
"Hai Rachel, Sayang" sapa Jennifer pada calon mantunya itu.
"Hai" sapa Evan yang sama semangatnya dengan Jennifer.
Berbeda dari keduanya Bryan justru terlihat kesal, bukan kesal karena melihat Rachel melainkan kesal karena ibu dan sahabatnya itu ikut dirinya menjemput Rachel dan memaksa untuk makan siang bersama.
"Sana kau pindah" usir Bryan pada Evan yang duduk di kursi penumpang disampingnya.
"Evan disitu saja, Rachel kemari duduk dekat mommy.. mommy rindu sekali denganmu" ucap Jennifer.
Rachel dan Evan menuruti perkataan Jennifer melihat itu membuat Bryan menghela nafasnya kasar. Ia melajukan mobilnya menuju restoran china sepanjang perjalanan Rachel dan Evan terlihat sibuk berbincang bergurau bersama Jennifer bahkan beberapa kali mereka mengabaikan dirinya.
Sungguh menyebalkan!
"Rachel kemarilah, duduk disampingku saja" ucap Jennifer menyuruh Rachel untuk duduk didekatnya, tentu Rachel menyetujui itu dengan senang hati karena dirinya juga tak ingin duduk disamping Bryan.
"Rachel, Evan kalian ingin makan apa? Pesan saja sebanyak yang kalian mau karena mommy yang akan traktir" ucap Jennifer tersenyum hangat kepada kedua orang itu.
"Tentu saja mommy yang traktir, mommy kan orang tua" celetuk Bryan sinis.
Ia sedikit kesal karena sejak tadi ibunya itu hanya memperhatikan Rachel dan Evan saja, sebenarnya ia tak masalah jika ibunya memperhatikan Rachel karena Rachel kekasihnya tapi kenapa harus Evan juga.
"Oh Bryan juga pesanlah yang banyak" ucap Jennifer pada putranya itu.
"Tentu saja aku akan pesan banyak, kapan lagi aku bisa menghabiskan uang mommy secara cuma-cuma" ucap Bryan masih kesal.
"Kau lucu sekali sayang.. mau kau pesan makanan sebanyak apapun tak akan membuat uang mommy habis" ucap Jennifer tertawa gemas mendengar ucapan putranya itu.
"Mom can i order this one?" tanya Rachel sedikit tak enak karena harganya sedikit mahal, jika itu Jennifer mungkin tidak ada harganya tapi jika melihat dari segi keuangan Rachel tentu itu cukup mahal.
"Ya sayang, tentu.. pesan apapun yang kau inginkan tidak perlu bertanya padaku" ucap Jennifer tersenyum tulus kearahnya.
"Kau harus makan yang banyak biar nanti pas fitting baju, kau terlihat cantik dengan gaunnya" ucap Jennifer lagi
"Mom!" tegur Bryan sedikit berteriak
"Why? Sudah mommy katakan jangan membatasinya, lagipula Rachel suka kok jadi model" omel Jennifer lalu beralih ke Rachel
__ADS_1
"Yakan sayang? Kau tidak terpaksa kan jadi model di butik mommy?" tanya Jennifer pada Rachel dan Rachel menganggukkan kepalanya sembari tersenyum.
"Tuh lihat! Rachel saja tidak masalah jadi model, kalau Rachel tidak ingin juga mommy tak memaksa" omel Jennifer lagi.
"Yayaya terserah mommy saja" ucap Bryan menyerah sembari menghela nafasnya lega, untung saja bukan seperti yang ia pikirkan.
Begitu pesanan mereka datang mereka langsung melahapnya, Bryan sangat tersiksa karena memesan banyak makanan ia juga harus menghabiskan semua itu dan itu adalah hal yang mustahil jadi makanan yang ia pesan semua terbuang bahkan ada beberapa piring yang tak tersentuh olehnya.
Kini Rachel dan Bryan dalam perjalanan pulang setelah mengantarkan Evan dan Jennifer kembali ke butik, Evan juga kesana karena mobilnya ditinggalkan disana.
"Kenapa bisa bareng mommy dan kak Evan? Tidak pergi kencan dengan kekasih barumu?" tanya Rachel pada Bryan.
"Baru matamu! Sudah kukatakan jika Eliza bukan siapa-siapa untukku" ucap Bryan
"Uuu sweet banget, disebut-sebut terus tu namanya" ledek Rachel, jujur ia cemburu.
"Terserah kau saja, kau tau jika terus seperti itu kau bisa gila" ucap Bryan lelah karena Rachel terus mempermasalahkan hal seperti itu.
Rachel hanya menatap Bryan dalam diam kemudian ia tak mengatakan apa-apa lagi begitu tiba di rumah ia langsung masuk ke kamar untuk membersihkan dirinya dan ketiduran saat merebahkan tubuhnya di kasur.
