Stuck With Psychopath

Stuck With Psychopath
Episode 63


__ADS_3

Dua belas jam yang lalu...


drtt drttt drttt...


Bryan meraih ponselnya yang bergetar itu, di layarnya tertera nomor asing yang tak tersimpan di ponselnya tapi tanpa ragu ia menggeser tombol jawab menerima panggilan tersebut.


"Siapa ini?" tanya Bryan langsung saat menerima panggilan itu.


"Wah kau masih saja kasar seperti biasanya" ucap seseorang diseberang sana berdecak kesal mendengar ucapan Bryan itu.


"Oh wait... Ini siapa? Kau tidak menyimpan nomorku? Kau kejam sekali" ucapnya lagi.


"Ada perlu apa?" tanya Bryan.


Bryan menghela nafasnya kasar karena kini ia sudah mengenali siapa pria cerewet yang sedang menghubunginya ini, pria yang sama cerewetnya dengan Evan.


"Tidak.. katakan dulu kau beneran tidak menyimpan nomorku di ponselmu?" tanya pria bernama Ryan itu kekeh.


"Aku mengganti ponselku, katakan ada perlu apa?" tanya Bryan lagi.


"Aku sedang bermain disini, ayo bertemu aku akan mengajak yang lainnya juga. Aku mendengar banyak hal tentang mainan barumu, bawalah dia mal ini ke tempat biasa" ucap Ryan lagi.


"Baiklah" ucap Bryan singkat


"Wah akhirnya setelah sekian lama.. aku sangat merindukan kal-"


Belum sempat Ryan menyelesaikan ucapannya dengan tidak sopan Bryan terlebih dulu mengakhiri panggilan itu secara sepihak, sudah pasti saat itu juga Ryan mengumpatnya habis-habisan.


Ryan adalah sahabat baik Bryan selain Evan namun mereka jarang berkumpul bersama karena setelah tamat sekolah menengah Ryan pindah ke Austria ikut kedua orang tuanya.


Bryan dan Ryan jika berjalan beriringan akan di kira sebagai anak kembar karena ketampanan mereka berdua benar-benar luar biasa. Di pertemanan mereka drajat Bryan dan Ryan dalam hal ketampanan berada di garis yang sama, Evan juga tampan tapi tidak setampan Bryan dan Ryan.


**Tingg.. satu jam setelahnya Bryan kembali mendapat sebuah pesan.


[Evan] - Kemarilah! Ryan ada di tempatku, jangan lupa bawakan kami makanan.


"Dasar pria-pria miskin!" ucap Bryan berdecak kesal setelah membaca pesan itu.

__ADS_1


Setibanya di tempat Evan hanya Ryan yang menyambut hangat kedatangannya mungkin karena mereka sudah lama tidak bertemu sedangkan Evan bukan menyambutnya ia malah bersorak gembira menyambut makanan yang dibawa Bryan.


"Woah! McDonalds" seru Evan loncat dari kursinya menyambar kotak makanan yang ada ditangan Bryan.


"Kemana dia?" tanya Bryan menunjuk ke arah Ryan yang tiba-tiba berlari pergi dari sana.


"Paling ke kamar mandi" ucap Evan bergumam karena kini mulutnya dipenuhi dengan burger dan ayam goreng.


Bryan hanya menggelengkan kepalanya melihat kelakukan sahabatnya itu, ia mendudukkan dirinya di samping Evan dan tak lama kemudian Ryan bergabung dengan mereka.


"Apa yang kau lakukan disini?" tanya Bryan pada Ryan yang juga duduk di samping kanan Evan.


"Apa itu? Kau tidak senang melihatku? Come on Bryan! Kau kejam sekali padahal kita sudah lama tidak bertemu" ucap Ryan kesal.


"Tidak ada urusan penting disini?" tanya Bryan lagi tak memperdulikan ucapan sahabatnya itu, Ryan hanya menggelengkan kepalanya lalu bergabung dengan Evan menikmati makanan yang dibawa Bryan.


Tidak ada hal yang spesial terjadi disana kedua sahabatnya itu hanya sibuk mengenang masa lalu mereka sedangkan Bryan hanya diam mendengarkan kedua sahabatnya itu bernostalgia dan tersenyum saat Ryan dan Evan tertawa, ia hanya bereaksi seperlunya saja.


Kedua sahabatnya itu tidak terlalu heran karena dari dulu Bryan memang seperti itu.


