
Part 11
Setelah kami sampai di tempat mobil mas Erick, tak berapa lama kemudian beliau menerima telepon dari seseorang dan langsung mengajak aku ke sebuah hotel. Di tengah perjalanan, niat ku ingin mengobati luka luka yang ada di wajah mas Erick, tapi... ditolaknya dengan halus, apakah mas Erick menyesal telah membantu ku?..
Tiba tiba.. mas Erick menyuruh supirnya belok ke sebuah kantor polisi, yang dimana mas Erick menjelaskan telah terjadi penganiayaan terhadapnya dan atas laporan mas Erick tersebut, penyidik dari kepolisian langsung mengeluarkan surat permohonan kepada tenaga medis untuk melakukan visum terhadapnya.
Sesampai di rumah sakit tepatnya di depan UGD, mas Erick menanyakan kepada ku.
[Puti, kelihatannya kamu capek? Mau ikut aku ke dalam rumah sakit? atau kamu mau tunggu di mobil saja?]
[Aku ikut mas ya?] Pinta ku.
[Kamu mau ikut mas?]
[Iya.. memangnya ga boleh? Kan mas tadi menawariku?]
[Kalau ikut kemana saja mau?] godanya..
[Memang ikut kemana? Kan hanya ikut ke UGD.. iya kan mas?]
[Ku kira, mau ikut aku ke pela..]
[Pela... pela apa mas?]
[Pelataran rumah sakit, tuh kita makan dulu ya? Sepertinya kamu lapar kan?] Sambil dia menjawil hidung ku..
[Ih..mas Erick!]
Dengan perut terisi, mas Erick mencoba menggandeng tangan ku, kali ini... Aku tepis ga ya? Tangannya... Menuju UGD, setelah sekian lama mas Erick melakukan visum, kemudian kita kembali melanjutkan perjalanan ke tempat peristirahatan.
[Mas.. kenapa sih mau repot repot sama aku?]
[Repot?! Ga lah, aku senang bantuin kamu put]
[Jangan pencitraan deh..]
[Ih.. kok pencitraan? Aku kan ga suka pakai handbody, apalagi merk itu put..]
[Apa sih, ga jelas!]
[Jangan ngambek dong.. put.. aku melakukan ini semua ikhlas, dan insyaAlloh ga akan lama lama, besok aku jamin anak-anak akan bersama mu ya!] Sorot mata tajam itu membuatku semakin tenang dan yakin esok akan aku peluk kedua anakku.
Setelah sampai di sebuah hotel berbintang, mas Erick mendatangi seseorang di lobby hotel tersebut, ternyata yang sudah menunggu kami adalah partner bisnis sekaligus penasihat hukum mas Erick, Bapak Dr Hotmen peris silalahi S.H., L.L.M., M.Hum. dan disampingnya pun ada aspri cantiknya, yang ku lihat berita seputar kegiatan mereka di sebuah berita infotainment.
"Hei bang.. udah lama nunggunya?" Tanya mas Erick kepada pak Hotmen.
"Tidaklah, kalau untuk bos satu ini, saya siap sedia" balas pengacara tersebut.
Lama juga kami berbincang bincang, dengan menyerahkan semua bukti-bukti yang dirasa menguatkan, akhirnya kami menuntaskan perbincangan masalah hukum ini, dan tak lama kemudian check in ke kamar masing masing.
__ADS_1
Entah kenapa malam hari ini, aku tidak bisa tidur, apa karena esok hari yang tak bisa aku perkirakan atau... karena rasa kangen ini terhadap Fano dan Lia.
Tring.. sebuah pesan WA masuk ke ponselku, terlihat nama mas Erick, ku baca kalimat per kalimat yang diketik mas Erick...
[Lagi ngapain? jangan begadang ya put.. kalau tiada artinya, tuh dengerin apa kata pak haji put!] Spontan aku pun tertawa, ternyata mas Erick humoris juga orangnya.
[Seharusnya mas Erick juga tidur, nanti dijewer sama pak haji loh, ga dengerin apa katanya..]
[Ya sudah.. sweet dream ya.. Bobo yang nyenyak.. ]
Mas.. jangan kau gali lebih dalam lagi serpihan hati ku ini mas, yang dahulu sempat aku tautkan untuk mu, jangan beri angin surga yang ternyata angin ****** beliung mas.. meluluhkan semua serpihan serpihan yang ku coba rekatkan kembali..
💖🌻💖🌻💖🌻💖🌻💖
"Pagi Puti.. sarapan bareng ya! Aku tunggu kamu di depan pintu kamar mu!' notifikasi dari CEO berwajah setengah bule plus ganteng pun mengisi pagi hari ku.
"Puti... Aku nunggu nya sekarang loh.. emot smile" masih berat mata ini untuk terbuka.. masuk lagi notifikasi pesan yang ketiga " Puti.. sarapan dulu yuk.. supaya nanti kuat meluk anak-anak kamu.." kali ini aku langsung bergerak cepat, gosok gigi, ganti baju dan.. langsung ku buka pintu kamar ku. Nampak memang mas Eryck sedang menungguku, entah sudah berapa lama dia di ambang pintu itu.
