernah ada dihatinya dan mewarnai hari-harinya.
__ADS_1
Emma berdecak kesal ia menatap punggung Bryan yang perlahan menghilang penuh amarah, ia tak akan menyerah begitu saja. Ia harus mendapatkan hati Bryan kembali, ia harus mengambil kembali apa yang seharusnya menjadi miliknya. Ia tak akan pernah menyerah!
Disisi lain kini Rachel sudah berjalan meninggalkan kawasan kampusnya, ia terus merutuki Bryan dan apa yang baru saja ia lihat. Ia sangat kecewa pada Bryan.
"Dasar pembohong! Penipu! Breng*ek!" rutuknya di setiap langkahnya.
"Selalu mempermainkan ku! Kenapa kau suka sekali menyakitiku" ucap lirih kembali menitihkan air matanya.
Melihat Bryan dan Emma yang sedang berpelukan itu membuat hatinya terasa sangat sakit apalagi mengingat fakta bahwa dulu Emma dan Bryan pernah menjalin hubungan bersama, ia cemburu melihat itu dan ia takut jika Bryan kembali menyukai mantan kekasihnya itu.
Ia bahkan tidak bisa mengklaim bahwa Bryan juga menyukainya karena pria itu tidak pernah mengatakan hal manis seperti itu. Selama ini ia hanya menyakinkan dirinya bahwa Bryan juga menyukainya karena sikap Bryan selama ini menunjukkan tanda-tanda bahwa ia juga punya rasa terhadapnya.
Rachel terperanjat kaget saat mendengar suara klakson mobil tepat disampingnya dan dengan terburu-buru ia menghapus sisa air matanya dan betapa kagetnya ia saat melihat orang yang ada di dalam mobil itu.
"Mom mommy" ucapnya kaget dan panik
Jennifer menghampirinya "Apa yang kau lakukan di jalanan sendiri sayang? Dimana Bryan? Apa dia menelantarkan mu, kenapa dia membiarkan menantuku seorang diri seperti ini" ucapnya memasang raut wajah tak senang.
Rachel gelagapan ia jadi tak enak pada Bryan karena kini Jennifer terlihat bersungguh-sungguh pada ucapannya.
"T-tidak mom.. aku yang pergi terlebih dulu meninggalkannya k-karena aku ada urusan" ucapnya gugup takut ketahuan karena sedang berbohong.
"Meskipun begitu kau tidak boleh pergi sendirian seperti ini bagaimana jika terjadi sesuatu padamu? Kau kan bisa meminta Bryan untuk mengantarmu, jika dia menolak kau bisa mengatakannya padaku" ucap Jennifer kesal.
Rachel hanya tertawa canggung ia bingung harus bagaimana menanggapi perkataan Jennifer, sangat tidak mungkin ia mengatakan yang sebenarnya. Ia sengaja meninggalkan Bryan karena pria itu sedang bermesraan dengan mantan kekasihnya.
"Hujan akan turun" ucap Jennifer melihat ke langit yang perlahan mulai menggelap "Ayo masuk, bagaimana jika berkunjung ke rumahku? Kau sudah pernah berjanji akan main ke rumah" ucapnya lagi.
"T-tapi aku harus pergi bekerja mom" ucap Rachel menolak, saat ini ia tidak ingin apa-apa karena hatinya sangat sakit setelah melihat pemandangan tak mengenakan tadi.
"Bekerja di kafe itu bukan? Tenang saja nanti biar aku yang meminta izin pada manager kafe itu" ucap Jennifer kekeh ingin mengajak Rachel ke rumahnya.
__ADS_1
Sekarang ia tidak punya alasan untuk menolak lagi dengan terpaksa ia pun mengikuti keinginan Jennifer, lagipula ia tidak ingin membuat Jennifer sedih karena dirinya tak menuruti keinginannya.
...****************...
Bryan kini kalang kabut kesana kemari mencari Rachel karena ia tak kunjung menemui Rachel setelah mencari ke setiap sudut kampus.
Setelah lelah mencari kesana kemari seseorang mengatakan bahwa telah melihat Rachel keluar dari kampus menuju gerbang dengan keadaan yang sedang menangis, mendengar itu membuatnya semakin cemas.
Ia sudah berkali-kali mencoba menghubungi Rachel tapi nihil karena wanitanya itu terus menolak panggilannya tak perduli berapa kali pun ia menghubunginya dan selalu ditolak.
Bryan semakin cemas terlebih kini cuaca hujan begini dan ia tidak mengetahui dimana Rachel berada, ia tetap kekeh mencoba menghubungi Rachel. Sudah lebih dari tiga puluh kali ia mencoba menghubungi Rachel selalu di tolak dan kini ia kembali mencobanya.
"Angkatlah, kumohon Rachel" gumamnya namun lagi-lagi panggilannya itu di tolak.
Setelah beberapa kali lagi mencoba dengan amarah yang memuncak Bryan pun membanting ponselnya begitu saja tanpa pikir panjang lagi.
"Aduh aduhhh sayang sekali.. daripada kau banting lebih baik kau berikan padaku, aku harus ganti ponsel baru" ucap Evan yang datang menghampirinya.
Bryan menatap tajam Evan karena ia tidak dalam mood yang bagus untuk bercanda seperti itu, mendapat tatapan tajam itu Evan pun mengalihkan pandangannya.
Ia menghela nafasnya "Hah, dingin-dingin begini enaknya bersenang-senang dengan ****** kesayanganku" ucap Evan mengeluarkan ponselnya.
Bryan yang sedari tadi menatap Evan begitu melihat Evan mengeluarkan ponselnya dengan cepat ia merampas ponsel tersebut.
"Hey, apa yang kau lakukan? Kembalikan ponselku" ucap Evan takut ponselnya akan dijadikan bahan amukan Bryan.
"Kau diam!" bentaknya dan Evan pun terdiam
Bryan mencoba untuk menghubungi Rachel menggunakan ponsel Evan dengan harapan Rachel akan menerima panggilan itu dan benar saja hanya dua kali coba kini panggilan itu tersambung.
"Halo, Rachel kau dimana?" tanya Bryan tanpa basa-basi saat panggilan itu terhubung.
__ADS_1
Bryan terperanjat kaget saat mendengar suara yang sedang berbicara dengannya di telepon itu karena bukan Rachel yang menerima panggilan tersebut.