Stuck With Psychopath

Stuck With Psychopath
Episode 41


__ADS_3

Rachel terus memikirkan ucapan Emma tempo hari dan untung saja hari ini kelasnya di batalkan karena itu ia tidak harus ke kampus bertemu Bryan si psychopath gila mengetahui itu.


Jika bertemu dengan Bryan kemungkinan besar ia akan menghindari pria itu dan kemungkinan besar juga Bryan akan mengetahui itu bahkan mencari tau apa penyebab dirinya seperti itu.


Rachel menghela nafasnya kasar setiap kali ia memikirkan tentang Bryan ataupun Emma dan karena hari ini tidak ada kelas dan ia juga mengambil libur kerja Rachel memutuskan untuk bertemu Jeniffer, pelanggan yang menawarkannya untuk menjadi model itu.


Rachel sedikit kaget saat berada di depan gedung tinggi yang disebut sebagai butik oleh nyonya Jennifer karena ini lebih terlihat seperti perusahaan besar ke timbang butik. Rachel berniat untuk menerima tawaran nyonya Jennifer untuk menjadi model dan hanya untuk mengisi waktu luangnya saja.


Begitu masuk ke dalam gedung itu Rachel dibuat terpukau dengan arsitek bangunan itu terlebih dengan foto-foto model terkenal yang berbaris rapi di gedung tersebut. Apa dia terlalu tidak peduli pada fashion sampai-sampai ia tidak pernah tau apalagi menggunakan brand milik nyonya Jennifer padahal banyak model terkenal yang menggunakannya.


Ia datang dengan tekadnya tiba-tiba merasa minder begitu masuk ke dalam perusahaan itu, apa ia harus balik saja? selagi masih berada di lobi dan belum menemui nyonya Jennifer.


Perlahan perusahaan itu menjadi banyak orang Rachel yang kebingungan dengan cepat melangkahkan kakinya menuju meja resepsionis dan mengatakan bahwa ia ingin bertemu dengan nyonya Jennifer dan benar saja resepsionis itu memandanginya dari atas hingga bawah.


Karena merasa dicurigai Rachel menunjukkan kartu nama yang diberikan oleh nyonya Jennifer sebelumnya setelah itu barulah si resepsionis menelpon seseorang dan menyuruh Rachel untuk menunggu di kursi tunggu.


"Silahkan tunggu disini, nyonya Jennifer akan turun kemari" ucap si resepsionis


Alyssa menganggukkan kepalanya "Terima kasih" ucapnya.


Tak berselang lama Rachel bangun dari tempat duduknya begitu ia melihat nyonya Jennifer berjalan ke arahnya dan begitu dihadapannya nyonya Jennifer langsung memeluk dan cipika-cipiki.


"Maaf ya Rachel sayang, sudah membuatmu menunggu lama" ucap nyonya Jennifer.


"T-tidak nyonya, tidak masalah" ucap Rachel.


"Kemarilah" ucap nyonya Jennifer mengajak Rachel menuju tempat pemotretan.


Semua orang terheran-heran dan bertanya-tanya siapa sebenarnya wanita itu sampai nyonya Jennifer turun sendiri ke lobi untuk menemuinya.


'Siapa wanita itu? Model baru? Tidak mungkin sedekil itu'

__ADS_1


''Kenapa nyonya Jennifer menjemputnya ke lobi?'


Selain resepsionis semua mata yang memandang dirinya dan kedekatan nyonya Jennifer mengundang banyak pertanyaan dari orang-orang bahkan saat di area pemotretan ia mendengar banyak hal yang tidak mengenakan.


Nyonya Jennifer juga menyadari hal itu namun ia hanya tersenyum menatap Rachel sembari menggenggam tangannya seolah berkata tidak apa, semua akan baik-baik saja jadi jangan didengarkan.


Karena ada nyonya Jennifer disampingnya Rachel pun jadi tidak terlalu memikirkan sekelilingnya.


'Siapa dia kenapa bisa bersama nyonya Jennifer?'


'Model baru?'


Jennifer memperkenalkan Rachel dengan fotografer sehingga kembali membuat orang semakin bertanya-tanya dan menggunjingnya.


Rachel agak sedikit terganggu namun saat ia melihat ke arah nyonya Jennifer ia tersenyum dan berbisik pada Rachel "Tidak apa, abaikan saja mereka" ucapnya.