"Maaf ya mas, aku baru bisa tidur setelah subuh.." dijawab dengan senyuman dan anggukan kecil oleh mas Erick.
Setelah sarapan, mas Erick berencana mengajak ku mengunjungi rumah eyang putri nya di Solo, dan mengatakan kepadaku untuk menyerahkan masalah anak-anak kepada pengacaranya. Aku pun mengangguk saja tanda setuju.
"Mas.. kamu yakin, masalah anak-anak bisa beres hari ini.. " sambil aku membantu mas Erick memilih milih bingkisan untuk diberikan ke eyang putrinya.
"InsyaAlloh..manusia berencana, tuhan yang menentukan! Tapi kalau menurut aku, dan bukti bukti yang menguatkan.. Andri pasti akan mikir seribu kali, kalau dia tidak menyerahkan dan mengikhlaskan hak asuh anak-anak ke kamu put.." tegasnya.
[Assalamualaikum eyang put, Iki Erick putune eyang putri..] kemudian mas Erick menyalimi tangan eyangnya.
[Waalaikumsalam, Erick? Oalahh.. putune eyang put, kemriki mboten ngendika ngendika eyang put?!]
[Menika, sinten Rick? Ayu ne]
[Asma kawula, Puti..eyang] tak lupa ku menundukkan badan ku dan menyalimi tangan eyang putrinya mas Erick.
Kami bertiga pun duduk duduk di teras rumah eyang putri nan asri ini. Banyak cerita yang dibagikan oleh eyangnya, kami berdua mendengarkannya dan aku serta mas Erick pun saling bercerita. Dan sore hari telah tiba, kami pun pamit dari beliau, ku lihat dengan berat hati eyang mengucapkan salam perpisahan, dan mas Erick menenangkannya dengan menjanjikan bahwa mas Erick akan kembali lagi, Bersama... pasangannya...
[Eyang..dalem badhe kondur Malih, sayangi pun mboten kaliyan Aspri dalem... Mbentenaken kaliyan garwa dalem..]
[Eyang.. saya janji pasti akan kembali lagi, tapi bukan dengan Aspri saya lagi, melainkan dengan istri saya] tegasnya.
kenapa mas Erick sambil melirik ku?
Sekembalinya kami dari rumah eyang putrinya, tak banyak kata yang aku dan mas Erick bicarakan di dalam mobilnya. Namun sebalnya.. selalu pak Erick berbicara yang bukan perihal anak-anak ku.
[Puti.. aku perhatikan, kenapa kamu diam saja?]
[Tidak apa-apa pak!]
[Apa tadi, ada yang salah dengan ucapan ku?]
__ADS_1
[Tidak pak.. saya hanya capek saja, maaf ya pak.. kalau boleh saya tanya..bolehkah saya tahu perkembangan perihal anak-anak saya?]
[Boleh.. tapi..]
[Tapi apa pak?!]
[Ayo lah puti.. jangan panggil aku bapak! Panggil aku mas ya..]
[Emmm, kan saya bawahan bapak?]
[Saat ini, kamu memang bawahan aku put.. ] dengan mengelus punggung tangan ku..
[Pak..eh mas.. iya ni aku sudah panggil mas!]
[Nah.. gitu kan enak di dengar.. soal anak-anak mu, maaf ya put.. aku ga tega ngomongnya.. sama kamu...] Sambil beliau menoleh ke samping jendela mobil.
[Maksudnya.. maksudnya aku belum bisa memeluk anak-anak ku kah mas?] Air mata pun tumpah, entah yang ke berapa kalinya.
[Sudah ya.. kita pasrahkan kepada Tuhan..]
Huhuhuhu... Tangan mas Erick pun meraih kepala ku dan membenamkan di dada bidangnya.
[Mas.. nanti baju mas kotor loh kena air mata sama make up aku?]
[Puti... Sudah diam, menangis saja di pelukanku ya.. ] cup.. cup.. cup tangannya pun juga mengelus pucuk kepalaku. Kkk kudengar mas Erick tertawa? Sebelum aku menengadahkan muka ku, oleh mas Erick kepalaku dibenamkan kembali ke dada bidangnya
[Mentang-mentang dadanya ga seperti dulu.. mau pamer ya?] Gumam ku di dalam hati.
[Sudah sampai put, maaf ya aku bangunin kamu.]
[Gak apa-apa mas.. aku langsung masuk kamar ku ya?]
[Tunggu put.. kita ke area kolam renang hotel ini dulu ya put! Ikut ya?!]
[Ya sudah mas.. ] dengan langkah gontai karena kurang bersemangat, aku pun mengikuti beliau...
[Kita mau ngapain disini mas?]
[Mau nyari orang..]
[Siapa mas?]
[Orang ini, sangat spesial]
[Oohh..] ku tundukan wajahku, kurutuki hati ku "bodoh, bodoh kamu put.. kejadian mas Erick memeluk kamu tadi.. hanya untuk menenangkan kamu.. tidak lebih!" sambil ku tepuk tepuk jidatku dan membuat mas Erick kebingungan, dengan tingkah ku tersebut.
Mungkin, mas Erick mau bertemu dengan calon istrinya?
Bersambung...
__ADS_1