Stuck With Psychopath

Stuck With Psychopath
Episode 33


__ADS_3

Rachel kini sudah bangun dari tidurnya tetapi ia masih stay dengan maya yang terpejam, mata dan kepalanya terasa berat ia mengingat kejadian sebelum akhirnya ia jatuh pingsan.


Rachel membuka matanya secara perlahan, begitu ia membuka matanya hal pertama yang ia lihat justru membuatnya tersentak kaget.


Saat pertama kali membuka matanya ia dibuat kaget dengan wajah Bryan yang berada tepat di depannya dan hanya berjarak lima sentimeter darinya.


Dan terlebih lagi pria itu menunjukkan senyum khasnya dan mengeratkan pelukannya pada pinggang Rachel sedangkan Rachel hanya terdiam ia masih sedikit syok dengan pemandangan yang baru saja ia lihat saat sadar dari pingsannya.


‘Cupp’ Bryan mengecup hidung Rachel gemas sehingga membuat empunya mengerjap-kerjapkan matanya tersadar.


“K-kau!” pekik Rachel


“Hem?” ucap Bryan dengan senyuman terbaiknya sambil mengecup kembali kekasihnya itu


“Hentikan itu” perintah Rachel sambil mendorong Bryan agar menjauh darinya namun itu sia-sia.


“K-kau kenapa bisa ada di sini?” ucapnya lagi


Bryan menarik tubuh Rachel agar lebih mendekat dengannya hingga tak ada lagi jarak di antara keduanya.


“Tidurlah” ucap Bryan mengeratkan pelukannya dan menopang dagunya pada kepala Rachel, Bryan berada di sebalah Rachel.


“Lepaskan aku, pergilah aku tidak ingin bertemu denganmu” Rachel terus mencoba mendorong tubuh Bryan agar menjauh darinya.


Bryan tak menanggapi Rachel dan tetap setia di posisinya dan hal itu sukses membuat Rachel menggeram marah namun ia mencoba sabar “Ya sudah kalo begitu aku yang akan pergi” kesalnya.

__ADS_1


Belum sempat Rachel turun dari ranjang Bryan kembali menarik tubuh Rachel hingga kembali terbaring di ranjang.


“Ap-apa yang kau lakukan?” pekik Rachel kaget “Menjauhlah dari tubuhku”


Rachel mencoba mendorong tubuh Bryan yang berada tepat di atasnya dan lebih tepatnya sedang menindih tubuhnya. Bryan mencekal tangan Rachel dan meletakannya di samping kepala Rachel. Bryan menyeringai menatap Rachel lekat hal itu membuat yang di tatap merinding.


“A-apa? Kenapa menatapku seperti itu?” tanya Rachel waswas


Bryan lagi-lagi menyeringai dan mendekatkan wajahnya ke wajah Rachel yang hanya berjarak beberapa senti saja dan hal itu sontak membuat Rachel yang berada di bawahnya memejamkan matanya takut.


‘CupCupCup’ Bryan mengecup wajah Rachel beberapa kali di setiap bagian wajahnya, kening, pipi, hidung bahkan bibir Rachel juga tak di lewatkan olehnya.


“Ap-apa yang kalian lakukan?”


Rachel dan Bryan terdiam sesaat ketika mendengar suara yang menegur mereka dari arah belakang sana.


Mata Rachel membulat sempurna saat melihat kedua sahabatnya kini tengah berdiri di depan pintu dan ia tak memperdulikan Bryan yang meringis kesakitan sambil memegangi pinggangnya.


...****************...


Giska dan Velly berjalan cepat mencari keberadaan Rachel, setelah menyusuri semua tempat yang biasa Rachel datangi mereka pun memutuskan untuk pergi ke tempat yang mungkin saja di datangi Rachel.


Sesampainya di depan ruang UKS Velly pun perlahan membuka pintu ruangan itu, namun setelah beberapa langkah masuk ke dalam ruangan tersebut kakinya justru tak dapat bergerak setelah melihat pemandangan yang baru saja ia lihat.


“Kenapa berhenti?” tanya Giska yang ikut berhenti lalu melirik ke arah mata Velly menatap.

__ADS_1


Kalian tahu apa yang dilihat oleh mereka? Bryan yang berada di atas tubuh Rachel dengan posisi yang sangat intim entah apa yang selanjutnya akan mereka lakukan. Meskipun sebelumnya mereka mengatakan tidak apa jika melakukan hal tersebut bersama kekasih sendiri tetapi itu tidak benar dan tidak boleh terjadi di saat seperti ini terlebih lagi sekarang mereka berada di kawasan kampus.


Dan di detik itu juga Velly menginterupsi kegiatan kedua sejoli itu “Ap-Apa yang kalian lakukan?” tanyanya.


Kini Rachel tengah berada di hadapan kedua sahabatnya ia di tatap seperti pelaku kejahatan yang tengah di adili di pengadilan. Rachel yang tak ingin kedua sahabatnya salah paham dan menganggapnya wanita tidak benar pun menjelaskan semuanya secara rinci tanpa tertinggal sedikit pun.


“Ah begitu...” ucap Velly mengangguk mengerti. “Ternyata kekasihmu lelaki agresif ya” ucapnya mengundang tawa keduanya kecuali Rachel.


Rachel menceritakan semua yang terjadi mulai dari kejadian awal saat ia menghilang begitu saja dari kantin, kejadian saat ia menangis di belakang kampus dan Bryan datang menemuinya hingga kejadian terakhir yang tertangkap basah oleh kedua sahabatnya itu.


“Tidak seharusnya kau menendangnya, apa kau tidak kasihan melihatnya meringis kesakitan seperti tadi?” tanya Velly diiringi dengan tawanya.


“Ah sudahlah, aku ingin pulang saja” ucap Rachel pada kedua sahabatnya itu.


Di sisi lain Bryan kini tengah kesal karena di tertawai oleh Evan, Bryan yang tadinya di usir paksa oleh Rachel dari ruang kesehatan karena ingin berbicara dengan sahabatnya itu pun pergi menemui Evan dengan pinggangnya yang masih terasa sakit.


“Hahahaha” Evan menertawai Bryan tak hentinya apalagi Bryan yang kini tengah berdiri di hadapannya sambil memegang bagian pinggangnya.


“Cih, sialan kau” ketus Bryan saat melihat sahabatnya itu yang malah menertawainya bukannya mengkhawatirkannya.


Evan tak henti-hentinya tertawa mengingat apa yang di katakan Bryan, hari ini ia di tendang dari atas ranjang hingga pinggangnya sakit dan kemarin alat kelaminnya juga di tendang oleh Rachel dan di tinggalkan begitu saja di toilet wanita.


Evan sangat berterima kasih pada Rachel karena sudah berhasil menaklukkan Bryan yang tidak ada akhlaknya itu, entah kenapa ia merasa dendamnya terbalaskan lewat Rachel.


“Dia benar-benar sudah berhasil menaklukkanmu Bryan” ucap Evan menggelengkan kepalanya tak percaya “Sepertinya kau mencintainya, haha” sambung Evan kesenangan meledek sahabatnya itu.

__ADS_1


“Cinta?” gumam Bryan pelan sambil memikirkan kata-kata itu.


Bryan menggeleng cepat menepis pikirannya itu “Tidak, aku tidak mencintainya”


__ADS_2