
Semua orang menunggu Rachel sadar dengan penuh cemas terlebih Bryan dia menyalahkan dirinya atas apa yang terjadi pada Rachel, tak bisa dipungkiri bahwa penyebab Rachel diculik dan disakiti adalah dirinya.
Pria tua bangka itu kembali mendekam dipenjara atas tuduhan percobaan pembunuhan, pelecehan seksual, penculikan bahkan sebagai bandar narkoba.
Emma dimaafkan dari kesalahannya, mereka memutuskan untuk tidak membawa nama Emma karena wanita itu sudah membantu mereka menemukan Rachel. Ia dan ibunya memutuskan hubungan mereka dari pria tua bangka itu dan mereka juga memutuskan untuk pindah ke negara lain yang tidak dapat dijangkau oleh pria tua itu dan memulai hidup baru disana.
Ryan dan Cathy kembali ke kotanya karena waktu liburan mereka telah usai begitu juga dengan Evan yang kembali ke kampus untuk memenuhi absennya sedang Bryan susah lama tidak masuk kampus begitu juga dengan Rachel yang sudah berapa lama absen dengan alasan sakit ya walaupun saat ini ia beneran sedang sakit.
"Yang sabar ya sayang, kita berdoa saja semoga tidak ada hal buruk yang terjadi pada Rachel" ucap Jennifer khawatir karena Rachel belum juga sadar.
Dokter tidak mengatakan dengan jelas apa penyebab Rachel tidak kunjung sadarkan diri, ini sudah hari kedua Rachel berada di rumah sakit dan dokter juga tidak mengatakan jika ia koma atau semacamnya, dokter hanya menyuruh mereka bersabar untuk menunggu Rachel sadarkan diri.
"Ini semua salahku.. orangtuanya pasti kecewa denganku" ucap Bryan.
Mereka sudah menghubungi orangtuanya Rachel lebih tepatnya Evan yang menghubungi atas perintah Miller dan saat ini seharusnya orang tua Rachel sudah tiba disini.
Tak lama kemudian sepasang suami istri berjalan ke arah ruangan Rachel berada dengan tergesa-gesa.
"Hey, permisi" ucap Jennifer menghentikan langkah sepasang suami istri itu.
"Caroline?" tanya Jennifer ragu namun wanita itu menjawab sapaannya itu.
"Ya? Maaf, anda siapa ya?" tanya wanita itu menatapnya ragu karena tak mengenal wanita di depannya itu.
"Ini aku Jennifer, teman kuliahmu" ucap Jennifer sukses membuat wanita itu kaget.
"Ya Ampun.. Kau Jennifer? Sudah lama sekali" ucap wanita itu namun sang suami terlihat menyenggol istrinya itu.
"Ayo" ucap suaminya itu terlihat mengkhawatirkan sesuatu.
"Kita bicara nanti lagi saja ya.. putriku sakit" ucap wanita itu sedih.
"Ah baiklah.. silahkan saja" ucap Jennifer lagi.
Jennifer membiarkan pasangan suami istri itu masuk ke ruangan dan ia kaget saat teman lamanya itu berada di ranjang Rachel dengan tergesa ia pun ikut masuk ke dalam.
__ADS_1
"Apa Rachel anakmu?" tanya Jennifer ragu dan wanita itu menganggukkan kepalanya sedetik kemudian menatap bingung kearahnya.
"Bagaimana kau mengenal putriku?" tanya Caroline kaget.
"Jadi Rachel benar putrimu? Dia kekasih putraku" ucap Jennifer.
"Apa yang terjadi pada putri kami?" tanya ayah Rachel akhirnya membuka suara.
Mereka tak mendengar apapun tentang apa yang terjadi pada putrinya, mereka hanya diberitahu jika putri mereka masuk rumah sakit dan tak sadarkan diri.
"Ceritanya sangat panjang.. lebih baik kita bicarakan di tempat yang nyaman saja" ucap Jennifer lirih.
Bryan datang menghampiri mereka, ia bahkan berlutut memohon sembari menundukkan kepalanya, ia tidak sanggup jika harus mengatakan sambil menatap orang tua Rachel.
"Maafkan aku.. ini semua salahku" ucap Bryan memohon pada kedua orang tua Rachel.
"Apa yang terjadi?" tanya Caroline semakin bingung dengan apa yang sebenarnya terjadi.
