
Di malam harinya Jennifer, Miller, Evan, Giska dan Vely terlihat sibuk dengan beberapa kegiatan, malam ini sesuai dengan keinginan Rachel mereka mengadakan barbeque party di rooftop hotel.
Acara malam ini tidak hanya ada mereka saja tapi juga ada beberapa orang asing yang juga menginap di hotel ini ikut meramaikan party mereka secara tak sengaja.
Karena rooftop hotel adalah tempat umum jadi siapa saja bebas kesana dan Jennifer dengan keramahannya mengajak semua orang yang datang kesana untuk ikut party mereka.
Rachel dan Bryan masih berada di kamar mereka setelah pulang berenang tadi Rachel benar-benar tidur begitu sampai di hotel dan ia telat bangun karena itu mereka terlambat bergabung. Bryan? Ia hanya mengikuti Rachel saja.
"Jangan berlebihan Rachel" ucap Bryan menghela nafasnya melihat Rachel berdandan.
"Berlebihan apa? Aku belum menggunakan apapun di wajahku" protes Rachel.
"Sudahlah.. yang lainnya menunggumu daritadi" ucap Bryan berjalan keluar dari kamar.
Rachel menghela nafasnya kasar, ia bangkit dari tempat duduknya menyusul Bryan yang tengah menunggunya di depan kamar. Ia tak keberatan keluar tanpa menggunakan riasan yang penting ia sudah menggunakan cream wajah dan lipstik agar bibirnya tak pucat.
"Ayo" ajak Rachel pada Bryan.
Bryan sedikit kaget setibanya di rooftop karena ada lumayan banyak orang asing yang tak ia kenal diantara orang tua dan teman-temannya itu.
"Apa ini?" gumam Bryan
"Woah! Ramai sekali, pasti menyenangkan" ucap Rachel gembira.
"Kau! Jangan genit" ucap Bryan menatap sinis Rachel.
"Hai sayang, kemarilah!" panggil Jennifer yang melihat kedatangan mereka.
Rachel meninggalkan Bryan yang masih mematung disana seorang diri dan berjalan menuju Jennifer. Begitu berada didekat Jennifer langsung memperkenalkan Rachel pada pengunjung lainnya sedangkan Bryan masih setia berdiri disana sembari memperhatikan gerak-gerik kekasihnya itu.
"Excuse me.." ucap seseorang yang berada dibelakang Bryan dan secara otomatis Bryan pun bergeser.
"What the f... berapa banyak yang mommy undang?" omel Bryan dalam hatinya.
Ini terlalu ramai dan ia tak menyukai hal ini, ada terlalu banyak orang yang datang ke acara mereka. Ini sedikit mengganggu jika harus berinteraksi dengan orang asing terlebih untuknya, ia saja belum sedekat itu dengan teman-teman Rachel ditambah lagi orang-orang asing ini. Sungguh merepotkan.
"Bryan kemarilah! Jangan cuma berdiri disana saja" panggil Jennifer.
"Yang itu Bryan, putra tampanku satu-satunya" ucap Jennifer bangga pada orang-orang yang ada didepannya.
"Oh wow.. anakmu benar-benar tampan" ucap seorang wanita muda.
Rachel menatap tak suka kearah wanita itu dengan wajah masamnya sedangkan Jennifer hanya tersenyum gemas melihat tingkah Rachel.
"Ya tentu.. dan gadis cantik ini adalah kekasihnya" ucap Jennifer lagi sembari merangkul pundak Rachel.
__ADS_1
"Wow.. kau beruntung sekali Rachel karena mendapatkan pria tampan itu" ucap wanita muda itu lagi.
"No.. no.. putraku yang beruntung karena mendapatkan gadis cantik ini" ucap Jennifer
"Dia calon menantuku" ucapnya lagi membuat Rachel tersipu malu.
Memang ini bukan pertama kalinya Jennifer menyebutnya sebagai calon menantunya tapi ini pertama kalinya Jennifer mengatakan itu kepada orang lain terlebih pada orang asing.
"Selamat yaa.. kau beruntung sekali Rachel" ucap wanita muda itu.
"Pria yang disana itu adalah calon suamiku, dia melamarku kemarin malam.. dia sangat romantis" ucap wanita itu lagi.
"Oh really? Congratulation!" ucap Jennifer kaget saat mengetahui hal itu.
"Thank you.. jika kami menikah aku harap kalian bisa datang ke pernikahan kami" ucap wanita itu.
"Of course dengan senang hati, kalian hanya perlu mengundang kami maka kami akan datang" ucap Jennifer ikut bahagia atas kebahagiaan yang dirasakan wanita itu.
Jennifer asik berbincang dengan wanita itu sedangkan Rachel secara perlahan menjauh dari sana, karena berdiam disana mendengar cerita romantis wanita itu hanya akan membuatnya merasa iri saja.
Rachel sadar akan batasan yang dibuat Bryan diantara mereka berdua, meskipun Jennifer koar-koar menyebutnya sebagai calon menantunya belum tentu Bryan berpikir sama dan semua keputusan ada pada Bryan.
