Stuck With Psychopath

Stuck With Psychopath
Episode 68


__ADS_3

Setelah berkeliling club mencari dan menanyakan pada hampir semua orang yang ada disana akhirnya Bryan menemukan titik terang tentang keberadaan Rachel.


Seorang pelayan pria di club itu mengatakan bahwa ia diberi uang oleh seorang wanita untuk mengantarkan minuman yang telah dicampurkan sesuatu oleh wanita itu yang sepertinya itu adalah obat tidur.


Pelayan pria itu juga mengatakan jika wanita yang memberinya uang itu adalah pelanggan tetap di club ini, mendengar itu Bryan sudah dapat menebak siapa dalang dari hilangnya Rachel yang ada di dalam pikirannya saat ini hanya ada satu nama yang tak lain tak bukan adalah Emma.


Ia hanya perlu menemukan Emma, jika menemukan wanita itu maka ia akan segera menemukan Rachel. Jujur saja ia sangat takut, takut jika semua ini berhubungan dengan pria yang dulu pernah menculiknya terlebih seperti yang dikatakan Evan sebelumnya Emma adalah anak dari pria itu.


Kini Bryan, Evan, Ryan serta Cathy berkumpul kembali dan hasilnya tetap sama, Bryan hanya diam kalut dengan pikirannya ia takut jika semua ini benar ada hubungannya dengan pria yang pernah menculiknya itu.


"Bagaimana, apa kalian menemukan sesuatu?" tanya Evan, Ryan hanya menggelengkan kepalanya saja.


"Kau kenapa?" tanya Evan pada Cathy yang terlihat sangat kesal hingga Bryan pun mengalihkan perhatiannya pada Cathy.


"Wanita sial*n itu memakiku padahal dia yang menabrak aku malah dia yang marah sampai mengataiku mandul" ucap Cathy penuh emosi, Ryan terheran karena kekasihnya itu tidak mengatakan hal itu kepadanya.


"Siapa? Siapa yang mengataimu seperti itu? Katakan yang mana orangnya, dasar jala*g tak tau diri!" maki Ryan.


"Siapa lagi kalau bukan Emma si jala*g itu" ucap Cathy, ia benar-benar kesal dikatai seperti itu.


"Emma? Apa Emma yang kukenal?" tanya Bryan dah Cathy hanya menganggukkan kepalanya.


"Ya! Emma sial*n itu" ucapnya.


"Dimana kau bertemu dengannya? Kemana sekarang dia?" tanya Bryan lagi.


"Hey, ada apa denganmu kenapa malah bertanya tentang jala*g itu?" tanya Evan kesal bisa-bisanya saat semua sibuk mencari Rachel, Bryan malah ingin mencari mantan kekasihnya itu.


"Bukan dia yang penting saat ini, apa kau tidak mengkhawatirkan Rachel hah?!" bentak Evan dan Bryan hanya berdecak kesal mendengar itu.


"Ini semua ulah Emma, dia menculik Rachel" ucap Bryan sukses membuat teman-temannya itu kaget bukan main.


"Apa maksudmu? Darimana kau tau kalau semua ini perbuatan Emma?" tanya Evan lagi.


"Itu tidak penting sekarang. Cepat katakan dimana kau bertemu dengannya?" tanya Bryan lagi pada Cathy.

__ADS_1


"Aku bertemunya disana, sepertinya dia mau ke toilet, tapi dia terlihat berantakan" ucap Cathy.


Sebenarnya ia tidaj yakin dengan ucapan Bryan itu jika Emma dalang dari semua ini karena wanita itu terlihat sangat berantakan seperti habis bermain dengan pria bahkan baju wanita itu sobek di bagian-bagian intim.


Bryan tak memperdulikan banyaknya wanita yang berada di depan dan didalam toilet tersebut, ia menerobos masuk tanpa memperdulikan teriakan para wanita disana, tujuannya sekarang hanya satu yaitu menemukan Emma secepatnya.


"Emma dimana kau?!" tanya Bryan penuh emosi. ia membuka semua toilet.


Ia melihat semua wanita yang ada disana tapi tidak ada yang ja kenal semua wanita asing untuknya.


Bryan mencoba membuka bilik pertama tapi itu terkunci dan Bryan pun menggedor kencang pintu itu hingga wanita yang ada dibalik pintu itu keluar namun itu bukan Emma, bilik kedua dan keempat kosong namun bilik ketiga juga terkunci.


"Buka pintunya Emma! Aku tau kau di dalam, buka atau aku akan mendobraknya!" bentak Bryan.