"Dia putraku" ucap Jennifer lirih
"Apa yang sebenarnya terjadi? Putramu menyakiti putri kami?" tanya ayah Rachel dengan cepat Jennifer menggelengkan kepalanya namun Bryan malah menganggukkan kepalanya.
"Benar, aku yang menyakitinya dan aku bahkan melecehkannya" ucap Bryan lirih.
"Bryan!" pekik Jennifer, ia tidak ingin orang tua Rachel salah paham dengan putranya terlebih Caroline adalah temannya.
Ayah Rachel menggeram marah ingin rasanya ia memukul pria yang sedang berlutut dihadapannya saat ini namun ia menahan sebisa mungkin karena ucapan ibu dan anak itu berbeda terlebih pria itu juga terluka.
"Mari kita ke tempat lain saja.. ada banyak pasien disini, tidak enak harus mengganggu mereka" ucap Jennifer.
Ucapannya itu benar, mereka pun memutuskan untuk pergi ke kafe diseberang rumah sakit itu hanya orang tua Rachel dan Jennifer serta Miller yang pergi kesana dan mereka membiarkan Bryan disana untuk menjaga Rachel.
Bryan duduk di samping ranjang Rachel menggenggam tangan lemah milik kekasihnya itu.
"Maafkan aku.. seharusnya dari awal aku tidak boleh mengganggumu" ucapnya lirih
__ADS_1
"Seharusnya kau tidak mengenalku, bangunlah kumohon.. setelah kau bangun aku janji tidak akan mengganggu hidupmu lagi" ucap Bryan lagi.
"Orang tuamu datang kemari, mereka sangat mengkhawatirkanmu jadi bangunlah jangan membuat mereka khawatir" ucapnya terus mengatakan isi hatinya.
"Maaf karena menjeratmu dalam hidupku sampai membuatmu terlibat dalam masalahku" ucapnya lalu menghela nafasnya kasar.
"Sekarang kau bebas, aku tidak akan mengganggumu lagi. Aku benar-benar akan hilang dari hidupmu" ucapnya.
Saat ingin beranjak meninggalkan Rachel, ia dibuat kaget saat melihat air mata yang mengalir di wajah kekasihnya itu.
"Rachel, kau sudah sadar?" tanyanya menggoncang tubuh kekasihnya itu namun Rachel tetap tidak membuka matanya.
"Apa kau dengar aku? Apa kau bisa memberiku tanda jika kau mendengar ucapanku?" tanyanya lagi.
Rachel tak memberi respon apapun terhadap ucapannya itu dan saat ia ingin memanggil dokter tangannya justru disentuh oleh jari Rachel.
"Rachel? Kau bisa mendengar suaraku kan? Rachel kumohon buka matamu" ucapnya lagi.
"Tunggu sebentar.. aku akan panggilkan dokter untukmu" ucapnya lagi lalu berlari dengan cepat mencari dokter.
"Tolong! kekasihku dia sudah sadar" pekiknya pada perawat yang sedang berjaga.
"Baiklah, tolong tunggu di ruangan Anda" ucap perawat itu sat melihat Bryan juga menggunakan seragam pasien rumah sakit tersebut.
"Tidak! Tidak kalian harus membantunya sekarang juga" ucap Bryan lagi.
"Baik, tolong tenanglah" ucap perawat itu.
Itu hal konyol bagaimana mungkin ia bisa tenang melihat keadaan Rachel saat ini, dokter harus membantu Rachel membuka matanya.
Bryan, dokter serta perawat tadi berlari kecil mengikuti Bryan yang sedari tadi meminta mereka untuk bergegas menemui kekasihnya. Sampai disana ia dibuat kaget dengan pemandangan di depannya saat ini, kekasihnya itu tersenyum lemah menatapnya.
"B-bryan.."
Bryan terpekik senang melihat Rachel membuka matanya, ia mendekat ke arah Rachel dan memeluknya erat, ia sangat bersyukur melihat kekasihnya itu membuka mata. Dokter menyingkirkannya dari hadapan Rachel karena ingin memeriksa keadaan Rachel, ingin rasanya ia mencekik leher dokter tersebut jika tidak sedang menolong kekasihnya.
__ADS_1
"Ja.. jangan pergi meninggalkanku dan berhenti menyalahkan dirimu, ini semua sama sekali bukan salahmu" ucap Rachel lirih dengan susah payah ia menyelesaikan kalimatnya itu, ia hanya tidak ingin Bryan meninggalkannya.
"Maafkan aku"