Stuck With Psychopath

Stuck With Psychopath
Episode 60


__ADS_3

Bryan mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi di jalanan sepi itu, ia terlihat begitu tenang mengikuti mobil yang ada di depannya yang melaju dengan kecepatan penuh.


Bryan menyeringai melihat benda mengkilat di kursi penumpangnya itu, ini yang ditunggu-tunggu waktu yang tepat untuk melenyapkan Emma si jala*g itu. Ia tersenyum remeh saat berhasil memotong mobil di depannya tapi saat itu juga mobil itu kembali melaju dengan kecepatan penuh.


"Lihat saja seberapa jauh kau bisa lari dariku" ucap Bryan menyeringai wajahnya terlihat menakutkan.


drttt drrtttt drrrrt...


Bryan melirik ke arah kursi penumpang saat mendengar ponselnya bergetar dan tertera nama Evan di layar itu sedang memanggilnya, ia mengabaikan panggilan tersebut tapi Evan tetap menelponnya.


"Apalagi pria bodoh ini" makinya sebelum mengangkat panggilan tersebut.


Ia menghela nafasnya kasar mau tidak mau ia harus mengangkat panggilan tersebut, ini sangat mengganggu.


"Apa yang kau mau?" tanya Bryan dengan nada kesal.


"Halo, kau dimana?" tanya Evan dari seberang sana.


"Jika tidak penting aku matikan sekarang" ucap Bryan.


"Tunggu-tunggu... ini sangat penting dengarkan aku, jika kau ingin melenyapkan Emma maka hentikan lah. Dia sangat berbahaya" ucap Evan.


"Apa maksudmu? Kenapa wanita jala*g itu berbahaya" ucap Bryan tak mengerti sama sekali ucapan sahabatnya itu.


"Dia cuma wanita bodoh yang sangat menginginkan cintaku" ucapnya lagi.


Terdengar helaan nafas dari seberang sana "Pokoknya hentikan semua ini, ini yang terbaik untukmu. Sepertinya Emma tidak benar-benar mencintaimu aku belum bisa memastikan kebenaran ini tapi Emma adalah anak orang yang pernah menculikmu" jelas Evan.


Bryan yang mendengar itu membulatkan matanya ia langsung mengerem mobilnya secara mendadak, syukur tidak ada mobil di belakang dan di depannya.


"Apa yang kau bicarakan? Kenapa wanita jala*g itu anak dia?" tanya Bryan tak percaya karena ia sewaktu pacaran dengan Emma pernah melihat orang tua Emma.


"Orang yang menculikmu sudah bebas lima bulan yang lalu dan Emma juga kembali sekitaran itu, aku tidak tau apa motif mereka tapi hentikan sekarang juga yang ingin kau lakukan padanya" ucap Evan khawatir.


"Ini bisa jadi jebakan untukmu" ucapnya lagi.


Bryan hanya terdiam mencerna ucapan sahabatnya itu, ia masih tidak habis pikir bagaimana bisa wanita yang pernah mengisi hatinya itu anak dari orang yang pernah menyiksanya dan membuatnyamembuatnya menjadi psycho seperti sekarang ini.

__ADS_1


Ia mengakhiri panggilan tersebut tanpa memperdulikan Evan yang masih berbicara, ia melirik ke jalanan depan mobil yang ia ikuti tadi telah hilang dari pandangannya.


Bryan memukul-mukul stir mobilnya, hasrat ingin membunuhnya hilang dan kalau boleh jujur ia sedikit takut saat mengetahui orang jahat yang pernah menculiknya itu sudah bebas, ia takut jika sekali lagi harus merasakan hal itu.


Ia menepikan mobilnya mencoba untuk menenangkan pikirannya dan sekali lagi ponselnya kembali bergetar namun bukan sebuah panggilan yang ia dapatkan melainkan sebuah pesan.


[Sampah] - Woah aku melihat ada anggota baru di rumah ini.


Bryan menggeram marah karena ia tahu siapa orang yang dimaksud Leo itu, sebuah pesan kembali masuk di ponselnya.


[Sampah] - Kenapa dia begitu seksi? Ah melihatnya saja membuatku jadi sangat menginginkannya.


Bersamaan dengan pesan tersebut beberapa foto yang menampilkan Rachel juga ia lampirkan, Bryan menggeram marah seketika ia lupa dengan apa yang baru saja hatinya risaukan karena pesan yang baru ia dapatkan.


"Berani sekali sampah ini menyentuh milikku!!" geramnya marah.


Gambar yang dikirim itu memperlihatkan Rachel yang baru saja keluar dari kamar mandi masih menggunakan handuk dan foto satunya memperlihatkan Rachel dan Leo sedang berciuman.


Bryan melupakan masalah Emma dan si penculik, ia memutar balik mobilnya dan kembali melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh. Ia tidak ingin sampai kekasihnya itu diganggu oleh si breng*ek mesum itu.


