Suami Idaman

Suami Idaman
Suami Idaman


__ADS_3

Part 17


Sudah 15 hari terlewati, Mas Erick mungkin masih berduka. "Apa aku yang coba telephone dia saja ya? Baiklah, aku hanya ingin tahu keadaanya saja."


Ponsel ku pun mengetik nama Mas Erick dan langsung menelponnya. tuttt.. lama tidak ada jawaban, mungkin handphone nya sedang tidak dia bawa. Ya sudah lah aku tidak usah mengganggu nya.


"Hallo.. Put!" Dijawab oleh nya


"Hallo Mas, apa kabar?"


"Baik put, kamu.. apa kabarnya?"


"Baik juga Mas. Mas.. baik-baik saja kan?"


"I'm fine, thanks.. Put, bagaimana kabarnya Bos eror mu, Ranggga?"


"Dia, sepertinya baik Mas."


"Kelihatannya kamu dan Rangga semakin akrab?"


"Eh.. kan dia bos sementara aku Mas.. nggak lah, biasa saja."


"Dia, menarik ya Put? Humoris.. menyenangkan, pasti selalu tertawa kan kamu dekat sama dia?"


"Kalau humoris, memang mas. Biasa saja Mas..


Emm.. mas, maaf.. kapan ke kantornya?"


"Kamu memangnya kangen sama aku?"


"Emmm.. aku.."


Tiba-tiba sambungan telepon seluler ku terputus. Ternyata baterenya habis, terpaksalah aku charge handphoneku.


"Hei.. Puti, Lo kok laku banget ya ditaksir Pak Ricky, di godain Pak Rangga.. rahasia Lo apa sih? Emang lah, gue akuin, walaupun make up tipis-tipis, terbilang cantik lah, tapi... Ga mungkin rasanya kalau para big bos suka sama Lo semuanya. Sisain gue satu lah." Ocehan Bu Sesil pun terdengar sangat mengganggu pendengaran ku.


Nampaknya mahluk satu ini harus aku jawab, daripada dia bilang yang aneh-aneh ke lainnya. "Nggak lah Bu, mana mungkin dua big bos suka sama saya? Kebetulan saja, kan saya posisinya asisten pribadi. Gitu loh Bu!"


Ku tinggalkan dia yang masih sibuk dengan make up nya. Aku pun tampak bingung mau melakukan apa?! Pak Rangga belum datang, Mas Erick pun masih berduka.


Mau ke dalam ruangan kerja Mas Erick terlalu besar, mau duduk di lobby, aku pun sungkan, karena masih jam kerja.. serba bingung, serba salah, karena yang biasanya aku sibuk dengan jobdesk ku, saat ini hanya duduk manis saja. Akhirnya aku masuk saja ke ruangan kerja. Entah karena bosan atau karena capek, hingga aku tertidur di bangku kerja ku.


Mata ku mulai terbuka, aku pun heran. "Perasaan, tadi aku ketiduran bukan di sofa? Kenapa sekarang posisi aku di sofa? Terus selimut siapa ini?" Aku pun segera membuka selimut tebal yang membungkus diri ini dan bangun dari posisi tidurku.


Terdengar ada beberapa orang sedang membicarakan sesuatu, tak lama kemudian, masuk seseorang dengan senyum khas nya.. siapa lagi kalau bukan... Mas Erick.


"Mas.. sudah lama ya datangnya? Aku kenapa ga dibangunin? Maaf ya mas, ga bermaksud tidur saat jam kerja!"


"Ssst.. gak apa-apa Put. Kamu masih ngantuk? Kelihatannya kamu capek sekali Put?"


"Mas tadi yang memindahkan aku ke sofa?"


"Iya Put, ga tega aku melihat kamu ngilerin meja kerjaku.. hahaha"


"Mas.. sudah ketularan Pak Rangga nih!"


"Enak saja.. kan memang aku sudah lucu dari lahir Put! Gimana tanpa aku? Kangen dong?"


"Gimana ya?..."


Tiba-tiba masuk Pak Rangga dari arah ruang meeting, menghampiri kami yang sedang berdua. "Ehmmm.. Put, sudah ngelupain saya kan? Mentang-mentang ada Mas nya, ban serep di lupain?"


"Bisa aja Lo bro, Lo mah bukan ban serep tapi.. ban bekas" jawab Mas Erick, meladeni kekocakan Pak Rangga.


Hari pun sebentar lagi beranjak gelap, aku bergegas merapikan berkas-berkas Yang ada di meja kerjaku dan ingin beranjak pulang. Tapi mas Erick langsung menahan aku untuk tidak segera pulang.


"Temani aku Put, disini. Mau kan?"


