
Rachel kini berada di kampus bersama Bryan yang kini tengah berjalan disampingnya. Sejak kejadian terakhir kali ini sudah dua hari Rachel tidak masuk kuliah karena di larang oleh Bryan dengan alasan belum aman untuknya keluar rumah.
Melihat reaksi Bryan itu ia jadi tahu satu hal penembakan itu bukan teror biasa yang dilakukan orang asing tetapi penembakan itu memang mengincar nyawanya.
Kini mereka tiba di depan kelas Rachel "Aku akan menjemputmu saat kelas selesai, jangan kemana-mana jika aku belum menjemputmu. Tunggu saja disini" ucap Bryan memperingati Rachel.
Rachel menganggukkan kepalanya mengerti dan Bryan mengacak pelan rambut Rachel, ia tersenyum senang dengan perlakuan manis Bryan itu.
Entah kenapa akhir-akhir ini Bryan selalu bersikap manis kepadanya "Aku pergi ke kelasku oke?" ucapnya mengecup pipi Rachel.
Rachel tersipu malu sebab ada beberapa pasang mata yang sedang menatap ke arah mereka. Ingin sekali rasanya ia menahan Bryan namun itu tidak mungkin ia lakukan disini jika di rumah mungkin ia akan menahannya, rasanya tak rela jika harus berpisah dengan Bryan.
Rachel tetap berada di depan kelasnya sembari melihat Bryan yang perlahan mulai menjauh darinya.
"Bryan" panggil Rachel tanpa ia sadari
Bryan yang mendengar suara itu menghentikan langkahnya berbalik badan menghadap Rachel "Kenapa?" tanyanya.
Rachel gelagapan "T-tidak, bukan apa-apa" ucapnya sedikit panik.
Bryan tersenyum miring melihat Rachel yang salah tingkah, ia kembali melangkahkan kakinya mendekati Rachel "Kenapa? Tidak ingin jauh dariku ya?" tanyanya asal.
Rachel semakin salah tingkah "A-apa maksudmu? T-tidak, itu tidak benar. Ada-ada saja" ucapnya
Bryan tersenyum melihat tingkah Rachel "Katakan saja jangan malu-malu" ucapnya
Rachel memaksa Bryan berbalik badan lalu mendorong tubuh Bryan "Sana pergilah ke kelasmu" ucapnya dengan pipi yang memerah.
Bryan hanya menggelengkan kepalanya "Dasar wanita, katakan saja jangan malu-malu" ucapnya.
Ia berjalan meninggalkan Rachel setengah perjalanan ia kembali melihat ke arah Rachel dan tertawa sedangkan Rachel pipinya semakin memerah dan saat itu juga ia berlari masuk ke kelasnya dengan perasaan yang tak karuan.
Rachel sangat malu karena sudah bertingkah konyol di hadapan Bryan, entah kenapa mulutnya malah memanggil nama Bryan tanpa alasan seperti itu.
Tak hanya meninggalkan Rachel tadi Bryan juga meninggalkan kampusnya karena kini ia berada di gang sepi dan sempit yang tidak mungkin di lewati orang-orang.
Bryan merenggangkan otot-otot tangan dan lehernya, seringaian tercetak jelas dibibirnya dan menunjukkan raut wajah kejamnya.
Ia berpangku tangan sembari menunggu seseorang yang memunculkan kembali hasrat ingin membunuhnya itu karena sudah sangat lama sekali sejak terakhir kali ia menghabisi nyawa seseorang.
Entah bagaimana bisa tapi itu semua benar terjadi, ia sudah lama tidak menghabisi seseorang bukan karena tidak ada mangsa tetapi ia tidak memiliki hasrat untuk membunuh lagi.
Dan tentunya tidak untuk hari ini karena hasrat membunuhnya itu kembali membara. Tak lama kemudian akhirnya yang ditunggu-tunggu pun menampakkan diri.
