Stuck With Psychopath

Stuck With Psychopath
Episode 81


__ADS_3

"Cepat selesaikan semua ini berhentilah memanggilku lakukan saja sebaik mungkin" ucap Bryan terlihat sedang berbincang dengan seseorang di telepon.


"Rachel mengira aku selingkuh darinya. Temannya melihatku bersamamu, Rachel jadi salah paham padaku"


"Yasudah kalau begitu aku serahkan semuanya pada kalian, tolong lakukan dengan sebaik mungkin"


Pagi ini Rachel terlihat menghindari Bryan sekarang giliran dirinya yang mengabaikan Bryan, ia merasa kesal dan kecewa terhadap pria itu ingin sekali rasanya ia acak-acak wajah Bryan.


Ia tidak tau harus mempercayai pikirannya atau mempercayai ucapan Bryan karena pria itu terus bersikeras bahwa dirinya tidak berselingkuh itu hanya kesalahpahaman namun sayangnya Bryan tak menjelaskan siapa wanita itu.


"Mau kemana?" tanya Bryan namun tak dihiraukan oleh Rachel.


"Kau mau kemana?" tanya Bryan lagi.


"Kau tidak mendengarku? Apa telingamu bermasalah?" ucap Bryan terus bertanya.


"APA?!" celetuk Rachel ketus.


"Kutanya kau mau kemana?" ulang Bryan bertanya.


"Kau pikir aku mau kemana lagi dengan tampilan seperti ini, ketemu pria lain? kan tidak mungkin" ucap Rachel sinis.


"Jangan macam-macam denganku Rachel!" ucap Bryan geram.


"Idih, apasih gak jelas banget tau gak" ucap Rachel sengaja agar Bryan semakin kesal.


"Ayo aku antar!"


"Tidak perlu, terima kasih" tolak Rachel.


"Buruan! Jangan membuang-buang waktuku, aku sibuk" ucap Bryan namun mendapat tawa dari Rachel.


"Kenapa kau tertawa?" tanya Bryan menatap Rachel tajam.


"Abisnya kau lucu sekali, ternyata wanita barumu sangat posesif ya bahkan kau tak boleh telat bertemu dengannya" jelas Rachel masih menertawai Bryan.


"Sudah kukatakan dia bukan siapa-siapa" ucap Bryan malas harus terus menjelaskan hal yang sama berulang.


"Siapa namanya?" tanya Rachel


"Eliza" ucap Bryan spontan karena ditanya, seharusnya ia tak menjawab itu.


"Uu... dia punya nama yang indah" puji Rachel dengan raut wajah penuh amarah.


"Sudahlah.. ayo pergi" ucap Bryan menghela nafasnya kasar, ia salah.


"Tak perlu, aku bisa sendiri temui saja kekasihmu itu" ucap Rachel beranjak dari sana.


Rachel tak bisa berbuat apa-apa saat sedang kesal pun ia tak bisa menghindari Bryan dan pada akhirnya ia berakhir diantar Bryan ke kampus.

__ADS_1


"Kabari nanti kalau sudah pulang" ucap Bryan saat mereka sampai di depan kampus.


"Tidak perlu, aku bisa sendiri" tolak Rachel


"Kau mendengar ucapanku bukan? Katakan jika sudah pulang atau kau akan menyesalinya" ucap Bryan namun Rachel tak menanggapinya dan beranjak keluar dari mobil.


"Ck! Wanita itu benar-benar" kesal Bryan melihat tingkah kekasihnya itu.


Setelah memastikan Rachel sudah memasuki area kampus barulah ia melajukan mobilnya meninggalkan kawasan kampus untuk pergi menemui ibunya di butik karena mereka sudah janjian sebelumnya.


Kini Rachel dan kedua temannya berada di kantin karena kelas pagi mereka dibatalkan membuat mereka punya waktu luang.


"Apa kau sudah menanyakannya?" tanya Giska tiba-tiba mengarah pada pesan yang kemarin ia kirimkan pada Rachel.


"Hm? Ya? Apa?" ucap Rachel kaget dengan pertanyaan yang tiba-tiba itu.


"Kau sudah menanyakannya pada Bryan?" tanya Giska lagi.


Vely hanya celingak-celinguk melihat kedua sahabatnya itu bergantian karena ia tak mengerti apa yang sedang dibahas.


"Apa itu? Kalian merahasiakan sesuatu dariku?" tanya Vely tak terima karena hanya dirinya yang tak tau apa-apa.


"Kau tidak perlu tau" ucap Giska dan Rachel hampir menertawakan raut wajah kesal Vely.


"Rachel, katakan padaku hng" ucap Vely dengan wajah memelasnya.


"Bukan apa-apa Vel" ucap Rachel, seketika membuat Giska tertawa ngakak.


"Jadi, kau sudah menanyakannya?" tanya Giska lagi dan Rachel menganggukkan kepalanya.


"So?" tanya Giska kepo


"Wanita itu bukan siapa-siapa kebetulan Bryan ada urusan dengannya" jelas Rachel seperti yang dijelaskan Bryan kepadanya.


