
Kini sudah dua minggu berlalu sejak liburan terakhir mereka karena libur panjang Rachel dan Bryan lebih banyak menghabiskan waktu di rumah dan beberapa kali mereka menginap di rumah Jennifer.
Bryan tidak main-main dengan lamarannya terakhir kali bahkan Jennifer mengatakan pada Rachel untuk memberinya waktu kurang lebih satu bulan lagi untuk mempersiapkan semuanya.
Ini gila karena hanya dirinya yang tidak mengetahui hal itu dan Rachel juga baru seminggu yang lalu mengetahui siapa sebenarnya wanita yang bernama Eliza itu, ia merasa konyol bahkan kedua sahabatnya itu sudah mengetahui semua ini.
Giska sahabatnya yang pertama kali tau rencana ini dan Vely mengatakan jika ia tau karena sebelumnya saat di bar Giska mengatakannya, sayang sekali karena ia tak dapat mengingat apa yang terjadi di bar waktu itu.
Jennifer orang yang membantu Bryan menyiapkan semua ini bahkan ia kaget karena saat bertemu Eliza, ia hanya perlu memberi pendapat untuk beberapa hiasan yang mungkin ingin ditambahkan.
Gaun pernikahannya sudah dibuat dan disesuaikan seperti gaun impiannya hanya saja gaunnya itu baru selesai tujuh puluh persen, ia beruntung dalam hal itu karena memiliki calon mertua seorang desainer jadi ia bisa memiliki gaun pernikahan sesuai keinginannya.
Jangan lupakan kedua orang tua Rachel yang berada jauh disana itu bahkan sudah mengetahui ini juga, entah tidak peka atau apa hanya Rachel seorang yang tak mengetahui apapun tentang rencana Bryan dan malah menuduhkan hal yang tidak-tidak pada kekasihnya itu.
Hari ini Rachel dan Bryan sedang dalam perjalanan menuju rumah Jennifer karena hari ini jadwal mereka untuk berkunjung, setelah pulang dari liburan mereka jadi lebih sering berkunjung ke rumah besar.
Di sepanjang perjalanan Rachel terus menatap Bryan lekat bahkan ia tak mengalihkan pandangannya itu sedikitpun dan beberapa ia sudah di protes oleh Bryan agar tak memandangnya terus-terusan.
"Ada apa? Ada sesuatu di wajahku?" tanya Bryan menghela nafasnya kasar, tatapan Rachel mengganggunya entah kenapa ia jadi merasa sudah membuat kesalahan.
"Bukan apa-apa" ucap Rachel tersenyum.
"Kenapa tersenyum? Kau kemasukan?" tanya Bryan ngeri dan Rachel tertawa pelan.
"I think yes" ucap Rachel kembali tersenyum.
"Jangan menatapku sambil tersenyum seperti itu, kau membuatku takut" ucap Bryan.
__ADS_1
"Um.. can i ask something?" tanya Rachel akhirnya mengalihkan pandangannya.
"Apa itu?" tanya Bryan balik.
"Apa kau tidak melakukannya lagi?" tanya Rachel menatap kosong kearah atas mobil.
"Melakukan apa?"
"Killing someone.." ucap Rachel pelan dan melirik sekilas ke arah Bryan takut jika pertanyaannya menyinggung.
Bukan menjawab pertanyaannya Bryan justru menghela nafasnya kasar dan menatap Rachel singkat, untuk beberapa detik mata mereka saling bertatap.
"Kenapa?" tanya Rachel memastikan.
"Aku tidak melakukannya lagi bahkan keinginan untuk membunuh sudah tidak ada lagi" ucap Bryan jujur.
"Benarkah? Itu hal bagus tapi apa aku boleh tau kenapa itu bisa terjadi?" tanya Rachel.
"Sudahlah jangan membahas itu" ucap Bryan lagi.
"Kenapa, kau tidak suka? Apa tidak nyaman membicarakan hal itu denganku?" tanya Rachel dan Bryan hanya diam tak menjawab pertanyaannya.
Setengah perjalanan Bryan melihat didepan sana ada plang donat dan ia pun sedikit memperlambat jalan mobilnya.
"Kau ingin donat?" tawarnya
"Tiba-tiba donat?" tanya Rachel menahan tawanya.
__ADS_1
"Itu" ucap Bryan menunjuk plang didepan sana dan Rachel yang melihat itu langsung menganggukkan kepalanya dan mengatakan ingin donat itu.
Bryan memarkirkan mobilnya di depan toko donat, ia membeli dua box donat karena jika hanya membeli satu box mereka tidak akan kebagian akhir-akhir ini Rachel mulai menggilai donat.
Setelah selesai mereka kembali melanjutkan perjalanan mereka menuju rumah orang tua Bryan, sebelumnya Jennifer mengatakan jika ia akan terlambat dan sekarang masih pukul tiga sore jadi Miller ayah Bryan sudah pasti juga belum berada di rumah.
Hampir setengah jam perjalanan akhirnya mereka tiba di kediaman orang tua Bryan dan mereka masuk begitu saja, rumah ini sudah seperti rumah kedua bagi mereka jadi mereka bersikap santai disana.
Saat ingin memasuki kamar mereka dibuat kaget dengan deheman seseorang yang sedang berjalan turun dari arah tangga, Rachel dan Bryan menghentikan langkahnya menunggu orang itu menghampiri mereka.
"Halo uncle" sapa Rachel memberi salam pada Miller.
Seperti biasa bukan Bryan namanya jika memasang wajah senang saat melihat ayahnya itu, mereka sudah dalam keadaan baik-baik saja tapi karena keras kepala dan gengsi. Di awal ketemu keduanya masih sering seperti ini tapi jika dibiarkan mereka berdua akan akrab dengan sendirinya.
"Tumben jam segini sudah di rumah biasanya juga masih di kantor" ucap Bryan sinis.
"Terserah dong, ini rumahku dan perusahaan juga punyaku terserah aku mau pulang jam berapa saja" ucap Miller tak mau kalah.
"Loh tumben, biasa gak pernah mikir begitu selalu pulang kalau sudah waktunya bahkan terkadang pulang larut" ucap Bryan sewot.
Rachel melirik kedua anak dan ayah itu yang saling sinis, ia bingung harus berbuat apa untuk meleraikan keduanya karena biasanya Jennifer lah yang menjadi penengah untuk keduanya.
"Uncle.. mau donat?" tawar Rachel tiba-tiba sembari mengangkat kantong berisi donat yang ia pegang.
"Kau membelikannya untukku? Baik sekali tau saja aku belum ngemil" ucap Miller tertawa.
"Ngemil? Ck yang benar saja" ucap Bryan tak suka.
__ADS_1
Kini ketiganya oun berkumpul di ruang makan hanya untuk sekedar memakan donat serta kopi yang dibuat oleh Rachel, jangan ragukan kenikmatan kopi yang dibuat Rachel karena sebelumnya ia pernah berkerja di coffee shop.
Mereka berbincang satu sama lain sembari menunggu kepulangan Jennifer dan kini suasana antara Bryan dan ayahnya sudah mulai adem meskipun sesekali masih ada beberapa hal yang membuat mereka berselisih paham meskipun begitu mereka tetap terlihat akur bersama.