Stuck With Psychopath

Stuck With Psychopath
Episode 32


__ADS_3

Rachel dan kedua sahabatnya Velly dan Giska berjalan beriringan menuju kantin, jujur saja Rachel tak nyaman berada di posisi saat ini banyak mata yang menatap sinis ke arahnya dan ia tidak dapat melakukan apa-apa.


“Kalian mau pesan apa?” tanya Giska


“Aku seperti biasa” jawab Velly namun tidak dengan Rachel.


“Chel, kau ingin apa?” tanya Giska


“Tidak kalian saja” ucap Rachel menggelengkan pelan kepalanya sebenarnya ia sangat lapar hanya saja ia tidak ingin menghamburkan uangnya untuk membeli makanan mahal di sini.


“Aku akan pesankan yang sama dengan Velly” usul Giska


“Tidak, aku tidak apa sungguh” tolak Rachel cepat.


Giska hanya menghela nafasnya “Aku yang traktir jadi kau harus makan” perintahnya berlalu pergi meninggalkan kedua sahabatnya itu.


Suasana di sana semakin memanas saat Giska yang memesan makanan dan Velly yang pergi ke kamar mandi tak kunjung kembali, Rachel sendiri di sana mencoba bertahan dengan tatapan sinis dan terdengar juga beberapa orang yang memaki dirinya.


Makian dan cacian yang tadinya terdengar tak begitu jelas hanya sekedar bisikan-bisikan kecil saja kini semua menjadi terdengar jelas di telinga Rachel, bahkan beberapa dari mereka terang-terangan menyindir dirinya dengan kata-kata pedas saat melewatinya.


“Dasar ja**ng”


“Dia kan wanita yang menggoda Bryan?”


“Dia terlihat sangat polos, sayangnya hanya penampilan luarnya saja yang polos”


“Aku penasaran bagaimana dia bisa merayu Bryan?”


“Tentu saja dengan tubuhnya”

__ADS_1


“Kira-kira sudah berapa kali ya dia menyerahkan dirinya pada Bryan?”


“One Night Stand? Cih, dia wanita yang sangat menjijikkan”


Mata Rachel memanas pikirannya tertuju pada kejadian semalam saat ia hampir melepaskan keperawanannya untuk Bryan jika itu benar terjadi entah apa yang saat ini sudah ia lakukan.


“Lihatlah dia mengurai rambutnya untuk menutupi tanda merah di lehernya”


“Menjijikkan dasar ja**ng”


Rachel yang sudah tak sanggup menerima makian dari yang lainnya pun memilih untuk pergi dengan berlari kencang dengan air mata yang membasahi pipinya dari area kampus karena kedua sahabatnya pun tak kunjung kembali, rasanya ia tak tahan lagi jika harus menunggu di sana lebih lama lagi.


...****************...


Bryan berjalan beriringan dengan Evan namun entah kenapa keduanya merasa ada janggal karena sejak kedatangan keduanya di kampus banyak mata yang memandang ke arah mereka, bukan memandang kagum seperti biasanya namun di dalam mata mereka terdapat rasa tak suka terhadap keduanya.


Bryan hanya menaikkan bahunya tak peduli namun matanya mengarah pada seorang perempuan cupu di sebelah kirinya tepatnya di sebelah Evan.


Tanpa menunggu lama tangan Evan sudah terlebih dahulu terulur pada kerah baju si wanita culun itu “Katakan apa yang sudah terjadi” perintahnya.


Belum selesai wanita cupu itu menjelaskan Bryan sudah meninggalkan Evan dengan berlari kencang, karena mengerti apa yang maksud wanita cupu itu ia pun tak membuang waktu lama dan pergi dari sana.


Bryan berlari ke sana kemari mencari Rachel, ia mendatangi setiap tempat yang biasanya menjadi tempat favorit kekasihnya itu tetapi tak kunjung ia temukan. Bahkan ia sampai memasuki toilet wanita yang menimbulkan kehebohan namun tak kunjung menemukan.


Dan Bryan berlari kencang ke tempat terakhir yang kemungkinan besar kekasihnya berada di sana dan itu benar Rachel ada di sana, kekasihnya itu sedang menangis sesenggukan di kursi taman belakang kampus.


Rachel tersentak kaget saat merasakan tangan yang terulur di pundaknya hendak merangkul dirinya, Rachel yang menangis pun semakin menjadi-jadi saat mengetahui siapa orang yang sedang merangkulnya itu.


“Tidak apa aku di sini” ucap Bryan mencoba menenangkan Rachel.

__ADS_1


Bukan berhenti menangis karena Bryan berhasil menenangkannya Rachel justru semakin merengek minta di lepaskan dari pelukan Bryan. Rachel merasa kesal karena sumber masalah yang sekarang ia hadapi itu adalah Bryan dan ia juga tau berdekatan dengan Bryan adalah pilihan yang terburuk untuknya karena akan menyulitkan dirinya.


“Lepaskan ini” ucap Rachel dalam tangisnya.


“Lepaskan aku brengsek” ucap Rachel saat Bryan tak kunjung melepaskan pelukannya dan justru semakin mengeratkan pelukannya.


“Hiks, kumohon lepaskan ini dan pergilah dari hidupku, aku mohon” pinta Rachel lirih


“Tidak sayang, aku tidak akan pergi”


“Mereka mengataiku ja**ng” ucap Rachel terus mengulang kata-kata itu.


“Syut, tenanglah. Itu tidak benar” ucap Bryan yang masih berusaha menenangkan Rachel.


“Aku ja**ng” ucap Rachel lagi, entah untuk ke berapa kalinya ia mengatakan dirinya dengan panggilan itu.


“Yang aku lakukan semalam membuktikan kalo aku seperti yang mereka katakan” isak Rachel.


“Tidak, akulah yang breng**k, aku yang salah jadi berhentilah menyalahkan dirimu”


Rachel memeluk erat tubuh Bryan mencari kekuatan pada tubuh Bryan tak berselang lama tubuhnya pun terasa lemah, kakinya melemas dengan sigap Bryan langsung membopong tubuh Rachel yang sudah tak sadarkan diri.


Ia membawa Rachel menuju ruang kesehatan yang ada di kampus dan ia tak memperdulikan orang-orang yang di lewatinya menatapnya dengan terang-terangan.


Bryan membaringkan tubuh Rachel di ranjang, ia mengamati wajah kekasihnya itu yang sekarang tengah terbaring lemah tak sadarkan diri. Matanya sembab dan masih banyak sisa-sisa air mata di wajahnya itu.


Bryan mendekatkan wajahnya ke arah Rachel ‘cup...’


Bryan mengecup kening Rachel cukup lama dan langsung pergi begitu saja setelahnya ada sesuatu hal yang penting yang harus ia selesaikan terlebih dahulu.

__ADS_1


__ADS_2