"Baik mas, akan aku temani kamu dan tetap menjadi pendengar setia mu." Ku erat tangannya dan tersenyum kepadanya.


Aku menemani Mas Erick, bercerita tentang apa saja yang ingin dia ceritakan, kadang ada canda gurau nya, sedihnya bahkan hal konyol pun dia ceritakan kepadaku.


Hingga kami berdua pun kelaparan, karena sudah terlanjur malas untuk pindah posisi. Mas Erick memesan makanan melalui online. Dan setelah makanannya datang, kami membuat tema ala-ala dua orang yang sedang piknik di taman yang luas. Sampai kami kekenyangan dan larut dalam suasana berdua saja.


"Put.. terima kasih ya, sudah menjaga hati mu hanya untuk ku!" Sambil Mas Erick mengecup tangan ku ini dan berbisik "aku cinta kamu Resputi Ayuningtyas"


"Aku pun sama, mencintaimu Erick Kinanta Adibrata"


Kemudian Mas Erick mencium kening ku dan ingin memeluk ku.. tapiii belum sempat kami berpelukan Pak Rangga masuk ke ruang kerja ini.


"Ihh.. pada ngapain? Loh Tyas, kata nya sudah Nerima pinangan saya? Kok sekarang sama bude satu ini?" Sambil bertolak pinggang dan melototkan matanya.

__ADS_1


"Ngomong lagi, gue down grade ya ga!" Timpal mas Erick.


"Mentang-mentang punya kuasa, iya deh lanjutin. Lanjut Mas... " Pak Rangga pun cuek saja, dan ikut bergabung dengan kami.


Alasan kenapa dia bergabung? Katanya sih karena banyak makanan yang menurutnya tidak bakal mungkin dihabiskan oleh kami berdua.


Sekarang Mas Erick sudah menjabat lagi pada posisi semula. Sedangkan Pak Rangga, kembali ke posisi manajer marketing.


Walaupun sudah tidak berada di posisi Mas Erick, tetapi pak Rangga hampir setiap waktu memanfaatkan waktunya untuk sekedar mengganggu aku, dan Karena itu, Mas Erick suka kesal dan mungkin cemburu kepada Pak Rangga.


"Bro, Lo emang ga ada kerjaan?


"Santai bro Erick. Semua sudah gue perhitungkan. Emangnya kenapa sih gue ga boleh ke ruangan Lo?"


"Santai bro, gak.. gak kenapa-kenapa, gue percaya elo kok"


"Put.. makan siang bareng yuk, Ama saya saja jangan mau sama Erick" goda Pak Rangga sambil melirik Mas Erick.


"Kebetulan saya bawa bekal Pak, ini banyak kok. Bisa buat 3 orang.. Pak Rangga mau gabung?"


"Wah boleh tuh.. mau dong, apalagi yang nawarin cewe secantik kamu!"


"Mana put? Bekal kamu? Kalau segini aku mampu habisin Put. Lo beli sendiri aja bro!"


"Ok.. gue pesan sendiri! pelit Lo bro.. tapi makannya disini ya bro?"


Ku lihat tanggal di kalender. "Tanggal 26 Desember, sebentar lagi anak ku Lia ulang tahun! Sepertinya aku perlu merayakannya. Sejak kecil sampai sekarang, anak-anak ku belum pernah merasakannya. Mungkin sekali-kali menyenangkan mereka." Sambil ku lingkari berbentuk hati dengan spidol merah.


"Mas, nanti tanggal 26 Desember, aku boleh pulang setengah hari ga? Tanya ku ke Mas Erick.


"Memangnya ada keperluan apa Put?"


"Anak ku Lia ulang tahun Mas. Aku ingin merayakannya bersama"


"Aku ga diundang Put?"


"Kalau aku lihat, Ada jadwal meeting jam 2 siang dengan.. "


"Sstt.. batalin saja ya, Aku mau hadir di acara ulang tahun anak mu!"


Aku persiapkan apa saja yang akan di perlukan untuk merayakan pesta ulang tahun Lia, dan tak lupa persiapan amplop untuk santunan anak yatim di daerah tempat tinggal. Sampai tak ketinggalan kado yang akan aku berikan untuk Lia dan juga Fano.


"Put.. Mas besok akan datang berkunjung menemui Lia dan Fano, bukan maunya Mas. Si mbok sama pak'e kangen sama cucu-cucu nya."


Malam berganti pagi, hari ini aku sangat bersemangat. Memulai hari dengan aktifitas seperti biasa, dan tak sabar untuk menunggu siang nanti bertemu dengan anak-anak ku.


"Tyas.. semangat sekali! Aku lihat di kalender meja kerjamu, anak mu ulang tahun hari ini?" Pak Rangga mengejutkan ku dengan pertanyaan tersebut.