__ADS_1
Bryan mengikuti orang tersebut dengan tenang dan orang itu tidak menyadari keberadaan Bryan yang sedang mengikutinya itu namun setengah perjalanan orang itu mempercepat langkahnya sepertinya kini ia mulai menyadari situasi bahwa ia sedang di ikuti seseorang.
Dengan ragu langkah seseorang itu terhenti dan perlahan mulai membalikkan badannya menghadap ke arah Bryan.
"K-kau siapa? K-kenapa membuntuti-"
Belum selesai berbicara Bryan sudah terlebih dahulu menyemprotkan cairan bius ke depan wajah orang itu, ia tidak ingin membuang waktunya dengan orang seperti ini karena menurutnya orang ini pasti cukup berbahaya jika ia melakukan seperti aksinya yang biasa mungkin ia akan menghabiskan banyak waktu dengan berkelahi..
"Frans Walker, 24 tahun anak rantau berasal dari keluarga biasa dan bekerja di kafe. Memiliki dua orang adik perempuan dan ibu sedangkan ayahmu sudah meninggal. Memiliki hobi menembak? wah sangat menarik" ucap Bryan saat menyadari bahwa orang yang berada di hadapannya itu perlahan mulai membuka matanya.
"S-siapa kau? Bagaimana kau bisa mengetahui tentangku?" tanyanya gelagapan
Ia melihat ke sekelilingnya yang sangat gelap dan pengap dan sedikit terperanjat saat mendengar suara binatang buas mengaum.
"Perkenalkan namaku Bryan, kau Frans kan?" tanya Bryan menyeringai
Pria yang bernama Frans itu hanya diam tak menjawab pertanyaan Bryan dan ia hanya sibuk dengan pikirannya, kenapa pria yang menyebut dirinya sebagai Bryan itu menahannya ditempat gelap seperti ini dan mengikatnya padahal ia sama sekali tidak mengenalnya? Ia pun tak bisa berbuat banyak apalagi berontak karena kini ia sedang dalam keadaan diikat.
Bryan geran saat tak mendapat tanggapan dari Frans yang malah menatapnya remeh seperti itu dengan gerakan cepat Bryan melayangkan tamparan ke wajah Frans cukup keras.
"JAWAB BODOH!,!APA KAU TAK PUNYA MULUT HAH?" teriak Bryan setelah menampar pipi Frans kuat sehingga membuat sudut bibir pria itu berdarah.
Bukannya menjawab Frans tetap berdiam diri karena tak mengerti situasi saat ini ia memutuskan untuk menutup rapat mulutnya takut ada sesuatu yang tak sengaja ia bocorkan.
Dirusak? Apa maksud pria itu, apa yang ingin ia lakukan pada mulutku dan kenapa juga ia menampilkan senyuman yang mengerikan seperti itu terlihat seperti seorang psychopath saja.
Bryan mengeluarkan pisau lipat yang selalu bersamanya dari sakunya itu setelah melihat itu kini Frans menyadari apa maksud ucapan pria dihadapannya ini.
"A-apa yang mau k-kau lakukan dengan benda itu? S-siapa kau sebenarnya?" tanya Frans gelagapan.
"Hah, akhirnya kau bicara juga" ucap Bryan menyeringai.
"S-siapa kau? A-apa yang kau inginkan dariku?"
"Kau bertanya apa inginku? Kau serius bertanya seperti itu?" tanya Bryan lalu tertawa cukup keras "Kau lucu sekali" ucapnya remeh.
Frans sama sekali tak mengenal pria yang ada di hadapannya ini seberapa keras pun ia mencoba mengingat pria ini sama sekali tidak pernah ada di kehidupannya. Setelah beberapa saat ia tercekat dan menatap ke arah Bryan kaget, pria yang di hadapannya ini adalah sosok pria yang menggagalkan aksi tembaknya saat itu.