Setelah kenyang ia pun tertidur, ia terlihat seperti manusia kerbau hehe. Sedangkan Bryan begitu tiba dirumah ia menghela nafasnya kasar karena Rachel kembali mendiaminya.
Saat ia balik ke kamar Rachel lagi ia justru melihat Rachel yang sudah tertidur lelap di atas kasurnya dengan rambut yang masih basah, Bryan melangkahkan kakinya mendekat ke arah kasur Rachel.
"Tunggu sebentar lagi oke? Maaf karena aku sudah membuatmu salah paham tapi percayalah aku tidak mungkin selingkuh darimu karena aku tidak sebejat itu" ucap Bryan pada kekasihnya yang sedang terlelap itu.
Setelah berdiam diri disana menemani Rachel tidur Bryan pun bangkit keluar menuju kamarnya dan ia merebahkan tubuhnya sejenak hingga suara dering ponsel mengganggu waktu bersantainya.
'Eliza' nama itu terlihat menghubunginya, Bryan menghela nafasnya karena ia tau jika menelpon sudah pasti Eliza ingin bertemu dengannya tapi ia tak ingin kesalahpahaman antaranya dan Rachel semakin membesar.
'Ya ada apa?' tanya Bryan saat menerima panggilan tersebut, seperti yang ia pikirkan Eliza mengajaknya untuk bertemu.
'Datang ke butik ibuku saja, aku sedang sibuk' ucap Bryan
'Tapi saya butuh masukan dari Anda' ucap Eliza dari seberang sana.
'Ya tanyakan saja pada ibuku, jika menurutnya bagus maka begitu juga menurutku. Aku sibuk' ucap Bryan mematikan panggilan tersebut
__ADS_1
Jujur saja ia juga merasa sedikit aneh dengan Eliza setiap kali bertemu mereka terlalu banyak membahas hal yang tak penting dan Eliza selalu bertele-tela dan membahas tujuan utama mereka bertemu diakhir, jika ia tak punya urusan dengan wanita itu mungkin ia akan mengabaikannya saja.
Mengabaikan? Haha itu terdengar lucu biasanya ia akan mengatakan membunuh tapi apa ini mengabaikan? Ia sendiri merasa tak percaya dengan apa yang baru saja ia ucapkan.
Rachel terbangun di malam hari dan ia tersenyum karena saat ia bangun ia melihat Bryan yang terlelap di kamarnya, ia senang sekali karena Bryan tak pergi meninggalkannya sendirian lagi meskipun rasa kesal dan curiganya tak hilang sepenuhnya.
"Apa yang harusku masak untuk malam ini?" ucap Rachel bersenandung sembari menutup pelan pintu kamar Bryan.
Ia berjalan menuju dapur sambil memikirkan apa yang bisa ia masak malam ini namun ketika membuka kulkas ia tertawa karena tidak ada apa-apa disana selain air mineral dan sisa pizza entah sejak hari apa.
"Wah Rachel yang benar saja" ucapnya sembari menggeleng-gelengkan kepalanya.
Ia berjalan menuju kamarnya untuk mengambil ponselnya, ia membuka aplikasi makanan online dan melihat-lihat apa makanan yang ia inginkan sebagai menu makan malam mereka.
Rachel tiba-tiba ingin makan steak tapi steak lebih enak jika dimasak langsung oleh Chef dengan wajah penuh senyum ia beranjak dari kasurnya kembali melangkahkan kakinya menuju kamar Bryan.
"Bryan bangun" ucap Rachel mencoba membangunkan kekasihnya itu.
Setelah beberapa kali memanggil namanya Bryan tak bergeming hingga akhirnya Rachel menggoncang tubuh Bryan cukup kuat membuat Bryan langsung terbangun dari tidurnya.
"Hehe habisnya ku panggil daritadi tapi tak bangun-bangun" ucap Rachel cengengesan karena kini Bryan sedang menatap tajam kearahnya.
"Ada apa?" tanya Bryan jutek, ia kesal karena tidurnya terganggu.
"Aku ingin makan steak" ucap Rachel malu-malu.
"Yasudah pesan saja" ucap Bryan singkat namun Rachel tetap menatapnya dengan malu-malu.
"Kenapa? Mahal? Pesan dengan ponselku saja" ucap Bryan menunjuk kearah ponselnya yang ada diatas meja
"Bukan.. bukan itu" ucap Rachel
"Lalu apa?"
"Um itu juga sih.. tapi aku ingin makan steak langsung di restorannya, aku mau makan steak dari Chef terkenal" ucap Rachel malu.
Bryan menghela nafasnya kasar sembari menatap Rachel malas sedangkan yang ditatap langsung cemberut.
__ADS_1
"Yasudah, tidak jadi" ucap Rachel lagi.
Bryan menyerah pada akhirnya ia menuruti semua keinginan Rachel karena tak suka melihat wajah cemberut kekasihnya itu dan tentunya Rachel bersorak senang, untuk malam itu Rachel melupakan masalah yang sebelumnya ada diantara mereka.