
Panik. kesal, marah dan gelisah bercampur jadi satu karena kini Bryan tengah berlari kesana kemari mengelilingi hampir setiap sudut Club mencari kekasihnya yang hilang entah kemana, wanita itu benar-benar tidak boleh lepas dari pandangannya sebentar saja.
Sekitar dua jam yang lalu Cathy, kekasih Ryan datang menyusul mereka dan saat itu ia mulai berkenalan dengan Rachel karena Cathy tipe orang yang asik dan mudah bergaul membuat keduanya jadi cepat akrab.
Dam setelah kurang lebih tiga puluh menit berada di antara para lelaki kolot yang hanya membicarakan masa lalu mereka membuat Cathy merasa bosan dan ia pun mengajak Rachel untuk keluar dari sana.
"Rachel, kita keluar saja yuk" ajak Cathy menarik tangan Rachel namun ditahan oleh Bryan.
"Tidak boleh, kau sendiri saja" ucap Bryan melarang Cathy untuk mengajak kekasihnya.
"Ugh.. Ayolah mendengar kalian bercerita itu sangat membosankan, yakan Rachel?" ucap Cathy dan Rachel hanya tersenyum canggung.
Bagi Rachel disini atau diluar akan sama saja, sama-sama membosankan karena dari awal ia tidak menyukai tempat ini.
"Tidak. tetap tidak boleh" larang Bryan kekeh yang mendapat cibiran dari Cathy.
"Ck.. apa kau tidak tau kalau kami perempuan itu tidak suka dikekang? Jangan terlalu posesif padanya" ucap Cathy menatap tajam Bryan.
Bryan mengabaikan tatapan Cathy, ia menatap kearah Rachel mencari kebenaran dari kata-kata yang diucapkan Cathy itu tapi yang ditatap justru hanya diam memasang wajah datarnya.
Rachel tidak terlalu ambil pusing karena diizinkan atau tidak sama sekali tidak jadi masalah untuknya karena di ruangan ini atau diluar sama-sama tidak nyaman untuknya.
"Come on! Dia aman bersamaku kalau kau khawatir dia akan digoda pria lain" ucap Cathy lagi.
Bryan menghela nafasnya kasar ia menatap tajam kearah Cathy, wanita itu benar-benar sangat pandai dalam hal berbicara sampai-samapi ia tidak tau lagi harus beralasan apa.
"Jaga dia dengan baik" ucap Bryan yang pada akhirnya mengizinkan Cathy mengajak kekasihnya itu keluar.
"Nah gitu dong.. yuk Rachel" ajak Cathy.
Sejak saat itu Bryan tidak tau lagi dimana dan apa yang sedang kekasihnya itu lakukan hingga akhirnya Cathy kembali ke ruangan mereka seorang diri, tanpa ada Rachel bersamanya.
__ADS_1
"Dimana Rachel?" tanya Bryan heran kenapa Cathy hanya kembali seorang diri.
"Loh, emangnya Rachel belum kembali?" tanya Cathy balik.
Mendengar jawab Cathy membuat Bryan panik bukan main dan detik itu juga ia keluar dari ruangan itu mencoba untuk mencari kekasihnya itu yang entah berada dimana.
"Apa aku membuat kesalahan?" tanya Cathy saat Ryan kekasihnya dan Evan menatap kearahnya.
Tak menjawab pertanyaan Eva pergi meninggalkan ruangan itu menyusul Bryan dan menyisakan Ryan dan Cathy disana, teman-teman mereka yang lainnya sudah berpencar entah kemana tidak ada yang perduli.
"Ryan.. did i make mistake?" tanya Cathy lirih, ia merasa bersalah.
"Apa yang sebenarnya terjadi sayang?" tanya Ryan membawa Cathy untuk duduk disampingnya dan kekasihnya itu hanya menggelengkan kepalanya.
"I dont know... tadi kita ngobrol, sharing banyak hal terus aku kebelet jadi aku pergi ke toilet sendiri karena Rachel tidak mau ikut"
"Aku juga sudah mengatakan padanya untuk tetap disana tapi saat aku kembali Rachel tidak ada disana karena aku pikir dia sudah kembali makanya aku kembali juga" jelas Cathy.