"Aku kelihatan semangat memangnya Pak? Iya benar anak ku ulang tahun hari ini!"


"Kenapa kamu tidak ijin saja Put? Ngomong-ngomong ini ada hadiah kecil untuk anak mu Lia." Ku terima kado yang dia bawa dan Pak Rangga pun tersenyum.


Kami berdua pun bersama-sama masuk ke kantor dan satu lift, ku lihat Bu Sesil agak berlari mengejar kami yang sudah di dalam lift.


"Tunggu, tunggu.. huhh.. Pak Rangga terima kasih ya sudah menahan lift nya ini!" Dengan gaya menggodanya Bu Sesil dan memulir- mulir rambutnya.


Setelah itu, aku langsung menuju ruang kerja, yang dimana belum nampak Mas Erick di meja kerjanya. Sampai jarum jam menunjukkan pukul 10 pagi, beliau pun belum menampakkan diri, ada apa dengan Mas Erick? Sebaiknya aku telpon dia saja!


"Tut.. nomor yang anda tuju sedang tidak aktif atau diluar jangkauan"


"Ya sudahlah, nanti aku memberitahukan soal ijin pulang cepatnya dengan Pak Rangga saja, kalau memang Mas Erick belum datang ke kantor.


Ternyata Mas Erick belum datang sampai siang ini. aku pun menuju ruangannya Pak Rangga, ku ketuk pintunya dan dipersilahkan masuk olehnya.


" Pak.. saya kebetulan kesini, karena Pak Erick belum datang."


"Loh kemana tuh big bos? Ngomong-ngomong ada yang bisa saya nikahi? oh..maksud saya bantu? Hehe"


"Pak Rangga bercanda saja nih. Begini pak, saya mau ijin pulang cepat, karena mau siap-siap untuk merayakan ulang tahun anak saya. Boleh di kasih ijin ya pak?"


"Boleh.. Tyas, tapi jam segini, jam-jam nya orang sedang istirahat loh. Macet pastinya! Bagaimana kalau saya antar pakai motor saja? Kebetulan saya ke kantor pakai motor! Bagaimana?"


"Ya sudah boleh Pak, kalau tidak merepotkan Bapak!"


"Buat kamu tuh anytime ke anywhere, saya siap sedia lah.."


Sebelum aku benar-benar menuju rumah orang tua ku, aku pastikan sekali lagi untuk menghubungi Mas Erick, terdengar nada sambung dari ponselnya, tapi.. tidak diangkat olehnya. "Ada apa dengan Mas Erick? Ah sudahlah, aku tidak mau berburuk sangka terhadapnya"


Akhirnya aku diantar oleh Pak Rangga, dan memang benar.. jalanan menuju rumah orang tua ku terlihat macet. Sesampainya di rumah orang tua ku, langsung aku mempersiapkan semua hal yang telah aku beli untuk merayakan pesta ulang tahun yang di selenggarakan 3 jam lagi. Pak Rangga pun tak segan-segan membantu ku untuk mendekor ruangan tamu.


Sedang asyik-asyiknya kami berdua mendekor ruangan ini, Mas Andri dan ibu bapaknya datang bertamu untuk mengunjungi Lia dan Fano.

__ADS_1


"Assallammualaikum Put... " Salam dari mereka bertiga.


"Waalaikumsalam Mas, Bu,Pak.. silahkan masuk."


"Put, cucu-cucu si Mbah mana? Sudah kangen aku sama mereka."


"Sebentar ya Bu, aku panggilkan, mereka masih di kamar." Tak lama kemudian Lia dan Fano datang dan langsung memeluk Mbah Putri dan Mbah kung nya.


"Bapak ga dipeluk kok ini?"


"Ga mau" sambil Lia membuang mukanya, mungkin karena masih kesal dengan kejadian tempo lalu.


"Iya deh, Bapak minta maaf, Bapak salah. Ini ada kado untuk Lia, buka ya nanti!"


Ku suruh Lia mengambil kado dari Bapaknya dan mengucapkan terima kasih.


"Lia, Fano, ajak Mbah uti sama Mbah kung masuk ya? Beri tahu kakek dan nenek juga."


Aku pun melanjutkan mendekorasi ruangan ini, tanpa memperdulikan kehadiran Mas Andri. Mungkin karena kesal atau jengkel, Mas Andri keluar dari ruang tamu menuju teras depan rumah, sambil dia memainkan ponselnya.


"Akhirnya selesai juga ya Put? Kamu siap-siap deh, bau asem Put.. hahaha"


"Enak saja Pak Rangga nih, ya sudah.. sebentar aku tinggal masuk ya Pak?!"


