
Alasan kenapa Bryan langsung menghempaskan bingkisan milik Rachel begitu mengetahui barang tersebut merupakan pemberian Albern adalah karena bartender sialan itu bersengkongkol dengan Vallerie dan 'orang itu' yang di maksud Vallerie adalah Albern si bartender itu.
Albern sangat berbahaya untuk Rachel buktinya saja patung boneka salju yang di berikan Albern pada Rachel terdapat kamera CCTV di dalamnya untung saja Rachel belum mengeluarkannya dari tas hadiah tersebut.
Dan alasan kenapa Bryan meminta Rachel untuk tinggal bersamanya tidak lain agar ia bisa menghabiskan waktu berduaan bersama Rachel ya sekalian menjaga Rachel dari Albern. Sebenarnya ia tidak perlu melakukan ini jika ingin menjauhkan Rachel dari Albern karena sebentar lagi bartender sialan itu akan menghilang dari dunia ini untuk selama-lamanya.
Sebelumnya Evan telah memberikan alamat terbaru Albern, kini waktu sudah menunjukkan jam sepuluh malam dan Bryan pun mendatangi alamat rumahnya tidak perlu waktu lama untuk Bryan menunggu mangsanya itu.
Mungkin hari ini hari keberuntungan Bryan karena orang yang akan segera ia lenyapkan kini terlihat berjalan pulang menuju rumahnya yang entah datang dari mana.
Tidak ingin mengulur waktu seperti kejadian terakhir kalinya Bryan langsung keluar dari tempat pengintaiannya yang membuat pria itu kaget berhenti di tempatnya melihat Bryan berada di hadapannya.
"Long time no see" ucap Bryan menyeringai
"Mau apa lagi kau menemuiku" tanya Albern mencoba memberanikan dirinya, jujur saja Albern masih sedikit takut jika harus berhadapan langsung dengan Bryan apalagi di saat kondisinya yang seperti ini.
"Kali ini tidak akan sulit untukku melenyapkanmu aku tidak akan membuang waktuku seperti terakhir kalinya" ucap Bryan meremas kuat tangan Albern yang masih di gips
Bryan mengeluarkan pisaunya Bryan mendorong tubuh Albern ke dinding gang itu dan Bryan langsung saja menempelkan pisaunya di pipi Albern
"Apa sebenarnya tujuanmu mendekatinya?" tanya Bryan
__ADS_1
"Apa ma-maksud mu" tanya Albern
Bryan menusuk pipi Albern dan saat itu juga Bryan menyentak keluar pisaunya yang membuat darah segar mengucur keluar dan Albern berteriak kesakitan di sana.
"Apa tujuanmu memasukkannya ke situs jual diri itu? Bukankah kau menyukainya bahkan kau" Bryan tidak menyelesaikan perkataannya ia geram dan kembali menancapkan pisaunya secara bergantian di kedua belah pipi Albern.
Bryan menusukkan pisaunya ke bagian mata kiri Albern tidak hanya itu ia juga menusuk perut Albern berkali-kali lalu mengoyakannya dengan menarik pisau yang ia tancapkan dari atas ke bawah yang menyebabkan perutnya terbelah dan terlihat organ dalamnya.
Bryan tersenyum senang melihat hasil karyanya ia menghirup bau anyir darah segar yang sangat nikmat menurutnya itu ia juga memotret tubuh Albern yang sudah tidak berbentuk itu dan layaknya seorang psychopath ia tersenyum melihat Albern yang sudah tidak bernyawa itu.
Bryan memasukkan mayat Albern yang sebelumnya sudah ia potong-potong menjadi beberapa bagian ke dalam karung untuk lebih memudahkannya membawa mayat tersebut.
Bryan kembali ke mobilnya dan melajukan mobilnya menuju rumahnya setelah sampai ia langsung menyeret karung itu menuju ruang bawah tanah tempat hewan peliharaannya berada.
Ia kembali memberi makan kedua hewan buas kesayangannya itu ia memberi makan mereka dengan cara melemparkan bagian per bagian tubuh Albern ke dalam kandang hewan peliharaannya itu.
Setelah menyelesaikan kegiatan memberi makan kedua hewan peliharaannya Bryan kembali ke rumahnya dengan hati-hati ia pergi menuju kamar tamu menggunakan kamar mandinya.
Ia membersihkan dirinya di sana sebersih mungkin dan sewangi mungkin agar tidak tercium bau darah dari tubuhnya dan agar tidak ketahuan oleh Rachel.
Setelah selesai membersihkan dirinya ia beranjak pergi meninggalkan kamar tamu tersebut menuju kamar tidur pribadinya saat ia membuka pintu kamarnya terlihat di sana Rachel yang sudah tertidur lelap.
__ADS_1
Pemandangan yang kini ia lihat itu sangat indah itu menjadi kesenangan tersendiri untuknya melihat Rachel berada di dekatnya membuatnya berfikir bahwa kini Rachel sudah menjadi miliknya sepenuhnya.
Bryan mendekati ranjangnya berbaring pelan di samping Rachel agar tidurnya tidak terganggu Bryan tersenyum menatap wajah Rachel lalu mengecup kening, kedua belah pipinya dan terakhir ia juga mengecup singkat bibir Rachel.
"Good night sayang" ucapnya sambil mengecup singkat bibir Rachel sebelum akhirnya ia juga ikut memejamkan matanya.
Sinar matahari mencuri masuk melalui sela-sela tirai jendela membuat Rachel terbangun dari tidurnya lalu ia merenggangkan tubuhnya dengan mata yang masih terpejam.
Saat tengah merenggangkan tubuh mnya kaki Rachel tidak sengaja mengenai kaki Bryan yang langsung saja membuatnya membuka matanya dan bergerak menghadap Bryan menatap lekat laki-laki yang kini ada di hadapannya itu.
Rachel seketika terpesona oleh ketampanan Bryan bahkan saat tidur sekali pun ketampanannya itu tidak luntur Rachel sedikit menyesal selama ini ia selalu di penuhi rasa takut sampai tidak pernah menyadari bahwa yang selama ini berada di dekatnya sesempurna ini.
Rachel menatap mata Bryan yang masih tertutup itu ia ingin sekali menyentuhnya selama ini ia bahkan juga tidak pernah berani menatap mata pria yang ada di hadapannya ini ia terlalu di penuhi ketakutan saat bersamanya.
Entah apa yang merasuki Rachel sehingga ia berani melakukannya ia mengulurkan tangannya menyentuh mata Bryan yang tertutup itu.
Bukan hanya itu ia juga menyentuh hidung mancung Bryan dan ia juga menangkup wajah Bryan dia bahkan mengelus pipi Bryan dengan pelan.
Pandangan mata Rachel tertuju pada bibir Bryan pandangannya tidak teralihkan dari sana ia ingin menyentuhnya juga dengan ragu-ragu ia pun memberanikan diri sekali lagi ia mengulurkan tangannya menyentuh bibir itu selagi Bryan tertidur.
Rachel mengelus lembut bibir Bryan dengan jari telunjuknya pelan dengan sangat pelan "Waah" ucap Rachel berdecak kagum tanpa ia sadari.
__ADS_1