"Yasudah tidak apa, mereka pasti menemukannya" ucap Ryan mencoba untuk menenangkan kekasihnya itu yang sekarang terlihat panik.
Ryan tak tega melihat kekasihnya merasa bersalah seperti itu dan ia pun menyetujui ajakan Cathy itu dan mereka pun ikut membantu Bryan dan Evan mencari Rachel.
Dipertengahan mencari Rachel, tiba-tiba langkah Bryan di hadang oleh seorang wanita yang membuatnya sangat marah bahkan merasa jijik melihatnya.
"Apa yang kau lakukan disini?" tanya Bryan menggeram marah saat melihat Emma yang menghadangnya itu.
"Aku? Tentu saja bersenang-senang. Kalau kau? Apa kau kemari untuk menemuiku?" tanya Emma kegirangan.
"Menjijikkan!" celetuk Evan yang kini berada diantara mereka.
"Sudah, tinggalkan saja dia. Urusan kita lebih penting" ucap Evan menepuk pundak Bryan.
__ADS_1
Emma kembali menghentikan langkah Bryan saat pria itu hendak pergi dari hadapannya.
"Kau mau kemana? Kau disini saja temani aku, jangan dengarkan teman bodohmu itu" ucapnya manja dan dengan tidak tau malunya ia bergelayut mesra di lengan Bryan.
"Lepaskan tanganmu dariku!" bentak Bryan dengan kasar mendorong tubuh Emma kesamping.
Emma meringis kesakitan ia menatap punggung Bryan yang perlahan mulai hilang dari pandangannya dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Kita lihat saja sampai kapan kau bisa menolakku!' gumamnya.
Disisi lain kini Rachel terlihat secara perlahan. mulai membuka matanya menyesuaikan pandangannya dengan cahaya lampu yang begitu terang menelisik masuk ke indra penglihatannya itu.
Seluruh tubuhnya terasa sangat pegal dan saat ia ingin merenggangkan tubuhnya ia baru menyadari jika tubuhnya tak dapat digerakkan karena kini tubuh dan tangannya terikat pada kursi yang saat ini ia duduki.
"A-apa ini? Dimana aku?" ucap Rachel panik
Tempat ini sangat asing untuknya ia sama sekali tidak dapay mencerna situasi saat ini dengan baik, ia sangat ketakutan karena saat ini pikirannya mulai membayangkan hal-hal mengerikan yang mungkin saja terjadi padanya.
Rachel berontak, ia mencoba untuk melepaskan tali yang mengikat tangannya itu setelah berusaha dengan susah payah hasilnya tetap saja nihil. Ia tidak bisa melepaskan ikatan tali itu dari tangannya dan justru karena terus menggesekkan tali tersebut ke kursi membuat kedua tangannya memerah nyeri.
"Siapapun diluar sana tolong aku!" teriak Rachel sekuat tenaga.
Setelah beberapa kali mencoba hasilnya tetap sama seperti percobaan pertama nihil, sepertinya tidak ada yang dapat mendengar teriakannya itu.
Seketika tubuhnya menjadi lemas, ia merasa sangat putus asa tidak tau apa yang harus ia lakukan lagi dan kini hanya ada satu nama dipikirannya orang yang bisa menyelamatkannya.
"Bryan" ucapnya lirih.
Bersamaan dengan ia menyebut nama tersebut pintu ruangan tersebut terbuka, ia sedikit senang karena berpikir bahwa orang itu datang untuk menyelamatkannya dan saat mendengar pintu itu kembali tertutup membuatnya sedih bercampur takut apalagi secara perlahan langkah kaki orang tersebut mulai mendekat kearahnya.
Rachel menajamkan penglihatannya untuk memastikan siapa orang itu dari kejauhan terlihat rambut panjang, baju seksi serta hak tinggi berwarna putih yang begitu mencolok dimatanya.
__ADS_1
Secara perlahan kini wanita itu mulai mendekat ke arahnya dan bertapa kagetnya ia saat dapat melihat wajah wanita itu dengan jelas.
"K-kau? A-apa yang kau lakukan padaku?" tanya Rachel histeris.