Pak Rangga pun ku lihat menuju teras depan rumah dan mencoba menghubungi seseorang.


Setelah aku, Lia dan Fano sudah sudah siap dengan semuanya. Satu persatu teman-teman Lia datang menghadiri pesta ulang tahunnya, anak ku tampak gembira sekali, tertawa terpingkal-pingkal melihat aksi lucu dari sang badut. Dan Mc dadakan, siapa lagi kalau bukan Pak Rangga yang memang bisa membuat suasana gembira ria. Tak lupa tamu undangan kehormatan anak-anak yatim, yang juga aku ajak membaur diantara teman-teman Lia.


Acara pun telah selesai, di kamarnya Lia dan Fano langsung saja membuka seluruh kado-kado nya. Sementara Ibu dan Bapak Mas Andri istirahat di kamar tamu. Mas Andri yang dari tadi tidak aku hiraukan kehadirannya masih saja memainkan ponselnya, sedangkan Pak Rangga menghampiriku dan sangat senang sekali bisa membantu ku kali ini dalam merayakan buah hatiku.


"Saya senang Put, bisa ikut merayakan pasta ulang tahun anak mu."


"Iya Pak.. terima kasih ya"


"Sebelum istri saya pergi.. pernah satu kali, kami merayakan ulang-tahun anak kami. Seperti ini, gembira!"


"Kamu tahu kenapa istri saya pergi meninggalkan saya?


"Kalau mau bapak ceritakan, saya siapa mendengar kan!"


"Istri saya pergi ga tahu kemana, mungkin sudah ke luar negeri.. tapi tidak tahu dimana, saya sudah bertahun-tahun mencari keberadaanya. Tapi.. hasilnya nihil, dia pergi mungkin karena merasa jenuh dengan pekerjaan saya. Kamu tahu kan Put? Lukisan-lukisan yang di workshop saya?! Dulu saya tidak pernah memikirkan apa mau nya istri saya! saya sibuk dengan hobi saya tersebut, sampai jarang menemaninya. Mungkin, karena hal itu.. dia merasa tidak dianggap oleh saya dan pergi dengan membawa anak saya."


"Yang sabar ya Pak, kalau memang masih jodoh. Akan dipertemukan oleh Tuhan!"


Seketika dari arah luar, Mas Andri memanggil ku dengan lantangnya


"Puti.. berduaa aja Lo, kamu anggap apa saya?"


"Sudah, biarin aja tuh bencong.. ga usah ditanggepin." Cegah Pak Rangga


"Put, gantian temani saya Put, saya juga mau kan ditemani kamu! Apa perlu gue bayar biar Lo mau temani gue?


Tak lama kemudian Pak Rangga langsung keluar teras dan duduk di samping Mas Andri. " Bro! Lo kenapa? Nih gue bawain Lo kopi dingin."


"Eh.. ga usah sok akrab sama gue ya!"


"Tenang bro! Santai.."


"Ga usah manggil gue dengan sebutan bro! Lo ga bakal bisa nyaingin gue."


"Nyaingin apa bro?"


"Lo lihat gue bawa mobil! sementara Lo cuma bawa motor!"


"Hah.. HAHAHAHAHA, ya ampun bro, kaya ya Lo? Sini gue kasih lihat.. bukan pamer ya ini bro. Merk motor gue apa tuh? B.M.W! Lo Googling sendiri ya! Sorry gue masuk dulu. Hahahaha.. " ku lihat Mas Andri langsung mengeluarkan ponselnya.


"Pak katanya ga usah ngeladenin?!" Cecar ku ketika Pak Rangga memasuki ruang tamu. " Biar, sekali-kali orang seperti itu, dikasih pengertian!" Diiringi ekspresi lucu dari Pak Rangga yang membuat aku tertawa dan Pak Rangga pun ikut tertawa juga.


"Ehm.. sorry, sepertinya aku mengganggu kalian ya?" Tiba-tiba Mas Erick datang dengan menenteng kado di kedua tangannya. Dan membuat kami seketika terdiam.


"Mas.. tidak Mas.. aku tadi tertawa karena ekspresi wajah lucu nya Pak Rangga." Langsung aku beri alasan ke Mas Erick karena ku lihat nampaknya Mas Erick sedikit cemburu ke kakak sepupunya tersebut.


"Bro.. masuk sini! Sama gue aja Lo cemburu!"


"Oke. Ga kok bro, gue.. juga bercanda saja!"


"Lo kesini naik apa Bro? Ga bawa mobil?"


"Naik ojek online, macet bro. Nanti mobil gue nyusul"


"Ya sudah, gue di depan dulu ya bro!"

__ADS_1


"Oke bro, Put, maafin Mas ya?


__ADS_2