"Jadi siapa nama mainan mu itu? Bagaimana orangnya apa dia cantik?" tanya Ryan, akhirnya mereka tiba di pembahasan ini.


"Rachel" jawab Bryan singkat.


"Rachel? Apa yang kau maksud Rachel yang kukenal? Kenapa Rachel jadi mainan?" tanya Evan masih tak mengerti.


"Nilai saja sendiri" ucap Bryan.


"Woooo apa kau membawanya malam ini?" tanya Ryan lagi dan Bryan hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban sedangkan Evan hanya menatap keduanya bingung.


"Kenapa Rachel jadi mainan mu?" tanya Evan kemudian menepuk kedua paha temannya itu saat menyadari sesuatu.


"Ow.. apa yang kau lakukan?" ucap Ryan meringis kesakitan karena tepukan Evan sangat keras.


"Kau mempermainkan Rachel? Kau serius Bryan?" tanya Evan memasang wajah serius.


Bryan hanya diam tak menjawab pertanyaan Evan ia hanya sibuk dengan ponselnya.

__ADS_1


"Kau kejam sekali.. Katakan jika itu tidak benar atau aku akan memberitahu Rachel semuanya?" ucap Evan lagi dan ia mendapatkan tatapan tajam dari Bryan.


"Jangan bersikap bodoh!" ucap Bryan.


"Kau yang bodoh! Siapapun bakal tau kalau disini kau yang bodoh" bentak Evan karena ia tidak habis pikir dengan kelakuan kedua sahabatnya itu.


Evan sangat emosi mengetahui itu semua karena selama ini yang ia tau Bryan tulus mencintai Rachel, mau dilihat darimana pun siapapun bakal berpikir bahwa Bryan tulus kepada Rachel karena perlakuan Bryan kepada Rachel itu berbeda.


"Katakan! Apa kau benar-benar hanya mempermainkan Rachel?" tanya Evan lagi.


"Tutup mulut bodohmu itu! Kau terlalu berisik" bentak Bryan.


Ia bingung kenapa ia tidak bisa menjawab pertanyaan Evan seharusnya ia tinggal menjawab Ya saja tapi mulutnya enggan untuk berucap.


"Apa yang sebenarnya ada di pikiranmu? Jika kau cuma mempermainkannya kenapa kau bersikap khawatir berlebihan seperti itu? wah kau benar-benar pintar akting" ucap Evan


"Kau bahkan marah saat ada orang lain yang mengatainya padahal kau selalu mengutamakan Rachel tapi apa, kau hanya mempermainkannya?" ucapnya lagi Bryan hanya menghela nafasnya kasar mendengar ucapan Evan itu.


"Siapa? Dia?" tanya Ryan menunjuk ke arah Bryan


"Dia mengkhawatirkan orang lain? sejak kapan? Sebenarnya Rachel itu mainanmu atau kekasihmu?" tanya Ryan lagi.


"Kalian berdua hentikan" ucap Bryan bersikap tenang namun detik berikutnya saat mendengar ucapan Evan membuatnya menjadi marah.


"Jika kau cuma mempermainkannya lebih baik hentikan itu sekarang, biar aku yang menggantikan posisimu" ucap Evan.


Sebenarnya ia sengaja mengatakan hal itu untuk melihat reaksi Bryan saat mendengarnya mengatakan hal itu karena selama ini Bryan selalu melarangnya untuk mendekati Rachel bahkan sekedar berbincang dengan Rachel pun ia tidak mengizinkan jika tidak ada kepentingan.


Dan benar saja karena kini Bryan hampir melayangkan pukulannya yang ditahan oleh Ryan.


"Jangan pernah mengatakan kalau Rachel cuma mainanmu, jika dia mendengarnya kau akan kehilangan Rachel untuk selamnya" ucap Evan menyentak tangan Bryan dari kerahnya..


Suasana jadi tegang hingga akhirnya Ryan mencairkan kembali suasana.


"Eyyy kau menyukainya kan? Jangan malu-malu gitu" tanyanya merangkul pundak Bryan lalu menertawai temannya itu.


"Yah sayang sekali.. sepertinya aku tidak bisa menggoda Rachel" ucap Ryan yang kini berada ditengah kedua temannya itu.

__ADS_1


"Jangan macam-macam!"


Hanya itu yang keluar dari mulut Bryan setelah itu ia cuma diam mendengarkan kedua sahabatnya itu berbincang-bincang sambil memikirkan apakah dia benar-benar menyukai Rachel?


__ADS_2