Stuck With Psychopath

Stuck With Psychopath
Episode 25


__ADS_3

Sesaat setelah memasuki kawasan itu agak jauh mobil yang mereka berdua kendarai tiba-tiba berhenti, Bryan membuat itu seolah-olah mobilnya sedang mogok dan ia pun meminta Vallerie untuk turun dari mobilnya.


“Argh sialan” maki Vallerie saat di minta turun oleh Bryan.


“Kenapa harus mogok di tempat seperti ini sih” sambungnya kesal melirik ke kiri dan kanannya yang sepi tidak berpenghuni.


“Entahlah” ucap Bryan sambil berjalan mendekati Vallerie dan Vallerie hanya menatap kesal ke arah Bryan hingga kini Bryan berada di hadapannya.


“Bukankah ini jauh lebih baik?” tanya Bryan menyunggingkan senyum miringnya sembari meletakkan kedua tangan Vallerie di pinggangnya.


Dan saat itu juga raut wajah Vallerie yang tadinya di penuhi kekesalan berubah menjadi kembali ceria dan terlihat tersenyum malu dan ia pun mengalungkan tangannya ke leher Bryan tanpa permisi.


Karena posisi mereka yang sangat memungkinkan untuk saling bercumbu Vallerie pun mendekatkan wajahnya ke wajah Bryan lalu menautkan bibirnya ke bibir Bryan.


Karena tidak mendapat penolakan dari Bryan Vallerie pun ******* bibir itu, berbeda dari yang di pikirkan Bryan justru membalas ******* itu hingga terjadi ciuman panas di antara keduanya.


Vallerie melepaskan tautan bibirnya dari ciuman panas itu karena merasa sesak kehabisan nafas saat ia kembali ingin menautkan bibirnya Bryan justru menghentikan aksinya.


“Tutup matamu” perintah Bryan


“Aku punya sesuatu untukmu, tunggu di sini sebentar saja” ucap Bryan mengusap bibir Vallerie.


Sontak saja perlakuan lembut Bryan itu membuat Vallerie menjadi lebih bersemangat dan mengikuti perintah Bryan. Bryan melangkahkan kakinya menuju mobilnya ia mengambil pisaunya di box dan ia juga mengambil pakaian hitamnya di bagasi mobil


Setelahnya Bryan kembali berjalan mendekati Vallerie “Sayang” panggil Bryan dengan lembut tepat di telinga Vallerie dengan deep voicenya yang membuat Vallerie meremang.


“Sekarang buka matamu sayang” perintah Bryan namun saat Vallerie memalingkan tubuhnya di detik itu juga Bryan menekan kuat pundak Vallerie.


“Apa kau ingat tempat ini? Bukankah aku mencari tempat yang sangat tepat?” tanya Bryan menyeringai lalu menempelkan pisau di pipi Vallerie.


“Bry-Bryan” lidah Vallerie terasa kelu ia tak menyangka dengan apa yang kini Bryan lakukan terhadapnya.


Dengan bangganya Bryan menyeringai semakin lebar ia sangat menikmati wajah ketakutan dari wanitanya yang sebelumnya terus-terus menertawainya itu.


‘Crusss’ Bryan menancapkan pisaunya di pipi kiri Vallerie.


“Arghh” teriak Vallerie kesakitan saat Bryan menusuknya, darah segar mengucur lewat pipinya.


“Apa itu sakit ha?” tanya Bryan dengan raut wajah bahagianya.


“K-kau akan menyesali ini” ancam Vallerie


“Oh, apa ini tidak cukup untuk membuatmu kesakitan?” tanya Bryan mengabaikan ancaman Vallerie.


Vallerie hanya menggeleng pelan dengan tatapan memohon tetapi hal itu tidak sedikit pun menggerakkan hati Bryan untuk merenungkan niat awalnya.


‘Sraakkk’


Bryan menusuk pipi kanan Vallerie dan menarik pisau itu hingga ke sudut bibirnya, dan Bryan tersenyum puas saat melihat Vallerie diam tak berdaya di hadapannya.

__ADS_1


“Kau harus segera menyusul bar tender sialan itu” ucap Bryan tepat di telinga Vallerie dengan sedikit berbisik.


Sraakkk ...


Bryan melakukan hal yang sama pada pipi Vallerie yang satunya yang membuat darah segar mengucur deras memenuhi rahang Vallerie hingga tubuhnya.


Tak hanya sampai di situ saja kekejian yang di lakukan Bryan terhadap Vallerie ia juga menusuk perut Vallerie berkali-kali meluapkan semua kemarahannya atas apa yang sudah di perbuat Vallerie terhadap Rachel dan keberanian Vallerie yang mengancam dan menertawainya.


