
Rachel sedikit bingung dengan keadaan kampus yang lebih tenang dari sebelumnya sesaat sebelum ia jatuh pingsan tadi. Sebelumnya hampir semua mata memandang sinis dirinya dan tak lupa mulut yang tak henti-hentinya mencibir dan memaki dirinya.
Saat fokus dengan kebingungannya itu ia di buat hampir saja memekik saat seseorang menarik pergelangan tangannya.
“Ah kau!” ucap Rachel tak suka saat melihat orang yang ada di hadapannya itu
“Kenapa sayang?” tanya Bryan tersenyum
“Lepaskan ini” ucap Rachel malas.
Jujur saja ia merasa sangat kesal dengan Bryan karena ialah semua ini terjadi dan Rachel juga sudah sangat lelah jika harus terus-terusan mendapat masalah hanya karena Bryan.
“Apa kau tak mendengarkanku?!” teriak Rachel cukup memekakkan telinga Bryan yang tak kunjung mengindahkan perkataannya.
“Satu” ucap Bryan sambil melipat jari kelingking di tangan kanannya.
“Apa?!” bentak Rachelaa
“Kesalahanmu. Aku akan menghitung setiap kalinya kau melakukan kesalahan dan tentu saja aku akan menghukummu jika membuat banyak kesalahan”
Rachel memutar malas bola matanya “Kau gila? Hentikan omong kosongmu itu dan lepaskan tanganku” ucap Rachel berusaha melepaskan genggaman tangan Bryan yang sangat erat.
“Dua. Mungkin aku akan menghukummu jika kau melakukan kesalahan satu kali lagi” ucap Bryan menyeringai.
“Hah, kau mau membawaku ke mana?” tanya Rachel menyerah.
“Tentu saja pulang”
“Tidak, tidak perlu hari ini aku akan langsung ke tempat kerja” tolak Rachel
“Bar apa yang buka di sore hari sayang?”
“Aku sudah tidak bekerja di sana”
__ADS_1
“Lalu kau bekerja di mana?” tanya Bryan
“Kau tak perlu mengetahuinya, itu bukan urusanmu”
“Baiklah kalau begitu aku akan mengantarmu” tawar Bryan.
Ah daripada tawaran sepertinya itu lebih terdengar seperti sebuah perintah.
“Aku...” ucap Rachel terpotong
“Tak ada penolakan” ucap Bryan menarik tangan Rachel membawanya menuju ke parkiran dan Rachel hanya menatap kesal Bryan sembari pasrah mengikuti kemana Bryan.
Beberapa hari yang lalu Rachel memilih resign dari tempat kerjanya yang lama dan memutuskan untuk bekerja di salah satu coffee shop yang berada tak jauh dari rumahnya.
...****************...
Bryan kini terlihat tengah duduk di ujung kafe tempat Rachel bekerja, ia memainkan game yang ada di ponselnya untuk mengurangi kebosanan yang melanda dirinya.
Bryan sesekali melirik ke arah Rachel yang sibuk mondar-mandir kesana kemari melayani pelanggan. Namun dari semua itu ada hal yang membuatnya sangat marah saat beberapa pelanggan pria menatap tubuh Rachel dengan tatapan mesum.
Coffee shop tempat Rachel bekerja tidak memiliki seragam khusus, hanya sebuah celemek dan di dalamnya mengenakan baju masing-masing. Dan pada dasarnya baju yang Rachel pakai tidak ketat hanya saja saat celemek itu terikat di tubuh Rachel entah kenapa rasanya ada aura yang berbeda yang terpancar dari Rachel.
Rachel tampak mempesona sekarang ini, apalagi rambut yang di cepol ke atas membuat leher mulusnya ikut terekspos dengan bulir-bulir keringat kecil yang membasahi bagian dahi dan lehernya itu entah kenapa hal itu membuat Rachel terlihat sangat seksi dan mempesona.
Bryan menggeram seharusnya ia meninggalkan tanda yang banyak di sana dan yang sangat sulit di hilangkan agar Rachel tidak bisa mempertontonkan leher mulusnya begitu saja ke banyak pria.
Bryan kembali menggeram marah saat para pria itu menatap Rachel lapar seakan ingin segera memangsanya bahkan pria-pria itu terang-terangan menggoda Rachel dengan saling bercanda satu sama lain.
‘Braakkk’
Bryan berdiri dari duduknya dan semua mata yang ada di dalam kafe tersebut memandang bingung ke arahnya tetapi ia tidak menghiraukan pandangan tersebut dan sekarang yang ingin ia lakukan hanya satu yaitu segera membawa Rachel keluar dari tempat terkutuk ini.
Bryan menarik tangan Rachel dengan paksa dan menyeretnya keluar dari kafe tersebut tanpa memberi waktu pada Rachel untuk berbicara sedikit pun.
__ADS_1
“Apa-apaan kau, apa yang kau lakukan?” tanya Rachel menyentak tangannya dari genggaman Bryan saat mereka sudah sampai di mana tempat mobil Bryan terparkir.
“Pulang” jawab Bryan singkat namun Rachel menggeleng kepalanya menolak ajakan Bryan.
"Apa kau gila? Kau tidak lihat aku sedang bekerja?" tolaknya.
“Rachel ini bukan ajakan tapi perintah” peringatkannya
“Jangan keras kepala, ikut saja. Ayo kita pulang” ucapnya lagi.
“Stt aw...” Rachel meringis kesakitan saat punggungnya menabrak sisi samping mobil tersebut.
Bryan mengunci tubuh Rachel ia mendekatkan tubuhnya pada Rachel hingga tak menyisakan jarak sedikit pun, Bryan mengeluarkan seringaian menyeramkannya itu sebelum mulai berbicara.
“Kau semakin berani ya sayang” ucap Bryan memainkan jarinya dari pelipis hingga pipi Rachel sensual.
Rachel hanya bisa menggigit bibirnya pelan, ia takut. Bryan mendekatkan wajahnya pada Rachel semakin mendekat dan hal itu sontak membuat Rachel memejamkan erat matanya menahan takut.
“Bukan karena aku berbuat baik padamu kau bisa seenaknya, aku tidak akan segan segan melukai lehermu lagi seperti tempo hari” ancamnya
“Dan lagi aku juga bisa memutuskan lehermu itu. Aku tidak akan segan-segan untuk melalukannya. Kau harus ingat kalau aku ini seorang Psychopath, bukankah kau menyebutku seperti itu?” sambungnya lagi.
Bryan memundurkan tubuhnya menjauhi Rachel dan masuk ke dalam mobilnya sedangkan Rachel masih terdiam kaku memikirkan kata demi kata yang baru saja di ucapkan Bryan.
Ya, selama ini ia terlalu menyepelekan Bryan. Ia selalu bertindak semaunya dan ia juga melupakan fakta bahwa pria yang selalu bersamanya kekasihnya itu adalah seorang Psychopath yang sudah membunuh banyak orang.
“Masuk” teriak Bryan dari dalam mobil.
Rachel yang tersadar pun dengan terburu-buru langsung masuk ke dalam mobil sesuai instruksi Bryan ia hanya tak ingin membuat kesalahan lagi yang bisa mengundang amarah Bryan, ia tak ingin membuat Bryan tambah marah kepadanya.
Bryan melajukan mobilnya dan di dalam mobil hanya ada keheningan, keduanya fokus dengan pikiran masing-masing.
“Lihatlah aku tidak merasakan cinta. Itu benar, aku tidak mencintainya...”
__ADS_1