Sekarang ia sudah mengerti situasi saat ini "Apa kau sudah mengingatnya, Frans Walker?" tanya Bryan.
Frans menggeleng pelan "Bukan aku, aku sama sekali tak bermaksud untuk melukai wanita itu. Maafkan aku, aku hanya mengikuti perintahnya" ucapnya gemetar.
"Bukan kau? Yang benar saja jika bukan kau lalu siapa?"
__ADS_1
Frans mengulum bibirnya, ia menutup rapat mulutnya karena ia tak bisa mengatakannya bisa-bisa ibu dan adik-adiknya dalam bahaya jika semua ini bocor.
"KATAKAN!" bentak Bryan keras membuat Frans tersentak kaget.
"A-aku tidak bisa mengatakannya. dia akan menyakiti keluargaku" ucap Frans mulai meneteskan air.
"Kau yakin tidak ingin mengatakannya?" tanya Bryan yang sudah mulai tidak sabar.
Ia berjalan mendekati Frans dengan memainkan pisaunya dihadapan pria itu dan perlahan mulai menggesek pisau itu kekulit Frans.
Frans meringis kesakitan "Kumohon jangan lakukan itu, tolong lepaskan aku. Aku janji tidak akan menembak kekasihmu lagi" ucapnya.
Bryan tak mendengarkan itu "Waktumu sudah habis, kau sudah membuang banyak waktumu" ucapnya.
Ia tidak ingin menghabisi Frans terburu-buru dengan harapan ia bisa mendengar nama dalang dari semua ini, ia menyakitinya secara perlahan.
"Aku akan mulai dengan hal yang ringan" ucap Bryan lalu menyusun rapi jari-jari Frans "Kau menarik pelatuk dengan jari-jari inikan? Bagaimana kau bisa tega menembak wanita yang bahkan tak kau kenal" ucapnya lalu memotong jari satu persatu hingga habis.
Frans berteriak meringis kesakitan berapa kali pun ia memohon sepertinya itu tidak berguna lagi dan kini ia hanya pasrah dengan keadaan yang memungkinkan ia akan mati ditangan Bryan.
Bryan menghabiskan semua jari Frans tentu saja kini darah berserakan disana, ia juga sengaja melukai Frans secara perlahan karena ia ingin membuat pria itu merasakan rasa sakit yang teramat.
Ia menyayat bagian-bagian yang tak fatal karena mendengar Frans berteriak kesakitan membuatnya tersenyum puas.
"Hah aku lelah" ucap Bryan
Frans menatap penuh harap setelah mendengar ucapan Bryan itu berharap pria itu berubah pikiran terhadapnya.
"Kau beruntung sekarang kau tak perlu merasakan rasa sakit lebih lama lagi" ucap Bryan
Bryan menyeret kursi yang diduduki Frans di atasnya bukannya bernafas lega Frans kembali panik saat mendengar suara auman binatang buas itu semakin keras.
Bryan menghadapkan Frans ke kandang hewan buas itu dan peliharaannya itu semakin menggila "Wah, kalian menyambutnya dengan semangat ya. Kalian sudah tidak sabar ya?" ucap Bryan mengelus kepala peliharaannya itu.
"T-tidak, jangan lakukan itu" ucap Frans lirih
Bryan tak mendengarkan itu, ia meminta hewan buasnya itu berbaris rapi menunggu dengan tenang beberapa saat kemudian ia membuka kandang dan memasukkan Frans beserta kursinya ke dalam sana.
Dan di saat itulah ia mendengar nama yang sedari tadi ingin ia dengar "Emma!"
Bryan menghela nafasnya berbalik badan "Kenapa kau baru mengatakannya padahal sedari tadi aku menanyakannya"
Ia berjalan meninggalkan ruangan tersebut yang perlahan teriakan Frans tidak lagi terdengar "Nasib kau sial sekali harus berurusan denganku" ucapnya mengepalkan tangannya "Emma!" geramnya.
__ADS_1