Nafas Vallerie yang sudah hampir hilang itu kini benar-benar sudah berhenti saat Bryan kembali menancapkan pisaunya pada bagian leher Vallerie sebanyak lima kali dengan sangat brutal.


Bryan tersenyum puas melihat mayat Vallerie yang kini terkapar bersimbah darah setelah merasa puas memandangi hasil karyanya itu Bryan langsung membersihkan tempat kejadian dan barang bukti dengan sangat bersih dan rapi tanpa ada yang tertinggal dan jejak sedikit pun.


...****************...


Rachel mengerjap-kerjapkan matanya entah kenapa kepalanya terasa sedikit berat sekarang. Rachel terperangah saat menyadari bahwa kamar yang sekarang dia tempati bukan kamarnya, lalu kamar siapa ini? Tanyanya dalam hati. Namun saat itu juga ia mengingat jika ia kini berada di rumah Bryan.


Rachel menatap jam tangan yang melingkar di lengan kirinya dan jam pun sudah menunjukkan pukul setengah dua belas malam.


Ah sepertinya alasan kepalanya terasa berat karena dia tidur terlalu lama dan hari ini entah sudah berapa kali bahkan ia tertidur sangat lelap tak peduli di rumah siapa sekarang ia berada.


‘ceklek’


Rachel terkejut saat tiba-tiba pintu di depan sana terbuka dan muncullah sosok Bryan yang keluar dari sana. Tapi bukan hanya itu saja yang membuatnya terkejut keadaan Bryan yang hanya mengenakan handuk yang melilit di pinggangnya itu pun tak kalah membuat Rachel terkejut.


Setelah selesai melakukan aksi bejatnya Bryan memutuskan untuk kembali ke rumahnya, ia berjalan gontai kegiatan bejatnya malam ini membuatnya sedikit lelah karena sebelum melakukan aksinya ia harus berkeliling terlebih dahulu menemani Vallerie.


Dan karena Vallerie merupakan salah satu putri dari keluarga yang terpandang membuat Bryan harus bekerja ekstra untuk menjalankan aksinya itu agar nanti saat berita Vallerie hilang tersebar tidak ada satu pun yang mencurigainya.


Bryan menatap wajah damai Rachel yang tengah tertidur itu kurang lebih selama lima menit sebelum akhirnya ia beranjak dari sana menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya.


Setelah kurang lebih tiga puluh menit berada di kamar mandi Bryan pun keluar dari kamar mandinya, saat ia keluar senyumannya merekah karena melihat Rachel sudah bangun dari tidurnya.


Ia hampir saja tertawa melihat tingkah Rachel yang terperanjat kaget lalu menutup wajahnya saat melihatnya yang baru saja keluar dari kamar mandi itu.


Bryan menyadari apa yang membuat Rachel menutup matanya saat melihat dirinya tetapi bukannya merasa malu, Bryan justru berjalan mendekat ke arah tempat tidur menghampiri Rachel dengan santainya.


Rachel beringsut mundur saat merasakan ranjang yang bergerak dan ia mengetahui siapa pelakunya dan semakin mengeratkan menutup matanya. Sedangkan Bryan tidak memperdulikan hal itu ia malah dengan percaya dirinya duduk di ranjang tepat di sebelah Rachel.


“Jangan mendekat!” ucap Rachel yang masih setia menutup matanya dengan kedua telapak tangannya.


“Kenapa aku harus pergi?” tanya Bryan sok polos pura-pura tidak mengerti kenapa ia harus pergi dari sana.


“Pergilah, pakai bajumu” perintah Rachel


“Apa kau tidak malu?” sambungnya.


“Malu, kenapa aku harus malu? Buka matamu” ucap Bryan balik memerintah Rachel.


“Pakai saja bajumu” kekeh Rachel.

__ADS_1


Rachel merasa sangat tak nyaman jika harus melihat tubuh pria seperti ini, meski hanya bagian atas saja yang terbuka tetap saja itu membuatnya tak nyaman.


“Buka matamu sebelum kecoak itu terbang ke arahmu” ucap Bryan dengan santainya sedangkan Rachel yang mendengar nama kecoak tak pikir panjang langsung melompat ke sembarang arah.


“Aaaa...” teriak Rachel bersamaan dengan tubuhnya yang melompat begitu saja.


‘Grepp’ Rachel menubruk tubuh Bryan dan untung saja Bryan dapat menahan keseimbangan tubuhnya jika tidak mungkin saja mereka berdua terjengkang di lantai.


