
*bugggg
Sebuah pukulan keras mendarat di wajah Bryan sontak saja itu membuat aksinya terhenti belum sempat ia menoleh untuk melihat siapa yang melayangkan pukulan ke arahnya sekali lagi ia mendapatkan pukulan yang cukup keras.
Orang yang memukul Bryan tak lain tak bukan adalah Miller ayahnya, Jennifer yang juga berada disana dengan cepat mendekat ke arah Rachel mendekap Rachel ke dalam pelukannya terlihat sisa air mata disudut mata calon mantunya itu.
Miller kembali melayangkan pukulannya sehingga membuat Bryan tersungkur dilantai "Sudah kukatakan jangan pernah menyakitinya! Apa kau sadar dengan apa yang sudah kau lakukan?!" bentaknya.
Bryan mencoba bangkit ia menatap semua orang yang disana hatinya jadi sakit saat matanya menatap wajah Rachel bisa dilihat dengan jelas jika wanitanya itu ketakutan dan menangis di pelukan ibunya.
Menangis? Kenapa Rachel menangis? Apa dia sudah keterlaluan bukankah tadi Rachel mengizinkannya? Hatinya terasa sakit melihat kekasihnya itu menangis meski ia tidak punya rasa terhadap Rachel tapi ia tidak ingin menyakitinya.
"Apa kau sadar dengan semua yang kau perbuat? Kau terlalu buruk untuk Rachel, kau sangat brengsek" bentak ayahnya.
Rachel hanya menggelengkan kepalanya mendengar ucapan Miller, Bryan tidak seburuk itu hanya saja Bryan tidak bisa menahan nafsunya. Ini juga salahnya seharusnya dari awal ia tidak membiarkan nafsu memenuhi Bryan.
"Kau benar, aku sangat brengsek" ucap Bryan menunduk tak sanggup jika harus melihat wajah sendu wanitanya itu.
"Kau seharusnya berhenti saat Rachel menolaknya sayang, kau tidak boleh memaksa seseorang untuk berhubungan denganmu" ucap Jennifer ia tak habis pikir dengan apa yang ia lihat.
"Mommy tidak mempermasalahkan jika kalian ingin bercinta disini mommy tidak akan mengganggu malah mommy sangat senang melihat kedekatan kalian berdua" ucapnya lagi.
"Setelah mendengar penolakan dari Rachel tapi kau yang tak kunjung berhenti bahkan sampai membuatnya menangis mommy tidak tau lagi harus apa karena itu mommy memanggil ayahmu untuk menolong Rachel" jelas Jennifer bagaimana mereka bisa berada diantara Bryan dan Rachel saat ini.
"Kau hampir memperkosanya Bryan!" bentak Jennifer mencoba untuk menyadarkan Bryan dari pikirannya.
__ADS_1
Bryan hanya diam menatap Jennifer dengan tatapan yang sulit untuk diartikan lalu beranjak pergi dari sana meninggalkan mereka semua.
"Jangan pergi" gumam Rachel pelan ia kembali menangis dalam pelukan Jennifer.
Ia menangis bukan karena apa yang terjadi padanya barusan tetapi merasa bersalah pada Bryan, karenanya kini Bryan kembali bertengkar dengan ayahnya dan ia juga sangat sedih melihat Bryan yang pergi meninggalkannya begitu saja.
Kini sudah satu jam berlalu sejak kejadian terakhir kali dan Rachel tidak bisa beristirahat dengan tenang, ia berada di dalam kamarnya tak berhenti mondar-mandir menelpon seseorang dengan wajah cemasnya.
Ini sudah lebih dari sepuluh kali ia mencoba untuk menghubungi Bryan namun hasilnya tetap sama ponselnya tidak bisa dihubungi itu membuat Rachel semakin cemas karena Bryan meninggalkan rumah dengan keadaan yang sulit dikatakan.
"Bryan kumohon angkatlah" gumamnya sembari terus mencoba menghubungi kekasihnya itu.
Ia sangat lelah begitu juga dengan hatinya yang tak henti-hentinya mengkhawatirkan Bryan dan bertanya-tanya dimana dan apa yang sedang kekasihnya itu lakukan.
Rachel duduk di tepi kasurnya ia kepikiran untuk mengubungi Evan dan ia pun mencobanya dalam percobaan kedua akhirnya Evan mengangkat panggilannya.
"Ya, Rachel. Ada apa?" tanya Evan dari seberang sana.
"Apa kakak sibuk? Maaf mengganggu, apa kakak lagi bareng Bryan?" tanyanya.
"Bryan? Bukannya dia menyusulmu?" tanya Evan balik.
Rachel kembali menghela nafasnya "Iya tadi dia ada disini tapi sudah satu jam Bryan pergi dari sini" ucapnya.
"Kemana?" tanya Evan
__ADS_1
Sekali lagi Rachel menghela nafasnya kasar jika ia tahu Bryan pergi kemana tidak mungkin ia menghubungi Evan.
"Aku tidak tau, dia tidak bersama kakak? Ponselnya tidak bisa dihubungi.. aku sangat mengkhawatirkannya" ucap Rachel lirih.
"Dia tidak bersamaku" ucap Evan
"Maaf tapi apa kakak bisa membantuku?" tanya Rachel sedikit tidak enak karena tiba-tiba minta tolong seperti ini padahal mereka tidak terlalu dekat.
"Ah baiklah, aku akan coba mencarinya. Jangan terlalu khawatir, aku akan menghubungimu lagi" ucap Evan.
"Terima kasih. kak" ucap Rachel lalu mereka memutuskan untuk mengakhiri panggilan tersebut.
Kini Rachel duduk menunggu kabar dari Evan. ia tidak bisa berhenti mengkhawatirkan Bryan hingga akhirnya suara getar ponselnya mengalihkan perhatiannya.
Ia mendapat sebuah pesan bukan dari Bryan atau Evan mainkan dari nomor asing, ia mengernyitkan keningnya karena sama sekali tidak mengenali nomor tersebut.
Begitu membuka pesan tersebut dunianya terasa hancur begitu juga dengan hatinya. perasaannya jadi tidak karuan.
Ia mendapat pesan bertuliskan 'Jangan terlalu mengkhawatirkannya' dengan sebuah foto Bryan yang tengah memangku seorang wanita dan sedang bercumbu mesra berama.
Wanita yang tak asing untuknya, wanita yang juga membuatnya jadi berakhir di rumah Jennifer, wanita yang membuatnya sangat cemburu dan marah, siapa lagi kalau bukan Emma.
Dengan mata yang bergetar ia kembali menangis apalagi kali ini? Apa yang sebenarnya Bryan pikirkan tentang dirinya? Apa benar Bryan mencintainya tapi kenapa menyakitinya lagi?
Semua terlalu berat untuknya begitu juga hatinya. ini semua sangat sulit untuk dicerna dengan baik. Ia tidak bisa memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang bisa terjadi antara kedua orang itu karena foto itu sudah menggambarkan hubungan keduanya dengan jelas.
__ADS_1
Tanpa sadar kini Rachel ambruk saat tak bisa menahan rasa sakit yang tiba-tiba menyerang kepalanya.