
Sesuai perintah yang Jennifer berikan kemarin, hari ini Rachel benar-benar menikmati waktu liburnya karena besok ia sudah harus kembali berkuliah. Ia harus menyiapkan mental dan kupingnya karena rumor itu tidak mungkin hilang begitu saja dan mungkin akan bertambah banyak rumor miring lain tentangnya.
"Woah ini cantik sekali.." ucap Rachel lalu melihat label harga di kalung aksesoris itu dan dengan cepat ia melepaskannya.
"Yang benar saja masa semahal itu" ucap Rachel kemudian beranjak dari sana untuk melihat aksesoris yang lainnya.
Rachel tidak bisa membiarkan aksesoris cantik dan murah bergantungan di tempatnya saja, ia mengambil beberapa untuk dibeli.
"Setelah ini aku ingin membeli pakaian, sudah lama aku tidak beli baju" ucap Rachel setelah keluar dari toko aksesoris itu.
Rachel tidak berbelanja di Mall, ia berbelanja di pasar raya karena uangnya jelas tidak akan cukup untuk membeli barang-barang yang ada di Mall. Ia berbelanja menyesuaikan isi dompetnya.
Begitu sampai di toko pakaian ada beberapa baju yang menarik perhatiannya dan ia tidak bisa melepaskan pandangannya dari baju tersebut tapi ia tidak yakin untuk membeli dan mengenakannya karena terakhir kali menggunakan pakaian seperti itu ia dikatai jala*g oleh cowok-cowok di kampus.
"Sayang sekali" ucap Rachel lirih sembari menghela nafasnya kasar.
Pakaian seperti itu sangat cocok untuknya tapi sayang sekali ia takut untuk menggunakannya.
Setelah berkeliling toko tersebut Rachel mendapat beberapa baju di tangannya namun ia kembali lagi ke patung yang mengenakan baju yang ia inginkan.
"Can i?" tanya Rachel pelan pada dirinya sendiri.
Rachel cukup lama terdiam disana memikirkan untuk membelinya atau tidak pada akhirnya ia menyerah terhadap keinginannya itu, ia berjalan menuju kasir untuk membayar baju yang ada ditangannya.
Setelah menyelesaikan pembayaran bukannya langsung keluar dari toko tersebut Rachel justru kembali berdiam diri di depan baju tersebut.
"Permisi, apa aku boleh mencoba baju ini?" tanya Rachel pada petugas toko tersebut.
"Sure"
Petugas toko tersebut membantu Rachel mengambil pakaian dari patungnya dan membiarkan Rachel untuk mencoba pakaian itu.
"Apa baju itu cantik? Sampai segitu menginginkannya" ucap seseorang yang sedang memperhatikan Rachel dari dalam mobilnya.
Setelah beberapa saat Rachel terlihat keluar dari ruang ganti, ia memberikan kembali baju yang sangat ia inginkan itu pada petugas toko.
"Maaf ini, terima kasih" ucap Rachel memberikan baju tersebut dengan sungkan dan setelahnya ia pun keluar dari toko tersebut.
Rachel menghela nafasnya kasar, sejujurnya baju itu sangat cocok dengannya karena style seperti itu memang selalu cocok untuknya. Tapi balik lagi jika ia tiba-tiba menggunakan pakaian seperti itu maka orang-orang akan berpikiran buruk tentangnya.
"Sayang sekali" ucap Rachel keluar dari toko tersebut dengan wajah ditekuk.
Seseorang yang tadi berada di mobil memperhatikannya pun turun dari mobilnya menghampiri Rachel yang berjalan belum jauh dari toko tersebut dan menariknya masuk ke dalam toko itu lagi.
__ADS_1
"Hey! Hey lepasin!" ucap Rachel kaget karena tangannya tiba-tiba di tarik.
"Bryan?" ucapnya lagi saat melihat siapa orang yang menariknya.
Bryan melepaskan tangan Rachel dari genggamannya, mengambil pakaian yang sangat Rachel inginkan tadi dari petugas toko tersebut karena kebetulan baju itu belum di pajang kembali.
"Tolong bungkus ini" ucap Bryan pada kasir toko itu.
"Hey, apa yang kau lakukan? Kenapa membelinya, untuk apa?" tanya Rachel.
"Untukmu" ucap Bryan singkat
"Tidak perlu, pakaian itu tidak cocok denganku" tolak Rachel.
"Terima kasih" ucap Bryan pada kasir tersebut saat ia sudah menyelesaikan pembayaran.
"Bryan, itu tidak perlu. Sayang kalau dibeli tapi gak dipake" ucap Rachel saat Bryan memberikan kantong berisi pakaian tersebut.
"Mau kemana lagi?" tanya Bryan berjalan keluar dari toko tersebut menuju mobilnya diikuti oleh Rachel dibelakangnya.