Para wanita yang ada di dalam sana pun berteriak berlarian keluar saat Bryan mencoba mendobrak pintu bilik ketiga.


"Kemana kau membawanya?! Dimana Rachel!" teriaknya lagi.


"Buka pintunya selagi aku bicara baik-baik padamu?! Jika aku mendobrak pintu ini maka hidupmu akan selesai saat itu juga!" ancam Bryan lagi.


"Apa? Kau mau apa?" tanya Emma lirih namun ia tetap menatap tajam ke arah Bryan.


"Dimana Rachel?!" tanya Bryan menggeram.


"Aku tidak tau mungkin dia sudah mati atau mungkin mereka sedang bersenang-senang" ucap Emma.


Bryan sedikit pun tak merasa iba melihat keadaan Emma saat ini dan ia pun tak berpikir aneh-aneh tentang itu karena keadaan seperti ini hal yang wajar untuk seorang ******.


"Jangan main-main denganku! Katakan dimana Rachel atau aku akan membunuhmu" bentaknya mencengkram erat dagu Emma.


"Itu lebih baik" ucap Emma lirih membuat Bryan mengerutkan keningnya.


"Mati di tanganmu lebih baik daripada aku mati ditangannya" ucap Emma lagi


"Katakan dimana Rachel!" bentak Bryan lagi.

__ADS_1


"Apa kau tau papaku adalah pria yang paling kau benci, pria yang pernah menculikmu. Mungkin sekarang papa sedang bersamanya" ucap Emma tak menjawab pertanyaan Bryan.


"Aku punya satu permintaan, apa kau bisa mengabulkannya? Aku akan mengatakannya tapi kau harus dengarkan permintaanku" tanya Emma menatap lirih Bryan.


"Baiklah, sekarang katakan dimana Rachel?" ucap Bryan menyetujui permintaan Emma tanpa pikir panjang.


"Kau yakin akan menuruti permintaanku? Kau mungkin tidak bisa berkencan dengan Rachel lagi" ucap Emma


"Katakan dimana Rachel?" tanya Bryan tak memperdulikan ucapan Emma.


"Pertama-tama tolong beri aku baju, aku akan mengantarmu kesana" ucap Emma namun ditolak oleh Bryan.


"Katakan saja, aku akan kesana nanti aku akan minta tolong Cathy membawakan baju untukmu" ucap Bryan.


"Pergilah ke ruang bawah tanah, saat kau melihat pintu kecil masuklah kesana. Didepan lift kau akan bertemu seseorang, tempat itu hanya bisa dimasuki papa dan aku jadi katakan saja kau kekasihku" ucap Emma


Emma menahan tangan Bryan saat pria itu ingin pergi dari sana.


"Ingat tepati janjimu" ucap Emma lalu melepaskan tangan Bryan.


Tanpa membuang banyak waktu lagi Bryan pun berlari menuju tempat yang dikatakan oleh Emma dan benar saja saat keluar dari lift ada seorang pria berbadan besar yang menahannya.


Bryan mengatakan seperti apa yang disuruh Emma tadi dan ia pun diperbolehkan masuk ke sana, ia kaget saat melihat banyak pria dan wanita sedang berhubungan badan disana.


Benar-benar kumpulan manusia-manusia menjijikkan padahal ada kamar disana tapi mereka malah dengan sengaja berhubungan depan pintu kamar dan sebagian berada di kursi mereka bahkan ada yang berhubungan di atas meja.


Bryan terus melangkahkan kakinya hingga akhirnya ia berada didepan pintu kecil diantara kamar-kamar lainnya mungkin bisa dibilang lebih terlihat seperti gudang.


Ia tidak mendengarkan keributan atau teriakan dari dalam sana saat ia mencoba menguping. ia pun mencoba membuka pintu itu dan untungnya itu tidak terkunci.


Ia melangkahkan kakinya ragu takut jika didalam sana ada semacam jebakan, ia hampir terjatuh dan tangannya secara tidak sengaja menekan tombol saklar sehingga membuat lampu di ruangan tersebut hidup.


Betapa kagetnya ia saat melihat pemandangan yang ada didepannya, pria yang sangat ia benci tengah menyiksa kekasihnya yang terikat di kursi dan wanitanya itu sedang menangis tanpa memperdulikan hal lain lagi Bryan langsung melayangkan pukulannya ke arah pria tua itu.


Dan terjadilah perkelahian di antara keduanya .

__ADS_1


__ADS_2