Setelah berkendara cukup lama akhirnya ia tiba di perkarangan rumah orang tuanya itu, ia memarkirkan mobilnya sembarangan dan langsung berlari menuju rumah. Ia menendang pintu utama rumah tersebut, ini sudah kedua kalinya ia datang menendang pintu rumah ibunya itu.


Jennifer datang menghampirinya "Hey! Hey! Kenapa berteriak seperti itu? Ini lagi datang-datang selalu menendang pintu, gunakan tanganmu Bryan!"


Bryan hanya berlalu meninggalkan ibunya dan tak merespon omelan ibunya itu karena sekarang yang memenuhi pikirannya adalah Rachel.


Ia berjalan menuju kamar Rachel namun tidak ada disana dan ia pun mulai mencari ke kamar-kamar lainnya dengan Jennifer yang masih sibuk membuntuti putranya itu.


"Ada apa sih sayang? Kenapa marah-marah begitu?" tanya Jennifer pada putranya itu.


Bryan melirik padanya sejenak dan kembali melangkahkan kakinya "Rachel!" teriaknya lagi.


Jennifer menghela nafasnya "Rachel ada di taman belakang, kenapa? Kalian berantem?" tanyanya penasaran.


"Kenapa mommy tidak bilang daritadi" ucap Bryan justru kesal terhadap ibunya dan bergegas berjalan menuju taman belakang rumahnya.


"Loh loh.. kok jadi mommy yang salah" ucap Jennifer tak percaya.

__ADS_1


Dari kejauhan ia bisa melihat kekasihnya disana dengan dua orang yang sangat tidak ia sukai terlebih pria sampah bernama Leo itu, ia sangat membencinya.


Kini amarahnya semakin menggebu saat kembali teringat foto yang dikirim sampah tak berguna itu, ia melangkahkan kakinya menuju gazebo dan setibanya di sana tanpa memperdulikan sekitar ia melayangkan pukulan kepada Leo tepat diwajahnya.


Rachel yang melihat itu berteriak terperanjat kaget, Leo terjatuh ke lantai dan Miller ayahnya terlihat sangat marah melihat kelakuan Bryan.


"Apa yang kau lakukan di rumahku? Tiba-tiba datang membuat kekacauan seperti ini!" bentak Miller ayahnya.


Leo menyeringai saat mendengar Miller membentak Bryan dan Bryan yang melihat itu semakin mengeratkan genggamannya pada kerah Leo.


"Bukan urusanmu!" bentak Bryan balik, ia sudah tidak perduli lagi karena pria dihadapannya saat ini selalu memancing emosinya.


Saat ia ingin melayangkan pukulannya kembali tangannya terlebih dahulu di tahan oleh Miller "Hentikan itu! Jangan bertingkah kekanakan seperti ini Bryan!" bentaknya lagi.


Bryan tertawa remeh "Ya wajar jika aku bertingkah kekanakan seperti ini karena kau sendiri tidak pernah mengajarkanku untuk bersikap dewasa" ucapnya dengan nada yang cukup tinggi.


"Kenapa kau tidak suka aku memukul ponakan kesayanganmu itu hah?!"


Sebuah pukulan melayang ke wajah Bryan setelah ia berbicara seperti itu.


Bryan kembali tertawa "Lihatlah! Kau juga sangat kekanakan sekali padahal sudah setua ini tapi masih saja melayangkan pukulan tanpa tau apa masalahnya!" ucapnya geram.


"Aku sudah tidak heran dengan sikapmu itu karena ini bukan pertama kalinya kau bersikap seperti ini, selalu mengutamakan keponakan kesayanganmu itu!" bentaknya lagi.


Bryan menarik tangan Rachel membawanya pergi dari sana, Jennifer terkejut melihat kekacauan disana kursi yang berserakan dan sudut bibir anaknya yang terlihat berdarah padahal sebelumnya baik-baik saja.


"Ada apa ini? Apa yang terjadi?" tanya Jennifer mencoba menghentikan langkah Bryan dan Rachel.


"Kami pulang dulu mom" ucap Bryan lemah, hatinya sangat sakit melihat ayahnya selalu membela Leo.


"Kenapa? Kenapa pulang kalian kan janji bakal menginap" ucap Jennifer tak terima.


"Mom.. kami akan lebih sering berkunjung ke kantor" kali ini bukan Rachel yang berbicara seperti itu melainkan Bryan.


"Apa yang terjadi sayang?" tanya Jennifer tanpa menjawab pertanyaan ibunya itu, Bryan memeluknya.


"Kau kenapa nak?" tanya Jennifer entah kenapa ia merasa sedih jika putranya itu bertingkah seperti ini.

__ADS_1


Rachel hanya diam melihat tingkah tak biasa Bryan itu, ia juga tidak mengerti kenapa Bryan bisa sebenci itu pada Leo bahkan saat melihatnya saja ia sampai memukulnya seperti tadi. Tapi jika melihat Bryan seperti ini ia jadi sedikit mengerti bagaimana perasaan kekasihnya itu, satu hal yang ia tau pasti Bryan tidak suka saat ayahnya membela Leo.


__ADS_2