"Urusan apa? Pekerjaan? Memangnya Bryan sudah bekerja?" tanya Vely sudah mengerti situasi saat ini.


"Dia tidak bekerja..aku juga tidak tau urusan apa yang mereka punya tapi Bryan selalu memastikan satu hal padaku jika dia tidak punya hubungan apa-apa dengan wanita itu" jelas Rachel panjang lebar dan Giska hanya menganggukkan kepalanya saja.


"Ya itu mungkin terjadi karena wanita itu terlalu dewasa jika Bryan bersamanya" ucap Giska lagi.


Rachel hanya menghela nafasnya kasar, ya itu memang mungkin terjadi tapi tetap saja ia tak suka dengan fakta bahwa Bryan bersama wanita lain tak perduli ada atau tidak hubungan mereka.


Lagipula alasan yang diberikan Bryan adalah memiliki urusan, urusan apa yang mereka miliki? Jika tidak ada apa-apa kenapa Bryan tak menjelaskan urusan apa yang dimaksud.. huaa memikirkannya saja membuat Rachel tambah kesal.


Disisi lain Bryan kini sedang berada di ruangan ibunya sambil bermain game di ponselnya menunggu sang ibu selesai meeting.


Sedang asyik bermain game ponselnya berdering dan dengan cepat ia mengangkat panggilan tersebut.


'Kau dimana sayang?'

__ADS_1


'Di ruangan mommy, cepatlah kemari aku sudah bosan disini' omel Bryan


'Oh benarkah? Yasudah mommy segera kesana' ucap Jennifer diseberang sana.


'Ya' ucap Bryan malas langsung mematikan panggilan tersebut.


"Haiii honeyyy" panggil Jennifer penuh semangat.


Bryan menghela nafasnya menatap ke arah pintu dengan tatapan malas, ibunya selalu bersemangat seperti itu setiap melihatnya. Jika masih kecil mungkin ia tidak apa dengan sikap berlebihan seperti itu tapi sekarang ia akan malu jika ibunya seperti itu apalagi didepan orang ramai, bisa-bisa orang menganggapnya anak manja 'mommy boy'.


"Jadi gimana sayang, apa semua berjalan dengan lancar?" tanya Jennifer penasaran.


"Ya sampai kemarin" ucap Bryan menghela kembali nafasnya.


"Ada apa, kenapa? Ada yang tak sesuai keinginanmu?" tanya Jennifer duduk disamping putranya itu.


"Teman Rachel melihatku bersama Eliza lalu Rachel salah paham dan menganggap aku berselingkuh darinya" jelas Bryan membuat Jennifer kaget.


"Lalu bagaimana? Kau katakan apa padanya?" tanya Jennifer.


"Aku hanya mengatakan jika Eliza bukan siapa-siapa dan aku bertemu dengannya karena ada urusan" jelas Bryan lagi.


"Urusan apa?" tanya Jennifer, pertanyaan itu tidak asing untuknya karena Rachel juga menanyakan hal yang sama setelah ia menjelaskan seperti itu.


"Aku tak mengatakan apa urusannya" ucap Bryan mendapat tepukan keras di lengannya.


"Berkata seperti itu malah akan membuatnya jadi mencurigai hubunganmu dengan Eliza" ucap Jennifer membuat Bryan mengerutkan keningnya.


"Kenapa malah mencurigaiku kan aku sudah mengatakan yang sebenarnya, aku hanya tak mengatakan apa urusannya" ucap Bryan tak terima.


"Sama saja.. kau malah akan membuatnya semakin bertanya ada urusan apa diantara kalian berdua" ucap Jennifer membuat Bryan menghela nafasnya kasar.


"Jadi aku harus mengatakan yang sebenarnya saja?" tanya Bryan menatap jengah ibunya.


"Itu juga tidak benar, jika kau mengatakannya maka semua sia-sia" ucap Jennifer yang ikut menghela nafasnya memikirkan apa yang harus mereka lakukan terhadap Rachel.


"Percepat saja" ucap seseorang yang sejak tadi mendengar percakapan mereka.


"Ada urusan apa kau kesini?" tanya Bryan kesal melihat wajah Evan.


"Asyik sekali berceritanya sampai tidak dengar aku masuk" ucap Evan.


"Mommy memanggilnya?" tanya Bryan dan Jennifer hanya menganggukkan kepalanya.


"Kau harus berterima kasih padanya karena dia menjaga Rachel selama kau sibuk dengan urusanmu itu" ucap Jennifer menyambut hangat kedatangan Evan.


"Karena kita berkumpul disini haruskah kita panggil Rachel untuk makan siang bersama?" ajak Jennifer namun ditolak oleh Bryan.


"Tak perlu, aku bisa memberi makan kekasihku" ucap Bryan sinis membuat Evan dan Jennifer menghela nafasnya kasar.

__ADS_1


"Kau itu benar-benar" keluh Jennifer


__ADS_2