Jujur, ia sedikitpun tidak meragukan kesetiaan Bryan tapi yang ia ragukan adalah tentang perasaan Bryan yang sebenarnya.
Bryan jarang bahkan hampir tidak pernah mengatakan isi hatinya pada Rachel bahkan untuk sekedar mengatakan I Love You saja bisa dihitung berapa kali Bryan mengatakannya dan itupun kebanyakan saat membalas ucapan Rachel atau saat dipaksa Rachel untuk mengatakannya.
"Apa yang kau lamunkan?" tanya Bryan mengejutkan Rachel.
"Ha? Apaa?" tanya Rachel
"Lihat tu.. telat dikit saja bakal gosong" ucap Bryan membalikkan daging yang sedang dipanggang Rachel.
"Oh.." dengan cepat Rachel ikut membalikkan daging tersebut.
"Ada yang perlu kubantu?" tawar Bryan
"Bawakan daging-daging itu ke sini dan piring bersih untuk daging ini" ucap Rachel dan Bryan pun melakukan apa yang diperintahkan.
Kini semuanya berada di tempat duduk mereka masing-masing dengan kesibukan masing-masing dan Rachel hampir tersedak saat mendengar ucapan Bryan yang tiba-tiba.
"Rachel, will you marry me?" tanya Bryan berbisik pelan bahkan hampir tak terdengar oleh Rachel.
"Apa? Kau mengatakan sesuatu?" tanya Rachel ingin memastikan pendengarannya karena ia tau Bryan sedang berbisik tapi ia tidak yakin dengan apa yang ia dengar.
"Tidak, bukan apa-apa" ucap Bryan lagi.
__ADS_1
Tidak hanya sekali dua kali mengatakan hal itu, Bryan bahkan melakukannya sebanyak empat kali dan Rachel masih sabar saat ditanya Bryan tetap mengatakan bukan apa-apa.
Hingga yang kelima kalinya kesabaran Rachel pun habis.
"Apa bryan? Apa?! Daritadi bisik-bisik gak jelas, udah ditanya malah bilangnya bukan apa-apa" ucap Rachel emosi dan itu mengalihkan perhatian semua orang.
"Hm? Kalian kenapa sayang? Jangan berantem" ucap Jennifer pada Bryan dan Rachel.
Sepasang kekasih itu hanya saling tatap-tatapan saja setelah ditegur oleh Jennifer sedangkan Evan yang berada di samping Bryan hanya diam menahan tawanya karena ia mendengar semua yang dibisikkan Bryan pada Rachel.
"Kau konyol sekali" bisik Evan pada Bryan sambil tertawa.
"Tutup mulutmu!" ucap Bryan menyikut perut sahabatnya itu bukannya kesal Evan justru kembali tertawa karen merasa berhasil mengganggu sahabatnya itu.
"Gila!" ucap Bryan tak ingin meladeni Evan lagi.
Kini Rachel, Vely dan Giska terlihat sedang asik berbincang bersama bahkan tak sekali dua tawa mereka terdengar menggelegar.
"Kau harus mencari jodoh disini, disini banyak sekali pria tampan" ucap Giska pada Vely.
"Itu benar.. pria disini tampangnya luar biasa" ucap Rachel tertawa tanpa ia sadari seseorang yang mendengar ucapannya itu menatap tajam kearahnya.
"Jangan menggodaku" ucap Vely
"Kami tidak menggoda mu.. lihatlah tampang mereka sangat luar biasa, kau harus mencari kekasih disini saja" ucap Giska lagi dan di angguki oleh Rachel setuju.
"Atau kau akan menyesal" sambung Rachel dan mereka kembali tertawa.
"Hentikan itu atau aku akan menggila" ucap Vely semakin mengundang tawa.
Perlahan pengunjung hotel yang bergabung dengan mereka pergi satu persatu meninggalkan mereka hingga yang tersisa hanya mereka-mereka saja.
"Hah lelahnya" ucap Jennifer menyandarkan tubuhnya dipundak suaminya.
"Jangan terlalu memaksakan dirimu" ucap Miller pada istrinya itu.
"Mommy dan daddymu romantis sekali" ucap Rachel pada Bryan, Bryan pun menoleh kearah ibu dan ayahnya itu
"Yang begitu kau sebut romantis?" tanya Bryan malah mendapat tatapan tajam dari Rachel.
"Kau tidak ada romantis-romanitsnya.. hari-hari ngajak berantem mulu" ucap Rachel sewot.
Bryan menghela nafasnya kasar dan selang berapa detik kemudian Bryan tiba-tiba menyandarkan kepala Rachel di pundaknya dan itu sontak membuat Rachel kaget dan langsung berdiri tegak.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Rachel menatap Bryan tak percaya, tak mengatakan apapun Bryan kembali menyandarkan kepala Rachel dipundaknya.
__ADS_1
"Biarkan seperti ini"