Stuck With Psychopath

Stuck With Psychopath
Episode 31


__ADS_3

Velly Calling...


“Kau di mana?” tanya Velly begitu Rachel mengangkat teleponnya.


“Tentu saja masih di rumah, apa kelas sudah di mulai?” tanya Rachel panik.


“Bukan. Cepatlah kemari sepertinya kau terkena masalah”


“Masalah, apa maksudmu? Setahuku aku tidak ada melakukan kesalahan” tanya Rachel bingung.


“Sudahlah, jangan banyak tanya. Cepatlah kemari aku tidak bercanda Rachel” peringati Velly sedikit memerintah.


“Baiklah segera, bye...” ucap Rachel mematikan sambungan panggilan tersebut.


Rachel mengambil tas dan bukunya, ia berdiri di depan cermin untuk terakhir kalinya mengecek penampilannya. Rachel pun meninggalkan rumahnya menuju kampus dengan tergesa-gesa sepanjang perjalanan ia memikirkan kesalahan apa yang telah dia lakukan sehingga terkena masalah.


Rachel memasuki kawasan kampus dengan tergesa-gesa, pandangan matanya menyusuri setiap sudut kampus tempat biasa ia dan sahabatnya nongkrong. Rachel mendadak cemas saat banyak mata yang menatapnya dengan sinis


“Ada apa dengan mereka semua? Apa kesalahanku sebesar itu? Tapi apa??” tanya Rachel dalam hatinya.


Rachel tak henti-hentinya mengumpat karena kedua sahabatnya tak kunjung ia temukan, banyak mata yang menatapnya sinis dan jangan lupa bisikan-bisikan yang membuat Rachel merasa sangat berdosa, hingga akhirnya pun bisikan-bisikan itu terdengar olehnya.


“Dia jal*ngnya? Pantas saja Bryan mau dengannya lihatlah di luarnya terlihat sangat polos” Rachel sedikit terkejut mendengar perkataan mereka.


“Rachel!” teriak seseorang dari arah belakangnya.


Rachel menoleh ke arah suara yang meneriakkan namanya itu dan di sana terlihat ke dua temannya yang ia cari-cari sejak tadi.


“Kalian dari mana saja? Sebenarnya apa yang...” ucapan Rachel terpotong tangannya keburu di tarik oleh kedua sahabatnya itu.

__ADS_1


“Ayo buruan” ucap Velly dan Giska membawa pergi Rachel dari sana.


Velly dan Giska membawa Rachel ke taman belakang kampus dan duduk di tempat yang sedikit sepi, Velly menyodorkan ponselnya kepada Rachel yang sudah terputar video di dalamnya.


“Apa yang sebenarnya terjadi?” tanya Giska saat Rachel mengambil ponsel tersebut dari tangan Velly.


Mata Rachel terbelalak kaget saat melihat video itu yang di dalamnya ada dirinya dan Bryan yang berada di dalam toilet tempo hari. Tetapi kejadian itu bukan Rachel yang menarik Bryan ke dalam justru Bryanlah yang masuk dengan sendirinya dan yang jelas ia tidak menggoda Bryan seperti apa yang di bicarakan mahasiswa lainnya.


“Tolong jujur, apa semua itu benar seperti yang lainnya katakan?” tanya Giska mendesak Rachel untuk segera memberitahukan apa yang sebenarnya terjadi.


“Apa kau memberikan tubuhmu untuk menjadi kekasih Bryan?” tanya Velly terang-terangan.


“Tidak, tentu saja tidak. Apa yang kalian pikirkan? Untuk apa aku melakukan hal itu?” ucap Rachel sedikit berteriak kesal karena merasa di tuduh.


“Tidak ada yang terjadi di antara aku dengannya bahkan di dalam toilet itu sekali pun” jelas Rachel lagi.


“Benarkah yang kau katakan itu?” tanya Velly memastikan


“Lalu apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa kalian bisa berada di dalam sana?” tanya Velly penasaran


Rachel pun menceritakan semua yang terjadi di dalam toilet itu dengan sangat detail kepada kedua sahabatnya itu, ia tidak ingin membohongi sahabatnya itu atau membuat sahabatnya mencurigainya apa lagi sampai menjauhinya karena rumor yang sedang beredar sekarang ini.


Saat Rachel tengah bercerita Velly dan Giska terperanjat kaget tak percaya sedikit berteriak saat Rachel menceritakan bahwa ia menendang alat vital Bryan saat pria itu mencoba menciumnya.


Setelah selesai bercerita kedua sahabatnya itu memicingkan matanya menatap Rachel tajam seolah tak percaya dengan apa yang di bicarakan Rachel.


“Ada apa dengan kalian? Wah, kalian tidak mempercayaiku?” ucap Rachel terperangah.


“Bagaimana mungkin kami percaya jika tidak ada yang terjadi, lalu tanda merah di lehermu itu apa? Tolong jangan tipu kami dengan mengatakan itu di gigit nyamuk” ucap Velly menyelidik.

__ADS_1


Mendengar perkataan sahabatnya itu Rachel membuka aplikasi kamera di ponsel Velly yang ada di tangannya itu lalu mengarahkan ke lehernya dan yang benar saja di sana ada tanda merah yang di buat Bryan malam tadi.


Rachel yang awalnya datang dengan mengikat rambutnya pun dengan terburu-buru melepasnya agar menutupi tanda itu karena tanda merah di lehernya itu terlihat sangat jelas.


“Kau membohongi kita?” tanya Giska enggan.


Rachel dengan takut-takut menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi mengapa bisa ada tanda merah di lehernya.


“Sebenarnya tadi malam aku hampir kelepasan itu pun bukan di sengaja, aku ke rumahnya cuman ingin mengantar makanan sebagai tanda minta maaf karena sudah menendang alat kelaminnya soalnya saat itu dia terlihat sangat kesakitan” ucap Rachel terhenti sebentar dan di sambut tawa dari ke dua sahabatnya itu.


“Lalu?” tanya Velly penasaran


“Ya, seperti itu” ucap Rachel malu-malu sambil memegang lehernya yang ada tanda merah itu “Dan untung saja saat itu kak Evan datang, kalo tidak mungkin aku sekarang masih di tempat tidur menyesali semua itu” ucap Rachel kesal.


“Hahahaha...” rasa kesal Rachel bertambah saat kedua sahabatnya itu menertawainya tapi ia sedikit lega karena sahabatnya tak mencurigainya lagi.


“Kau sangat lucu, apa kau tau itu?” ucap Velly masih setia menertawai Rachel gemas.


“Lucu?” bingung Rachel


“Iya, lagi pula kenapa kau menyesalinya? Dia kan kekasihmu kau bebas jika ingin melakukan ‘itu’ dengannya” jelas Velly gemas melihat Rachel.


“Aku tidak akan melakukannya sebelum menikah” ucap Rachel tegas.


“Ah, baiklah-baiklah” ucap Velly gemas dengan pendirian Rachel


“Jangan menertawaiku” rajuk Rachel.


“Lalu bagaimana dengan yang lainnya? Mereka tidak akan mempercayaimu setelah melihat tanda merah itu terpampang jelas di lehermu” ucap Giska prihatin pada sahabatnya itu yang sedang terkena rumor.

__ADS_1


“Entahlah...” ucap Rachel memelas


__ADS_2