Stuck With Psychopath

Stuck With Psychopath
Episode 40


__ADS_3

Bryan berjalan beriringan dengan Evan fi kawasan kampus dan sepanjang perjalanan Bryan terus tersenyum memikirkan yang tadi malam terjadi antara dirinya dan Rachel.


Tentu saja Bryan tidak menyia-nyiakan kesempatannya setelah memastikan Rachel tertidur dengan nyenyak, ia pun memulai aksinya dan untungnya Rachel punya kebiasaan tidur mati.


Mau digigit sekalipun selagi belum saatnya ia bangun ia tidak akan terbangun karena ia tidur sepulas itu. Bryan sangat senang karena Rachel punya kebiasaan tidur seperti itu karena itu menjadi kesempatan emas untuknya mencari kesempatan dalam kesempitan.


Bryan bahkan tertawa geli sendiri saat mengingat aksi dan tingkah Rachel malam tadi.


"Wah ini lebih mengerikan daripada melihatmu kesal. Gila, kau benar-benar sudah tidak waras" ucap Evan tak habis pikir dengan tingkah sahabatnya itu pagi ini.


Bukannya marah karena di katai Bryan justru memberi senyuman pada Evan dan itu membuat Evan bergidik ngeri "Ow hentikan itu! Kau membuatku takut" ucapnya.


Bryan tak menanggapi ucapan Evan ia hanya mengacungkan tangannya lalu berjalan mendahului Evan.


"Hey, kau ingin kemana?" teriak Evan cukup kencang.


"Tentu saja bersenang-senang, aku ingin melihat kekasihku" ucap Bryan.


Evan menghela nafasnya "Dasar bucin!" teriaknya lagi tentu saja itu membuatnya jadi pusat perhatian karena merasa canggung dengan tatapan mahasiswa lainnya Evan pun dengan cepat berjalan menjauh dari sana.


Disisi lain kini Rachel sedang menatap bingung ke arah wanita yang adi dihadapannya ini, yang tak lain tak bukan adalah wanita yang tempo hari bersikap sok dekat dengan Bryan bahkan sampai memeluknya.


Rachel menggelengkan kepalanya agar ingatan itu hilang karena wanita ini ia harus menangis di kamar mandi dan tentu saja kejadian-kejadian sesudahnya jadi membuat dirinya tak melupakan hal tersebut.

__ADS_1


"Hai, namaku Emma" ucap wanita itu mengulurkan tangannya ingin berkenalan.


Wanita itu bersikap sopan dan tentu saja Rachel juga harus bersikap demi kian namun saat ia juga mengulurkan tangannya untuk menjabat tangan wanita itu, ia terlebih dahulu menarik kembali tangannya dan kini Rachel tengah berjabat tangan dengan angin.


"Ah sorry, tanganku suka gatal jika bersentuhan dengan orang miskin dan murahan" ucap Emma dengan nada yang tak enak untuk di dengar.


Rachel menatap Emma dengan wajah marah karena ia tahu bahwa wanita itu sedang menyindirnya "Ada perlu apa menemuiku?" tanyanya sembari melipat tangan di dadanya memperlihatkan wajah songongnya.


Tadi Rachel bersikap sopan karena ia pikir tadinya wanita itu juga bersikap sopan namun tidak karena itu ia juga tidak punya alasan untuk tetap bersikap sopan pada wanita itu.


"Ada nyali juga ternyata" ucap Emma menatap remeh Rachel "Aku tidak akan basa basi lagi, aku ingin kau meninggalkan Bryan dan jangan pernah muncul lagi dihadapannya".


Alyssa tertawa remeh "Emangnya kau siapa? Apa hakmu menyuruhku untuk menjauhinya?" tanyanya.


"Dia calon tunanganki" ucap Emma sukses membuat Rachel kaget tak percaya karena selama ini ia tidak pernah tau bahwa Eric sudah punya calon.


"Lalu? Jika kau calon tunangannya jadi aku harus menurutimu? Wanita yang asal-usulnya tidak jelas sepertimu?" cerocos Rachel.


"Lagipula Bryan tidak pernah mengatakan apapun tentangmu apalagi tentang calon tunangannya. Aku tidak tau kau berbohong atau tidak, aku sebagai pacar resmi Bryan meminta kesadaran dirimu untuk menjauh dari Bryan dan jangan pernah menemuinya lagi" ucap Rachel lagi.


Emma tertawa "Apa yang membuat wanita miskin sepertimu bisa sepercaya diri ini?" tanyanya meremehkan Rachel.


"Rakyat jelata sepertimu sangat tidak cocok jika harus bersanding dengan Bryan, kau hanya akan membuat malu keluarga besarnya saja" ucapnya lagi.

__ADS_1


Deg. ia lupa hal itu seperti di drama dan beberapa kasus di kehidupan nyata orang kaya dan miskin tidak mungkin bersatu dan yang jelas orang tua si kaya akan menolak keras kehadiran si miskin di kehidupan anaknya.


"Apa kau juga tidak menyadari perbedaan dirimu dengan Bryan?" tanya Emma lagi dan Rachel hanya bisa berdiam diri.


"Jika terus bertahan disamping Bryan setelah mengetahui hal ini mungkin kau akan sakit nantinya dan kau akan mempermalukan dirimu sendiri" ucapnya lagi "Karena aku tidak ingin kau terluka jadi lebih baik kau menyerah dari sekarang sebelum kau menyesal nantinya" ucapnya lagi.


Rachel sangat tidak menyukai kata-kata yang dilontarkan Emma bukan Bryan atau keluarganya tapi yang merendahkan dirinya saat ini adalah wanita ini sendiri.


"Sudah selesai dengan omong kosomhmu? Jika sudah silahkan pergi dari hadapanku" ucap Rachel mencoba untuk tak terpengaruh dengan ucapan wanita itu.


"Ingat saja kata-kataku, orang tua Bryan tidak akan menerimamu sebagai kekasih Bryan karena mereka sudah memilihku sebagai calon yang tepat untuk Bryan" ucap wanita itu mengabaikan ucapan Rachel.


Karena tak tahan mendengar banyak hinaan lain lagi dari wanita itu Rachel pun bergegas meninggalkan wanita itu yang masih belum selesai dengannya.


"Hey! Kau ingin kemana? Aku belum selesai denganmu" teriak Emma namun diabaikan oleh Rachel yang perlahan menghilang dari sudut pandangan Emma.


Rachel berada di kelasnya membaringkan kepalanya di atas meja dari belakang ia terlihat sangat uring-uringan. Pikirannya dipenuhi dengan kata-kata Emma tadi dan ia sepenuhnya terpengaruh dengan ucapan wanita itu tadi.


"Apa aku benar tidak pantas?" bisiknya pelan hanya ia yang bisa mendengar pertanyaannya itu.


Hingga dosen masuk hingga pelajaran selesai Rachel masih setia dengan pikirannya itu, ia bahkan tidak sadar kini kuliahnya telah berakhir jika tidak di beritahu oleh teman kuliah yang berada di belakangnya.


Karena ucapan Emma tadi sukses membuat Rachel malas-malasan, di kampus, di rumah, di tempat kerja Rachel sangat tidak fokus dan beberapa kali di tegur.

__ADS_1


"Apa keluarganya menilai seseorang dari kekayaannya? Apa aku benar-benar tidak bisa untuk Bryan?"


Pertanyaan-pertanyaan seperti itu terus memenuhi pikirannya dan membuatnya menjadi patah semangat.


__ADS_2