Jennifer sangat menyukai Rachel. Kesan pertamanya pada Rachel sangat baik bukan hanya ingin menjadikan Rachel sebagai modelnya ia bahkan berniat untuk menjodohkan Rachel dengan anaknya.


Selain ingin membuat Rachel menjadi modelnya jujur saja ia ingin terus berhubungan dengan Rachel karena ia merasa ada sesuatu yang spesial dari Rachel dan juga ia harus membuat putranya berkencan lalu menikahi Rachel sebelum ia semakin tua.


Jennifer terkagum-kagum saat melihat Rachel setelah dipoles sedikit make up, Rachel itu natural saja sudah cantik apalagi jika diberi make up di wajahnya.


"Ini gaun terbaru kami, aku ingin kau yang mengenakannya karena ini dirancang khusus untukmu karena itu hanya kau yang bisa menjadi model untuk baju ini" ucap Jennifer.


Sebenarnya baju itu tidak dirancang khusus untuk Rachel hanya saja ia ingin membuat Rachel menjadi percaya diri, tidak minder dan membuat model lainnya tau bahwa Jennifer yang memilih Rachel secara pribadi.


"Kau sangat cantik" puji yang lainnya dan terbukti saja semua jadi menghormati Rachel entahlah jika dibelakang Rachel tapi saat ini mereka tidak lagi menggunjing Rachel secara terang-terangan.


"Terima kasih" ucap Rachel malu-malu


"Kau sangat cantik sayang, kau akan segera menjadi model terkenal jika kau serius menjalani dunia permodelan" ucap Jennifer

__ADS_1


Rachel menggelengkan kepalanya "Ah, tidak nyonya. Aku hanya ingin menambah uang saku saja terlebih aku tidak menyangka bahwa ini bukan seperti butik yang kupikirkan" ucapnya tertawa canggung.


"Kau polos sekali" ucap Jennifer tertawa "Aku harus menghubungi anakku, dia harus melihat model baruku" ucapnya lagi dan Rachel hanya tersenyum.


"Permisi sebentar" ucapnya


Tak lama kemudian Jennifer kembali masuk ke ruang rias ia menghela nafasnya "Maafkan aku Rachel, dia lagi sibuk tidak bisa kemari" ucapnya.


"Tidak apa nyonya, mungkin lain kali" ucap Rachel sopan.


"Anak itu selalu tidak bisa saat diminta bertemu, apa dia sudah tidak menganggap aku ibunya" rutuk Jennifer.


Rachel tertawa karena Jennifer terlihat seperti remaja yang sedang ngambek "Rasanya tidak mungkin dia tidak menganggap nyonya ibunya" ucap Rachel.


"Benarkah?" tanya Jennifer dan Rachel menganggukkan kepalanya tersenyum.


Bersamaan dengan itu Rachel dipanggil oleh asisten fotografer "Rachel, selanjutnya giliranmu" ucapnya.


"Ah harry up! Semoga berhasil sayang. rileks saja" ucap Jennifer memberi semangat.


Setelah melakukan pemotretan yang cukup panjang dan menguras tenaga kini Rachel berada di kantin perusahaan sedang menikmati makan siangnya. Sebelum menuju kantin ia sudah pamit ke Jennifer dan ia juga sudah mendapat upahnya dan itu sangat besar jika dibandingkan dengan gajinya di kafe besarnya sama dengan satu bulan ia berkerja disana karena sistem pembayaran gaji di kafenya satu minggu sekali.


Rachel berjalan menuju lobi ia ingin segera pulang mengistirahatkan tubuhnya dan ia mendengar sekelilingnya mulai bergosip tentang anak nyonya Jennifer, sepertinya putranya datang menemuinya.


'Anak Bu Jennifer sangat tampan'


'Aura orang kaya'


'Huh, jika saya keluargaku juga kaya aku pasti sudah minta dijodohkan dengan orang tuaku'


Rachel menajamkan telinganya untuk mendengar gosip disekelilingnya dan itu membuatnya menjadi penasaran setampan apakah anak nyonya Jennifer hingga semua orang memujinya.

__ADS_1


Seketika ia merinding begitu membayangkan wajah Bryan yang tiba-tiba seperti hantu muncul dipikirannya. Ia tidak boleh penasaran apalagi bertemu dengan anak nyonya Jennifer atau nanti si psychopath itu akan melakukan hal buruk.


Dan itu sama saja dengan sebuah pengkhianatan bagi nyonya Jennifer, ia tidak boleh mengecewakannya.


__ADS_2