Rachel dan Bryan duduk di kursinya masing-masing tanpa banyak basa-basi Bryan menjalankan mobilnya.
"T-terima kasih" ucap Rachel sembari memeluk kantong berisi barang belanjaannya dan Bryan hanya diam menatap ke arahnya.
"Ayo makan dulu" ajak Bryan dan Rachel hanya mengangguk membuntuti Bryan.
Mereka memasuki restoran itu, mencari tempat duduk lalu memesan makanan mereka dan kini mereka hanya tinggal menunggu makanan mereka datang.
"Apa aku boleh mengenakan baju itu besok?" tanya Rachel terlihat ragu.
"Baju apa?" tanya Bryan yang bahkan tak melirik ke arahnya.
"Baju yang kau belikan tadi" ucap Rachel lagi barulah Bryan melihatnya.
"Kenakan saja" ucap Bryan tak mempermasalahkan itu.
"T-terima kasih" ucap Rachel membuat Bryan berdecak kesal.
"Ck.. kau tidak perlu berterima kasih. Terserah kau ingin menggunakan pakaian apa saja" ucap Bryan.
Pembicaraan mereka terhenti saat makanan mereka datang.
"Makan dulu.. seharian jalan-jalan tapi kau tidak makan sedikitpun" ucap Bryan mendapat tatapan penuh curiga dari Rachel.
__ADS_1
"Darimana kau bisa tau?" tanya Rachel namun Bryan hanya diam tak menjawab.
"Kau mengikutiku?" tanya Rachel kaget.
"Mommy menyuruhku untuk pergi denganmu tapi kau tak mengajakku, jadi aku mengikutimu saja" ucap Bryan jujur membuat Rachel membulatkan matanya tak percaya.
"Kenapa tidak katakan daritadi? Kalau gitukan aku bisa menghemat ongkos taksi" ucap Rachel cemberut.
"Ini jauh lebih bagus daripada dinggap sopir taksi" ucap Bryan sinis bisa-bisanya Rachel menyamakannya dengan taksi.
"Apa kau tau ongkos taksi itu mahal sekali apalagi rumahmu sangat jauh, rumahmu jelek lokasinya tidak strategis" ledek Rachel.
"Siapa suruh kau berbelanja di toko-toko jelek itu, kau kan bisa ke mall yang tak jauh dari rumah saja" ucap Bryan tak mau kalah.
"Di mall itu bahannya jelek-jelek" ucap Rachel sambil menyuap makanannya.
"Alah.. bilang saja uangmu tidak cukup kalau berbelanja disana" ledek Bryan.
Rachel menahan malunya karena yang diucapkan Bryan itu semua benar, ia pun memilih diam agar tak dibuat malu lebih banyak lagi.
"Kau berisik! Makan saja makananmu" ucap Rachel tiba-tiba jadi kesal.
"Kau lucu sekali" ucap Bryan spontan sambil tertawa pelan.
Mereka memakan makanan mereka dengan lahap terutama Rachel, ia menghabiskan makanannya tanpa tersisa sedikitpun sedangkan Bryan tak menghabiskan makanannya.
"Biar aku saja yang bayar" ucap Rachel mengajukan diri untuk membayar makanan mereka.
"Tidak perlu" tolak Bryan tapi Rachel kekeh ingin membayar dan Bryan pun membiarkannya.
Mereka memanggil pelayan restoran tersebut untuk meminta bil, Bryan membiarkan Rachel seketika ia tersenyum saat melihat kekasihnya itu kaget dengan kertas yang ada ditangannya.
"Ekhm.. karena kau pria, jadi kau yang harus membayarnya" ucap Rachel malu sembari menyodorkan bil itu kepada Bryan.
Bukan uangnya tidak cukup tapi jika ia membayar makanan tersebut maka ia tidak punya uang lagi untuk seminggu ke depan sampai ia dapat job pemotretan lagi.
Bryan menahan tawanya melihat Rachel yang jadi salang tingkah dan Bryan membayar bil tersebut tanpa banyak bicara.
Diperjalanan mereka berbincang-bincang mengenai kasus yang tiba-tiba tersebar dan menyulitkan Rachel, itu semua rumor tak berdasar dan disebarkan oleh salah seorang siswi yang tak suka dengan kedekatan Rachel dan Evan.
Bisa dibilang rumor itu dibuat dan disebar karena wanita yang cemburu dengan kedekatan Rachel dan Evan. Jennifer tak memperpanjang masalah itu dan memaafkan wanita itu semua ini terjadi karena kesalahpahaman.
Tidak hanya Jennifer, Rachel juga berpikiran sama. Ia juga tidak ingin sampai wanita itu dikeluarkan dari kampus karena dirinya terlebih rumor itu sudah terbukti tidak benar, maka sudah tidak ada masalah lagi untuknya.
__ADS_1