
Rachel memasuki ruang kelasnya setelah menyelesaikan acara makannya bersama Bryan, Rachel terdiam sejenak saat melihat kotak hadiah yang terhias cantik dan rapi berada di atas mejanya yang biasa ia tempati.
Terasa sedikit horor karena kebetulan saat ini di dalam kelas itu hanya ada dirinya, mungkin karena kelas pertama di batalkan mahasiswa lainnya pergi keluar dari kelas entah bagaimana bisa semuanya kebetulan tidak ada di kelas.
“Aaa...” teriak Rachel saat membuka kotak kado itu.
Secara refleks tangannya dengan cepat menjatuhkan kotak itu ke lantai, seperti sebelumnya yang ada di dalam lokernya itulah yang ada di dalam kotak hadiah tersebut bangkai tikus.
Rachel dengan segera mengambil kembali kotak kado tersebut dan membuangnya ia tidak ingin sampai membuat keributan dan kembali menjadi pusat perhatian orang-orang.
Dan tanpa Rachel sadari di balik celah pintu ruang kelasnya sepasang mata sedang memperhatikan gerak geriknya sedari tadi saat ia memasuki ruang kelas tadi.
Sedangkan di sisi lainnya di dalam ruang kelas tersebut terlihat sedang melangsungkan mata kuliah yang pertama namun di sana juga terlihat seorang pria yang hanya terdiam termenung di kursinya tidak memperhatikan dosennya yang berada di depan sana tengah menjelaskan materi kuliahnya, siapa lagi kalau bukan Bryan.
Bryan mengeluarkan ponsel dari saku celananya dan mengetikkan sesuatu.
‘drreettt’
Evan yang juga berada di kelas yang sama dengan Bryan mengeluarkan ponselnya yang tiba-tiba bergetar. Dan ia terlihat bingung melihat nama yang tertera di ponselnya Bryan tiba-tiba mengirim pesan kepadanya.
[Bryan...] – “Cari tahu pelakunya, sekarang”
Evan menatap Bryan yang kini juga tengah menatapnya seperti menanti jawaban dari Evan. Ia pun menganggukkan kepalanya yang juga di balas anggukan oleh Bryan.
__ADS_1
Ia tidak tahu pasti apa yang sudah terjadi sebelumnya namun sepertinya itu masalah yang cukup serius sampai-sampai Bryan meminta bantuannya.
Evan dan Bryan berdiri dari tempat duduknya secara bersamaan dan tentu saja itu menjadi pusat perhatian mahasiswa lainnya yang sedang fokus mendengarkan penjelasan materi yang di berikan dosen mereka.
Dan lebih parahnya mereka berdua keluar begitu saja tanpa meminta izin terlebih dahulu kepada dosen yang mengajar di kelas mereka dan sang dosen pun hanya bisa menggelengkan kepalanya tak menegur keduanya karena itu hanya akan menyulitkan dirinya nantinya karena Bryan adalah anak dari pemilik kampus tersebut.
...****************...
Gadis itu menatap cermin kamar mandi yang ada di hadapannya dengan tatapan yang sulit di artikan. Perempuan yang pernah mengisi hati Bryan itu tiba-tiba mengepalkan tangannya menggeram marah.
“Arghhh...” Emma berteriak keras di sana. Jujur saja ia sangat marah bercampur kesal sekarang ini.
“Hanya itu?” ucap seseorang di belakangnya dengan tajam.
Awalnya Emma sedikit terkejut mendengarkan suara menyeramkan itu sontak ia pun langsung memutar balik badannya. Tatapannya langsung berbinar saat melihat orang yang segera akan kembali menjadi miliknya itu berdiri di belakangnya, jujur saja ia sedikit tak percaya melihat Bryan yang datang menghampirinya.
Ia langsung menghampiri Bryan dan memeluknya erat sedangkan Bryan hanya berdiri diam tak berniat sedikit pun untuk membalas pelukannya.
Bryan mendorong kasar tubuh Emma hingga membuat Emma hampir terjungkal ke belakang “What Happen, Bryan?”
“Ck, kau sungguh tak tau malu. Apa urat malumu sudah pada putus?” cibir Bryan sinis.
“Honey” Emma menatap tak percaya Bryan yang sekarang, yang sepenuhnya sudah berubah.
__ADS_1
“Jangan ganggu Rachel” ucap Bryan penuh penekanan di setiap katanya.
“Rachel siapa itu?” tanya Emma.
“Jangan berlagak bodoh. Video itu kau yang menyebarnya bukan? Lalu kau juga menerornya dengan bangkai-bangkai tikus sialan itu, apa kau tau caramu itu sangat kampungan sangat sangat menggelikan dan menjijikan terlihat seperti kau”
“Apa yang kau maksud honey, aku sama sekali gak ngerti yang sekarang kamu bicarakan” ucap Emma menatap Bryan dengan wajah kebingungannya.
“Hah, sangat menyedihkan” ucap Bryan yang membuat Emma menatap tajam ke arahnya.
Matanya memerah begitu pula dengan wajahnya yang memerah akibat amarah yang menumpuk “Iya aku yang melakukannya itu semua, lalu kau mau apa ha?” pekik Emma dengan lantangnya.
Bryan mendekati Emma dengan tatapan tajam jangan lupakan seringaian menyeramkannya itu. Bryan meraih dagu Emma dan mencengkeramnya dengan kuat sehingga membuat gadis itu meringis kesakitan.
“Kau serius bertanya apa yang aku mau?” ucap Bryan tertawa, bahkan tawanya terdengar sangat menyeramkan.
“Aku bahkan bisa melakukan sesuatu yang tidak pernah bisa kau bayangkan” ucap Bryan tajam lalu menghempas kasar cengkeramannya.
Emma menatap Bryan dengan air mata yang kini sudah tumpah sepenuhnya “Aku melakukan semua ini karena aku ingin kau kembali. Kembali bersamaku dan kembali menjadi Bryan yang sebelumnya” ucap Emma terhenti, ia menarik nafasnya sebelum akhirnya melanjutkan ucapannya.
“Bukan Bryan yang sekarang ini. Kau berubah menjadi Bryan yang sangat kasar setelah mengenalnya, aku hanya ingin semua ya kembali seperti semula” ucap Emma dengan tatapan memohon.
“Kembali? Apa perlu aku ingatkan kembali apa yang dulu pernah kau lakukan?” sindir Bryan.
__ADS_1
“Sekali lagi aku ingatkan, jangan pernah mengganggu Rachel lagi. Ini peringatan terakhir dariku, lakukan saja jika kau berani maka saat itu aku tak akan segan-segan terhadapmu”.
Setelah mengatakan hal yang ingin ia katakan, Bryan berlalu pergi meninggalkan Emma tanpa memperdulikan Emma yang masih menangis berderai air mata.