Rachel sangat fobia dengan yang namanya kecoak karena serangga menjijikkan itu pernah masuk ke dalam baju sebanyak dua kali saat dia kecil dan saat ia masih duduk di bangku sekolah menengah atas.


“To-tolong usir itu” ucap Rachel terbata-bata saking takutnya.


Bryan tersenyum lebar ia bahkan merasa sangat senang saat ini meskipun ia mengatakan hal itu tidak menyangka jika Rachel akan setakut ini. Namun ia tidak merasa menyesal sudah mengatakan hal yang membuat Rachel begitu takut karena sekarang wanitanya itu tengah memeluknya dengan erat.


“Tenanglah, kecoak itu sudah terbang” ucap Bryan menahan tawanya.


Mata Rachel melebar saat mendengar suara Bryan yang sangat dekat dengan telinganya dan saat itu juga ia baru saja menyadari jika kini posisinya yang sedang memeluk Bryan dan ia bahkan baru merasakan jika kulitnya yang tidak tertutup baju bersentuhan dengan kulit dingin Bryan baru selesai mandi itu.


Rachel yang menyadari kesalahannya itu hanya bisa menelan salivanya takut sekaligus malu. Apalagi dengan otaknya yang sekarang tak sesuai dengan tubuhnya, ia seharusnya segera beranjak dari posisinya itu namun tubuhnya berkata lain. Matanya justru terfokus pada tubuh Bryan terutama pada perut kotak-kotak milik Bryan yang amat menarik perhatiannya.


Rachel mengangkat kepalanya perlahan mencoba melihat ekspresi wajah Bryan saat ini dan benar saja pria itu tengah menyeringai lebar menatapnya.


Bryan mencoba menahan tawanya dari tadi yang hampir meledak karena tingkah laku Rachel yang menggemaskan menurutnya itu, namun saat ia melihat pergerakan dari Rachel ia langsung mengganti ekspresi wajahnya dengan menyeringai lebar.


“Bryan” lirih Rachel


“Apa sayang?” tanya Bryan menaikkan alisnya sebelah


“Tolong lepaskan ini” ucap Rachel melirik ke arah tangan Bryan yang berada di pinggangnya bukan melepaskan Bryan justru mengeratkan pelukannya hingga membuat Rachel sedikit maju ke arahnya.


“Le-lepaskan ini, aku ingin tidur” celetuk Rachel.


“Hem baiklah” ucap Bryan namun bukan melepaskannya Bryan justru membaringkan tubuh Rachel tanpa melepaskan tangannya yang melingkar di pinggang Rachel itu.


“Sekarang tidurlah yang nyenyak” ucap Bryan mendekap Rachel dalam pelukannya.


Rachel sekali lagi harus merutuki Bryan di dalam hatinya bagaimana mungkin ia bisa tidur nyenyak dengan posisi yang sangat aneh ini.


“Aku akan tidur di luar, sepertinya aku tidak bisa tidur jika seperti ini” tolak Rachel saat ia mencoba bangkit dari baringnya Bryan justru mengunci pergerakan Rachel sehingga tidak dapat membuat Rachel bergerak.


“Tidurlah, aku sudah mengantuk” ucap Bryan.


“Hey lepaskan ini. Jika tidak kenakan bajumu dulu” ucap Rachel namun di abaikan oleh Bryan yang kini sudah memejamkan matanya.


“Wah apa semua psychopath menyebalkan seperti ini” rutuk Rachel mengerucutkan bibirnya.


Rachel menghela nafasnya kasar usahanya melepaskan diri dari pelukan Bryan sia-sia meskipun dalam keadaan tidur pria itu tidak melepaskan pelukannya. Rachel sempat berpikir jika Bryan hanya pura-pura tertidur namun saat ia mendengar dengkuran halus keluar dari mulut Bryan ia pun memutuskan untuk menyerah, sebelumnya ia bahkan sempat mencubit lengan Bryan beberapa kali namun tidak ada tanggapan.


Setelah kurang lebih satu jam berpura-pura tidur Bryan pun membuka matanya saat tidak lagi merasakan pergerakan dari Rachel. Ya itu benar, wanita itu terjaga selama kurang lebih satu jam ia kembali tertidur entah untuk yang ke berapa kalinya.

__ADS_1


Bryan mengangkat tubuh Rachel dan membaringkan Rachel ke posisi yang lebih nyaman setelahnya baru ia beranjak menuju lemari pakaiannya dan mengenakan celana pendek tanpa atasan karena ia sudah terbiasa tidur seperti itu.


Ia kembali menuju ke tempat tidurnya kembali mendekap kekasihnya itu lalu mengecup singkat kening Rachel sebelum akhirnya ia mengikuti jejak kekasihnya menuju alam mimpi.


__ADS_2